
"Kalau saja ayah mau setuju, aku ingin sekali menikahi Raisa, tapi aku yakin ayah langsung menolak. Bahkan bisa jadi ayah yang akan melenyapkan Raisa jika tahu hubungan gelap kami."
Genta mengacak-acak kepalanya. Bingung memutuskan pilihannya. Namun jujur, Genta sama sekali tidak mencintai Sena, ia hanya menginginkan harta dan popularitas Sena, karena Sena tidak secantik dan tidak mempesona seperti Raisa.
Sementara di sisi lain, nampak Kara duduk di sebelah asistennya yang sedang menyetir mobil.
"Bos, sekarang apa yang akan anda lakukan? Apa anda ingin ke kediaman Nero?" tanya asistem Lim.
Kara tidak menjawab, ia sedang memikirkan Raisa.
"Lim, dari pada aku menjawab itu, lebih baik kau menjawab pertanyaanku," ucap Kara sambil melihat kamera Raisa di tangannya.
"Apa itu, Bos?" tanya Lim tahu Kara sama sekali tidak berniat untuk pulang.
"Kalau kau tidur dengan wanita lalu esoknya ada bercak darah, apa maksudnya itu?"
Deg! Lim kaget, sampai-sampai menghentikan mobilnya.
"Kenapa Bos tanyakan itu?" tanya Lim agak ragu-ragu menjawabnya.
"Karena kemarin aku melakukan itu dengan seorang wanita," jawab Kara kini melihat Lim lalu membatin, 'Dan sepertinya wanita itu sengaja merekam, tapi lupa mengambilnya saat aku tertidur.' Kara mengingat, saat terbangun, dia sendirian saja di kamar hotel dan menemukan kamera tersembunyi di balik fas bunga.
"Astaga, sebenarnya Bos habis ke mana sampai begituan?" tanya Lim terbata-bata.
__ADS_1
"Ah itu, aku bingung mencari penginapan, jadi aku ke hotel yang tadi, tapi tidak sangka aku salah kamar," jawab Kara mengkalungkan kamera itu ke lehernya.
"Jadi karena itulah Bos ke sana?" tanya Lim kaget lalu membatin, 'Aku juga baru tahu Tuan Genta memakai hotel itu dan memanggil wanita penghibur. Apa selama ini Tuan Genta sudah melakukan itu juga di belakang Nona Sena?' pikir Lim seakan tidak percaya, karena yang ia tahu tentang Genta adalah pria itu sangat menjaga nama baik keluarga Nero, tidak seperti Kara yang pernah merusak nama baiknya dan resmi dibuang oleh Tuan Nero.
"Ya, aku ingin tanyakan apa maksud wanita itu membawa kamera ini," jawab Kara yakin seharusnya dijebak itu adalah Genta, bukan dia.
"Kalau begitu, apakah Bos yang sudah bercinta semalam bersama wanita itu?" tanya Lim tidak sabar ingin tahu.
"Sepertinya begitu, dia lumayan juga mainnya," jawab Kara sedikit bersemu ingat malam istimewa itu.
"Akhirnya, akhirnya Bos melespaskan keperjakaannya," kata Lim setengah menangis mendengar Kara yang berumur 27 tahun ini sudah dewasa.
"Astaga, kenapa kau senang begitu? Bikin malu saja!" kata Kara mentoyor kepala asistennya.
"Haha, maaf, Bos. Saya cuma terharu," ucap Lim cengengesan.
"Sebentar, Bos!" Lim tiba-tiba memotong perintah Kara.
"Ada apa?"
"Tadi Bos kan tanya apa maksud bercak merah,"
"Terus?"
__ADS_1
"Sepertinya wanita yang Bos tiduri itu bukanlah wanita malam,"
"Apa? Bukan? Kenapa kau bicara begitu?"
"Karena wanita itu kemarin masih perawan, dan sepertinya Tuan Genta belum pernah menyentuhnya, barulah Bos yang merenggut kesuciannya dan hari ini wanita itu tidak lagi suci," kata Lim menjelaskan.
"Lim, kau bilang begitu seperti menunduhku habis berbuat jahat," ucap Kara kesal mendengarnya.
"Ya emang Bos sudah berbuat jahat! Itu tindakan kriminal!" kata Lim setengah bentak. Kara terkejut lalu melihat kamera Raisa.
"Tunggu dulu, sepertinya aku paham apa tujuan wanita itu," ucap Kara tahu Raisa ingin menjatuhkan reputasi Genta dengan cara menjebak dan menyebarkan rekamannya.
"Apa itu, Bos?" tanya Lim ingin tahu.
Kara mengangguk yakin tebakannya benar. Ia pun menepuk bahu Lim lalu berkata serius.
"Dengarkan aku, Lim,"
"Dengar apa, Bos?"
"Jangan sekali-kali kau katakan isi kamera ini pada siapa pun," jawab Kara sangat-sangat serius.
"Baiklah, Bos." Lim nampak paham kalau kamera itu adalah jejak bagi tuannya untuk menemukan Raisa. Namun itu sepenuhnya tidak benar, Kara hanya tidak mau rekaman itu diambil orang karena ia yakin inilah satu-satunya kelemahannya yang bisa dipakai Genta untuk menjatuhkan kesan baiknya di mata Ibu kandungnya.
__ADS_1
"Ayo Lim, kita harus cari wanita itu," ucap Kara mengepal tangan.
Lim pun melaju pergi. Ia memang harus menemukan Raisa karena mengira sudah ada benih unggul atasannya yang tertanam di perut wanita itu.