
Usai mematikan tv, Bella kembali ke kantor untuk mengatakan pada rekan-rekan kerjanya yang lain. Sedangkan Raisa yang diam-diam mengintip tadi, ia terlihat cemberut dan kesal mendengar berita itu.
"Cih, orang jahat memang susah matinya." Raisa menutup pintu kamar dengan keras. Terlihat ada kebencian lain yang dia pendam selain kepada keluarga Nero.
"Duh, kenapa bau parfumnya belum hilang sih?" Raisa di depan cermin, ia tidak henti-hentinya mengendus tubuhnya.
"Sudah waktunya aku pergi kerja, tapi aku ragu-ragu nih." Raisa melirik jam ponselnya sudah pukul tujuh pagi. Raisa cemas, bau parfumnya bisa diendus oleh Genta di kantor.
"Raisa, bangun! Berangkat kerja yuk sekarang!" panggil Bella sudah bersiap di depan kamar Raisa.
"Ya, tunggu sebentar!" balas Raisa teriak lau bergegas memakai tompel palsu di pipinya, kemudian mengambil tas kerjanya.
"Eh Raisa, sudah sarapan gak?" tanya Bella ketika Raisa keluar dari kamar. Seperti biasa, Raisa mengunci kamarnya rapat-rapat.
"Belum sih," jawab Raisa sambil mengelus perutnya yang memang sedang lapar.
"Kalau begitu, ini kau bawa ke kantor, nanti kau sarapannya di sana saja," ucap Bella memberikan bekal dan tersenyum manis.
Raisa terdiam melihat Bella sangat baik, ia pun sendiri memeluk Bella. Bella tertegun, dan berpikir kalau Raisa pasti terharu punya sahabat pengertian dan Raisa akan mengatakan terima kasih padanya, namun itu salah, Raisa malah bicara aneh.
"Kau terlalu baik, Bella. Kuharap kau hidup lebih lama dariku," ucap Raisa melepaskan pelukannya lalu tersenyum. 'Setelah aku balas dendam, aku akan mati dengan tenang di luar negeri,' batin Raisa sudah memikirkan akhir hidupnya.
"Ih, bicara kok gitu sih! Kayak mau mati saja habis makan nih bekal," cetus Bella tidak suka mendengarnya.
"Hahaha, sudah, yuk kita berangkat bareng." Raisa tertawa geli melihat ekspresi lucu Bella dan tidak lupa memasukkan bekal itu ke dalam tas kerjanya.
Bella mengangguk paham lalu menarik Raisa ke arah motornya. Keduanya pun berangkat kerja bersama. Setelah sampai, Raisa dan Bella yang kerja sebagai karyawan biasa di PT. Nero berjalan ke meja kerjanya masing-masing.
Seperti biasa, karyawan lagi hanya menyapa Bella, dan mengucilkan Raisa yang berpenampilan jelek. Mereka sebenarnya tidak suka dengan tompel di pipi Raisa.
"Huh, kalau aku buka nih tompel dan kacamataku, mereka pasti akan datang memujaku, tapi apa bagus sih pujian itu? Bikin eneg mendengarnya." Raisa bergumam kecil saja melihat Bella asik diberi pujian dan bicara pada karyawan lain.
"Ahhh… aku bete banget hari ini, kameraku benar-benar sudah hilang, sekarang rencana balas dendamku tertunda, apa aku harus beli kamera baru terus ngerekam lagi? Tapi aku sudah muak melakukan itu!" gerutu Raisa memonyongkan mulutnya dan mengingat percintaannya malam itu.
"Eh tapi, kalau rekaman itu bocor kemarin, bukan kah harusnya perusahaan heboh? Apa kemarin yang datang ke kamar hotel memang bukan Sena?" gumam Raisa merasa dugaannya kini salah. Ditambah lagi, ia langsung mendengar gosip dari obrolan Bella dengan karyawan lain. Raisa pun diam-diam menguping sambil bekerja.
__ADS_1
"Hei, Bella, kemarin Nona Sena sudah sadar kan?"
"Hem, terus? Apa ada kabar baru lagi?" tanya Bella selalu semangat jika mengungkit idolanya itu.
"Dengar-dengar sih katanya hari ini tunangan Bos itu sudah bisa keluar dari rumah sakit," jawab teman Bella yang duduk di dekatnya itu.
"Sial, sepertinya memang bukan Sena yang datang kemarin ke hotel, tapi siapa? Apa itu Tuan Nero? Tidak, aku yakin hubunganku dengan Genta cuma diketahui sekretaris John. Kalau begitu, apa jangan-jangan ada wanita lain di sisi Genta? Ck, pria itu memang busuk! Seperti ayahnya, Tuan Nero yang kejam!" Raisa berdecak kecil lalu kembali menguping.
"Aku dengar juga kalau dua hari terakhir ini Bos Genta selalu berada di sisi Nona Sena," sambung teman Bella lagi.
"Ulululu… Bos Genta perhatian sekali, dia sangat setia menjaga Nona Sena, semoga pertunangan Bos Genta bisa secepatnya lanjut ke pernikahan." Bella menyeka air matanya, ia terlalu menyukai dua pasangan itu. Beda sekali dengan Raisa yang amat membenci Sena dan Genta.
"Genta itu setia menjaga? Hahaha… kalau saja mereka tahu kemarin lusa Genta bercinta dengan ku di hotel, mereka tidak akan lagi memuji pasangan jahat itu," decak Raisa, lalu tertawa sendirian membuat karyawan yang lain merasa aneh melihat si jelek cekikikan. Namun sontak mereka mengabaikan Raisa saat wanita itu melirik sinis.
"Cih, aku benci sekali kalau ditatap begitu, bikin moodku jadi rusak saja." Raisa mencibir dan kembali melihat Bella dan temannya mulai bekerja.
"Hmm… kenapa aku jadi kepikiran ucapan dia ya?" gumam Raisa merasa tertarik pada ucapan teman Bella soal Genta yang selalu ada di sisi Sena.
'Duh, apa benar Genta yang malam itu bercinta denganku?' pikir Raisa mulai ragu-ragu.
Sedangkan Bella, merasa ada yang aneh dengan sikap Raisa, terutama Raisa yang suka pulang tengah malam sangat mencurigakan.
"Aku jadi penasaran, sebenarnya Raisa kerja di mana sampai kameranya hilang?" gumam Bella diam-diam melirik Raisa yang serius di depan laptopnya.
"Baiklah, aku akan mengintai gerak geriknya! Sebagai seorang sahabat, tidak seharusnya dia menyembunyian sesuatu padaku!" Bella mulai bertekad akan menstalker kepergian Raisa.
Tiba-tiba Bella kaget melihat semua karyawan berdiri kecuali Raisa yang sibuk, ia pun mendekati Raisa ingin mencoleknya agar berdiri menyambut kedatangan Genta bersama John yang berjalan di belakang. Namun mata Bella terbelalak melihat di layar laptop Raisa ada beberapa video porn* segs.
"Raisa, apa kau sudah gila?" bisik Bella cepat-cepat mencoleknya. Raisa yang hampir terang sang, ia tersentak dan langsung menutup laptopnya kemudian mendongak.
"Sial, kenapa ganggu sih?" tanya Raisa kesal dan malu ditangkap oleh Bella.
"Cepatlah berdiri, Bos Genta sudah datang," jawab Bella berbisik dan menggelengkan kepala. 'Nanti setelah ini, aku harus memarahi Raisa, aku yakin dia tadi menonton itu karena ulah pacarnya!' batin Bella yakin Raisa punya pacar dan ia tidak mau Raisa jadi wanita bermasalah.
"Astaga, kenapa baru bilang sih?" desis Raisa langsung berdiri dan melihat Genta bersama John sedang jalan ke lift. Namun tiba-tiba Genta menoleh ke arah Raisa dan Bella membuat Raisa terkejut dan spontan menundukkan kepala, sedangkan Bella tersenyum ramah.
__ADS_1
'Aduh, kenapa dia bisa menoleh ke sini?' batin Raisa cemas dikenali oleh Genta. Tentu saja Genta langsung mengerutkan dahinya pada Raisa yang bertingkah aneh. Ia pun yang sudah sampai di dalam lift bertanya pada John.
"Sekretaris John,"
"Ya, Tuan Genta?" John menoleh ke Genta yang sedang berpikir.
"Barusan aku mencium bau parfum," jawab Genta berhenti sejanak.
"Bau parfum? Apa jangan-jangan parfum saya terlalu menyengat?" John segera mengendus-endus jas hitamnya.
"Bukan kau, John," ucap Genta menggelengkan kepala.
'Syukurlah,' batin John lega.
"Lalu parfum apa yang anda maksud, Tuan?" lanjut John bertanya.
"Raisa,"
"Nona Raisa? Maksudnya apa, Tuan?" tanya John tidak paham karena di kantor tidak pernah terlihat wanita malam itu.
"Aku yakin, ada bau parfum Raisa saat kita melewati lantai tadi," jawab Genta masih ingat tubuh Raisa habis mandi, dan ia mencium baunya saat ingin bercinta kemarin.
"Wah, saya kagum sekali pada anda yang memiliki indra penciuman yang tajam, tapi sepertinya tadi saya tidak melihat Nona Raisa di sini, Tuan," ucap John serius kagum pada ketajaman indra Genta.
"Tapi Tuan, bisa saja-"
"Bisa apa, John?" tanya Genta berpikir kalau Raisa bisa saja menyamar dan diam-diam datang ke kantor.
"Bisa saja di antara karyawan kita ada yang memakai parfum itu, Tuan," jawab John masih berpikir positif.
Genta menggelengkan kepala, membuat John mengernyit.
"Kau salah John, parfum ini seharga lima ratus juta, hanya bisa di beli di Paris, dan aku pernah membelikannya untuk Raisa," ucap Genta melihat John yang terdiam kaget.
"Wow, sepertinya Nona Raisa sangat istimewa bagi Tuan," kata John sambil menelan ludah tak habis pikir uang sebanyak itu diberikan pada wanita malam seperti Raisa.
__ADS_1
"Ya John, dia spesial, aku mencintainya," ungkap Genta menatap pintu lift lalu tersenyum membayangkan Raisa yang bahagia setelah tahu harga parfum itu.