Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
11. Kejam Sekali


__ADS_3

Apa jangan-jangan dugaanku benar?' pikir Raisa makin penasaran. Namun tiba-tiba, Raisa makin bersembunyi saat seseorang menghampiri Genta.


"Pak Genta, syukurlah anda masih ada di sini." 


"Manajer Ze? Ada apa mengejar saya sampai kemari?" tanya Genta buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Itu Pak, saya harap anda masih punya waktu mau menunggu berkas yang tertinggal—"


"Oh itu, letakkan saja di atas meja saya, sekarang ini saya harus ke rumah sakit tempat Sena dirawat, Manajer Ze tidak perlu sampai segitunya mengejar saya tadi," ucap Genta sudah tahu isi berkas Manajer.


"Baik, Pak! Saya akan segera membawanya ke sana." Angguk Manajer itu paham lalu setengah menunduk saat Genta melawatinya untuk pergi ke lorong lain.


"Pak Genta memang baik sekali, kupikir dia akan marah besar aku meninggalkan berkas lainnya di bawah, tapi ternyata dia lelaki yang tenang dan perhatian sekali pada tunangannya," ucap Bu Manajer tersenyum sendirian. Tidak seperti Raisa sudah merah padam, tidak suka mendengarnya. Ia pun sontak berdiri dan sengaja mengagetkan Bu Manajer.


"Permisi, Bu,"


"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Bu Manajer memegang dadanya karena tiba-tiba ada Raisa di belakang.


"Ini berkas yang Ibu tinggalkan di bawah, saya membawanya khusus membantu Ibu," jawab Raisa tanpa senyuman menyerahkan berkas itu. Bu Manajer langsung memeluk berkas itu.


"Ya ampun, akhirnya tidak hilang, syukurlah kau ke sini, sekarang ikut dengan Ibu dulu." Raisa membola tangannya ditarik Bu Manajer ke lorong yang dilewati Genta.


"Aduh, kita mau kemana, Bu?" tanya Raisa cemas.


"Berkas ini harus dibawa ke ruang Pak Genta," jawab Bu Manajer.


"Tapi kenapa saya juga ikut?" tanya Raisa lagi.

__ADS_1


"Hari ini ruangan Ibu pindah ke lantai ini, dan Ibu sedang kesulitan membereskan barang-barang Ibu di sana," jawab Bu Manajer berhenti di depan dua pintu yang berdekatan.


"Sekarang kau masuk dan tunggu Ibu di dalam." Bu Manajer membuka pintu lalu mendorong Raisa masuk ke ruangannya.


"Terus, Ibu mau ke mana?" tanya Raisa sebelum pintu tertutup.


"Ibu mau letakkan ini di dalam sana sebentar dulu," jawab Bu Manajer masuk ke pintu yang terdapat papan nama Genta.


"Oh, jadi ruangan tadi itu ruang CEO?" gumam Raisa sambil meletakkan proposal milik Bu Manajer yang ada di atas meja ke lemari.


"Sepertinya Genta tidak ada di ruangan itu, pasti dia sedang ke rumah sakit menjenguk wanita pura-pura baik itu," lanjutnya lalu melirik Bu Manajer masuk ke dalam ruangan.


"Bu, kenapa tidak panggil OB saja? Ini kan pekerjaan mereka bukan tugas ku," ucap Raisa mengeluh dan terlihat ia sudah selesai membereskan sebagian.


"Tidak usah protes, lakukan saja perintahku," kata Bu Manajer berkacak pinggang.


"Baiklah, Bu." Raisa pun terpaksa menurut saja mengangkat kardus-kardus ke atas lemari. Sedangkan Bu Manajer diam di tempat dan hanya melihat Raisa. Tiba-tiba Bu Manajer bertanya membuat Raisa hampir tersandung karena terkejut.


"Namaku Raisa, Bu, ini kartu pengenalku," jawab Raisa memegang kartu pengenal yang dia kalungkan.


"Kenapa Ibu bertanya?" lanjut Raisa.


"Itu Ibu tadi kepikiran sejak kapan perusahaan merekrut orang jelek sepertimu," kata Bu Manajer menusuk sekali perasaan Raisa.


'Bngst! Aku pikir dia curiga, ternyata cuma mau menghinaku, cih!' decak Raisa sakit hati.


"Hahaha… Ibu kejam sekali, saya jadi ingin menangis," ucap Raisa menunduk pura-pura sedih. Bu Manajer pun menghampirinya lalu menepuk bahu Raisa.

__ADS_1


"Aduh, kenapa melotot begitu pada saya, Bu?" tanya Raisa was-was namun tiba-tiba Bu Manajer memberikannya beberapa lembar uang.


"Ini ambillah," 


"Oh, buat saya?" tanya Raisa kaget sekali.


"Ya, ambil ini dan beli skincare habis pulang kerja, seorang karyawan harus memiliki pesonanya sendiri, dan Ibu tidak mau orang-orang bergosip yang tidak-tidak soal perusahaan. Akan sangat buruk jika kau tampil ke garis depan dengan wajah yang memiliki tompel sejelek itu," jelas Bu Manajer. Setelah memberikan uang, ia pun keluar dari ruangannya untuk makan siang. Sedangkan Raisa masih terdiam di dalam ruangan.


"Sialan banget, memangnya aku ini apa sampai dikasihani? Cih, aku tidak butuh uang ini, aku sudah cantik dari lahir!" decak Raisa meletakkan uang itu ke atas meja lalu jalan ke pintu, namun beberapa saat ia membalikkan badannya untuk mengambil uang itu.


"Aku salah, rezeki tidak boleh ditolak!" katanya lalu mengantongi uang itu.


"Hehehe… mau jelek atau cantik, rezeki anak baik sudah diatur yang diatas, hehehe…." cengir Raisa sambil membuka pintu ingin keluar, namun sontak seluruh tubuhnya mematung di depan seorang pria tinggi berjas putih yang sudah berdiri di depannya.


Glug! Raisa menelan ludah susah payah setelah mendongak dan melihat di depannya adalah Genta.


'Gawat, kenapa dia ada di sini? Apa aku sedang bermimpi? Atau memang dia ini belum ke rumah sakit? Tapi apa alasannya dia masih di kantor? Apa jangan-jangan dia sudah tahu identitas asliku?' batin Raisa sudah berkeringat dingin membuat bau tubuhnya langsung menyebar dan membuat Genta dapat mencium aroma parfum yang memang sempat dia cium saat berdiri di dekat vas bunga.


'Wanita ini kan yang tadi aku lihat di bawah, kenapa dia ada di ruangan Manajer Ze?' pikir Genta tidak bergerak di hadapan Raisa.


"Bau parfum ini milik Raisa, aku pikir dia ada di lantai ini, tapi ternyata bau parfum ini dari karyawan jelek di depanku?" gumam Genta menyentuh dagu dan mengamati Raisa.


Raisa yang sedikit mendengarnya segera menunduk lalu diam-diam mengendus, ia pun sadar bau parfumnya belum hilang.


'Sepertinya Genta memang tidak mengenaliku,'


'Aku harus cepat-cepat pergi dari sini,' batin Raisa lalu berkata dengan sopan. "Permisi Pak, maafkan saya sudah menghalangi jalan," ucap Raisa dengan suara seraknya melewati Genta. Namun sontak, jantung Raisa makin berdegub kencang ketika lengannya dipegang Genta.

__ADS_1


"Tunggu, kau jangan pergi dulu."


'Ah Cellaka! Aku pasti sudah ketahuan!" batin Raisa berteriak dalam hati karena Genta menariknya pergi menuju ke dalam lift. Raisa yang panik tidak dapat berpikir mencari cara melepaskan diri, bahkan mulutnya sendiri tertutup rapat-rapat.


__ADS_2