Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
9. KeJAM dan BeNgis


__ADS_3

"Wow, sepertinya Nona Raisa sangat istimewa bagi Tuan," kata John sambil menelan ludah tak habis pikir uang sebanyak itu diberikan pada wanita malam seperti Raisa.


"Ya John, dia spesial, aku mencintainya," ungkap Genta menatap pintu lift lalu tersenyum membayangkan Raisa yang bahagia setelah tahu harga parfum itu. 


John mengepal tangan lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


"Kenapa, John?" tanya Genta heran melihat tingkah sekretarisnya.


"Sekarang aku mengerti, Tuan!" jawab John senang melihat Genta dapat tersenyum lepas tadi.


"Mengerti apa, John?" tanya Genta tambah heran.


"Aku akan berusaha menemukan Nona Raisa, Tuan tenang saja, serahkan pada saya," jawab John bersungguh-sungguh akan mencari Raisa.


"Ya, aku harap kau cepat menemukannya." Genta menepuk bahu John, selalu percaya pada sekretarisnya. 


Di sisi lain, di waktu yang sama, Kara dan asisten Lim baru saja keluar dari villa yang dibelinya hari ini. Sekarang yang harus mereka lakukan, memulai pencarian Raisa.


Terlihat Kara terdiam saja di dekat asisten Lim yang sedang menyetir mobil. Nampak Lim tahu atasannya itu sedang galau.


"Apa yang anda pikirkan sampai murung begitu, 


Bos?" tanya Lim ingin tahu lebih jelas.


"Aku sedang memikirkan Sena," jawab Kara tak bersemangat.


Lim pun terdiam, ia tahu Kara mencintai Sena, namun sayang sekali Sena mencintai Genta. Sebuah cinta segitiga yang terjadi diantara anak kembar di keluarga Nero. 


"Menurutmu, apakah Sena akan membenciku? Aku ingin sekali menjenguknya, tapi aku ragu dia akan ketakutan melihatku," ucap Kara menunduk murung.


"Bos  tidak usah murung, kecelakaan Sena itu tidak ada hubungannya dengan Bos, dan anda juga tidak pernah berniat mencelakainya," kata Lim seratus persen percaya pada atasannya.

__ADS_1


"Tapi, kau tahu kan polisi sudah memastikan itu ulah asistenku dulu, dan semua orang langsung menuduhku sebagai pembunuh, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya," ucap Kara tambah murung.


"Tapi, bukan kah asisten Bos sudah mengakui kalau dia juga tidak bersalah," ucap Lim pernah dengar kalau mantan asisten dulu yang telah mengantar Sena pulang setelah syuting dan berkata kalau dia saat itu pergi ke toilet, namun tiba-tiba terkunci sendirian.


"Ya aku sudah dengar langsung dari mulutnya, dia sadar kalau sedang dijebak oleh seseorang dan menyamar untuk mencelakai Sena," tutur Kara dari dulu asistennya yang sedang berada di penjara tidaklah bersalah.


"Kalau begitu, mengapa anda tidak mencari pelaku yang asli, Bos?" tanya Lim sedikit iba pada kakak perempuannya yang dipenjara dan kasihan pada Kara yang dituduh sehingga resmi terbuang dari keluarga Nero.


"Sulit, itu sulit, pelakunya sangat pintar menghilangkan jejak," jawab Kara mengepal tangan.


"Jika saja waktu itu aku menemukan bukti dia muncul di CCTV yang ada di TKP, aku sudah membunuhnya saat itu juga," lanjut Kara dengan emosi membara. Lim hanya bisa meneguk ludah melihat ekspresi amarah Kara. Tentu Kara yang terlihat pria santai di luar, ia sebenarnya sangat pintar menyembunyikan sifat aslinya yang kejam dan bengis. Kara juga tidak langsung membunuh orang, dia akan memulai dengan cara menyiksa sampai musuhnya memohon untuk segera dibunuh.


Lim pun fokus menyetir kembali dan membiarkan Kara bertengkar dengan emosinya. Namun tiba-tiba Lim kepikiran sesuatu.


"Sebentar, ada yang ingin saya katakan pada, Bos," ucap Lim sudah ingat tugasnya kemarin malam.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Kara tanpa melihat Lim, ia lebih enak memandang keluar.


"Apa itu?" tanya Kara setengah terbelalak.


"Hotel itu tidak memasang CCTV, jadi saya mengecek CCTV di sekitar, dan di hari pertama kali Bos masuk ke hotel itu, pada jam lima subuh, saya menemukan wanita itu keluar tergesa-gesa meninggalkan hotel," ucap Lim lanjut ingat-ingat CCTV yang dia cek semalam.


"Lalu, setelah itu, apa lagi yang kau ketahui?" tanya Kara masih ingin tahu.


"Ada yang aneh," jawab Lim.


"Aneh? Apa yang aneh?" tanya Kara terkejut.


"Wanita itu seperti masuk ke geng sempit dan tidak menampakkan diri lari, sepertinya dia hilang begitu saja," jawab Lim menyentuh dagunya.


"Sungguh? Kau tidak menemukan apa-apa lagi selain itu?" Kara belum puas.

__ADS_1


"Ya Bos, saya sudah cek ke geng itu, hanya ada toilet umum dan jalan sempit yang berlika-liku dan berakhir ke jalan raya, namun sayang sekali di jalan itu tidak ada satupun menangkap sosoknya di CCTV yang terpasang," jelas Lim pun merasa Raisa itu sangat cerdik dalam menghilang. Begitu pula Kara juga berpikir demikian.


"Wanita ini sepertinya juga belum sadar kalau yang dia tiduri malam itu adalah Bos bukan Tuan Genta," lanjut Lim yang juga sempat memutar rekaman saat Raisa dibawa pergi oleh John.


"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Kara masih ingin tahu kemampuan asistennya dalam bertugas.


"Karena jika wanita itu tahu, dia tidak akan naik ke mobil sekretaris John dan saya kemarin lembur demi mengecek semua CCTV yang mengarah pada mobil John, namun tiba-tiba mobil itu berhenti dan saya melihat wanita itu kabur, lalu hilang lagi tanpa jejak," jelas Lim menjawab.


"Kalau begitu, artinya Genta sedang kehilangan wanitanya," gumam Kara melihat ke luar.


"Apa mungkin wanita itu kabur setelah tahu identitas Bos dari John?" tanya Lim.


"Tidak, John itu setia sekali pada Genta, dia tidak akan ember pada siapa pun, sangat beresiko jika dia melanggar tugas utamanya," jawab Kara mengepal tangan karena John juga menuduhnya pelaku rencana pembunuh Sena.


"Kalau begitu, apa alasan wanita itu kabur dan menghilang?" tanya Lim bergumam sendiri.


"Lim, dia tidak kabur," ucap Kara membuat Lim terlonjat karena Kara memiliki asumsi berbeda.


"Dia itu sedang merencanakan sesuatu," sambung Kara mengingat kamera yang disimpan dalam villanya.


"Sepertinya wanita ini licik dan berbahaya, Bos. Aku harus berhati-hati jika berhadapan dengannya," ucap Lim lalu merasa dalam hati kalau Raisa wanita yang keren. Sudah tidur dengan atasannya sekarang ingin bermain petak umpat. 


'Memang cocok dia berada di sisi Bos Kara.' Batin Lim berharap tuannya segera menemukan wanita itu dan menjadikannya seorang istri dari ketua Mafia di Distrik LA. Sedangkan Kara berpikir Raisa seperti punya ciri-ciri pelaku yang menyamar sebagai asistennya dulu.


'Aku harus menemukannya dan membongkar siapa dia yang sebenarnya, aku yakin dia bisa saja punya tujuan jahat mendekati Genta,' batin Kara curiga Raisa itu bukan wanita biasa, melainkan siluman rubah yang misterius.


"Lim, turunkan aku di sini," perintah Kara tertarik singgah makan di restoran. Lim pun menepikan mobil, keluar lalu jalan memutar kemudian membuka pintu untuk Kara. Semua pandangan orang pun teralihkan pada Kara yang berswiter hitam, berkacamata hitam dan bertopi hitam.


"Apa saya perlu ikut Bos ke dalam?" tanya Lim berdiri di sebelahnya.


"Tidak usah, kau lakukan saja tugasmu mencari tempat tinggal wanita simpanan Genta," tolak Kara lalu masuk ke dalam restoran.

__ADS_1


"Baik, saya mengerti!" Lim pun masuk ke dalam mobil, melaju ke semua tempat bagi wanita malam bekerja, alias terdaftar. Lim yakin, bisa saja Raisa terdaftar di salah satu tempat itu. Begitulah John yang juga sekarang mencari ke tempat yang sama dengan Lim. 


__ADS_2