Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
18. Akibat Mu Sendiri


__ADS_3

Habis makan, Genta pun menggandeng tangan Raisa ke dalam kamarnya. Malam ini ia akan terus melontarkan banyak pertanyaan.


Setelah masuk ke kamar, Raisa mengamati sudut-sudut ruangan untuk tempat ponselnya disembunyikan.


'Meski tidak ada kamera, aku bisa pakai ponselku, tapi taruhnya dimana?' pikir Raisa tidak ada tempat untuk ponselnya.


Karena Genta melihat Raisa bengong saja, ia pun menarik pinggang Raisa membuatnya kaget. Tapi lebih kaget lagi ketika ponsel yang dipegangnya diambil oleh Genta.


"Ahhh… kenapa ambil hp ku?" tanya Raisa.


"Malam ini akan kita lewati dengan indah, aku tidak mau perhatianmu teralih ke benda ini," jawab Genta meletakkan ponsel dan tas Raisa ke atas meja.


'Waduh, kalau begini, aku tidak bisa merekamnya,' batin Raisa cemas, terutama Genta masih merangkulnya.


"Kalau begitu, apa aku bisa mandi dulu?" Tunjuk Raisa ke kamar mandi. Genta pun melepaskan Raisa dan tersenyum.


"Kau tidak mau mandi juga?" tanya Raisa terpaksa mengajak Genta mandi bersama agar pria itu tidak menggeledah isi tasnya dan ponselnya.


"Kau pergi mandi duluan, nanti aku akan mandi setelah kau," tolak Genta membelai kepala Raisa.


'Ya ampun, kenapa dia tolak? Ini kan kesempatan langka!' batin Raisa pun masuk ke kamar mandi. Namun sesaat, ia mengintip lagi dan bertanya.

__ADS_1


"Yakin tidak mau ikut masuk?" tanya Raisa dengan wajah imutnya. Genta tertegun, pipinya sangat merah. 'Raisa, aku sudah menahan agar tidak tergoda, tapi melihatmu seperti anak kucing yang memohon, aku jadi tidak tahan,' batin Genta mencoba kontrol perasaannya.


Karena tidak dijawab, Raisa pun menutup pintu. 'Ah sudahlah, aku lebih baik bersih-bersih sebentar saja.' Raisa melepaskan rambut palsunya lalu pakaiannya dan berdiri di bawah shower. Tubuhnya yang langsing dan seksi sangat menawan diguyur air shower. Raisa yang menikmatinya tiba-tiba ada sensasi aneh pada tubuhnya, terasa ada dua tangan yang sedang meraba-rabanya. Raisa berbalik, melihat Genta berdiri di depannya.


Tangan Raisa membelai wajah Genta, begitupun pipinya disentuh Genta. Perlahan-lahan, Raisa menutup mata lalu berciuman dengan Genta di bawah shower.


"Ahhh… gila! Kenapa aku segila ini membayangkannya!" Raisa tersadar itu semua hanya keinginannya mandi bersama Genta. Setelah mandi, Raisa seperti biasa memakai rambut palsunya, namun ia sadar alat make upnya ada di luar, di dalam tasnya.


Terpaksa, Raisa keluar dengan menunduk terus. Genta sontak berdiri dari kursi, agak syok melihat Raisa keluar dengan tubuh polos. Genta meneguk ludah melihat pemandangan yang indah. Buru-buru ia menghampirinya.


"Raisa, kau berani sekali keluar dengan begini, kau harus tau, aku bisa saja menerkammu sekarang," ucap Genta melepaskan jas putihnya lalu menutupi tubuh telan jang Raisa.


"Maaf, aku keluar begini karena takut di dalam sendirian," lirih Raisa dengan nada kecil.


"Kalau begitu, duduklah dan tenangkan dirimu," ucap Genta mendudukkan Raisa ke tepi ranjang.


"Kau mau kemana?" Tahan Raisa saat Genta bergerak.


"Aku mau mandi, sebentar saja, kau tidak usah takut lagi, kamar ini tidak ada hantunya," ucap Genta membelai tangan Raisa lalu melepaskan pakaiannya di depan Raisa. Wanita itu sontak membuang muka saat melihat Genta yang buGil masuk ke kamar mandi. Dua pipi Raisa merah merona, dia merasa malu sendiri. Namun Raisa pun berdiri, ia bergegas ke tasnya untuk make up sedikit.


"Huftt, untung saja masih bisa make up, tapi di mana ponselku?" gumam Raisa tidak melihat ponselnya di dekat tasnya.

__ADS_1


"Aneh, harusnya di sini, tapi kok tidak ada?" Raisa garuk-garuk kepala sendiri lalu menggeledah isi laci meja, tapi tetap saja kosong.


"Duh, apa Genta yang ambil?" Raisa melirik ke kamar mandi dan menggigit kuku.


"Kalau begini, aku tidak bisa merekam!" Raisa menghentakkan kedua kakinya karena kesal. Namun tiba-tiba ia tersentak setelah dengar Genta mau keluar. Ia pun melompat ke ranjang lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


Tap tap tap! Raisa menutup mata mendengar langkah kaki mendekat ke ranjang.


Sreek! Raisa menelan ludah, Genta naik ke ranjang. 


'Umhh… kenapa jantung berdebar-debar terus? Padahal aku pernah melakukan ini tiga hari yang lalu,' batin Raisa menggigit bibir bawah, namun sontak berbalik ketika Genta memegang bahunya dan menariknya agar berbalik.


"Raisa, apa kau masih takut sampai membelakangiku?" tanya Genta lalu turun mencu mbu leher Raisa.


"Kau sangat wangi, sayang. Walau kau sudah mandi, baunya masih ada," bisik Genta lalu menggigit kulit leher Raisa. 


"Umhh… aku kecanduan akibatmu sendiri," bisik Genta lagi sambil melepas jas di tubuh Raisa sehingga keduanya sama-sama buGil di ranjang. 


"Aku tidak takut kok," ucap Raisa menatap ke bawah dan terpaku melihat rudal milik Genta yang biglong. Rawa-rawanya langsung saja berdenyut-denyut.


"Lalu kenapa tidak melihatku?" Genta menarik dagu Raisa agar mereka bertatapan.

__ADS_1


"Aku cuma cemas," ucap Raisa terbata-bata karena kepikiran berapa ronde yang akan dilewatinya. Sedangkan Genta yang duduk di sebelah Raisa pun, ia melihat ke bawah. Genta meneguk ludahnya saat tatapannya fokus pada rawa-rawa yang ditumbuhi rumput-rumput tipis. NafSu untuk bercinta semakin bergejolak.


"Tidak perlu cemas, sayang."


__ADS_2