Ranjang Balas Dendam Yang GiLa

Ranjang Balas Dendam Yang GiLa
14. Sebagai Budak


__ADS_3

"Kau sudah menemukan kamera yang hilang kemarin?" Bella terpaksa bertanya itu, namun sebenarnya Bella ingin memarahi Raisa karena mencari video itu di kantor.


'Raisa malam ini murung sekali, apa yang terjadi padanya? Apa dia masih sedih soal kamera atau aku yang memergokinya di kantor?' pikir Bella merasa bingung.


"Belum," jawab Raisa singkat.


Bella pun terdiam saja mendengar jawaban Raisa yang datar. 'Duh, kenapa jadi hening begini?' batin Bella sambil melirik-lirik Raisa yang sedang makan dan berpikir.


"Ah kalau begitu, malam ini kita keluar saja, Rai," usul Bella kembali bicara.


"Untuk apa?" tanya Raisa yang dari tadi menatap piringnya, kini melihat Bella.


"Kita beli kamera baru, dan hari ini ayo kita jalan-jalan cari udara segar," jawab Bella bersemangat. Raisa kembali menatap piring dan berpikir lagi. 'Kamera baru? Apa aku memang harus membeli dan merekam ulang?' Raisa yang diam, rupanya memikirkan balas dendamnya.


'Sepertinya kameraku memang hilang, kalau Genta yang ambil, dia pasti sudah marah besar, kalau begini aku perlu membeli yang baru,' batin Raisa kini yakin harus mengulang rencananya lagi.


"Okay, aku akan jalan-jalan bersamamu malam ini, Bella." Setelah setuju, Raisa berdiri lalu masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Bella membereskan dapur lalu masuk ke kamarnya juga untuk bersiap.


Di waktu yang sama, terlihat dua mobil hitam berhenti di depan sebuah gedung tempat hiburan malam, dan perjudian yang dipakai oleh pejabat kelas atas. Dua mobil itu milik sekretaris John dan asisten Lim.


Setelah turun, keduanya saling terkejut karena bisa-bisanya bertemu di tempat yang sama.


"Apa yang kau lakukan disini, sekre–"


"Ck, jangan sok kenal," acuh sekretaris John masuk dan mengabaikan Lim.


"Buset, sikapnya masih sama, suka berlagak keren. Tapi kenapa dia juga ada di sini?" gumam Lim menyentuh dagu.


"Ah benar saja, wanita itu pasti ada di sini, kalau begitu aku harus lebih cepat menemukannya sebelum ditemukan John!" Lim bergegas masuk ke gedung itu. Sekali lagi, dua-duanya bertemu di ruang tunggu.


"Ada apa ini? Kenapa kau juga masuk ke sini? Kau dari tadi mengikutiku kan?" Tunjuk John lalu duduk menjauh dari Lim.


"Anda salah besar, saya ke sini punya tujuan lain, tidak sama sekali mengikuti anda," bantah Lim lalu duduk santai. Sedangkan John tidak bisa tenang karena Lim adalah asisten Kara yang artinya Lim adalah rivalnya.


"Ck, dari dulu dia tidak bisa diandalkan, untuk apa merekrut orang merepotkan sepertinya," sindir John pada Lim.


"Ekhm, telingaku agak gatal, sepertinya ada kutu yang sedang menggigitku," balas Lim sindir John.


"Kau, anak kemarin sore, beraninya pada yang tua! Kau pikir aku tidak tahu maksud perkataanmu itu, ha? Cepatlah pergi dari sini sebelum aku lempar ke luar jendela," ujar John berdiri dan menatap sinis.

__ADS_1


"Jangan marah, kau sendiri yang suka memancing duluan!" Lim berdiri lalu balas sinis.


"Oh, sudah kurang ajar ya, sini kau, kulempar ke luar sekarang," kata John ingin menangkap kerah Lim, namun seketika Lim menghindar membuat John terkejut dengan Lim yang gesit.


"Meski baru lima bulan bekerja pada Bos Kara, malam ini aku akan buktikan dapat mengalahkanmu," ucap Lim memasang dua tinju, bersiap untuk berkelahi.


John mengusap ubun-ubunnya, lalu tersenyum smirk. "Hahaha… kau lucu sekali, aku sudah lama mengikuti keluarga Nero dan pernah menjatuhkan seratus preman dalam waktu singkat." John tertawa melihat Lim yang seperti batu krikil yang kecil.


"Dasar sombong, aku tidak takut gertakkanmu," ucap Lim memang tahu John itu sekretaris yang brutal, tapi dia sama sekali tidak pantang mundur.


"Sialan, kau makin kurang ajar ya!" ujar John akhirnya menarik kerah Lim dan mengepal tinju.


"Aku tidak kurang ajar, ini namanya keberanian!" balas Lim juga menarik kerah John. Dua-duanya pun bersiap untuk memukul, namun sebelum dua tinju itu mendarat ke wajah mereka, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan seorang wanita cantik yang berpakaian seksi pun masuk. Tampilannya hampir mengoyahkan si juki di balik celana dua pria yang terdiam mematung.


"Woaaahhh, apa ini? Kenapa dua pria tampan langka ini bisa masuk ke gedungku?" Wanita itu menarik kepala Lim dan John sehingga pipi mereka menempel pada dua semangka yang besar.


"Fufufufu… kalian datang untuk menemuiku atau ingin merasakan dua oppai?" tawanya lucu melihat wajah Lim dan John bersemu merah disentuh dua semangkanya.


"Ekhem, maaf Mammi, mereka berdua hanya ingin menanyakan sesuatu," dehem seorang pelayan pria yang datang bersamanya.


"Ah begitu ya, aku pikir mau bermain denganku," ucap Mammi pemilik gedung itu yang punya sikap manis yang membahayakan jantung.


"Jadi, ada apa kalian datang kemari?" tanya Mammi duduk di sofa lain, ia tahu Lim dan John adalah tangan kanan si kembar yang jarang masuk ke gedungnya.


"Saya sedang mencari seseorang," jawab Lim dan John bersamaan membuat Mammi kaget.


"Aduh duh, kalian berdua manis sekali bisa kompak begitu, siapa sih yang kalian cari? Fufufu…." tawa Mammi gemas.


Lim dan John saling pandang lalu menatap sinis.


"Saya mencari Raisa," jawab Lim dan John kompak lagi.


"Ahhh… kalian menggemaskan sekali, terutama kau," ucap Mammi pindah ke sisi Lim lalu mencubit gemas pipi pria itu.


"Kau sepertinya lebih muda dari John, tapi sudah mendapatkan lencana Tuan Kara, kau pasti orang yang sangat dipercayai dari pada asisten yang lalu," lanjut Mammi sudah tahu Kara itu masih hidup dan tahu lencana di kerah leher Lim milik Kara.


"Tapi lupakan saja, kita kembali ke topik lagi." Mammi duduk di tempatnya dan tersenyum manis.


"Nona Mam, maafkan bila kedatangan saya mengganggumu," ucap John sopan.

__ADS_1


"Ya tidak masalah, aku juga tidak sibuk malam ini," ucap Mammi lalu menyalahkan rokok kemudian merokok dengan tenang. Lim menelan ludah melihat wanita itu seperti preman yang seksi.


"Kalau begitu, saya mau bertanya tentang wanita yang bernama Raisa, apakah Raisa bekerja di sini?" tanya Lim duluan. John menyipitkan matanya melihat Lim sangat gigih ingin tahu.


'Tuan Kara ternyata sudah bertindak untuk menemukan Nona Raisa, kalau begini aku harus laporkan pada Tuan Genta,' batin John.


"Hah? Raisa?"


"Benar, namanya Raisa, saya juga mencarinya," sahut John. Mammi pun menyentuh dagunya lalu berbisik pada pelayan di dekatnya. Entah apa yang dibicarakan, tapi pelayan itu menggelengkan kepala.


"Sepertinya tidak ada nama itu yang terdaftar di sini," ucap Mammi.


"Tidak mungkin, dia itu wanita malam, ini tempat terakhir yang saya datangi dan yakin dia pasti terdaftar di sini, Mammi."


Mammi terlonjat kaget melihat Lim dan John kompak berdiri. Ia pun ikut berdiri lalu berbalik ingin pergi.


"Sudah aku katakan, tidak ada nama Raisa di sini, jadi kalian pergilah, aku tidak suka ada dua pria yang bertengkar hanya gara-gara satu wanita saja," cakap Mammi meninggalkan Lim dan John yang terdiam.


"Kalau begitu, kemana lagi aku mencarinya?" gumam John.


"Hahaha… wanita itu sepertinya bukan wanita penghibur," tawa Lim akibat ekspresi John yang kebingungan.


"Apa maksudmu, sialan?" Tatap John tidak suka.


"Maksudku dia itu misterius dan benar ucapan Bos Kara kalau wanita itu punya tujuan tersembunyi." 


John menggertakkan rahang melihat Lim tersenyum jahat. Terutama ucapan Lim yang menyebut nama Kara. Setelah Lim pergi dari gedung itu, kini John yang mengemudi pun menghubungi Genta, namun nomor Genta tidak aktif. Tentu Genta sedang berada di rumah Sena, terlihat ia dijamu baik oleh ayah Sena dan satu pria yang seumuran Ayah Sena juga hadir di rumah itu.


"Ayah? Kenapa ada di sini juga?" tanya Genta duduk di sebelah Sena yang terus merangkul lengannya. Sedangkan ayah Sena duduk di sofa yang sama dengan Tuan Nero.


"Ih kau kenapa sih, Genta? Om Nero ke sini datang menjengukku dan membicarakan hari untuk pernikahan kita," ucap Sena menjawab bahagia.


Tuan Nero tersenyum senang melihat Sena begitu dekat dengan Nero, namun bagi Genta, ia tahu ada rencana licik dari senyuman ayahnya itu.


'Sial, aku malam ini berencana mencari Raisa, tapi si tua bangka ini malah ada di sini. Kalau begini, aku bisa kehilangan Raisa. Kuharap John cepat-cepat menemukannya.'


Genta yang membatin kesal, ia pun terpaksa tersenyum saja mendengar pernikahannya akan secepatnya diadakan. Sedangkan Sena, ia tidak dapat berhenti menatap Genta lalu diam-diam tersenyum smirk.


'Setelah aku menikah, akan kujadikan Genta sebagai budakku, dan kurebut hartanya lalu membuangnya dari keluarga ini, hahaha…'

__ADS_1


__ADS_2