Rara Wanita Kuat

Rara Wanita Kuat
Kelahiran Rara


__ADS_3

Kisahnya dimulai saat orang tua Rara memutuskan untuk hijrah. Fatih dan Tia Meninggalkan tanah kelahiranya.


Mereka mengikuti program dari pemerintah yang diadakan saat itu. Transmigrasi adalah jalan alternatif bagi masyarakat yang tidak memiliki apa-apa sebagai lahan olahan.


Orang tua Rara sudah memiliki 2 orang anak diusia perkawinan baru 4th. Ya anak pertama laki-laki berumur 3th dan anak ke duanya perempuan berusia 1bulan. Jarak yang dekat memang. Anak lelakinya bernama fito dan anak perempunya bernama yani.


Lokasi transmigrasi mereka di pulau Sumatra. Orang tua Rara sangat bersemangat membuka lahan baru. Dengan masih mendapat jatah sembako dari pemerintah... Mereka mengolah lahan 1 dan 2 untuk ditanami kelapa sawit. Tanaman wajib yang harus ditanam oleh warga.


Setelah 1tahun disana anak pertamanya fito meninggal dunia akibat sakit. Sakit yang tak sempat di obati karena mereka tinggal di dalam.. Pelayanan kesehatan memang sudah ada ...cuman jarak tempuh yang cukup jauh.. Dan tahun itu belum ada kendaraan umum.


Sepeninggal anak pertamanya mereka masih ber semangat untuk merubah nasib. Jatah sembako yang diberikan pemerintah sudah habis masanya saat fito meninggal. Kini mereka harus berjuang sekuat tenaga agar bisa bertahan hidup.


Kelapa sawit yang mereka tanam belum berbuah karena masih berumur 1tahun.. Mau tidak mau mereka harus buruh keluar.. Agar mereka tetap bisa makan .


Kondisi yang mulai memburuk tetapi mereka harus bertahan karena ada kelapa sawit yang diharapkan. Kondisi Fatih dan Tia semakin terpuruk karena Tia kini sedang mengandung lagi.


"Pak ..... Aku sepertinya hamil."


"alhamdulillah.. "jawab fatih sambil mengusap wajahnya menggunakan telapak tangannya.


"gimana sih pak kok malah seneng! ... Kita ini masih susah pak.... Sawit masih kecil belum berbuah."


"Itu rejeki Tia.... Sudah dirawat saja!!!... Kan masih ada aku suamimu."


"Tapi pak....?"


"Sudah tidak usah dipusingkan"


Akhirnya Tia meninggalkan suaminya yang masih ada di dapur. Tia masuk kedalam kamar tidak berani membantah suaminya....


Sesampainya di kamar....Tia pun lantas memukul perutnya ....


"Dasar anak sial .... Orang kondisi masih susah juga... Malah ada di perutku" umpatnya .


Dia tetap melakukan aktifitas seperti biasa... Bahkan dia masih bisa mencangkul untuk membantu suaminya.... Padahal niat dalam hatinya agar anak yang ada dalam perut bisa keguguran.


Ketika usia kehamilan berjalan 4 bulan. Fatih menguatkan Tia agar menjaga kehamilanya . Fatih berharap anak yang dikandungnya berjenis kelamin laki-laki. Agar bisa menggantikan fito anak lelakinya yang meninggal.

__ADS_1


Akhirnya Tia sadar akan kesalahanya... Dia pun mulai hati-hati dalam menjaga kehamilannya. Hingga waktu terus berlalu dan berjalan begitu cepat.


Hari senin sore Tia sudah sering sakit dibagian perutnya... Yang kadang datang dan hilang. Tidurnyapun tidak nyenyak.


Hari selasa pagi Tia semakin sakit dan menyuruh suaminya memanggil dukun beranak. ...


Sambil menahan sakit dia mengingat hari.


"Har apa ini?... "Tia bertanya pada diri sendiri


"Sial ..... Ini hari selasa..apakah kamu benar akan lahir di hari ini?" Tia bertanya pada perutnya yang buncit.


Akhirnya dukun beranak itu datang... Dan membamtu proses persalinan Tia... Semua berjalan lancar ... bayi itu keluar dengan sehat... Rambutnya lebat.


"Selamat ya ndukk.... Anak kamu perempuan"...kata dukun wanita itu sambil menyerahkan bayi perempuan itu kepada Tia...agar segera di susui.


"oh iya mbah terima kasih atas bantuanya."


"Iya nduk... Sama-sama... Sudah kewajiban embah membantu orang- orang melahirkan. Nduk kamu bisa to.... ? Mbah mau pamit dulu".


" i ya mbah saya bisa.... Ini bukan anak pertama... Tunggu sebentar mbah biar mas fatih yang mengantar mbah pulang."


"saya terima ini ..... Terimakasih banyak semoga lekas pulih" sambil mengambil amplop pemberian fatih dan meletakkan di saku bajunya.


Kini Tia sendiri ditemani 2 anak perempuan ... Yani kini berusia 2th... Dan bayi yang baru lahir itu.


"kamu ini memang ya.... Anak pembawa sial.. Sebetulnya aku sudah benar waktu itu ingin menggurkanmu... Kalau bukan suamiku... Yang menyemangatiku ... Dan harapanya memiliki anak lelaki. Malah anak perempuan yang lahir. Kamu sudah ada dalam perutku dengan waktu yang tidak tepat. Dan kini kamu hadir juga di hari yang salah. " umpat Tia kepada bayi merah yang tidak tau apa-apa.


Selang tak berapa lama fatih pulang.


"pak gimana ini bayinya perempuan .... "ucap Tia sewaktu suaminya memasuki kamar.


Suami Tia mengangkat bayi itu lantas meng adzaninya. Setelah selesai diapun berucap.


"Sudahlah tidak apa.... kita akan rawat dia... " ucap fatih menenangkan istrinya.


"Bapak saja yang kasih nama aku gak mau!" kata Tia lagi...

__ADS_1


"iya nanti akan ku pikirkan nama yang pantas untuknya" jawab fatih.


"Nanti kalau sudah 7hari kita undang tetangga dekat saja... untuk pemberian nama anak ini" saran fatih


"iya terserah bapak saja... Aku pasrah".


Tidak ada penyambutan yang istimewa... untuk bayi yang baru lahir... Berbeda dengan kelahiran yani... Tia... Memberikan pakaian baru.. dan banyak kerabat yang datang memberikan bingkisan untuk yani yang masih bayi. Sedangkan bayi yang baru lahir ini dia memakai pakaian bekas yani.


Hari-hari berlalu ... Sehari sebelum acara pemberian nama.. Fatih ke kampung untuk membeli keperluan berjanji... Dia membeli telur.. Beras dan lainya...


Jarak antara trans ke kampung penduduk pribumi lumayan jauh karena harus melewati kebun sawit. perjalanan yang jauh itu ditempuhnya dengan berjalan kaki. Ketika diperjalanan pulang tiba-tiba langit menjadi gelap.. Dan angin kencang pun datang. Fatih berjalan tertatih di guyuran hujan yang semakin deras mengguyur badannya.ketika hujan semakin deras akhirnya fatih berhenti di sebuah pondok warga yang ada di kebun sawit. Pondok berukuran 2x2m cukup untuk berteduh sementara.


Hari sudah semakin malam dengan hujan yang masih mengguyur walau sudah tidak sederas tadi. Tia menggendong bayi itu karena dia menangis dengan kencang seolah mengetahui kondisi ayahnya... Yang sedang kedinginan...yani yang berumur 2 tahun pun ikut merengek... Tapi Tia lantas mengambilkan makanan agar yani diam. Benar saja yani pun diam dan sibuk dengan makanan di hadapanya.


Jam menunjukkan pukul 00.00... ketukan pintu membuat Tia berlari keluar untuk membukanya. Ya... Fatih pulang dengan membawa sembako dan kebutuhan untuk pemberian nama esok hari.


Tia langsung menyodorkan handuk dan menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu. Tia juga dengan cekatan menyiapkan teh hangat dan sepiring nasi beserta sayurnya.Kedua anaknya telah tertidur . Ketika Tia masuk ke kamarnya untuk memasang selambu yang belum terpasang.


"kamu benar-benar anak pembawa kesialan di rumahku. Lihat itu suamiku sampai kedinginan gara-gara kamu. Rasakan ini!" sambil mencubit kecil di paha bayi.


Seketika bayi itu menangis keras... Membuat yani ter bangun....


Dan yang dilakukan Tia diluar dugaan bukanya mengangkat sumber tangis ini malah yani yang di gendongnya... Sambil membawanya keluar kamar untuk ditidurkan lagi. Bayi itu menangis keras merasakan sakit pada pahanya...


"Tia kenapa itu bayimu?" setelah selesai memakai baju ganti ....


"gak tau pak.. Dia itu menyusahkanku.... Dari tadi menangis terus... Aku capek mas... "keluh Tia...


Fatih memasuki kamar ... Lantas mengangkat bayi itu.. Dan menggendongnya.... " Rara sayang ... Anak bapak... Anak pintar... Jangan nangis... Ya... Rara kan anak kuat" hibur fatih pada bayi Rara... Dengan menimangnya sebentar akhirnya tertidur lagi.


Bersamaan dengan istrinya yang meletakkan yani di kasur . Rarapun diletakkan disana.


"apa tadi bapak bilang ?.. Rara?"


"iya mak... Bapak mau beri nama anak ini Rara yang bapak ambil dari Lara artinya sakit. Karena Bapak harus bersakit-sakit untuk memberinya nama. Asal mamak tau tadi di perjalanan pulang .. Hujan angin ditambah petir. Dan lagi banjir selutut... Mangkanya baju bapak basah semua... Tapi barang -barang yang bapak bawa insyaallah aman karena bapak dobel memang plastik pembungkus waktu ditoko. " jabar fatih dengan semangat dan sambil melahap makanannya.


"iya pak tadi hujan deras memang disini ,bapak pulang inilah baru agak berhenti. Kalau soal nama .. terserah bapak saja mamak ngikut aja kata bapak." kata Tia.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2