
Waktu memang terus berlalu. Ketika semuanya masih dapat terkendali. Dan akhirnya kondisi menjadi tak dapat dikendalikan lagi.
Usia Fatih sudah tak lagi muda, ia kini sudah memasuki kepala 4. Dimana usia yang tak seharusnya seseorang untuk bekerja mengandalkan fisiknya.
Fatih kini memiliki 6 orang anak. Akhirnya Rara pun mengubur semua cita- citanya. Dari ke 6 anaknya sebenarnya hanya Rara yang memiliki impian tinggi. Tapi kini itupun harus kandas. Ia memilih bekerja agar dapat membantu kondisi keuangan keluarganya.
Rara mengikuti jasa penyalur tenaga kerja yang ada di daerahnya. Ada lowongan kerja yang mau menerima lulusan SMA. Ada 3 tahapan yang harus dilewati Rara agar ia bisa diterima.
Hanya 60 orang yang dibutuhkan dan orang pencari kerja sebanyak 200 lebih. Begitulah kondisinya, Rara mengikuti tes tertulis dan lolos, lanjut ke tahap berikutnya ia mengikuti tes wawancara dan lolos juga. Terakhir ia harus mengikuti tes kesahatan dan hasilnya belum di ketahui.
Ketika Rara sudah berada di rumahnya ia lantas berdoa dan berharap agar dirinya dapat diterima.
Ketika adzan isya berkumandang, Rara mendapat telfon melalui hp bututnya. Hp yang hanya bisa menerima telfn dan berkirim pesan dengan layar yang masih hitam putih.
"Selamat malam, apakah ini dengan atas nama Rara?"
"Iya pak benar ini dengan saya Rara. Ada yang dapat saya bantu?"
" Jadi tes kesehatanmu sudah lolos. Dan besok pagi segera berkumpul di kantor dengan membawa ijasah asli. Kita akan langsung berangkat. Karena PT yang mencari kerja sudah tak dapat menunggu terlalu lama. "
"Alhamdulillah....tapi pak kenapa mendadak sekali?"
"Begitulah harap maklum, ditunggu paling lama jam 8 pagi harus sudah berkumpul di kantor. Jika pada jam tersebut belum hadir maka akan dianggap gugur ."
"iya pak baik... Saya mengerti."
"kalau begitu, itu saja yang dapat saya sampaikan. "
"iya pak terimakasih atas informasinya... "
"ya sama- sama"
Tut tut tut suara panggilan pun terputus. Rara bergegas menghampiri orang tuanya.
"Mak aku lulus mak ! Besok aku harus berangkat, malam ini aku harus berkemas." dengan senyum yang terurai mengingat perjuanganya yang tak mudah.
"Tapi Ra ... Mamak tak ada uang sama sekali. Uang kiriman mbakmu sudah habis. Dan ini belum waktunya mbakmu gajian. Mamak gak mungkin memintanya. "
__ADS_1
" Mak aku hanya butuh uang pegangan aja. Masalah ongkos tiket bus dan pesawat semua ditanggung PT."
"Iya Ra .. Mamak paham tapi sekarang tak ada uang. Hasil jualan Bapakmu sudah habis buat makan. Begini saja, coba bawa blender ini ke tempat bu Gito dan mintalah uang padanya. Jadi utarakan maksudmu dan blender ini sebagai jaminannya kalau gak biarkan blender ini menjadi miliknya. "
"Iya mak... Aku segera kesana karena sudah tak ada waktu lagi, besok aku harus berangkat mak."
Rara kemudian membawa Blender ke tempat Bu Gito pemilik Kios . Saat Bu Gito hendak menutup kiosnya Rara datang.
"Assalammualaikum Bu Gito?"
"Walaikumsalam, eh kamu Ra. Ada perlu apa malam- malam begini? Mau beli sesuatu?" tanyanya.
Rara akhirnya menceritakan semuanya dan Bu Gito memahaminya.
"Begini Ra sebenarnya saya sudah memiliki blender, tapi ini untuk membantumu jadi saya ambil blendermu dan saya hanya mampu memberimu 250rb . Itu kalau kau mau?"
" Iya buk tak papa... Saya sudah bersyukur ibu mau membantu saya. Kalau begitu saya langsung pamit bu.. Karena besok saya sudah harus berangkat dan malam ini harus berkemas. "
"iya ... Hati- hati dijalan ya.. Semoga kamu selalu dalam perlindunganNya."
" iya buk terima kasih mari... ?"
Rara kembali ke rumahnya dan memberi tau orang tuanya. Rara lanjut berkemas menyiapkan barang bawaanya..
Kondisi Fatih dan Tia semakin terpuruk dengan keadaan Jaka yang salah pergaulan . Jaka semenjak masuk STM swasta dia tak mau lagi lanjut sekolah. Biaya yang sudah terlanjur dikeluarkan untuk biaya pendaftaran, buku dan seragam harus terbuang percumah. Hanya 1 bulan Jaka bersekolah setelanya ia tak mau sekolah lagi.
Dengan dalih ia mau kerja di ibu kota untuk membantu keuangan orang tuanya. Akhirnya Fatih dan Tia pun mengijinkanya ,sayangnya Jaka hanya mampu bertahan 3 bulan kerja di ibu kota.
Sifat manjanya yang tak dapat lepas dari orang tua membutnya untuk kembali ke kampung. Sangat di sayangkan lantaran Jaka tak bersekolah lagi akhirnya ia harus salah pergaulan. Ia lebih sering pulang pagi, Fatih dan Tia sudah tak sanggup mengatasinya akhirnya lebih membiarkan kelakuan anaknya.
Jaka di umurnya yang masih labil dia sudah mengerti minuman keras. Bahkan Jaka sering pulang pagi untuk sekedar mabuk bersama teman- temannya.
Ketika posisinya di rumah Jaka akan menjadi anak baik tapi tidak di luar rumah. Fatih tak mengetahui pergaulan anaknya.
Akhirnya kejadian na'as menimpa Jaka. Ia dalam posisi mabuk mengambil bensin botolan dan tanpa membayarnya.
Lantaran tak terima sang pemilik kios akhirnya menangkap dan membawanya ke kantor polisi. Jaka ditahan semalam di sana . Perilaku Jaka sangat mencoreng nama baik Fatih di tanah kelahirannya.
__ADS_1
Esok harinya Fatih mendengar kabar anaknya yang di tahan. Ia dan istrinya langsung ke polsek untuk menemui anaknya itu.
Dengan menangis sesenggukan Jaka meminta maaf pada orang tuanya . Dan ia juga meminta agar orang tuanya mau membantunya agar bisa terbebas dari hukuman.
Tia yang melihat kondisi anaknya, tak yega dan membujuk suaminya agar mau membebaskan Jaka. Akhirnya Fatih pun luluh dan membicarakanya pada pihak berwajib.
" maaf pak sebenarnya anak saya ini adalah anak baik- baik. Tolong saya pak bagaimana agar anak saya dapat bebas."
" Begini pak, anak bapak sudah terbukti melakukan tindak pidana , dan ini juga ada bukti serta saksi. Dan pihak pelapor juga sudah sangat resah karena kejadian ini tidak hanya sekali ia alami. Tapi saya ada solusinya pak."
"iya pak katakan saja, saya tak mampu melihat istri saya selalu menangis."
" Jalan baiknya agar tak sampai di persidangan pelapor harus menarik kembali laporanya. Dan bapak juga harus memberikan jaminan pada anak bapak."
"baiklah pak saya coba menemui pelapor."
" iya pak silahkan"
Fatih pun menemui istrinya dan menceritakan apa yang dibicarakan terhadap polisi yang menangani kasus Jaka.
"Ya udah pak cepat kita segera kerumah pak Ahmad, semoga dia berbaik hati. "
Mereka berdua menuju ke kediaman pak Ahmad dengan mengendarai motor.
" tok tok tok... Assalammualaikum?"
"ceklek... Walikum salam ada apa ya pak? "
"Benar ini rumah pak Ahmad?"
"Iya benar dengan saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"
" oh iya sebelumya perkenalkan saya Fatih dan ini istri saya Tia, kami orang tua dari Jaka. "
"oh ya... Saya mengerti, silahkan masuk ! kita bicarakan di dalam. " sambil memperhatikan mata Tia yang sembab lantaran menangis
" terima kasih pak sebelumnya, jadi begini maksud kedatangan kami kesini ingin meminta maaf kepada pak Ahmad atas perilaku anak saya yang tak berkenan di hati bapak. "
__ADS_1
"oh iya pak, jadi gini lho pak Fatih buk Tia.. Sebenarnya saya sudah terlalu sering kehilangan bensin eceran itu. Bapak kan tau keuntungan dalam berjualan bensin eceran tak seberapa, tapi ketika ada yang mencurinya saya pun bingung karena jangan kan untung yang didapat. Modalpun saya harus tambah lagi. Kehadian pencurian itu sudah terlalu sering. Jadi untuk memberi efek Jera sengaja saya mengawasinya agar kejadian serupa tak terjadi lagi."