
" Tapi pak saya sudah menanyakan ke pada anak saya, dan ia hanya sekali ini melakukan hal bodoh itu. Tolong sekiranya bapak dapat memafkan anak saya."
"Iya pak Fatih sepertinya anak bapak semalam dalam pengaruh minuman keras. Hingga tak menyadari perbuatanya. "
"maka dari itu pak saya memòhon dengan sangat agar bapak sama bu Ahmad, bersedia memafkan anak kami Jaka?"
" Sebentar ya pak saya mau berunding dulu sama istri saya di dalam. "
"iya pak silahkan. "
Pak Ahmad dan istrinya berunding di dapur.
"Jadi gimana ini pak, saya melihat Buk Tia yang matanya sembab itu menjadi tak tega. "
"iya buk.. Sama bapak juga. Atau kita cabut saja buk laporanya , semoga aja atas kejadian ini anak itu menjadi sadar."
"iya pak cabut saja. Ibu tau posisinya buk Tia. "
"ya udah kalau begitu kita kedepan untuk menemui mereka."
"iya pak mari.."
Mereka lantas menuju keruang tamu. Dan memulai pembicaraan yang sempat terputus.
"Jadi begini pak Fatih, saya dan istri saya sudah sepakat untuk menarik laporanya kembali. "
"Alhamdulillah... " serempak keduamya sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan mereka.
"Terimakasih pak Ahmad, dan apa yang dapat kami lakukan sebagai gantinya."
"iya pak, bapak cukup membayar 3 botol bensin yang di ambil oleh putra bapak. Itu saja sudah cukup kami tak berharap yang lain . "
Fatih akhirnya memberikan uang bensin itu. Dan untuk menyingkat waktu, Fatih dan Pak Ahmad menuju polsek . Pak Ahmad yang didampingi istrinya segera mencabut laporan.
Fatih juga diwajibkan membayar jaminan. Uang jaminan nya sebesar 1,5 jt.
__ADS_1
Nilai yang cukup besar, Tia akhirnya segera memhubungi Yani untuk mengirimkan uang sebagai jaminan.
Yani yang tak punya uang kes ia segera menjual kalung yang ia beli seminggu yang lalu.
Jaka pun terbebas, Fatih dan Tia membawa Jaka pulang . Jaka dibonceng Fatih sedangkan Tia membawa motor yang dikendarai Jaka semalam. Mereka menuju kerumah ,mereka semua mengucap syukur. Dan Jaka kemudian di sidang oleh Tia yang disaksikan Fatih.
Tia sambil menangis, ia mengungkapkan kekecewaanya kepada Jaka
Jaka hanya bisa tertunduk. Dan meminta maaf seraya menyesali perbuatanya dan tak kan mengulanginya lagi.
Tia pun akhirnya mempercayainya, beberapa bulan setelah kejadian itu.
Jaka kembali mengalami kasus karena kebodohanya. Janjinya kepada Tia hanya tinggal janji. Jaya kembali berulah , waktu itu sedang di adakanya pesta dikampung Fatih.
Jaya kembali mengonsumsi barang haram itu hingga ia tak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pemuda kampung yang muak melihat Jaya yang tengah mabuk berat memasuki acara pesta kampung. Mereka semua menjebak Jaya.
Saat Jaya yang hendak ke parkiran untuk mengambil motornya, ia di arahkan ke rumah warga yang kebetulan ada motor yang terpakir didalam.
Jaya yang melihatnya lantas mengambil motor itu dan mencoba menyalakanya. Mendengar sura ke anehan pemilik rumah lantas keluar dari kamarnya dan meneriaki Jaya "maling".
Sayangnya kasus pencurian motor memang sedang marak waktu itu. Dan Jaya pun tak bisa bebas dengan mudah. Hingga ia di vonis 6bulan kurungan penjara.
Fatih dan Tia kembali terpukul. Fatih lebih banyak merenungdalam keseharianya. Untuk kedua kalinya ia seperti dilempar kotoran ke wajahnya oleh anak kebanggaanya. Peristiwa itu terjadi ketika Rara masih berada di rumah. Rara tak bisa berkata apa-apa lagi pada Jaya. Ia hanya berpikir jika dirinya bisa bekerja maka dia dapat membantu orang tuanya.
Keberangkatan Rara membuat Fatih sedikit tersenyum. Ia berangkat ke kota industri. Dan tanpa sengaja ternyata tempat tinggalnya masih satu kawasan dengan Yani yang memang lebih dulu berangkat kesana.
Yani memang berangkat ke kota industri melalui sekolahanya. Sekolah Yani adalah Sekolah Menengah Kejuruan jadi memang sudah ada dari pihak sekolah yang bekerja sama dengan penyalur tenaga kerja.
Berbeda dengan Rara yang bersekolah di SMA. Yang sebagian besar teman- temanya melanjutkan ke perguruan tinggi. Impianya menjadi seorang pegawai negri sipil pupus. Semenjak kehadiran Daus .
Rara memang berharap dirinya dapat menjadi seorang PNS seperti keluarga bapaknya. Yang kebanyakan adalah seoramg pegawai.
" eh Ra kamu disini juga? Lantai berapa?"
"wah asik ada mbak Yani juga ternyata. Iya mbak aku di lantai 2. Mbak sendiri di lantai berapa? "
__ADS_1
" aku dilantai satu Ra... Ya udah sana bawa masuk barangmu dulu"
"Iya mbak, nanti kalau sudah selesai aku tempat mbk ya... ? "
"Gak usah , masalahnya nanti masuk sore. Mbak mau siap- siap berangkat juga."
"iya lah kalau gitu. "
Rara tinggal sekamar dengan 3 temanya, Rara sudah mulai kerja jalan 2 minggu.
"Haduh gimana ini masih 2 minggu lagi duitku dah nipis tinggal 10rb aja" batin Rara.
Akhirnya Rara curhat dengan teman sekamarnya, dan temanya itu menyarankan agar Rara meminjam sama mbaknya. Lantaran posisi teman Rara kini juga sama dengan Rara.
Rara memberanikan diri meminjam uang pada Yani. Tapi bukan uang yang ia dapat malah sebuah nasihat kalau hidup jangan boros.
Uang Rara menipis lantaran ada iuran kamar yang harus ia bayar. Awal masuk kamar mereka sepakat untuk membeli beras, dan kebutuhan untuk memasak lantaran perusahaan hanya memberi pinjaman berupa kompor beserta tabungnya dan kasur serta lemarinya. Hingga mereka juga harus membeli semua perlengkapan yang memang tak sedikit jumlahnya.
Uangnya tak dipakai hanya untuk itu saja melainkan dia juga harus membeli perlengkapan mandi dan mencuci baju miliknya.
Yani yang waktu itu sedang dekat dengan seorang lelaki, ia jadi lebih berat sama pacarnya. Sering sekali ia membawakan makanan untuk keluarga pacarnya yang memang tinggal di kota itu. Ia bahkan tak mau tau adik kandungnya yang tengah menahan lapar. Karena belum memperoleh gaji pertamanya.
"temen- temen air galon kita habis gimana ini? Aku dah gak punya uang lagi. "
"sama" jawab ketiga temanya.
" Gini aja kita tahan minum dulu semalam dan besok pagi kita berangkat kerja sambil membawa botol minum, di PT. Kan memang di sediakan galon untuk kita. Nah kita isi aja botol minumnya, jadi kita bawa pulang deh biar lebih hemat. "
"Bener kamu Ra... Kami setuju."
"itu masalah minum , jadi kalau masalah makan gimana? Di PT kan memang di jatah sekali makanya tapi aku masih lapar kalau pulang kerja. ?" kata salah satu teman Rara.
" Besok kita ketempat bude penjual nasi yang ada di depan terus kita ceritakan kondisi kita padanya, siapa tau dia nanti kasih kita solusi. "
"wah sekarang mbak Dwi yang pintar."
__ADS_1
"Ayoklah kita kesana bersama- sama"