
Kelahiran Jaya menambah warna keluarga Fatih... Kehidupanya pun mulai membaik.. Lantaran Kelapa sawit yang ia tanam bersama istri sudah mulai menghasilkan walaupun bisa dibilang buah pasir... Tapi setidaknya beberapa tahun kedepan Fatih sudah memiliki penghasilan bulanan.
Fatih juga tipe orang yang ulet... .. Dia juga tanam semangka.... Lombok keriting ...dan juga kacang panjang. Untuk keseharianya...
Keuangan mereka perlahan mengalami perubahan. Tapi tak dipungkiri Tia tetap membedakan anaknya... Menurutnya Jaya adalah anak pembawa keberuntungan.
Jika diperhatikan secara seksama Jaya sekarang yang menduduki posisi tertinggi dihati orang tuanya.
Waktu terus berlalu... Ketika Jaya sudah mulai berumur 2th. Dia pun akhirnya lepas asi.
Untuk menggantikan Asi,Jaya tetap masih mendapat susu formula... Di masa tumbuh kembangnya... Jaya sangat pesat... Berbeda dengan Rara...
Bahkan sejak Jaya umur 1th dia sudah pandai berbicara dan berjalan. Karena Tia selalu mengajaknya bicara dan melatihnya jalan. Jadi Jaya mendapat kemajuan yang cepat.
"Kamu memang anakku...... Kamu berbeda dengan Rara si anak pembawa sial.... Mamak sangat sayang padamu" bisik Tia ditelinga Jaya ketikaa ia sedang tidur.
Tia sangat memperhatikan tumbuh kembang Jaya.
"mak aku mau susu.... ?" ucap Rara yang tiba- tiba menghampiri Tia.
"Kamu kan udah besar... Gak usah minum susu...! Susunya buat adik... Minum saja tehnya bapak" jawaban Tia pada Rara...
Teh yang mulai dingin itu pun akhirnya diminum Rara.
Ya... Rara tumbuh menjadi anak yang penurut. Meskipun ia sangat menginginkannya.
Tia hanya memberikan Susu pada Yani yang kini sudah berumur 6th dan sudah mulai masuk Tk. Alasanya adalah .... Yani butuh nutrisi untuk sekolah sedangkan Rara masih belum sekolah. Alasan Tia selalu tepat .... Sayangnya Fatih pun menyerahkan urusan anak- anaknya sepenuhnya pada Tia.
Jaya yang berumur 2th itu memiliki badan yang gembil... Berbeda dengan Rara yang seperti mengidap cacingan. Perut besar, badan kurus... Mata belok... Dan rambut yang merah karena sengatan matahari. Rara juga pendek..
Rara di umurnya yang 4 th ini... Tia tidak pernah memperdulikannya ... Bahkan masalah makan maupun tidur siang pun tak di pedulikannya. Mengakibatkan Rara terus bermain di panas yang sangat terik. Dari pagi hingga sore hari... Menjelang malam barulah ia dimandikan oleh Tia...
Fatih yang pulangnya selalu mendekati malam ia pun
Tidak pernah tahu tentang perihal ini... Yani dan Jaya mandi 2x sehari saat pagi dan sore. Rara hanya 1x itupun mendekati waktu suaminya mau pulang.
"Kamu ini udah dekil... Item jelek lagi... Tambah pembawa sial... Kenapa gak mati aja! " batin Rara saat memandikan Rara dengan tergesa.
"mak kenapa Rara gak sekolah kayak mbak Yani? "
"iya nanti kalau Rara sudah besar.
"Ye.... Aku sekolah kayak mbak... "
"Sudahlah gak usah berisik nanti adik bangun... ! "
" iya mak maaf... Rara cuman senang "
"Dah selesai mandi sekarang kamu pake baju sendiri! O... Ya kalau Rara mau sekolah ... Mulai besok harus sudah bisa mandi sendiri. "
"i.. Ya mak siap.... " ucap Rara penuh semangat.
"mulai besok kamu harus sudah bisa bantu mamak ya" ucap Tia sambil berlalu meninggalkan Rara.
__ADS_1
Kesokan harinya Rara bangun pagi... Dan ia nungguin mamaknya yang sedang mempersiapkan sarapan.
"Mak Rara bantu apa? "
"Kamu.... Belajar nyapu ya....." Perintah Tia
" Baik mak"
Dengan tubuh kecilnya dia mencoba memegang sapu yang tingginya dua kali lipat tinggi Rara.
Rara mulai belajar menyapu... Walaupun bisa dibilang hasilnya tidak bersih.
Jaya yang memang aktif... Membawa masuk mobil- mobilanya yang penuh dengan tanah ke ruang tamu.. Lantas ia pun menuangkan tanah itu ... Ke lantai...
Rara yang melihat itu... Dia langsung emosi.
" Adik kenapa kamu kotori?... Mbak ini udah capek.. Tau!.. " hardik Rara pada Jaya sambil mencubit kecil pada tangannya.
Seketika itu juga Jaya menangis hebat. Yani yang melihat adik kecilnya menangis dia langsung menenangkan Jaya sambil mendorong Rara hingga tersungkur... Rara pun menangis. Fatih yang masih mandi dia berteriak pada istrinya untuk menenangkan anaknya.
Tia yang sedari tadi mendengar perdebatan mereka akhirnya datang dan menggendong Jaya...
"sudah -sudah nanti bapak marah...! Mbak... Sayang siap -siap y.... sebentar lagi berangkat sekolah sama bapak. Terus kamu Rara... Buang itu tanahnya keluar... Sudah diam gak usah nangis lagi. Besok- besok kalau sama adik gak boleh nakal ya.... Mbak Rara kan sudah besar... Adik Jaya masih kecil."
Ucap Tia pada anak- anaknya... Seketika keributan itu pun mereda...
Jaya yang masih dalam gendonganya ....diberi botol susu yang full susu . Akhirnya Jaya pun diam ... Dan asik menikmati susunya.
Tia kembali meneruskan aktifitasnya yang tertunda.
"Ya udah itu piring yang kotor kamu bawa ke belakang nanti mamak yang mencuci! "
"Baik mak... "di angkatnya sedikit demi sedikit sampai semuanya sudah terkumpul di belakang. Tubuh kecil itu selalu patuh atas perintah mamaknya.
"mak .... Bapak berangkat dulu ya... Sama Yani"
"iya.. Pak itu bekalnya sudah mamak siapkan. "
"mak mana uang sakunya? " pinta Yani sambil menyodorkan tanganya.
" iya... Ini ... Sayang... Uang sakunya... Mbak sudah selesai sarapanya? "
"sudah ... Mak.. "
"ya sudah sana berangkat... itu ayah sudah menunggu di depan" ucap Tia sambil mencium kepala Yani..
Fatih pun berlalu sambil menggoes sepeda nya.
"Rara...." teriak Tia
"iya mak ada apa....?"
" itu ambil piring bekas mbakmu makan... Bawa kebelakang biar mamak yang cuci.!" perintah Tia.
__ADS_1
"iya mak.... "
Kemudian Tia pun ke belakang untuk mencuci piring dengan diikuti Rara.
Tia mulai mencuci sambil berkata agar Rara menyusun piring yang sudah dicuci oleh Tia.
Tubuh kecil itu sama sekali belum terisi apa-apa... Dan dia terus saja mengikuti perintah Tia tanpa sedikitpun mengeluh.
Setelah selesai mencuci... Tia tiba-tiba merasa mual ... Dan ia mulai muntah -muntah. Rara yang melihat kondiai mamaknya segera memberikan air putih.
Keesokan harinya ia pergi ke bidan desa untuk memeriksakan kondisinya...
"Selamat ya buk... Ibuk positif hamil.... " kata bidan itu sambil menyodorkan buku pink.
"saya hamil buk bidan...? "
"iya buk... Kandungan ibuk sudah 3 bulan." bidan itu menjelaskan lagi.
Tia pun pamit dan segera memberi tau suaminya.. Fatih yang mengetahui istrinya hamil lagi dia sangat senang...mereka pulang ke rumah. Dan segera merencanakan sesuatu...
"mak ... Besok bapak maubke jakarta... Mamak di rumahbbisa kan sendiri... Bapak mau memberikan kabar ini sama keluarga... "ucap fatih saat itu...
"iya pak .. Kita sudah lama sekali tidak memberi kabar pada mereka. Mamak berani kok kan ada anak- anak... Tapi bapak jangan lama- lama ya di sana."
"palingan bapak hanya 7 hari sudah sama perjalanannya pulang pergi."
Dan hari keberangkatan Fatih pun tiba .. Fatih berangkat ke jakarta menuju rumah kerabatnya yang ada disana.
Satu minggu berlalu fatih kembali ke rumahnya dengan membawa beberapa pakaian dan perlengkapan bayi... Yang bagus dan masih baru... Itu semua pemberian dari merabat fatih... Tak lupa Fatih juga membawa baju baju baru dan baju bekas dari kerabatnya juga.
"kok banyak sekali pak?"
"iya mak kemarin bapak belikan baju baru buat Yani, Rara, dan Jaya ... Coba mak di pakaikan ke anak-anak siapa tau pas.!"
"Lha ini baju apa pak?"
"Ini baju anaknya mas ilham... Karena masih bagus- bagus .. Jadi bapak terima aja buat baju ganti anak -anak . "
Tia pun lantas memakaikan baju baru pada anak -anaknya... Muat semuanya.. Kecuali Rara.
"Haduh Rara yang gak muat pak... Badanya kekecilan... Anak itu susah sekali makanya pak.. Baju baru Rara kebesaran ... Dan malah muat sama Yani." ucap Tia memberi penjelasan.
fatih pun mengangguk seraya mengerti ucapan istrinya... Dan mencoba memilah -milah baju bekas.
"Coba yang ini mak ... Siapa tau muat di badanya."
Sambil mengulurkan baju bekas pada istrinya.
Setelah di pasang di badan Rara... Ternyata memang muat... Dan pas tidak kekecilan maupun kebesaran.
Dari banyaknya baju yang dibawa Fatih ... Hanya satu yang sesuai di tubuh Rara ... Dan itupun baju bekas.
Walaupun begitu... Rara tetap merasa senang... Katena setaunyabia dibelikan baju baru.
__ADS_1
1 bulan berlalu.. Kini kehamilan Tia sudah 4 bulan dan semua kebutuhan untuk janinnya sudah terpenuhi semuanya.