
Saat Rara memasuki Sekolah Dasar kehidupanya tak jauh ketika Rara balita. Kehidupanya di rumah bahkan masih sama. Tapi hati Rara yang baik ,dia tak pernah menyimpan dendam dan mengambil hati atas sikap mamaknya bahkan kakak dan adiknya.
Bahkan mamak Rara lembali melahirkan bayi perempuan saat Rara baru masuk SD. Diumurnya yang baru 7 tahun Rara telah memiliki 3 orang adik.
Sebenarnya beban paling berat tetap di yani , dia adalah anak pertama dan baru masuk kelas 3 SD. Dia sudah memiliki 4 orang adik. Tapi Tia tetap menjadikan Rara pesuruh yang nurut. Bahkan hanya hal kecil pun dia akan menyuruh Rara.
"Ra cepat buatkan teh untuk Bapak ! Ra ambilkan makan buat adik ! Ra berikan ini buat mbakmu ! Ra angkat semua piring kotor nanti mamak cuci kamu yang susun ! Ra belikan kue dan susu buat adikmu ! Ra jangan di minum ini susu yang mamak bikin buat Jaya. Ra tungguin adikmu dan jangan dinakali. Mamak mau memasak dulu . " itulah kata- kata yang sering kali diucapkan Tia pada anak keduanya.
Keseharian Rara hanya dirumah . Bahkan Yani masih sempat pergi bermain di rumah temanya tapi tidak bagi Rara.
"mak tolong lah mak, ajarin Rara. Rara belum mengerti dengan pelajaran matematika ini."
"Sudahlah Ra gak usah berisik mamak ini mau pergi kerumah tetangga. Kamu mau ikut apa mau tinggal dirumah?"
"Tapi mak ini PR. Dan besok harus dikumpulkan."
"mana liat PR nya?"
"Ini mak dari no 1 sampai 10". Sambil menyodorkan bukunya
Dengan cepat Tia mengerjakan PR anaknya.
"Dah selesai... Ayok mamak mau nonton tv!"
"Iya mak " jawab Rara dengan perasaan tak puas dihatinya.
__ADS_1
Mereka sekeluarga pergi ke tempat tetangga untuk menonton Tv. Jaman itu Tv masihlah barang yang dianggap mewah dan hanya orang- orang yang berduit aja yang punya Tv. Dan saat itu Tia belum mampu untuk membeli sebuah Tv.
Ada perasaan mengganjal pada hati Rara. Yang ia pikirkan adalah esok pagi jika ia sekolah. Rara menonton Tv bersama keluarganya di rumah tetangga . Disana juga banyak orang termasuk ada juga teman sekolah Rara yang ikut menonton.n
Mereka beramai- ramai menyaksikan sinetron yang sedang di gandrungi pada masa itu. Sinetron yang berjudul "Tersanjung" menjadi buah bibir para emak- emak.
Rara yang masih umur kecil dia tak dapat memahami dan mengambil hikmah pada yang ia tonton. Listrik belum menyentuh kampung Rara saat itu. Tv yang mereka nyalakan bertenaga disel atau accu. Dan di rumah Rara dia masih menggunakan lampu tepel (dian bahasa jawanya ) . Lampu yang menggunakan bahan bakar berupa minyak tanah.
Di rumah yang masih menggunakan lampu tempel dan jarak rumah yang berjauhan antar tetangga, membuat Rara menjadi tak berani jika harus dirumah sendiri pada malam hari.
Tapi jika siang hari ia tak merasa takut. Bahkan Rara sering ditinggal sendiri dirumahnya saat siang hari. Kendaraan satu - satunya yang dimiliki keluarga Rara adalah sepeda goes. Bapak Rara pun mengakali agar sepedanya dapat mengangkut keluarganya. diberinya papan di bagian depan agar bisa untuk membawa anak -anaknya.
"pak sudah biar Rara di rumah saja kan hari juga sudah siang. "
"Tidak pak, kita harus cepat pergi ke acara pesta itu! Mamak gak enak dia kemarin datang ke rumah untuk mengundang kita. Dan kemarin mamak juga sudah mengatakan padanya mamak tak bisa datang karena anak- anak yang terlampau kecil. Tapi dia memaksa mamak untuk membawa anak- anak. biar lebih rame katanya."
" Ya sudahlah kalau begitu..."
"Iya pak , kita juga sebentar di sana"
Tia menggendong anak bayinya. Sedangkan Yani dan Jaya duduk didepan. Dipapan yang sudah di modif hingga bisa digunakan untuk duduk anak- anaknya. Sedangkan adik Jaya yang balita duduk dibelakang bersama mamaknya.
Satu sepeda dinaiki oleh dua orang dewasa, 3 orang balita dan 1 anak- anak. Rara di tinggal dikarenakan sudah tidak muat.
Yani di ajak dengan alasan ia mampu menjaga Jaya yang sedang aktif- aktifnya. Fatih menggendong Lina yang berumur hampir 2 th. Sedangkan Tia dia menggendong bayinya yang masih berusia 1 bulan.
__ADS_1
Mereka disambut kedatanganya dalam acara pesta itu. Fatih dan Tia memang memiliki jiwa sosial tinggi jadi ia pun memiliki teman yang banyak. Fatih dalam hal menolong orang dia tak setengah- setengah meski terkadang dirumahnya juga masih dalam kekurangan.
Anak- anak fatih diberinya makanan dan lansung mengambil alih menjaga nya agar Fatih dan lstrinya bisa makan .
Mereka mengobrol panjang lebar tak terasa sudah 3 jam. Rara yang bingung di rumah sendirian. Ia lantas membuka - buka buku dan menggambar sambil ditemani kucing orens kesayanganya. Kucing itu menjadikan Rara tak takut meski seorang diri dirumah.
Saat mentari sudah tepat di atas kepalanya. Rara yang tidak makan dari pagi dia pun memutuskan untuk makan. Diambilnya nasi dan sayur bening pepaya. Hanya itu yang di masak Tia. Rara makan dengan lahap. Setelah selesai makan ia lantas mengangkat semua piring kotor. Rara belajar mencuci piring. Dalam hatinya semua harus sudah bersih dan rapi sebelum orang tuanya pulang. Rara berusaha menyenangkan hati orang tuanya.
Rara tak tau kemana dan acara apa hingga orang tuanya pergi dan meninggalkan nya seorang diri. Yang ia tau Yani di ajak untuk menjaga Jaya. Dan ia juga tau Lina dan adik bayinya tak mungkin ditinggal.
Saat adzan assar berkumandang saat itulah Fatih dan Tia pulang. Tia pulang dengan wajah tersenyum karena rumahnya sudah rapi dan tidak ada lagi piring kotor. Fatih melihat Rara yang sedang tidur di kamar dengan ditemani si kucing.
Rumah papan khas rumah trans pada jamannya memiliki jendela kayu. Rara memang mengunci pintu dari dalam tapi ia membuka jendela rumahnya. Jendela itu mudah dilewati orang. Jadi sesampainya di rumah Fatih langsung masuk melalui jendela dan membuka pintu.
Suara Jaya dan Yani membuat Rara terbangun. Rara merasa senang lantaran orang tuanya sudah kembali. Jaya menceritakan yang dilaluinya tadi panjang lebar pada Rara. Tapi lantaran ceritanya Jaya yang rancu membuat Rara tak memahaminya ia hanya mengangguk tanda merespon kemudian mereka pergi bermain di halaman.
Satu tahun kemudian tepatnya saat Yani kelas 4 dan Rara kelas 2. Fatih membeli sebuah sepeda anak- anak untuk Yani. Lantaran Yani sebagai anak tertua . Jadi jika mereka ingin pergi tak ada lagi anak yang di tinggal. Yani dan Rara dengan sepeda kecilnya . Lantas Fatih dengan istri dan ketiga anaknya.
Saat Rara duduk di kelas 2 nilainya menjadi merosot lantaran PR yang jarang dikerjakan. Dan Rara juga sering tak hadir. Dalam seminggu Rara terkadang hanya masuk 3- 4hr.
Tapi saat kenaikan kelas ia masih bisa naik kelas. Walaupun diurutan ke 3 dari belakang. Saat masih duduk di bangku kelas 1 Rara masih bisa menjadi juara umum tapi setelah di kelas 2 nilainya merosot. Mata pelajaran yang tambah dan Orang tua yang tak mengajarinya.
Padahal jika dipikir orang tua tia adalah orang yang cukup terpelajar. Fatih lulusan SMA sedangkan Tia lulusan SMP. Sebenarnya ilmunya cukup untuk mengajari anak- anak mereka di rumah.
Tapi Tia lebih suka melihat anak- anaknya tak rewel. Terlebih jika sikecil yang sakit karena sedang dalam tumbuh kembang. Rara pasti tak sekolah untuk membantu ibunya menjaga adiknya.
__ADS_1