
"Bu Zeva ... ada telepon dari pengacara." Sekretaris Ana memberikan ponsel kepada Zeva, menginterupsi meeting penting bernilai jutaan dolar. Kening Zeva mengernyit, jelas dia kesal. Ana seperti tidak paham siapa klien mereka hari ini.
Sekretaris Ana langsung membaca mimik Zeva dan bergegas membisiki atasannya itu sesuatu. "Anda sedang dikudeta, Bu."
Mata Zeva yang bulat itu berjengit heran. Siapa yang berani melakukan itu? Dia cukup baik dan dermawan, adil juga bijaksana pada siapapun. Tanpa pengecualian.
Ingin dia menyangkal tapi rasanya itu seperti bukan dirinya. Dia bukan orang yang gentar dengan gertakan yang sudah terjadi entah ke berapa kali ini. Rasa penasaran membawa tangannya mengambil ponsel kantor yang selalu dibawa Ana, sekretaris utamanya.
"Mohon izin rapat saya jeda sebentar." Zeva memang sopan diantara sikap profesionalnya. Tidak peduli siapa, dia memang begitu. Tapi kesan yang didapat justru sikap tanpa sungkan dan seakan dia bertindak sesuka hati. Melanggar prinsip yang dipegangnya sendiri.
Klien Zeva saling pandang dan membuang napas kasar. Seakan tak percaya kabar bahwa Zeva adalah orang yang paling profesional saat bekerja. Mana loyalitas yang didengungkan orang-orang itu? Bualan semata rupanya, demi meningkatkan nilai perusahaan ini semata.
Zeva merasa berdebar kali ini. Pengacara belum pernah meminta komunikasi semendadak ini. Segala sesuatu telah ia atur secara rinci dan jelas agar hal-hal urgen bisa di handle dengan mudah oleh tim hukumnya. Apa kali ini mereka tidak bisa?
Zeva seorang pemimpin dari perusahaan besar milik ayahnya, ditambah usaha miliknya sendiri yang secara hukum menjadi anak usaha Norwich Company. Hanya beberapa saja yang belum berlisensi Norwich namun sudah dikenal sebagai bagian Norwich.
"Ya, Pak Gunawan." Zeva akhirnya bicara juga setelah sibuk beberapa menit untuk memikirkan apa yang mungkin akan menjatuhkannya.
"Mom and Kiddie, Middle Night, dan Kitchen Chicken benar atas nama Pak Bastian, Bu? Sejak kapan? Ini berkas sudah tidak berada di kita lagi, Bu Romaria bilang beliau menangani segalanya." Pak Gunawan di seberang sana menjelaskan dengan suara lelah. Tugasnya banyak dan berat, pasti pria itu tertekan.
"Oh, itu ... saya minta Bastian bantu-bantu saya handle tiga usaha saya itu, Pak. Roro pasti melakukan itu atas perintah suami saya."
Zeva memutar bola matanya malas. Hanya itu saja rupanya. Dipikir apa. "Harusnya Bapak tidak usah pusing soal ini, kan? Bapak saya bayar mahal, urusi saja urusan lain. Kita sepertinya banyak kasus, banyak tuntutan, dan Bapak malah urus pekerjaan remeh."
"Ya, tapi anda tahu kan, anda rintis usaha itu tidak mudah. Saya hanya berusaha sebaik mungkin agar anda tidak terus bertanya ini kenapa dan bagaimana saat kita meeting nanti."
"Anda tidak usah menggurui saya Pak, saya tahu apa yang saya lakukan. Pekerjaan saya banyak ... wajar kalau saya lupa, kan? Tugas bapak menjawab saja. Kalau keberatan, Bapak bisa urus surat pemutusan kerja sama kita. Mudah, kan?" Kenapa pengacara itu jadi ikut campur sampai ke sana? Terlalu peduli sehingga merasa menjadi bagian diri dari Zevanya. Kepada siapa dia menaruh kepercayaan seharusnya, Pak Gunawan tidak perlu ragu. Yang dekat dengannya pasti adalah orang terbaik dan terpercaya.
"Oke, baik!" Suara menggeram terdengar bahkan parau sekali. "Saya akan kirimkan berkas perusahaan anda secepatnya berikut surat pemutusan kerja sama firma hukum saya, saya, dengan anda serta perusahaan anda yang besar itu."
"Saya akan mudah mendapatkan ganti anda, Pak. Yang cakap dan berpengalaman bukan hanya firma hukum bapak saja! Pengacara lain banyak yang antre, jadi anda jangan terlalu kecewa jika saya bisa dapat ganti sangat cepat."
__ADS_1
Zeva mematikan sambungan ponsel dan memutar badan menghadap Ana. Tatapannya tajam dan penuh protes.
"Tolong jangan menginterupsi hanya untuk hal tidak penting begini, sementara saya ada klien yang jauh lebih menguntungkan segala-galanya dari hal remeh semacam ini." Zeva mengingatkan.
Ana membungkukkan badan saat ini, lalu tangannya segera terulur untuk menerima ponsel dari tangan Zeva. Sebelum bos nya ini memakai cara yang ekstrem, misal melemparkannya ke luar gedung atau membuang ke tempat sampah penuh sisa makanan.
Zeva berlalu dari sana dan kembali ke ruang meeting, yang semuanya sudah berekspresi kesal.
"Maaf, saya—"
"Kami membatalkan kerja sama kita, Bu Zeva. Kita belum saling merugikan jadi tidak ada penalti yang kami tuntut atas perusahaan anda." Pria utusan perusahaan mitra Norwich itu terlihat dingin.
"Apa salah saya, Pak?" Zeva tentu tidak terima. "Apa karena saya dianggap anak baru yang tidak tahu apa-apa?"
"Bukan, Bu ... tapi kami rasa kami salah jika terus melanjutkan kerja sama ini! Kami permisi."
Zeva tergagap, tetapi begitu pintu tertutup, Zeva mengumpat sangat kasar. "Siapa memangnya yang mau kerja sama dengan perusahaan kecil begitu?"
"Ana ... jangan sampai orang dari perusahaan itu datang ke kantor kita lagi! Putuskan semua hal yang berhubungan dengan perusahaan itu, semuanya ... dua perusahaan tadi langsung di blacklist saja!" teriaknya pada Ana yang entah berada di mana, Zeva tidak peduli. Dia berkuasa, semua orang tunduk padanya. Idenya cemerlang, brilian, dan keputusannya selalu tepat. Siapa memang yang berani menolak dirinya seperti ini? Sungguh tidak tahu diri.
Ana diluar menarik napas, dan bergumam, "Mereka sudah lebih dulu menarik seluruh investasi yang masuk, ya ampun."
"Baik, Bu ...." Ana bisa apa selain berkata demikian untuk memuaskan bosnya. Terserah lah asal gajinya tetap turun tepat waktu.
Zeva membuang napas lalu mengenyakkan diri ke kursi. Tangannya mengambil ponsel pribadinya. Menghubungi Roro—Romaria, atau Bastian David—suaminya tercinta.
Bastian David adalah seorang aktor dan selebriti terkenal. Tampan rupawan, multi talenta, dan perkasa. Mereka belum di karuniai anak dalam pernikahan mereka yang berusia 10 tahun ini. Mereka sehat, mereka enjoy ... anak bisa dimiliki kapan saja mereka mau, Zeva sedang merintis karir dari bawah, dari usaha kecilnya sampai sebesar ini.
Tampuk kekuasaan berada di tangannya sebab dia membuktikan kalau wanita itu mampu dan pewaris tidak melulu seorang pria. Kakak maupun adiknya boleh laki-laki, tapi dia perempuan yang tangguh. Usahanya tidak boleh kalah dari pria manapun.
Suatu hari, kesempatan Zeva datang ... ayahnya, George Norwich datang, menawarkan pada Zeva bergabung ke Norwich Company, membawa usaha kecil Zeva berada dibawah naungan NC, dan Zeva sebagai pemimpinnya. George tidak punya pilihan tampaknya. Di tangan, Washington Clint Norwich, NC hanya bersaing di kelas menengah. Yah sekelas dengan M&K yang nota bene baru rilis beberapa tahun.
__ADS_1
Zeva naik dan langsung merubah semua susunan pengurus, bahkan mencopot Clint dari posisi tinggi ke karyawan biasa. Juga adiknya—Julian, dari struktur organisasi. Julian masih bocah, dia masih harus banyak belajar. Dia di sini hanya memenuhi papan struktur organisasi saja. Fungsinya minimal sekali.
"Bas ... pulang lebih awal bisa?" Tapi Zeva hanya wanita biasa yang tetap kalah oleh pesona maskulin pria bernama Bastian David. Wanita itu bucin parah pada suaminya, sampai semua diberikan begitu saja. Ya, siapa yang tidak memangnya? Bastian menemaninya di saat paling rendah hidup Zeva. Menerima keadaan Zeva, mendukung penuh, dan mencintai Zeva sepenuh hati. Wanita mana yang tidak luluh, kan?
"Aku masih ada acara, Dear ... aku udah bilang kan?"
"Roro sama kamu?" Ada sekelip rasa cemburu, tapi Roro orang yang profesional. "Dimana sekarang?"
"Masih di studio, ada syuting untuk acara olahraga, live jadi tidak bisa ditunda. Roro sudah pulang mungkin, coba kamu hubungi dia kalau ada perlu."
Nada suaranya meyakinkan sekali, Zeva tidak punya kesempatan mencemburui pekerjaan suaminya.
"I need you, Babe ... but, its okay! Aku bisa nunggu kamu."
Panggilan dimatikan begitu saja. Zeva kesal.
"Harusnya dia peka, kan?"
Ah, semua orang kenapa harus mengerti Zeva, sih?
***
"Sayang ... kamu nakal." Roro menggoyang pinggulnya lagi setelah terjeda oleh panggilan dari Zeva barusan. "Apa aku harus nelpon dia sekarang, kayaknya dia lagi galau."
"No ...!" Bastian memegang pinggul Roro dan menekannya lebih dalam menelan dirinya. "Aku yang lebih galau kalau harus tertunda lagi."
"Ah ...," desah Roro panjang. Entah bagaimana bisa Zeva mengabaikan keperkasaan sehebat ini begitu saja. Dia saja selalu merindukan penyatuan sedahsyat ini.
Bastian tidak tahan lagi, lalu mengubah posisi dengan Roro membelakanginya. "Kau harus hamil anakku, Roro!"
Hujaman keras terjadi kemudian, dan tanpa ampun juga tanpa peduli bagaimana Roro meminta ampun, Bastian terus bergerak maju mundur hingga pelepasan keduanya terjadi.
__ADS_1
Bastian telah lepas kendali setelah menahannya selama ini. Persetan dengan penikahan dan cinta untuk Zeva sebab Zeva sama sekali tidak peduli padanya.