
Bagi Zeva, pekerjaan adalah segalanya.
Bas baru pulang jam tiga pagi, baru tidur sekitar dua jam tapi suara Zeva tak henti memenuhi ruangan kamar yang masih gelap.
Ya, dia mulai bekerja sebelum subuh, bersiap, lalu berangkat ke kantor sekitar jam tujuh sampai jam delapan pagi. Bastian belum bangun, dan pria itu menyiapkan semua kebutuhannya sendiri.
Jujur saja pria itu ingin semua kembali ke masa lalu, dimana Zevanya belum berkuasa seperti sekarang. Mereka adalah pasangan yang romantis, harmonis, dan jauh dari gosip miring walau sama-sama sibuk menggeluti usaha masing-masing. Zeva telah bersamanya dua tahun sebelum menikah, dan sudah 12 tahun mereka bersama, dan selama itu, Bastian melihat perubahan Zeva secara nyata. Kian hari, hubungan mereka makin jauh, cinta mereka perlahan tidak utuh. Dan—
"Bas ...."
Posisi itu perlahan disusupi oleh perhatian seorang Roro. Sejak beberapa tahun lalu—7 tahun, mereka dekat dan Zeva tidak bertanya atau apa. Jadi Bastian leluasa melakukannya. Sejujurnya, benih-benih cinta diantara mereka sudah ada sejak dia dan Zeva baru saja menikah, tapi Bastian mencoba menepis semuanya sampai 7 tahun lalu, Bastian membiarkan Roro masuk ke hidupnya. Hanya hidupnya, tidak ke hatinya.
"Bangun, Bas!" Tepukan lembut mendarat di pipi Bastian. Wanita itu memang bebas masuk ke penthouse milik Bastian yang ditempati dengan Zeva selama menikah. Memang bukan hanya Roro saja yang bebas masuk, ada manager Bastian, Farhan ... yang juga punya kendali penuh atas rumah ini. Zeva risi? Tidak, dia baik-baik saja. Kalau merasa terganggu, cukup pindah ke tower sebelah, dia punya dua unit yang digabung jadi satu untuk ditempati sendiri.
Bastian sudah beberapa kali mencoba membawa pekerjaan dan selusin kru ke rumah, berharap Zeva keberatan, tapi yang ada wanita itu mempersilakan. Harusnya, Zeva menegur, rumah ini—penthouse, adalah rumah cinta mereka, sarang intim mereka, tak sembarang orang boleh masuk, tapi apa daya, Zeva cuek dan bilang itu adalah hak Bastian juga.
"Bas ... jadwalmu padat! M&K dan Middle Night ada audit keuangan."
Bastian tidak bisa pura-pura tidur lagi mendengar itu. Dia sudah terlanjur putus asa dengan hubungannya dengan Zeva, jadi biar saja dia dan Roro lebih dekat sekarang. Bastian sengaja membiarkan dirinya terlibat skandal.
Roro duduk di tepi ranjang, menatap tubuh Bastian takjub, sehingga bibirnya tersenyum. "Pakai bajumu," pintanya manja dan malu-malu.
Bastian tahu, jadi dia mendekatkan bibir ke bibir Roro.
"Bas, nanti ada yang lihat." Dia mendorong tubuh Bastian tak niat, membuat Bastian tak bisa menyerah begitu saja, dan langsung menindih tubuh Roro. Me ***** bibir Roro lebih dalam, dan sesuatu yang panas pasti akan terjadi di hubungan profesional mereka.
"Bas ... ditelpon produser!"
Kedua manusia itu sontak menjauh, Bastian langsung ngacir ke kamar mandi, sementara Roro gelagapan dan menyambar map di meja sekenanya.
"Bas ....!"
__ADS_1
Roro menatap pintu dengan tatapan yang biasa saja. "Dia masih di kamar mandi."
"Tolong suruh dia cepat," pinta Farhan setelah memperhatikan Roro beberapa saat. Dia mengedarkan pandangan, lalu berlalu seraya mengendikkan bahu.
Uh, hampir saja.
Roro menjatuhkan diri ke ranjang, menghela napas lega. Matanya menatap ke seluruh penjuru ruangan yang sangat mewah ini dengan tatapan penuh rencana.
Ponsel di sebelahnya berdering. Ponsel milik Bastian menyala dengan nama kontak Zeva muncul di layar. Dia tahu, sudah saatnya untuk pergi.
"Bas, buruan ... ditunggu Farhan." Dia tahu, kesempatan pasti datang. Tapi tidak sekarang.
***
Di kantor, Zeva barusan sampai dengan banyak sekali komplain dan juga kaburnya beberapa investor besar. Tadi dia buru-buru sampai ada berkas penting yang tertinggal, sehingga di sela darurat keadaan ruangannya, Zeva menyempatkan diri menghubungi Bastian. Selain meminta Bastian mengantarkan berkas kerja sama itu, dia juga ingin menanyakan keadaan suaminya yang tadi sama sekali tak dia sapa atau bahkan lirik sedikitpun.
Bastian pasti maklum. Dia sibuk sekali sebagai pimpinan perusahaan.
"Bu, Mr. Norwich ada di sambungan anda!" Ana menginterupsi, memaksa Zeva beralih ke telepon kantor yang sudah terhubung dengan ayahnya.
"What's going on, Zeva?" Suara Mr. Norwich yang sedang berada di New York membelah telinga Zeva. Tak ada kemarahan atau bentakan, tapi membuat Zeva berhasil gemetar.
"Beri Zeva waktu, Ayah ... semua akan selesai dalam waktu 24 jam." Dia sendiri ragu, tapi ... dia sudah sejauh ini dan sayang kalau sampai mesti terjatuh.
"Its so complication, right?"
"Yess, tapi Zeva bisa selesaikan seperti biasa. Hanya ada beberapa investor yang perlu diyakinkan ulang, Ayah ... isu pasar membuat kepercayaan mereka sedikit goyah." Zeva terus meyakinkan.
"Besok Ayah hanya akan melihat semua kembali normal," tekan Mr. Norwich. "Atau Ayah sendiri yang akan turun tangan mengambil alih."
"Jangan khawatir, Yah ... semua akan baik-baik saja. Nikmati waktu Ayah di sana."
__ADS_1
Zeva menunggu sampai panggilan diputus, sebelum dia memanggil Ana dan meminta kejelasan alasan kenapa investor berniat menarik investasinya semendadak ini.
"Saya tidak tahu pasti, Bu ... tapi yang jelas, ada yang menawarkan keuntungan lebih banyak dari perusahaan kita." Ana takut menjelaskan isu panas yang beredar. Tapi dia tidak punya pilihan.
"Siapa memangnya? Dan apa perusahaan itu telah terbukti lebih menguntungkan dari kita yang sudah bertahun-tahun berjaya?" Ya ampun, mudah sekali menyaingi NC hanya dengan iming-iming saja, ya? Buktinya pasti belum konkret. Zeva bahkan belum dengar nama lain yang mampu membuatnya gemetar bahkan baru dengar namanya saja.
"Anda pernah dengar Rome Industries?" Ana bertanya hati-hati dan setelah mengernyit semenit penuh, Zeva menggeleng. "Mereka berbisnis barang tambang yang katanya omsetnya jutaan dolar per bulan."
Entah mana yang lebih baik, tapi Zeva tahu, dia harus melihat Rome Industries.
"Hasil audit keuangan dari M&K dan Middle Night masuk besok siang, Bu ...."
Selanjutnya, Zeva hanya mendengar samar suara Ana. Pikirannya fokus pada Rome Industries, dan tangannya gatal berselancar mencari tau.
Nama itu kenapa mirip sesuatu atau seseorang? Perasaannya jadi tak enak.
"... berkas kerjasama dengan HK Holding, apa sudah siap, Bu? Mr. Kenan sekarang dalam perjalanan menuju kesini." Zeva terpaksa berhenti dan kembali menghubungi Bastian. Pembaharuan kontrak dengan raksasa industri Asia itu tertinggal di rumah.
"Halo, Bas ... bisa bawakan map di meja kamar? Merah tua yang kasar. Itu kerja sama dengan HK, ya ... pembaharuan saja. Tapi penting banget, soalnya Mr. Kenan sudah otewe ke sini," ungkap Zeva cepat seperti biasa.
"Belum jauh dari rumah, ambilkan, ya! Ana sibuk, sopir semuanya sedang pergi. Kami ada masalah, Bas." Zeva kembali berkata setelah mendengar penjelasan Bastian di seberang. Lalu panggilan dimatikan, setelah Bastian menyetujui. Dia menunggu beberapa saat sampai pintu ruangan terketuk, dan Ana mempersilakan.
"Mr. Kenan sudah di ruang rapat, Bu." Seorang staf muncul dan memberitahu.
"Suruh Clint menemaninya dulu, kami kesana secepatnya." Zeva pikir, Clint dan Kenan saling kenal. Jadi biarkan mereka bicara dulu basa basi.
"Beliau datang dengan Mr. Lui." Staf itu hanya memberi tahu, tidak bermaksud apa-apa, tapi Zeva sedikit gemetar. Lui Yaoshan adalah pemilik perusahaan level internasional, kedatangannya pasti untuk melihat sejauh mana NC layak diajak bermitra. Kesempatan bagus.
Ponsel Zeva berdering, dan dengan cepat Zeva menjawabnya. "Gimana Bas?"
"Aku tidak menemukan map yang kau maksud di kamar, Zeva! Sudah kucari tapi—"
__ADS_1
"Apa? Cari yang benar, Bas?! Itu adalah nyawa NC!"
Dan Bastian pasti tidak peduli.