Rebirth: Kurebut Hati Suamiku Kembali

Rebirth: Kurebut Hati Suamiku Kembali
Dicuri Diam-Diam


__ADS_3

Zeva menangis di kamar mandi sejak tiba di rumah. Sakit hatinya sungguh tak bisa dikatakan lagi. Sekarang, saat dia butuh dikuatkan, pria itu malah bersenang-senang. Saat dia butuh dukungan, justru Bastian menduakan.


Mengingat kembali 10 tahun terakhir yang sungguh keras dan menguras waktu juga energi, sungguh kenyataan ini bukanlah puncak yang diinginkan Zeva. Pikirnya, akan ada bahagia diujung kelelahan yang ada, tapi... Bastian pilih mendua.


Dan nyatanya, Bastian tidak pulang meski Zeva terus menatap ke luar rumah, sampai pagi tiba.


Hiruk pikuk kota menyambut Zeva kembali ke kantor. Walau sebenarnya dia tidak ingin, tapi ... dia punya urusan yang jauh lebih urgent daripada sakit hatinya.


Ya Tuhan, sebenarnya ... dia butuh penjelasan dan sedikit penghiburan. Oh sungguh dia merasa hina hari ini.


"Bu Zeva ...." Zeva mencari suara Ana di antara kesibukan lobi pagi ini. "Bu, saya sudah membuat lagi draft kerja sama dengan Mr. Kenan."


Harusnya Zeva menyambar map yang dipegang Ana, harusnya dia senang dan segera berlari ke kantor HK Holding, tapi kakinya terasa lemas.


"Bu, kita kesana sekarang—mari." Ana bahkan tidak kecewa kerja kerasnya tak disambut baik oleh Zeva. Dia tahu benar bosnya sedang tertekan, dan ini juga bukan hasil kerjanya sendiri, melainkan timnya yang luar biasa.


Ana membuka tangannya untuk mempersilakan Zeva memutar langkah, "Bu ...?!"


Melihat tatapan kosong Zeva, Ana kebingungan, ia khawatir semuanya tak bisa lagi diperbaiki. "Apa ada masalah lain?"


Zeva segera menggeleng dan berusaha memulihkan ekspresinya. "Kita berangkat sekarang!"


Zeva meninggalkan Ana begitu saja untuk segera bertolak ke gedung HK.


HK berada di lantai 20 tower di depan Zeva saat ini. Di mobil, Ana menjelaskan beberapa hal agar Zeva tak perlu membaca lagi point-point kerjasama sehingga pertemuan dadakan ini tidak terlalu bertele-tele dan menghabiskan waktu Mr. Kenan percuma.


Zeva melangkah dengan tenang menuju lift yang akan mengangkutnya ke lantai 20.

__ADS_1


Tak sampai semenit, Zeva sudah melangkah keluar lift.


"... senang bekerja sama dengan Anda Bu Romaria."


"Sama-sama, Mr. Kenan ... pengalaman berharga sekali buat kami yang belum lama masuk ke dunia industri ini. Rome Industries berhutang budi pada Anda."


Zeva terlambat mencerna percakapan yang masuk ke telinganya sebab kepalanya masih sangat penuh dan kacau. Dia terlalu banyak melamun, sehingga ketika dia menoleh, pemilik suara itu sudah masuk ke dalam lift.


"Tuan Kenan!" Zeva hanya mendapati pria bertubuh kurus tinggi itu tersenyum ke arah lift yang sudah setengah tertutup.


Kenan menoleh dan kehilangan senyumnya barusan.


"Saya membawa kembali draft pembaharuan kerja sama kita, Tuan." Segera Ana menyerahkan map merah tua lain ke depan Kenan yang hanya diliriknya sekilas.


"NC akan jadi opsi ke dua saya, Bu Zeva. Kebetulan mitra baru kami baru saja menanda tangani kontrak dengan kami." Kenan tidak tersenyum, ekspresinya dingin, sehingga membuat Zeva bertanya-tanya.


Kenan bukan orang yang sulit, biasanya, tapi kali ini dia berbeda sikap kepadanya. Ada sesuatu yang membuatnya berubah secepat ini. Insting Zeva bergerak cepat.


Tidak ada gunanya berlama-lama di sini. Zeva membungkuk 45 derajat sebelum memutar badan dan pergi.


Kenan hanya bisa termangu menatap kepergian Zeva.


"Kita ke kantorku, Ana!"


"Baik Bu." Ana paham, kantor yang dimaksud pasti ke M&K. Dia segera menginstruksikan sopir bersiap ke gedung lain milik NC tersebut.


Semalam, dia barusan ke sini dengan perasaan tidak nyaman, kini pun sama, malah berbalut gelisah dan berdebar. Dia belum siap bicara dengan Bastian maupun Roro. Astaga ... mereka bahkan kompak tidak menghubunginya. Ada apa ini sebenarnya?

__ADS_1


Tak tampak pegawai lama Zeva, hanya pegawai baru yang tampak asing dengannya. Bahkan tak ada sapaan sama sekali. Apa yang dilakukan mereka berdua pada jerih payahnya ini?


Zeva kembali ke depan pintu ruangan dimana Bastian berada. Terdengar suara tawa perempuan yanh khas, dan Zeva membukanya begitu saja. Pikirnya Bastian pasti sedang bersenang-senang dengan Roro di sini. Namun ternyata ....


"Halo Zeva," sapa Roro yang duduk di mejanya dengan gelas wine di tangan. Wanita itu terlihat senang.


"Suka dengan tampilan kantor yang baru?" Wanita itu menyeringai.


"Rome Industries itu kepunyaanmu?" Zeva bukan orang yang sungkan mengatakan kecurigaannya. "Dan meminjam tempatku?!"


Roro terkekeh mendengar keterbukaan Zeva. "M&K, Middle Night, dan Kitchen Chicken sudah hilang, berganti Rome Industries. Tapi tempat usaha kamu masih ada ... puing-puingnya!"


Zeva mencoba tenang walau hatinya mulai terbakar amarah.


"Untuk semalam, kau tidak menanyakannya? Suamimu sangat buas kau tau?" Kembali Roro terkekeh-kekeh senang.


Tangan Zeva mengepal tanpa sadar. "Kenapa Roro? Kenapa kau begini ke aku? Tak berarti kah kebersamaan kita selama ini?"


Roro menggeleng. "Aku begini karena aku lebih pintar dan lebih jeli melihat peluang, Zeva! Sementara kau arogan, aku mengumpulkan kelemahan kamu dan menggunakannya untuk kebaikan usaha ini."


Zeva lemas sudah. Air matanya berdesakan ingin keluar tapi dia menahannya. Dia ingin mendengar nyanyian Romaria Mogens yang merdu ini.


"Kita bersama bukan sebagai apa-apa, karena kau hanya anggap aku bawahan yang tak berguna! Aku lebih suka begini, Zeva ... Aku percaya kalau kita setara meski kau lahir dari keluarga kaya raya dan aku hanya orang biasa. Kau beruntung saja bisa memiliki segalanya, sementara aku memiliki otak yang brilian, yang kau sama sekali tak punya."


Zeva terhuyung. "Ro—"


"Pergilah, Zeva! Kau bukan lagi pemilik tempat ini, dan aku yakin Bastian tidak ingin melihatmu di sini setelah kejadian semalam. Kau tau dia sangat marah karena kau tuduh dia yang bukan-bukan! Dia merasa hina dengan tuduhanmu! Tapi aku senang tujuanku tercapai berkat pertengkaran kalian!"

__ADS_1


Bastian sedang ke luar negeri untuk menenangkan diri, dan begitu dia kembali, pria itu bahkan tak akan punya apa-apa lagi. Romaria Mogens telah mengambil alih semua nya dengan mudah, semudah mengambil permen dari bayi.


Itu karena kepercayaan Zeva dan Bastian secara penuh padanya. Mengambilnya bukan perkara sulit bagi Roro yang sudah mengendalikan separuh lebih pengaruh di sini.


__ADS_2