Rebirth: Kurebut Hati Suamiku Kembali

Rebirth: Kurebut Hati Suamiku Kembali
Back To Life Before


__ADS_3

"Aaaaa!"


"Hei!"


Sontak Zeva tersentak dan membuka mata saat pundaknya ditepuk pelan. Napasnya tersengal dan sedikit berkeringat di kening. Tangannya dingin, bahkan dia merasa sensasi jatuh barusan begitu nyata. Mimpinya kelewat terasa nyata.


"Aku masih hidup?" Zeva tanpa sadar menatap sekeliling seolah tak percaya dan meraba tubuhnya untuk memastikan kalau dia beneran masih hidup.


"Tidur siangmu terlalu nyenyak, ya?" goda Roro. Ia muncul tepat di ujung hidung Zeva bersamaan dengan senyum manisnya. Ia begitu senang melihat Zeva telah menjauh dari meja tempatnya meletakkan kepala lima belas menit yang lalu. Rapat sebentar lagi di mulai, tapi dia tahu Zeva kelelahan, sehingga sungkan untuk membangunkan.


Zeva menatap Roro dengan ekspresi bingung. "Aku cuma tidur? Berapa lama?"


"Iya, kau tidur lima belas menit lalu!" Roro duduk di sebelah Zeva, menarik siku untuk melihat jam tangannya. "Tepat dan sama sekali tidak lewat walau sedetik." Dia terkekeh.


"Li-lima belas ... menit?" ulang Zeva terbata. Tapi mimpi tadi terasa sangat lama. Lama sekali sampai dia merasa lelah. Sakit di hatinya terlalu nyata. Semuanya, Bastian, ayahnya, ucapan Clint, dan pengkhianatan Roro,.dia ingat semua. Cuplikan akhir hidupnya dia melihat semua.


"Ya ...," angguk Roro seraya tersenyum. Ia segera mengambil air minum yang baru saja dibagikan dan memberikan ke Zeva. "Kau belum terlambat rapat, Zeva—tenang!" Pasti Zeva merasa cemas akan rapat kali ini.


"I-Ini tanggal berapa? Hari apa? Tahun berapa?" Zeva menoleh ke kanan dan kiri. Sungguh ia linglung. Dia masih dengan sifatnya yang rapuh usai melihat kejatuhannya, tetapi waktunya mundur ke masa dimana dia sangat kuat dan humble. Agak timpang antara waktu dan tingkat kedewasaannya.


Roro mengerutkan kening. "Apa tidur membuat mu amnesia? Kamu baik-baik saja? Apa kau merasa sakit?" Jelas dia heran, tapi tangannya tetap melakukan apa yang Zeva butuhkan.


"Ini!" Roro menyodorkan Iphone 6S plus keluaran tahun lalu—2015. "Ruang rapat tidak ada kalender, sejak kalender di sini kau bawa ke ruanganmu di sebelah!"


"Apa?" Zeva sedikit kaget. Ini masih 2016? Tadi dia umur berapa? Kenapa dia merasa nge lag?


"Kau bilang jaman sekarang harus hemat kertas, kan?" Kening Roro mengernyit. "Apa kau sakit?" Dia sedikit cemas.


"Ya—em, maksudku aku merasa tidur ku tidak nyaman jadi leherku sakit!" ralat Zeva buru-buru. Ia bergegas mengamati sekeliling. Semua tak asing, lalu ia meminum air mineral dari Roro.


Gunakan kesempatan sebaik-baiknya ....


Ah, itu suara siapa? Kenapa lekat sekali di kepalanya? Dan mimpi itu ... Roro jadi pelakor di pernikahannya? Benarkah?


"Hah ...." Zeva merasa kepalanya sakit memikirkan apa yang terjadi padanya.


7 tahun dari tahun dimana seharusnya dia mati, Roro menggoda Bastian? Sampai punya anak? Sementara dia jadi Presdir NC, mendulang sukses besar tapi dia harus kehilangan pria yang dicintainya?


Tidak ....


"Kau membuatku cemas." Roro meraih telpon. "Aku hubungi Bastian!"


"Jangan!" pekik Zeva seraya menahan tangan Roro. Matanya gemetar menatap Roro. Dia ingat Roro juga melakukan itu saat ini. Semua sama, hanya ada yang sedikit berbeda. Dia harus merubahnya.


Roro meletakkan telepon tanpa melepas tatapan heran dari Zeva.


Zeva menelan ludah susah payah. Sekali lagi memastikan kalau dia hidup di tahun yang menurutnya semua kesialan hidupnya berawal.


Benar, dia telah kembali ke tahun 2016 dimana hari ini dia harus bertemu dengan seorang koki untuk Kitchen Chicken dan beberapa orang yang ingin bergabung di cafe and bar Middle Night.

__ADS_1


Benar dia memakai setelan blazer peach ini, dan celana merah marun. Zeva berdiri gemetar menghadap kaca gedung. Ya, dia kembali ke waktu itu. Dia kembali untuk memperbaiki keadaan.


Tapi dia akan tetap mati di tahun itu. 7 tahun dari sekarang, dia tetap akan mati. Tapi dengan cara apa? Jika dia berhasil mengubah keadaan, kenapa dia harus mati? Bukankah harus ada ending yang bahagia dari hidup kedua?


"Ah, Anya!"


Zeva menoleh. "Ayah?!" Matanya terpaku pada sosok sang Ayah yang berjalan ke arahnya. Senyumnya teduh sekali. Zeva ingin menangis jika ingat betapa kasar sang ayah ketika marah. Zeva tak sanggup melihat tatapan itu keluar dari mata sang ayah. Jangan sampai.


"Kau pucat ... sakit?"


Zeva menggeleng seraya tersenyum.


"Aku sedikit lelah." Dia menggosok lehernya.


George Norwich mengusap kepala sang putri. "Ayah ada rekomendasi bulan madu jika kau mau mempertimbangkan ...."


Bibir Mr. George mengerucut, matanya bergerak liar ke arah lain. Dia tidak bermaksud meragukan pilihan putrinya, tapi ke Maldives itu terlalu lazim.


"Gimana kalau ke hotel yang ada di tebing batu atau ke villa tengah hutan." Mr. George mengerling seraya tersenyum.


Zeva sejenak tergamam. Dia bulan madu, terus nanti Roro mengacaukan perusahaannya? Tidak!


Zeva menggeleng. "Bulan madu nggak harus ke mana-mana, Ayah!" Mata Zeva menatap Roro sekilas. Dan dia tahu kalau Roro kecewa, tetapi sedang berusaha menguatkan diri saja.


Pandangan Zeva kembali ke Mr. George. "Aku akan tetap bekerja seperti biasa, dan bulan madu tetap berjalan."


"Staycation?"


"Oke, baiklah ... biar Ayah yang bayar." Mr. George tersenyum. Dia senang akhirnya Zeva mau fokus untuk punya bayi. Mereka cukup lama menunda, setidaknya dia harus punya satu putra, sebab istri Clint kukuh tidak mau punya anak.


Ia percaya Zeva selalu bisa diandalkan.


"Makasih, Yah." Zeva mencium pipi ayahnya. Untuk dua hal; dia ingin menunjukkan kasih sayang ke orang terdekat lebih banyak selagi dia punya kesempatan, dan ayahnya memang pantas mendapatkan itu ketimbang perdebatan seperti yang terjadi dahulu.


Dulu, Zeva mulai merasa ayahnya menekan dirinya agar punya anak. Padahal karirnya sedang bagus. Tapi kini dia akan menuruti apa keinginan ayahnya. Apapun itu.


"Ayah kembali, ya ... Clint tadi menelpon."


Zeva mengangguk. Namun dia ingat sesuatu. Clint harus diluruskan sejak awal agar Roro tak punya celah menjatuhkan NC.


"Ayah ...!"


Mr. George semula hendak melangkah keluar, tetapi segera memutar badan menghadap putrinya.


Mereka saling tatap dan tersenyum.


"Tolong jangan terlalu keras pada Clint." Susah mengatakannya, kan? Menuduh Clint korupsi di depan Roro bisa jadi bomerang malah.


Mr. George merasa ini adalah kejutan. Anaknya tak pernah saling peduli selama ini. Tapi ini bagus sekali.

__ADS_1


"Kita makan malam nanti, ya ... mari kita bicara dari hati ke hati." Mr. George tersenyum saat memutar badan. Senyum Anya adalah segalanya. Senyum tulus anaknya terasa berbeda.


Ketika melangkah menuju lift, senyum Mr. George pudar. Matanya sedikit melebar. Apa Anya mengidap sebuah penyakit mematikan? Anya agak aneh ... dan dia pucat. Astaga ....


Bergegas dia menghubungi rumah sakit dimana Keluarga besarnya biasa berobat.


"Halo ... Apa Zevanya akhir-akhir ini mengalami sesuatu yang aneh?" tanya Mr. George cepat. Ia ketakutan hingga jantungnya berdetak tak karuan.


"Bu Zeva hanya melepas kontrasepsi dan memeriksakan kandungan, Pak."


"Hanya itu? Periksa lagi benar-benar! Apa anakku sakit?"


"Benar, Pak ... Hanya itu yang dilakukan Bu Zeva saat kemari seminggu lalu."


Mr. George menghela napas dalam. Syukurlah ....


Ia sampai tidak mengucapkan terima kasih saking senangnya dan langsung menutup panggilan begitu saja.


***


"Apa aku harus menunda rapat kali ini?" Zeva masih bergumam. Orang yang akan hadir hari ini belum juga datang. Dia harus memastikan banyak hal, termasuk bertemu Bastian.


Dia hanya diberi kepingan ingatan sedikit saja. Setiap kejadian saat ini baru akan dia ingat ketika kejadian tersebut hampir terjadi. 7 tahun bukan waktu yang sebentar untuk seorang Zeva yang sibuk.


Roro duduk di kursinya sambil membuka-buka dokumen. Zeva meliriknya. Roro tampak gelisah dan Zeva tau apa sebabnya.


"Tiket pesawat mu sudah aku pesankan, Zeva," ujar Roro tiba-tiba.


Zeva segera mengalihkan tatapannya sebelum Roro menyadari kalau dia tahu sesuatu. "Tapi aku tidak ingin pergi, Roro."


"Ada masalah apa sebenarnya ... kau agak aneh setelah bangun tidur tadi?" Roro menyelidik. Dibalik perhatiannya, dia mencari tahu sejauh mana pengetahuan Zeva soal dirinya.


Zeva menggeleng. "Tidak ada ... hanya malas saja harus keluar negeri cuma untuk buat anak saja."


Roro menghela napas. "Baiklah ... aku hubungi Bastian dulu—"


"Nggak perlu!" tukas Zeva seraya menahan tangan Roro yang hendak mengambil ponsel.


Roro mengerutkan kening menatap Zeva.


"Mulai sekarang ... tolong jangan hubungi Bastian pakai nomor kamu, Roro!"


Roro tercengang.


"Apapun yang harus Bastian ketahui soal keputusanku, biar aku sendiri yang beritahu dia! Aku yang akan diskusi langsung dengannya." Zeva menatap Roro lebih serius dari sebelumnya.


Roro mundur perlahan. "Kau curiga aku mengubah perintahmu, Zeva?"


"Tidak ... tapi kau bukan asisten atau sekretaris, Roro! Kau adalah karyawan biasa, yang kebetulan kenal dekat dengan aku dan Bastian. Tak ada yang berubah, kau tetap bisa bekerja di sini, dekat dengan kami, tapi aku akan urus semuanya sendiri mulai sekarang! Semuanya!"

__ADS_1


Roro menganga. Tapi dia tidak bisa apa-apa. "Baik, Bu Zeva."


__ADS_2