
Malam itu, mereka lalui dengan ketegangan. Clint dan Aya pulang dalam keadaan penuh tekanan dan emosi, sementara Zeva bergelut dengan pikirannya sendiri.
Ini sulit.
"Kau tidak tidur semalaman," tegur Bastian saat Zeva menyeduh dua cangkir kopi. Ia memeluk pinggang Zeva dari belakang.
"Soal Clint jangan dipikirkan. Aku tau dia terlalu cetek." Ia mencium leher Zeva dimana ada banyak tanda kemerahan akibat percintaan gila semalam.Ya, Zeva agak lain memang semalam. Surprised sekali memang. Biasanya, saat ada masalah, Zeva ogah-ogahan bercinta, tapi semalam, dia luar biasa. All out mengimbanginya.
Sesuatu yang baru, yang Bastian suka. Ini pertama kali setelah karir Zeva menanjak.
"Clint akan jatuh jika masih seperti itu. Bukan hanya karirnya, tapi pernikahannya." Zeva menyilakan Bastian berbuat semaunya, bahkan ia menjatuhkan outer yang menutup lingerie sutra seksi miliknya. Kopi di depan nya bahkan sudah dia lupakan. Dia harus ingat, Bastian adalah fokus utamanya.
"Nanti aku akan coba bicara. Biasanya sesama lelaki akan mudah saling memahami." Bastian meremas bahu Zeva. "Astaga, Anya ... kenapa kau bisa begini?"
Zeva kaget ketika Bastian bilang begitu. Ia sampai memutar badan agar bisa melihat wajah Bastian. "Apa ada yang salah?"
"Tidak sebenarnya. Tapi aku takut tidak bisa melepaskanmu begitu saja pagi ini, sementara kau harus—"
"Kau selalu nomor satu, Bas!" Zeva agak canggung. "Yang lain bisa menunggu."
Bastian tertawa kecil. "Kau tidak akan kelelahan setelah bercinta di pagi hari begini?"
Biasanya Zeva akan menolak, terlebih setelah semalam begitu menggila. Mengantuk, kusut, kantung mata kelihatan, dan banyak lagi alasan Zeva. Tapi kali ini ...?
"Aku bosnya, aku bisa tidur kapan saja!" Zeva berjinjit untuk mencium bibir Bastian. "Ayo kita buat bayi lagi, Bas!"
"Dengan senang hati, Baby!"
Ia dengan sekali tarik, menaikkan Zeva ke meja dapur. Dia suka posisi begini. Dia suka kata-kata vul gar dari pasangannya saat bercinta. Dia senang dibutuhkan wanitanya, menjadi tempat bergantung satu-satunya.
***
__ADS_1
Sampai di lobi gedung, Zeva terpaksa berpisah dengan Bastian yang kebetulan bertemu dengan rekan sesama aktor. Lebih senior jadi Bastian mengajaknya ke kafe untuk mengobrol sebagai bentuk sopan santun. Jadi Zeva sekarang naik lebih dulu ke lantai dimana kantornya berada.
Ketika Zeva sampai, tak ada karyawan yang menyapanya. Hanya OB yang sibuk wara wiri saja yang menyapanya. Yang lain menganggap Zeva seperti amoeba. Yang tak terlihat kecuali diperbesar.
"Begini rupanya kantor selama ini?" Ia menyapu pandangan ke seluruh area paling bawah, dimana resepsionis, staf biasa dan pantry berada. Ada yang mengobrol, ada yang main hape, ada juga yang berdandan, jumlah karyawan yang datang juga baru sedikit.
"Padahal sudah jam sepuluh, pada kemana mereka?"
Ia berjalan mendekat, kemudian menyapa karyawan wanita yang paling depan, yang begitu sibuk mengemas kertas. "Apa ada survey ke M&K siang ini, kok hanya sedikit saja yang datang?"
Mata Zeva terpaku pada seorang karyawan lama di sini, tak jauh darinya sedang memoles wajah.
"Jangan heran, Mbak ... di sini biasa begitu. Apalagi Ownernya lagi keluar, mereka pasti langsung ke kafetaria buat makan," jawab wanita muda berpakaian hitam putih itu tanpa menoleh apalagi menghentikan pekerjaan.
"Owner?!"
Karyawan wanita itu membuang napas jengah mendengar pertanyaan Zeva, lalu memutar badan malas menghadap Zeva. "Kamu anak baru, ya? Owner ya, Bu Roro lah, siapa lagi? Memang kamu kemarin interview sama siapa? Si Ben?"
Ia menunjuk OB bertag name Ben itu dengan dagu. Kebetulan ada OB melintas.
Astaga, ternyata begini ya, kelakuan mereka. Tidak sopan!
"Kamu di bagian apa?" tanya karyawan itu lagi.
"Kenalan, yuk!" Zeva segera memperbaiki sikapnya, lalu mengulurkan tangan. "Saya Zevanya."
"Aku Rieka dari bagian pemasaran." Rieka seperti merendahkan Zeva. "Kamu anak orang kaya, ya? Tampilan kamu mewah banget?!"
Zeva menarik kedua sudut bibir membentuk senyum. "aku permisi—"
"Kamu udah kaya, nggak usah kerja di tempat beginian! Kasih tempat lah buat kita yang butuh uang buat makan!" Rieka tidak Terima ditinggalkan begitu saja oleh karyawan baru seperti ini. Meski belum genap sebulan, nanti Zeva akan jadi bawahannya kalau diterima.
__ADS_1
Zeva tak habis pikir pada orang seperti Rieka, dan juga management Roro selama ini. "Nggak perlu khawatir, Rieka ... selama kinerjamu bagus, nggak perlu takut bersaing dengan yang lain. Boss pasti lebih cakap menentukan mana yang bertahan dan mana yang harus didepak. Tunjukkan saja dedikasimu pada pekerjaan kamu, Boss tidak akan tutup mata!"
Ketika Zeva selesai berbicara, terdengar suara ribut dari arah pintu.
"Bu Roro datang, ayo kembali bekerja!"
Zeva melihat kegaduhan itu bahkn Rieka yang awalnya ingin mengatai Zeva sok tahu, kini juga kembali bekerja. Ia hanya berkata pelan penuh peringatan pada Zeva.
"Bu Roro akan langsung ke ruangannya, kamu nggak perlu takut dia akan lewat sini. Naiklah tangga agar sampai ke ruangan beliau!"
Zeva mengangguk dan berjalan patuh melewati tangga. Kini dia ingat, sampai saat ini baru kali ini saja dia melewati resepsionis ketika kemari. Biasanya dia akan langsung naik dan duduk di ruangannya, bekerja, dan hanya Roro yang keluar untuk mengurus urusan dengan karyawan. Pikir Zeva, ketika dia sibuk mengurus ini itu, tawaran Roro terdengar meringankan.
"Biar aku sedikit berguna, Zeva! Aku terlihat hanya makan gaji buta kalau pekerjaanku lebih enak dari kamu!"
Ketika itu, Zeva baru akan membuka Middle Night. Dia sibuk kesana kemari mengurus izin dan segala kelengkapan usaha seorang diri. Hanya Roro yang dia percaya, sementara Bastian masih sibuk syuting film.
Zeva tak pernah tau akan berakhir seperti ini.
Namun, baru saja ia melangkah, Roro masuk dengan tangan penuh berkas. Roro tak melihat Zeva yang berdiri di ujung ruangan.
Bastian juga sudah sampai. Ia berhenti berjalan dan terpaku pada Zeva di sana.
Karyawan berdiri dan membungkuk hormat pada Roro dan Bastian. "Pagi, Bu ... Pak!"
Roro menoleh ke belakang, kaget melihat Bastian di sana. "Bas ... kau datang?!" Ia terlihat senang dan menghambur mendekati Bastian meski berjarak.
"Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi mungkin aku tidak bisa membantumu lagi."
Karyawan mendengar itu agak bingung. Roro menyadari kalau dia salah jika bicara di sini, jadi dia menghardik karyawan yang menguping.
"Kembali bekerja, jangan suka menguping pembicaraan atasan!"
__ADS_1
Zeva kaget melihat itu, tetapi dia masih diam.
Roro menarik Bastian keluar, sementara Zeva mengikuti. Dia sungguh penasaran apa yang ingin Roro katakan.