Rebirth: Kurebut Hati Suamiku Kembali

Rebirth: Kurebut Hati Suamiku Kembali
A Muted War Breaks Out


__ADS_3

Sudah bisa ditebak, Mr. Kenan dan Mr. Lui harus menunggu beberapa waktu sementara Zeva kabur ke rumah untuk mencari berkas pembaharuan kerja sama yang semalam dia periksa ulang. Kemarin dia tidak sempat menyelesaikan berkas itu di kantor, jadi sembari menunggu Bastian pulang, dia memeriksa lagi berkas itu—Zeva memgutamakannya.


"Kemana perginya berkas itu?" omel Zeva pada ruangan kosong di kamarnya. "Apa dia punya kaki dan bisa pergi sendiri?"


Laci, meja kerja, meja rias, bahkan walk in closet pun tak luput dari sidak jemari Zeva. Namun nihil. Map merah tua yang sampulnya mirip kulit jeruk itu lenyap entah kemana.


"Siapa yang masuk kemari, Bas?" Bastian sudah siap berangkat ke sarang tiga usaha Zeva berada. Pria itu menoleh.


"Roro dan Farhan buat bangunin aku doang, lalu mereka pergi." Ya, rumah sudah kosong saat Zeva datang—untunglah. Tapi kenapa dia harus lega? Kan bisa saja mereka tahu map itu dimana? Tapi tentu, Bastian tidak berpikir mereka yang melakukannya, kan? Berkas itu hanya dimengerti oleh Zeva seorang. Mereka berdua bahkan tidak akan mau membaca keruwetan point perjanjian antara NC dan HK.


"Kau tidak lihat ada map di sebelah ranjang?" Zeva datang dengan tampang lelah dan frustrasinya.


Bastian menggeleng jujur. "Sama sekali. Aku ke kamar mandi saja sambil merem."


"Masa kau tidak lihat? Semalam kan kamu tidur di sebelahnya ... map itu tidur sebelahan sama kamu!"


"Zeva dengar! Semalam dan pagi ini suasananya sudah beda ... kalau semalam aku lihat, apa kau bermaksud menuduhku yang membuangnya?" Bastian kesal. Zeva segitu tidak percayanya padanya.


"Aku hanya bertanya, Bas ... sama sekali nggak nuduh kamu!"


"Kau kelihatan begitu dari ekspresimu!" Bastian meladeni.


"Sudahlah, aku lelah bicara sama kamu, Bas!" Ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Dia sedang buru-buru. Bastian memang agak lain ketika dirinya bertanya lebih jauh dan menyelidik. Pria itu entah kenapa jadi begitu.


"Kau pikir aku tidak? Aku lelah juga menghadapi sikap kamu yang mulai tak peduli padaku!"


Zeva urung mengambil langkah meninggalkan Bastian. "Aku tidak peduli?"


"Ya! Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, sampai lupa pada kita yang makin menjauh." Dia memendam ini terlalu lama, sekarang boleh diluapkan, mumpung ada kesempatan.


"Bas, yang sibuk itu kamu!" Ya, bagaimana bisa Bastian menuduhnya begitu? Dia bahkan menunggu Bastian pulang, sampai ketiduran. Bastian yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan Zeva tak ada niat mengganggu atau membuat Bastian tertekan. "Aku—"

__ADS_1


Melihat tatapan berbeda dari Bastian, Zeva mengerti, jadi dia tidak meneruskan ucapannya. Entah kenapa hatinya sakit ketika dituduh tidak peduli padahal kenyataannya dia tidak begitu. "Sudahlah, Bas ... aku harus mencari berkas itu dan kembali ke kantor."


Zeva menghindar. Dia tidak mau menyakiti Bastiannya yang begitu dicintai. Sambil menahan tangis, Zeva kembali mencari berkas sebendel itu ke ruangan yang mungkin dia jangkau semalam.


Bastian mendengkus kesal. Bahkan sudah sampai seperti ini, namun Zeva tetap mengutamakan pekerjaan. Bastian ingin semua selesai, bukan malah diabaikan begini, berlarut, menumpuk, walau akan selalu ada kata yang melegakan dari Zeva tapi bagi Bastian itu bukan solusi. Mereka harus bicara dari hati ke hati, agar tak ada lagi batu di hubungan mereka.


Terkadang, Bastian ingin terjadi pertengkaran yang pecah diantara mereka, lalu lega kemudian baikan. Sama-sama meluapkan emosi, untuk menjadi terkendali. Sejujurnya, pekerjaan Bastian di dunia hiburan tidaklah terlalu difokuskan, sebab dia sudah memiliki segalanya, dan juga kru sendiri. Namun, Zeva membuat Bastian bertahan di industri hiburan sampai sekarang.


Sikap acuh Zeva adalah alasan dia bertahan di dunia itu.


***


Sudah satu jam berlalu dan berkas itu tak juga ditemukan. Sementara pihak HK sudah terlanjur kesal meski Zeva membujuk dengan banyak iming-iming menggiurkan.


"Miss Zeva ... anda tahu saya membawa rekan saya, kan? Harusnya anda tidak bersikap ceroboh begini, dan saya sudah undur waktu sampai dua hari, apa itu belum cukup?" ungkap Kenan dari sambungan telepon. Zeva gagal menanggapi. Tubuhnya lelah, keadaannya kacau, rumah berantakan, pikirannya frustrasi ... dan dia sendirian menahan sakit ini.


"Saya memutus sementara kerja sama kita, sampai NC berbenah. Sepertinya anda menganggap remeh rekan kerja anda, Miss Zeva!"


Tut-tut-tut-tut


"Shhyyittt!" Zeva melemparkan ponsel ke sembarang arah hingga membentur lantai dan hancur terberai. Sialan memang! Berkas sialan itu kemana juga perginya?


Zeva emosi dan terus mengobrak abrik isi rumah hingga dia kelelahan dan berteriak memilukan.


Ia berlari ke kamarnya untuk menghubungi Ana.


"Ana! Bisakah kita buat ulang berkas perjanjian tadi?" Zeva ingat Ana menyimpan salinan data dan memintanya di print ulang. Meski ada revisi sedikit, tapi pasti terkejar.


"Filenya ada di Ibu ... Ibu bawa pulang, dan Ibu revisi sendiri, kan?"


"Apa tidak ada yang menyimpan satu pun, ha? Kalian jumlahnya ratusan orang, apa tidak ada yang simpan salinan satu saja!" Oh, yang benar saja!

__ADS_1


Zeva bergerak ke komputer-nya. Semua memang di sini, tapi dia tidak sangka kalau mereka tidak ada salinannya sama sekali. Dia ingat menyimpannya di folder tersendiri. Dia menamainya begitu khas, tapi folder itu juga melarikan diri.


"Oh, ayolah ... jangan bercanda!" Zeva menggeram marah. Dia tahu, jika HK pergi, maka ... dia benar-benar terancam.


"Oh, Tuhan ... dosa apa aku selama ini?"


***


Hingga malam hari, keadaan tak juga membaik. Dia tahu, ada yang salah dengan semua ini, tapi Zeva mendadak tidak tahu dari mana semua ini berawal. HK dan banyak investor mundur dan terus menuding Zeva terlalu arogan dan ceroboh. Meski Zeva tidak paham bagian mana itu. Dia bekerja dengan baik selama ini, kan? Ini tidak mungkin salahnya.


"Wah ...."


Zeva sedang menumpu wajah dengan kedua tangannya di atas meja. Pikirannya sedang kusut mengintrospeksi dirinya sendiri. Seketika mendongak ke arah pintu.


Clint berdiri di sana dengan congkak dan sok. Tak ada simpati atau belas kasih dimata pria itu pada Zeva. Baginya, Zeva adalah musuh besar. Penikung bahkan pengkhianat. Bagaimana bisa Zeva menjatuhkan martabatnya dengan menurunkan jabatannya ke jabatan terendah. Menarik fasilitas, memutihkan rekening, bahkan dia tidak dapat tunjangan apapun sebagai anak George Norwich. Tak ada sepeserpun. Gilanya, dia kini sendirian di apartemen kecil setelah istrinya kabur dengan pria lain.


Jadi melihat Zeva susah begini, kenapa tidak ditertawakan saja? Karma itu datangnya instan.


"Kerja kerasmu sebentar lagi sama sia-sianya denganku, ya!" Clint terkekeh-kekeh.


"Aku tidak, hanya kau saja yang begitu," sangkal Zeva. "Aku setidaknya tidak korup."


Clint menyeringai. "Hanya belum terbukti saja, kan? Jadi kenapa ada banyak uang mengalir ke anak usaha NC beberapa waktu belakangan, bahkan proyek-proyek kita banyak yang bocor. Perusahaan di luar sana mengcopy langkah kita, dan lebih buruk dari semuanya adalah klien banyak yang kabur. Investor berhenti bekerja sama—"


"Apa maumu, Clint ...?!" sela Zeva cepat. Pasti Clint punya tujuan datang kemari hari ini.


"Pergi dari sini dan jangan muncul lagi, Anya! Kau hanya duri yang sebentar lagi dibuang oleh Ayah!!"


Keduanya tahu kalau Ayahnya adalah orang yang tidak mudah. Tapi Zeva tidak mau menyerah.


"Kalau begitu, usahalah lebih keras agar Ayah dengar apa kata mu, Clint! Aku hanya sedang sial berhadapan dengan seseorang yang kenal aku luar dalam!"

__ADS_1


__ADS_2