Rebirth: Kurebut Hati Suamiku Kembali

Rebirth: Kurebut Hati Suamiku Kembali
Script Creator


__ADS_3

"Aku nggak bisa bantu kamu mulai sekarang, Bas," ujar Roro begitu mereka telah sampai di luar ruangan.


"Ada masalah kah?" tanya Bastian peka.


Roro agak ragu untuk mengatakan, jadi Bastian mendesak.


"Apa tidak bisa dibicarakan lagi, Ro ...?"


Roro menatap Bastian seraya menggeleng. "Aku nggak pasti soal ini, tapi ini Zeva sendiri yang memintaku nggak ikut campur terlalu jauh di kantor."


"Anya?!"


"Ya ... tapi dia nggak minta aku buat berhenti, hanya karena aku bukan asisten atau sekretaris di sini, jadi aku nggak bisa handle lagi kerjaan yang biasa aku kerjakan. Aku dari awal masuk kan hanya karyawn biasa, jadi aku kembali ke posku lagi."


"Bukannya dia yang tidak mau ada sekretaris atau asisten?" Bastian bingung. Ini adalah aturan dari Zeva sendiri, katanya cukup Roro, yang sudah kenal luar dalam. Zevanya takut pengkhianat masuk dan menikam. Anya kenapa sebenarnya? Sejak kemarin agak lain kelakuannya, walau dia menyukainya.


Ah, itu ... semalam menyenangkan sekali.


"Zeva pasti punya alasan, Bas ... mungkin kinerjaku nggak bagus dimata dia, jadi sudahlah, tidak apa-apa. Gaji di sini masih cukup untuk aku dan David, meski tetap harus hemat."


Dari posisinya, Zeva bisa mendengar ... dan sedikit heran. Tampak Roro ini drama sekali. Kenapa semua harus diadukan ke Bastian, dan kenapa air muka Bastian tampak tidak senang mendengar itu? Lalu siapa David? Setahunya, Roro tinggal sendirian.


"Ular itu ...!" Zeva keluar dari persembunyiannya, berniat melabrak Roro. Ya memang benar dia melakukan ituy, tapi kenapa mengadu dengan suara seperti itu? Kesannya dia minta perlindungan dari Bastian, kan?


"Anya!"


Langkah Roro terhenti, ia menoleh dan mendapati ayahnya berdiri di seberang ruangan. Ah, dia lupa soal meminta bantuan semalam. Mungkin kantor dan usahanya butuh perlindungan ekstra.


Di saat yang sama, Roro dan Bastian masih berbincang tanpa terganggu interupsi suara Mr. Norwich. Zeva bahkan masih bisa menguping meski langkahnya menjauhi posisi dua orang itu.

__ADS_1


"Jangan sedih, nanti David bisa rewel jika maminya sedih. Nanti aku bicara sama Anya soal ini, ya! Jangan khawatir."


Zeva benar-benar berhenti saking kagetnya mendengar ucapan Bastian. Mami? Ia menoleh dengan napas tersengal oleh kemarahan yang memuncak. Jadi apapun usahanya, dia kembali di sini juga sudah sangat terlambat? Mereka sudah punya anak bahkan sebelum saat ini? Apa-apaan ini?


"Anya, apa yang membuat kamu senang membuang waktu Ayah? Adakah yang lebih penting dari urusan kita?" Mr. Norwich terpaksa menghampiri putrinya saking lamanya Zeva melamun.


Zeva tergagap dan tersenyum kaku pada Ayahnya. "Aku pikir aku dengar suara Bastian, Yah ... dia tadi ketemu sama temannya di bawah."


Mr. Norwich terkekeh lalu menepuk pundak Zeva. "Kamu bucin parah ke Bastian ya? Dia sudah besar, tidak usah ditunggu, nanti dia juga nyusul ke ruangan kamu."


Zeva hanya bisa tersenyum menutupi kekalutan hatinya.


"Oh, ya ... Ayah tadi bertanya pada karyawan di sini," ujar Mr. Norwich tiba-tiba seraya melirik Zeva. "Kamu terlalu merendah dan menutup diri sampai karyawan magang tidak kenal nama kamu!"


Zeva kaget. "Ayah pasti mencari Anya, jadi mereka tidak tahu," kilahnya cepat. Astaga ....


Mr. Norwich manggut-manggut seraya mencebik. Kini dia tahu kenapa Anya minta selusin orangnya untuk menata ulang kantor ini beserta sistem keamanannya. Software dan beberapa aplikasi minta diperbaharui. Kudeta memang menyeramkan. Dan Mr. Norwich memahami langkah diam-diam Zeva.


"Ah, Ayah ... orang-orang yang aku pinjam sudah ada di sini belum? Aku ingin minta bantuan agar usahaku sukses seperti usaha Ayah." Zeva menggandeng lengan ayahnya dan melangkah menuju tangga, melewati karyawan magang yang menatapnya tidak percaya sekaligus jijik. Namun untuk beberapa petinggi perusahaan, tidak kaget lagi.


"Tapi kenapa banyak sekali karyawan magang di sini, Anya? Fresh graduate pula ... apa masih pakai sistem kontrak tahunan, atau bagaimana?" Mr. Norwich heran. Jujur saja, Mr. Norwich tidak begitu jauh ikut campur di sini kecuali Zeva meminta, jadi dia agak heran melihat penampakan karyawan yang satupun, tidak dikenali oleh Mr. Norwich.


"Ya, kami mempertahankan yang bagus di meja manager dan mengeliminasi yang kurang baik kerjanya, Yah ... cukup efektif sih, cuma agak repot. Kita baru ,mulai, bongkar pasang itu hal yang lumrah, bukan?" Ini benar juga tidak, sedikit bohong juga jujur. Tapi memang Zeva tidak boleh membiarkan ayahnya tau kalau dia menyerahkan semua ke Bastian dan diatur oleh Roro.


"Bastian pasti senang investasinya sama kamu berkembang." Mr. Norwich tersenyum. "Ayah harus menraktir dia makan malam."


Zeva hanya bisa tersenyum, dia kehabisan kata.


"Apa Ayah membawa Chakra dan Steven?"

__ADS_1


"Ya, yang bagus dan cakap Ayah bungkus kemari semua," jawab Mr. Norwich seraya mempersilakan Zeva jalan lebih dulu ke ruangannya. Keduanya saling melempar senyum hingga sampai ke lantai dimana staf penting Zeva berada.


"Jadi Bu Direktur keren ini masih butuh kami?" Chakra langsung mendatangi Zeva dengan tawa khasnya. "See ... Young enterpreneur ter-the best sepanjang masa!"


Ia menyambut Zeva dengan kedua tangan terbuka.


"Apa sih, Cha? Biasa aja kali," jawab Zeva malu.


"So-so ... Apa yang harus hamba lakukan untuk mendukung usaha anda, Bu Dirut?" Steven menimpali seraya bersedekap di depan layar pc melengkung.


"Tapi, Stev ... Kita sudah bekerja dari pagi dan sekarang kita sudah selesai!" Chakra terkekeh.


Zeva berpikir sejenak. "Aku mau, semua transaksi sekecil apapun, aliran dana dari dan ke semua karyawanku bisa diawasi ... apa kalian bisa melakukannya untukku?"


Ia menatap kedua pria muda itu bergantian. Chakra dan Steven saling pandang dan membisu, tetapi sedetik kemudian, keduanya tertawa, pun dengan Mr. Norwich.


"Apa permintaanku berlebihan?" Zeva mengerutkan kening saking bingungnya.


Steven menggeleng lalu menarik Zeva ke depan komputer. "Kamu bisa mengawasi semua orang dengan satu kali klik, tapi dengan syarat ... jangan terlalu sering ganti pegawai. Kamu akan susah mengawasi!"


"Maksudnya ...?"


"Disini, sebenarnya, kamu banyak kecolongan ... sistem awalmu sangat kacau, dan dikerjakan asal-asalan. Bahkan bagian admin keuangan kamu, tidak bisa menjalankan sistem Excel!"


Steven menatap Mr. Norwich lalu pindah ke Zeva yang berjengit kaget.


"Dan aku juga tahu, kalau kamu diam-diam mengawasi kami!" Chakra menumpukan kedua tangan ke meja sedikit keras. Ia menatap Zeva sedikit mengintimidasi.


"Kau mengacaukan sistem Clint semalam, kau cukup jenius!"

__ADS_1


Zeva membeliak kaget sementara Chakra tersenyum tipis.


Kena kamu, Zevanya ....


__ADS_2