
Berkendara menuju lokasi syuting Bastian, Zeva lakukan siang ini.
Sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
Ia sedikit tegang mengingat tidak mengenal siapapun di lokasi syuting Bastian. Walau Farhan tidak menutupi apapun, tapi tetap saja dia dan Farhan tidak terlalu dekat.
Siang ini, jalan agak macet, dan Zeva sedikit belum nyaman dengan keadaannya. Seperti habis perjalanan jauh, melintasi waktu, dan dilanda jetlag.
"Mungkin seharusnya aku pulang saja," gumam Zeva pelan. "tapi, bagaimana kalau Roro bicara yang tidak-tidak ke Bastian?"
Ia segera mengenyahkan pikiran untuk berleha-leha di rumah. Ada yang harus Zeva perbaiki di masa sekarang. Atau Bastian benar-benar akan meninggalkannya.
Beruntung, dia segera terbebas dari kemacetan itu dan melaju lebih cepat menuju lokasi syuting Bastian di sebuah arena pacu motor trail.
Club motor yang Bastian ikuti ini termasuk club yang paling banyak anggotanya, juga mungkin satu-satunya di wilayah ini, sebab tak banyak orang yang suka memacu adrenalin di atas motor garang tersebut.
Zeva memakai kacamata hitam saat turun, dan langsung bisa mengenali postur Bastian yang memang beda dari anggota kebanyakan. Pria rupawan itu sedang menelepon, pakaiannya kotor sana sini, di bawah lengan, ia mengapit helm full face dengan lambang B besar serta angka 7 yang merupakan tanggal lahir Zeva.
Zeva tersenyum, Bastian tampak ceria. Waktu itu, Zeva sama sekali tidak tahu bagaimana Bastian di sini, dan melihat ini ... sungguh jadi kebahagiaan tersendiri baginya.
Zeva berjalan pelan menghampiri Bastian, dan ketika ada yang ingin menyapanya, ia langsung mengisyaratkan untuk diam.
"... sudah aku duga, Zeva akan begitu, Ro."
Mata Zeva menyipit mendengar kalimat Bastian.
Oh, rupanya, Roro sudah curi start ya?
Dan sepertinya, ada hal-hal yang tidak bisa Zeva hentikan sepihak. Ada hal yang tetap harus dia ikuti alurnya.
Sepertinya ini tidak akan mudah.
"Zeva biasa seperti itu, aku bisa menerimanya, Ro ... makasih atas simpatimu."
Astaga ... Zeva sampai membuang muka mendengarnya. Ini mungkin trik halus Roro, dengan terus bersimpati—dan mempersalahkan Zeva terus-terusan, pada akhirnya Bastian akan luluh, kemudian berakhir di pelukan Roro.
Pantas dia tidak sadar dengan gerakan kudeta Roro.
__ADS_1
Zeva segera memeluk Bastian dari belakang, menyentuhkan pelipis ke jaket kulit Bastian walau penuh lumpur.
Bastian kaget bukan main, sampai ia mengabaikan suara Roro diujung telepon. "Anya?"
Zeva tertawa kecil. "Kenapa kau panggil aku Anya?"
Bastian memutar badan dan menangkup pipi Zeva, membawanya menghadap Bastian. "Pipi kamu kotor, Anya!"
Zeva membiarkan saja Bastian mengusap pipinya. "Panggil aku Sayang atau Honey, oh tidak ... aku suka kamu panggil Darling."
Bastian agak geli kelihatannya. "Kau yang bilang panggilan itu lebay, Anya."
"Tapi sekarang aku mau di panggil begitu, dimana saja, kau boleh panggil aku Darling atau Sayang, asal bukan Honey!" Zeva jijik jika ingat Bastian memanggil Roro begitu.
Dan dia cukup penasaran, apa Bastian akan tetap melakukan itu dengan Roro kendatikendati dia sudah memperbaiki diri. Atau diri Bastian juga harus—ada, yang di ubah?
"Oke ...!" jawab Bastian tanpa pikir panjang. Dan membuat Zeva tersenyum. "Ayah barusan nelpon, ngakak kita makan malam di rumah, katanya ada yang penting, yang ingin ayah bicarakan."
Ia tahu Bastian belum mengerti apa yang diinginkan sang Ayah, tetapi harusnya dia paham. Tapi baiklah, Zeva akan menjelaskan di sini. Dari mulutnya sendiri.
"Ayah menawarkan paket honeymoon, tapi aku tolak."
"Tapi ...." Zeva mengelus dada Bastian, mengalihkan perhatian pada helai benang yang jatuh di dada Bastian, menariknya pelan. "Aku minta staycation saja. Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi jika kita pergi."
Ekspresi Bastian sedikit melunak. "Bukannya kau yang ngotot ingin ke Maldives? Kau tidak sedang membuat keadaan kita makin sulit, kan?"
Zeva diam. Ia menatap suaminya dengan senyum lembut. Di usia ini, dia memang ambisius, tapi tidak bersikap arogan. Belum paling tidak. Dia masih care dan mendengarkan Bastian. Tapi mulai abai dengan kegiatan Bastian.
"Aku bukan tidak tahu apa yang ingin Ayah katakan nanti malam, Zeva! Aku hanya ingin kamu tahu, kita sudah harus punya prioritas. Aku lelah dicerca sendirian. Yang belum ingin punya anak itu kamu, bukan aku."
Zeva masih dengan senyum yang sama. "Aku setuju untuk promil, Bas ... aku hanya tidak mau kemana-mana. Kita honeymoon di rumah saja. Atau staycation dekat-dekat sini."
"Pekerjaanmu tidak akan hilang meski kau ke Maldives, ada Roro yang bisa kita percaya." Bastian kembali berwajah tegas.
Ternyata yang ingin pergi adalah Bastian, pantas dia marah saat honeymoon dia batalkan seoihak. Dan ini adalah titik kesalahannya yang sangat fatal. Pantas Bastian berubah, dan Roro mudah membuat rumah tangga mereka kacau.
"Boleh aku cemburu pada Roro yang rasanya sudah kau mengerti luar dalam?" Zeva memancing.
__ADS_1
"Kau berhak cemburu pada semua wanita yang dekat denganku, termasuk sepupuku. Tapi Roro adalah orang kamu—"
"Maaf, Bas ... tapi Roro hanya karyawan biasa di kantor kita. Dia bukan siapa-siapa, jadi sebelum kita pergi, bolehkah aku memilih orang yang menurutku paling bisa aku percaya?"
"Siapa?" Tentu Bastian tidak akan menyoal siapa orang yang dipercaya Zeva. Roro baginya hanya teman, yang sudah dia bantu sebisanya hingga seperti sekarang.
"Ana ...."
Alis Bastian sampai bertaut mendengar itu. "Dia karyawan Ayah, kan? Baru masuk beberapa bulan."
"Ya, tapi aku yakin padanya, Bas ... aku butuh waktu agar dia secakap Roro."
"Kalau begitu kenapa bukan Roro saja yang di sana?"
"Aku percaya satu hal, Bas ... orang yang paling mungkin menusuk kita adalah orang yang paling dekat dengan kita."
"Aku merasa kau aneh hari ini, Zeva!" Bastian akhirnya bersuara. "Kau berkata seolah kau tau sesuatu tentang Roro dan berusaha mengatasinya sendiri. Kenapa?"
"Aku merasa, kau dan Roro ada sesuatu. Jadi aku ingin kau dan Roro berjarak, Bas ... aku cemburu."
Zeva merengek manja di dada Bastian. Bibirnya manyun sampai Zeva sendiri geli. Tapi tidak apa-apa demi Bastian kembali. Ia harus menjadi sebagaimana wanita pada pria yang begitu di cintainya.
Bastian merasa Zeva tetaplah aneh, tapi bagus kalau Zeva merasa cemburu. Dia sudah lama menanti momen ini. Khawatir kalau dia hanya cinta sendirian pada Zeva.
"Jadi kita staycation dulu, lalu babymoon kemudian?" Zeva mendongak sedikit, ia menatap Bastian penuh permohonan.
Bastian mencium sekilas bibir Zeva. "Oke ... tapi tidak ada yang akan menghalangiku bercinta denganmu mulai malam ini."
"Jadikan aku seorang Ibu, Darling."
Mereka tertawa setelah bertatapan cukup lama dan dalam.
"Aku bahagia melihat tawamu kembali, Darling!" Lantas tanpa tahu malu, mereka berciuman dalam dan panjang. Mengundang siulan dari beberapa orang yang melihat, termasuk Farhan.
Pria itu tersenyum. "Zeva hanya perlu menjadi wanitanya Bastian agar mood pria itu membaik."
Sementara Roro yang sempat mendengar suara Zeva tadi, mengamuk di gudang. Awalnya dia berniat mendengarkan semua percakapan Zeva dan Bastian, tapi mengingat itu terlihat tidak sopan, dan lagi apa kata Bastian jika dia ketahuan menguping?; jadi Roro memutus panggilan secara sepihak.
__ADS_1
"Padahal, tinggal sedikit lagi—aaarrgh!"