
"Siapa yang kau maksud korupsi, Anya?"
Sekalipun salah, membela diri hukumnya wajib bagi Clint. Dan itu membuat Aya muak. Istri Clint tersebut membuang muka dan napasnya ke samping.
Pikir Aya, apa susahnya jujur? Dia yakin, ayah mertuanya tidak sekejam itu. Tapi sudahlah, ini adalah Clint, yang makin kesini rasanya semakin tidak dikenali Aya. Ini semua karena uang dan kekuasaan.
Zevanya berdiri, memutar badan menghadap Clint yang gusar. Ia tersenyum. "Aku hanya mengingatkan Ayah saja, Clint ... tak ada yang harus dikhawatirkan."
"Berhenti mengurusi urusan di NC, Anya! Kau jadi terkesan sok pintar!"
Zeva menarik napas, sementara Aya membuang napas keras sekali lagi.
Selalu begini kalau mereka bertemu. Clint yang angkuh, Zeva yang kelewat vocal mengomentari urusan di kantor kakaknya. Walau terdengar wajar saja, tapi terkesan Zeva ingin sekali menjatuhkan sang kakak. Di mata Clint begitu, Aya juga, tapi di Aya semua itu bukan masalah.
Zevanya juga anak Mr. Norwich, memberi saran masukan, juga peringatan, seharusnya tidak perlu ditanggapi berlebihan.
"Aku tidak bermaksud begitu, tapi berjaga-jaga demi kebaikan semua." Zeva menjelaskan. Tapi kenapa semua ini terasa berat? Dia tahu semuanya, tapi tidak bisa mengatakan begitu saja, atau dia akan dikatakan gila.
Zeva telah hidup di masa depan, tahu semuanya, dan sekarang dia hidup adalah untuk mengubah apa yang salah. Oh, kedengaran seperti membual.
"Aku tau kau juga ingin duduk di kursiku, Anya! Aku tau kau sudah mengincar posisiku dengan mempengaruhi Ayah. Kau pikir, aku di sini semata karena aku anak Ayah? Aku tidak kompeten kau pikir?" Clint emosi. Dirinya sedang kalut, ditambah memang dia kesal pada adiknya yang jauh lebih tertata dan mulus usahanya, dan dikelilingi orang-orang yang begitu mendukung. Lihat itu Bastian, yang kini sudah berdiri dan menatapnya.
Pasti pria itu siap membela Zeva. Dan didepan Bastian, Clint merasa rendah diri. Sial. Pasangan itu paket komplit, yang saling melengkapi satu sama lain.
"Clint ... tolong jangan salah paham!" Bastian angkat suara. "Anya hanya mengingatkan, dan tidak berniat apa-apa padamu. Kau—sikapmu, yang seperti ini malah membuat kami curiga kau memang melakukan apa yang Zeva khawatirkan!"
Beruntung sekali Bastian begini tegas, kan? Menyimpulkan apa yang ingin Zeva ungkapkan.
Clint panas dingin hingga wajahnya perlahan memucat, matanya membeliak dan menahan napas. Ia sampai menelan ludah. Apa sekarang? Berteriak?
__ADS_1
"Jangan asal bicara, Bastian!" Clint menunjukkan sikap defensif, "kau bahkan tidak punya hak bersuara di sini! Kau hanya menantu!"
"Tapi aku suami Anya, adikmu ... yang mana, ketika kau sebagai kakaknya, malah ingin menyerang nya, menuding Anya yang tidak-tidak! Aku di sini melindungi istriku, Clint ... aku melakukan tugasku!" Bastian mengalihkan Zeva ke belakangnya saat Clint tampak tak terbendung.
Di saat yang sama, Julian juga masuk dengan headphone melingkar di leher. Anak itu berdecak dan memandang malas meja makan. Ketika dia pulang, keadaan rumah selalu seperti ini, entah kenapa dia sempat berpikir, kali ini akan beda? Ah, menyesal dia pulang!
"Kalau begitu, tugasmu juga untuk mengingatkan dia agar tidak lancang—"
"Kau juga harus berpikir panjang, Clint!" sela Bastian seraya meredam amarah. "Kau tidak harus tersinggung dan marah begini atas ucapan Anya, jika apa yang Anya ucapkan tidak pernah kau lakukan!"
Clint menatap tajam mata Bastian hingga melotot. Dia salah langkah memang.
"Sudah-sudah!" Aya akhirnya menarik Clint menjauh dari Bastian. Ya ampun, apa Clint lupa kalau ada ayahnya di sini? Clint sedang bunuh diri rupanya!
"Clint, besok Ayah akan ke kantor dan memeriksa sendiri apa yang terjadi di sana!" Mr. Norwich menyimpulkan. Mungkin Clint tidak pernah berpikir untuk belajar mengendalikan diri.
"Ayah percaya Anya?" Clint mendelik marah.
Clint menarik tangannya dari genggaman Aya. "Ayah, Anya itu hanya membual—"
"Jadi responsmu tidak harus sampai begini, kan?" Mr. Norwich berdiri. "Ayah awalnya tidak memikirkan ucapan Anya, tapi kalau kau begitu frontal menyerang adikmu, Ayah jadi curiga!"
Tatapan pria tua itu mendadak angker. Semua tahu bagaimana ini akan berakhir. Anya tau semua akan bagaimana nanti.
"Ayah ...." Zeva berlari ke sisi Ayahnya, lalu mengusap pundak pria itu. "Jangan terlalu keras pada Clint, aku juga salah tadi! Harusnya aku tidak mengatakan yang tidak-tidak soal NC."
Clint membuang napas keras seraya memutar badannya. Dia muak melihat Zeva yang pintar sekali berakting. Ingin rasanya Clint melenyapkan adiknya tersebut, yang sejak kecil selalu saja istimewa di mata Ayahnya.
"Ayo Aya, kita pulang!"
__ADS_1
"Clint tunggu!" Zeva segera berlari mengejar Clint. Astaga ... tidak seharusnya semua berakhir begini. Niatnya untuk mendamaikan, tapi Zeva lupa kalau kakaknya memang orang yang tidak berpikir panjang. Apalagi susah-susah menelaah dari sudut pandang orang lain.
Aya sempat memberi hormat pada ayah mertuanya sebelum menyusul Clint keluar. Dia harus bagaimana memangnya, ini sudah kacau. Aya tidak mau repot menyelamatkan keadaan. Itu bukan tanggung jawab nya.
Ia segera mengejar Zeva dan suaminya keluar.
"Anya—stop!"
Zeva yang sudah kalah langkah dari Clint akhirnya berhenti dan memutar tubuh menghadap Aya.
Wanita itu mendekati Zeva dengan muka yang tegang. "Aku tau maksudmu baik, tapi sikapmu berlebihan!" tuduh Aya begitu saja.
"Tapi Aya—"
"Aku tau kau itu pintar, tapi seharusnya kau menghormati kakakmu! Sikapmu yang tadi justru membuat kami berpikir kau memang ingin Kakakmu jatuh!"
"Tidak, Aya ... aku tidak berniat begitu! Justru aku ingin Clint diselamatkan!" Zeva agak bingung dengan keadaan ini. Semua salah paham, langsung menjudge dirinya buruk tanpa bertanya kenapa dia bisa bertindak demikian.
"Anya ... siapapun pasti berpikir kau ingin menjatuhkan Clint dengan kau membicarakan kakakmu diam-diam pada Ayah. Acara malam ini dirancang memang untukmu, jadi wajar Clint berpikir kau menjilat hari ini."
Zeva kaget. Dia tidak tahu itu. Pikirnya, malam ini adalah acara spontan sebab dia juga mendadak bersikap baik pada Clint. Biasanya memang dia dan Clint selalu ribut jika bertemu.
"Aya, kau bisa menggantikan posisiku kalau saja kau mau hamil—"
"Bukan soal itu, Anya ... tapi mengertilah, bahwa kau memang selalu bersikap seolah kau tau segalanya dibanding yang lain. Bisakah kau itu memakai cara yang lebih sopan? Clint pasti merasa dilempar kotoran ke wajahnya mendengar kau membicarakannya dengan Ayah tadi! Pantas dia marah."
"Aya, dengarkan aku—" Zeva sudah berkaca-kaca. "Aku hanya ingin, Clint tidak melakukan kesalahan yang bisa membawanya dalam kehancuran. Kalau kau tau sesuatu tolong bantu dia keluar dari kesalahannya. Aku tidak mau Clint menderita bahkan sampai kehilangan kamu suatu saat nanti! Dan tolong, jangan terlalu kejam pada kakakku! Dia begitu karena sikap keras orang di sekelilingnya!"
Aya terkejut mendengar ini. Zeva tau dari mana kalau mereka memang bermasalah?
__ADS_1
"Aya, kami salah memperlakukannya, jadi tolong bersikaplah yang benar padanya. Clint butuh kita untuk melembutkan sikapnya." Zeva memohon sungguh-sungguh. Dia butuh bantuan untuk menghalau satu orang untuk menyelamatkan semuanya. Andai dia bisa melenyapkan satu orang agar semua kembali tenang.
Zeva berpikir ini terlalu sulit. Keadaan memang sudah sangat rumit.