
Ia menatap ke bawah. Di sana, tergambar bagaimana dia berakhir. Hancur dan tak ada yang akan mengenali. Dia rusak dan dihindari. Padahal, Zeva adalah pusat semua perhatian, semua orang ingin berdekatan dengannya, merasakan vibes masyur dan penuh pemujaan dari setiap yang mata memandang bila berada di sekelilingnya.
Tapi semua akan berbeda jika dia berubah menjadi mayat. Bayangan itu berenang di benak Zeva sehingga dia kembali mundur.
Dialihkan tatapan ke arah langit yang berwarna biru kelabu, matahari bersinar lemah di sisi barat.
Zeva selalu punya pilihan. Selalu. Mungkin pikirannya terlalu tersugesti oleh ucapan Roro yang kemudian diamini oleh intuisinya sendiri. Bahwa jika dia lenyap, maka tekanan ini juga lesap. Mati adalah solusi dari semua persoalannya.
Semua orang sepertinya sedang senang melihat posisinya sekarang. Sebenarnya, dia salah apa pada mereka?
Zeva telah bekerja keras untuk semua orang, tapi hanya karena kesalahan sekecil menerima telepon saat rapat, membuat semuanya kacau, hancur, dan berantakan.
Kemarin, Mr. George—papanya, datang dan melemparkan segepok print data dari bagian keuangan—Zeva langsung mengenali dari mana kertas itu berasal melalui bentukannya tanpa perlu di beritahu lebih dulu.
"Kau menurunkan jabatan kakak mu, memutihkan rekeningnya, bahkan kau memisahkan seluruh asetnya hingga ke aset paling remeh, membiarkannya hidup terhina, menuduhnya menggelapkan uang perusahaan tetapi kau sendiri juga korupsi!"
Mata Mr. George tak bisa jauh lebih marah dan kecewa dari itu saat menatapnya. Zeva paling tidak bisa melihat ayahnya memiliki tatapan yang penuh luka begitu padanya. Selama ini, hanya ada kasih sayang dan puja puji berlimpah keluar dari mulut ayahnya tersebut. Jadi untuk pertama kali, Zeva merasa dia telah melakukan kesalahan yang besar dan tak termaafkan.
Dia tidak paham, sejauh ini ... semuanya terkendali, dan Zeva tidak mungkin tidak tahu kalau uangnya hilang, kemudian tau-tau muncul di rekening perusahaan—yang salah satunya masih atas nama Zeva.
Clint? Roro? Bastian? Kepala bagian keuangan ? Siapa? Uang itu hilang dan muncul kembali dalam waktu semalam. Bahkan seahli Papanya, Mr. George saja percaya pada kertas itu, sekeras apa pun Zeva berusaha memberikan penjelasan. Kertas itu terlalu logis, dan Zeva tahu, hanya dia yang bisa membuat keadaan serapi itu.
"Ah, kau di sini rupanya."
Zeva tak perlu menoleh untuk melihat siapa yang berbicara.
"Maaf aku ganggu acara bunuh diri kamu, Zeva ... tapi kayaknya kamu harus lihat surat cerai kalian!" Roro maju dan naik ke sebuah undakan tangga agar mencapai posisi Zeva, meletakan hati-hati surat yang terbalut amplop coklat besar tersebut.
Ia melirik Zeva yang angkuh berdiri, bahkan tidak menanggapinya sama sekali. Padahal Zeva dalam keadaan paling buruk, tapi di mata Roro, Zeva tetap memesona dengan rahangnya yang tinggi dan tegas. Sorot mata itu mampu melumpuhkan, bahkan Bastian yang dari dulu ia sukaipun, jatuh dan tunduk pada Zeva. Bukan padanya, yang sejak kuliah berteman cukup akrab.
Ia berdehem tanpa suara untuk mengusir rasa benci yang selalu muncul setiap kali matanya melihat Zeva. Rasa iri di hatinya semakin menumpuk dan besar, sehingga ketika semesta memberi celah untuk menghancurkan Zeva, tanpa ragu ia mengambil jalan itu.
Dia adalah teman Bastian sejak kuliah, teman baik, dan Zeva percaya bahwa tak akan ada rasa yang tumbuh setelah bertahun-tahun kebersamaan mereka, tidak ada hubungan spesial yang terjadi. Itu adalah kebodohan Zeva.
__ADS_1
"Mungkin surat itu ingin kamu bawa ke alam baka, Zeva. Di sana kau bisa menangisi kebodohanmu selama ini, dan surat ini adalah bukti kebodohan kamu!" Sekarang, Dia hanya perlu mendorong wanita itu lebih dekat ke kematiannya, jadi dunianya akan terang. Zeva selama ini telah menyerap semua cahaya yang harusnya tertuju padanya. Memblokir cahaya yang harusnya menyinari dirinya secara penuh.
"Aku telah bodoh percaya semuanya padamu, Roro!" Suara Zeva serak, tenggorokannya terasa penuh dengan cairan pekat yang sejak tadi memenuhi dadanya. Jika memang ini akhir, Zeva ingin tahu semuanya dengan jelas.
Jika setelah ini ada kehidupan lain, Zeva ingin memperbaiki. Tentu, dia tidak akan percaya Roro begitu saja, dan akan menikmati hidup dengan baik.
"Aku sudah mengingatkan, Zeva," ujar Roro sinis. "Bahwa apapun yang terjadi dalam pernikahan kalian, jangan sekalipun kau ceritakan pada orang lain ... sepercaya apapun kau pada orang itu."
Zeva menarik napas. "Kau terlalu licik—"
"Kau yang naif, Zeva!" tukas Roro dingin dan bengis. "Kenapa aku harus menyimpan rahasia wanita yang aku benci seumur hidupku? Kau punya segalanya, dan kau punya Bastian yang aku suka!"
Meski Zeva tak menatap ke arahnya, tapi Roro tetap mendelik ke arah punggung Zeva. Dia marah pada semua hal yang Zeva punya.
Zeva tersenyum sinis. "Jadi semua ini, salah paham kami, pertengkaran kami, adalah kerja kerasmu?"
"Ya ... dan kau tahu, Bastian percaya padaku! Bahkan ketika kalian akan berbulan madu lagi, aku yang menggagalkannya!"
"Aku yang membayar hacker agar tiga usahamu itu hancur, lalu kau sibuk membangunnya lagi, kemudian kau yang memutuskan untuk menunda hamil karena saat itu aku sedang membuat mu sibuk dengan naiknya usahamu. Lantas, aku menemukan kenyataan bahwa Clint melakukan sedikit kecurangan, dan aku adukan semua ke Ayahmu, atas perintahmu! Aku mendorong Mr. George menjadikanmu pimpinan NC, berdasarkan kemampuanmu mengatasi krisis di tiga usahamu, sampai kamu bisa berdiri tegak kembali."
Salahkah jika Zeva merasa bodoh sekarang? Ternyata kesuksesannya sudah diatur sedemikian rupa oleh Roro agar dia bebas memiliki Bastian.
Zeva memang naif.
"Aku yang membuat mu bersinar, sehingga membuat mu merasa kau paling terang. Nyatanya kau hanya wanita ambisius yang angkuh! Yang sebenarnya, tidak bisa melakukan apa-apa tanpa aku!" Roro emosional mengatakan itu.
"Aku telah melakukan banyak hal untukmu, Zeva ... Jadi sekarang tolong pergilah! Biarkan aku memiliki Bastian seorang diri sebagai imbalannya!"
"Jadi kenapa kau memohon padaku jika kau telah memiliki anak darinya?" Zeva berbalik pelan, agar dia bisa melihat Roro yang akhirnya mengakui satu hal.
"Aku tahu Bastian masih menginginkan mu, seberapa besar aku telah menyenangkannya!" Roro muak mengingat kenyataan itu. Dia berpikir, surat cerai itu hanya bukti kalau dia lelah menyakiti Zeva padahal di mata Bastian masih tergambar cinta yang cukup besar untuk Zeva.
"Jadi kenapa aku harus mati sementara aku hanya perlu kembali padanya, setelah aku bukan lagi siapa-siapa?" Zeva tersenyum sinis. Semesta memang ingin dia terus hidup dan menata masa depan lebih baik. Tak ada yang percuma dari sebuah masalah, dia yakin itu. Mungkin, dengan ini ... dia bisa memperbaiki kehidupan bersama Bastian.
__ADS_1
Zeva perlahan berjalan ke arah undakan tangga, untuk turun. Dia tidak harus mati, dunia masih bisa dia hadapi asal Bastian tidak meninggalkannya. Sebucin itu dia pada Bastian.
Roro kalang kabut melihat itu. Ini tidak bisa dibiarkan setelah dia kalap menceritakan semua akal busuknya untuk mengurangi Zeva. Dia bisa kehilangan semuanya jika Zeva terus hidup.
"Kau harus mati, Zeva!" Ah, sudah kepalang tanggung. Jadi ya, sudah!
Pada saat ini, Zeva memang tidak sekuat biasanya, sudah berhari-hari dia tidak mampu makan, apalagi tidur dengan benar.
Roro menerjang Zeva yang baru turun satu kaki secepat kilat. Dia tahu, dia tidak boleh kehilangan momen. Dia tahu kalau tidak boleh membiarkan Zeva melangkah lebih jauh dari ini.
Zeva terkejut benar-benar ketika tangan Roro mendarat di dadanya, kemudian dengan cepat mundur dari sana.
Zeva kehilangan keseimbangan, saat kakinya terantuk pembatas tepi gedung.
"Akh!" Zeva memekik saat tubuhnya melayang dan terasa ringan. Jantungnya berdebu cukup kencang. Matanya membeliak saat merasa tepian gedung mulai jauh dari pandangan. Dia bukan bunuh diri sebagai akhir, namun dibunuh ... dan sayangnya, tak ada keajaiban seperti yang pernah dia lihat di film-film, dia akan jatuh ke jalan raya, di depan gedung NC yang akan jadi kuburannya.
Perlahan Zeva memejamkan mata. Dia pasrah, dan berharap ini hanya mimpi. Jika dia mati, setidaknya dia ingin menjelaskan semuanya pada dunia. Dirinya hanya manusia biasa yang tak sempurna. Dia ingin jadi wanita biasa yang penuh cinta. Ingin memperbaiki semuanya.
"Zevanya Geraldine, hari ini memang waktuku mati. Tapi kebaikan hatimu, ketulusanmu, kasih sayangmu, maka kau akan diberi kesempatan memperbaiki segalanya di masa lalu!"
Zeva membuka mata saat suara bergetar itu rasanya memenuhi dunia. Dia melihat semua berhenti. Waktu seakan berhenti untuknya. Bahkan dia bisa melihat awan putih yang seakan bicara padanya itu.
"Gunakan waktuku baik-baik sampai hari ini kembali padamu sekali lagi!"
ZAP!
Semua kembali normal, dan kemudian Zeva meluncur semakin cepat. Suara apa barusan itu? Apa maksudnya? Kenapa suara itu jelas sekali di telinganya?
Mendekati bumi, Zeva merasa tarikan dari bumi semakin kuat. Ia meluncur semakin cepat, bahkan dia bisa merasakan bagaimana rasanya benturan punggungnya dengan aspal.
"AAAAA ...!"
ZAAAAPPP!
__ADS_1