
Dua hari sudah Zeva tak pulang ke penthouse mereka. Dua hari ini dia sibuk menangis, ditambah tekanan demi tekanan datang padanya. Urusan NC tak berhenti begitu saja meski dia bukan lagi orang yang berkuasa di sana. Beberapa orang menelpon dan memakinya. Jelas dia tahu, NC mendadak turun pamor dengan nyaris seluruh klien mundur dan pergi ke Rome Industries.
Zeva bukan diam saja melihat itu, dia mencoba masuk ke kantornya sendiri, tetapi dia dihadang bahkan dilempar keluar oleh satpam gedung.
"Saya pemilik 4 lantai di gedung ini, Pak! Apa anda semua lupa pada wajah saya?" protes Zeva sehari lalu pada satuan security yang tampak masih baru juga. Gedung ini milik NC, hanya disewakan untuk gedung perkantoran. Sebenci itukah Clint padanya? Atau Ayahnya yang meminta mereka melakukan itu.
Dan surat pernyataan bahwa Zeva bukan lagi dikatakan sebagai pemilik tiga usahanya, dilempar ke muka Zeva oleh salah seorang bawahan Roro.
"Pak Bastian sudah mengambil alih usaha ini sejak beberapa tahun lalu, Bu ... anda sendiri yang memberi kuasa pada Pak Bastian!"
Zeva terperangah. "Tapi saya istrinya."
"Tanyakan itu pada Pak Bastian sendiri kenapa istrinya dilarang masuk ke kantornya!" Pria itu berlalu usai memberi Zeva tatapan sinis merendahkan.
Zeva yang makin kurus dan menyedihkan itu berusaha berdiri. Beberapa orang melihat kejadian itu juga ikut mencibir. Dan Zeva memilih pergi lalu menangis lagi setelah Bastian tidak lagi bisa dihubungi.
Dan dua hari yang dijanjikan Bastian, Zeva memilih datang ke penthouse ini dengan perasaan tak keruan. Ada hati yang hancur lebur, ada pikiran yang kusut. Zeva terlalu kacau, hanya memang dia ingin tahu duduk persoalan yang sebenarnya dengan Bastian.
Sandi pintu masih sama, jadi Zeva bisa masuk sesukanya. Tetapi lagi-lagi, mata Zeva harus melihat bagaimana Bastian begitu menyayangi Roro. Keduanya bergelung di sofa depan televisi tanpa sehelai benang pun dan asyik saling mencumbu.
"Kau baru dua hari tidak bercinta denganku, Bas ... kenapa kau buas begini?" Roro mendongak dengan mata terpejam, menyilakan Bastian menikmati lehernya yang mulus, tetapi penuh bercak merah.
"Kau tahu betapa kau sangat menggairahkan, kan, Honey!"
Honey? Zeva mendengkus dengan air mata perlahan turun. Dia saja tidak pernah dipanggil begitu meski mereka sedang bercinta.
__ADS_1
"Oh, Bas ... ada tamu!"
Zeva membuang muka, menata hatinya yang hancur.
"Aku tidak lihat kau di unitmu, Zeva! Jadi surat itu masih di aku." Roro berdiri seraya menutup tubuhnya dengan kain tipis.
"Kita harus bicara Bas!" Zeva sepenuhnya mengabaikan Roro. "Aku mau tahu kenapa kau bisa mengkhianatiku begini."
Bastian yang bermuka masam itu mendengkus keras. Ia melilitkan handuk ke sekeliling pinggang. "Pikirkan saja bagaimana kau bersikap padaku selama ini, Zeva? Kau pikir, pria cukup hanya dengan harta? Aku butuh kamu sepenuhnya."
Zeva sekali lagi hancur mendengar tuduhan itu. "Kau bilang kau mengerti aku, Bas. Dan apa kau lupa, aku selalu menunggumu pulang, aku pulang lebih dulu dari kamu lalu menjadi istri mu sepenuhnya."
Bastian mengusap mukanya kasar. "Dan meski aku sudah di rumah, yang kau pedulikan hanya telepon, berkas, laptop, dan semua tentang pekerjaan kamu yang hebat itu!"
"Hah?!" Zeva menangis keras menyadari itu. Hanya itu saja kah nilai dirinya di mata Bastian? Semua yang dilakukannya tak berarti di mata pria itu, hanya karena dia tidak mahir memerankan peran wanita dan istri sempurna.
"Sudahlah, Zeva! Kita tidak bisa hidup bersama hanya untuk saling menyakiti. Walau cintaku masih sama besarnya seperti dulu, tapi kita tak bisa bersama. Aku terlalu lelah jika harus terus berdebat. Aku terluka dan kau tentu tidak mau terus dipersalahkan. Kita lebih baik berhenti di sini!"
Bastian meninggalkan Zeva yang masih megap-megap tak percaya. Dia tidak tahu harus bagaimana.
"Jika aku jadi kau, aku sudah loncat dari atap gedung ini," ucap Roro setelah Bastian lenyap. Dia kembali menjadi dia yang sebenarnya.
"Kau licik, Roro!" maki Zeva saking geramnya. Dia terlalu sesak sampai tidak bisa menahan emosi dan kehabisan kata.
"Aku tidak begitu ... hanya memang Bastian selalu ingin aku ada untuknya." Dia menjentikkan kuku-kuku dengan sangat santai dan menyebalkan.
__ADS_1
"Harusnya aku memecat kamu—"
"Ya ... tujuh tahun lalu, harusnya kau memecatku sebab 7 tahun lalu semua berawal. Ingat kau cerita padaku ketika kau dan Bastian bertengkar hebat soal anak? Lalu kau minta aku untuk bicara baik-baik dengan Bastian? Ya, aku melakukannya untukmu, jadi jangan bilang aku jahat, ya ... aku baik dengan menampung semua benih suamimu di rahimku. Bastian dan aku sudah ada 1 anak, dan sekarang sedang ada anak kedua Bastian di sini!"
Zeva terhuyung hingga menyangga dirinya di tembok yang penuh dengan mural buatannya bersama Bastian. "Itu nggak benar!"
"Itu benar, Zeva ... ayo bangunlah!" Roro terkekeh dan mengusap perutnya. "Kalau kau tidak mau terima, sebaiknya kau bunuh diri saja! Di hati Bastian hanya ada aku dan anak-anaknya ... yang kau tidak mau memberinya."
Zeva menggeleng kuat. Ini tidak benar, kan?
Roro tersenyum miring, lalu mengambil ponsel dan menunjukkan sebuah foto dari posisinya. "Ini foto anak kami. Lihat betapa Bastian sangat bahagia di sana, kan? Kau tidak akan mampu memberi dia rasa bahagia yang sama, Zeva walau kau mau mengandung anaknya, karena aku sudah memberinya rasa bahagia yang itu."
Zeva jatuh dan tak mampu lagi bergerak. Kenapa dia sampai melewatkan itu semua? Sesibuk itukah dia dengan pekerjaannya? Tapi Bastian selalu ada di rumah, bagaimana bisa Zeva kecolongan sebesar itu?
"Sebaiknya kau berhenti dan setuju bercerai dengan Bastian, Zeva! Pisah dari seseorang yang tidak butuh kau lagi bukanlah sebuah kiamat. Kau bisa mencari pria lain dan memperbaiki semuanya," saran Roro dengan senyum tersungging di bibirnya.
Tapi Zeva hanya cinta pada Bastian seorang. Dia sudah bersumpah, cintanya habis oleh Bastian seorang. Bayangkan betapa banyak waktu dan kenangan berharga yang mereka habiskan bersama. Zeva tidak rela. Bersaing dengan Roro yang sudah menguasai hidup Bastian, juga bukan hal yang mudah, terlebih Bastian terlihat bahagia dengan hidupnya.
Benarkah dia sudah tidak bisa bersama Bastian lagi? Tak bisakah dia kembali ke 7 tahun lalu, atau ke masa dimana dia dan Bastian setuju untuk menunda kehamilan? Dia ingin memperbaiki semuanya, dia ingin Bastian hanya miliknya seorang.
Langkah Zeva tertuntun ke rooftop tower di mana dia tinggal, dan begitu sadar, dia sudah berdiri di tepian gedung.
Zeva menatap ke bawah. "Haruskah aku pergi?"
Sungguh Zeva tak sanggup melihat dunia saat ini.
__ADS_1