
“ Cobaan Dewa. Apa itu... ? ”
“ Yahh semacam sebuah turnamen sihir dan pedang. Siapapun boleh ikut dalam turnamen itu asalkan dia benar benar memiliki sebuah kemampuan yang mumpuni. Tidak semua orang sih mampu mengikuti nya... Mereka yang ikut akan di pilih untuk ikut dalam pertandingan dimana mereka akan melawan orang orang atau prajurit dari Lima ribu tahun lalu yang pernah mengikuti perang suci ”
“ Turnamen bodoh... Mereka hanya akan membawa nyawanya sendiri dalam kehancuran ”
Saya duduk di di sofa, memikirkan apa yang akan di lakukan kedepan nya dan yaa saya juga memikirkan tentang turnamen cobaan dewa itu. Setiap orang yang menang di turnamen itu akan mendapatkan berkah dewa dan akan menjadi pahlawan selanjutnya yang akan mengalahkan sang Raja Iblis Thelion. Yaa lagi lagi nama Raja Iblis Palsu yang sok' menjadi penguasa kehancuran selain saya, bahkan seakan akan dia paling di takuti
“ Rain... Pagi ”
“ Pagi Rain ”
Vindzena dan Valon mendatangai saya yang sedang dengan mager nya ngopi di pagi hari yang cukup cerah ini. Sudah satu tahun yaa saya disini bagaimana kabar ibu di rumah ya. Saya cukup merindukan ibu saya dan saya masih ingin melihat nya lagi, meskipun saya bisa melakukan nya kapan saja tapi tetap saya tidak boleh kembali sebelum saya lulus. Itu lah yang saya ingat dari perkataan ibu saya
Riangan dan tawaan terus bergemuruh dari satu persatu mereka yang kini datang ke ruangan saya. Mulai dari Vindzena, Valon, Phalien dan Rena. Tapi entah mengapa saya tidak melihat Mira disini sedang kemana dia sekarang ini, apakah dia benar benar cukup sibuk sampai tidak datang kesini. Ah yaa setiap waktu yang datang ke Academy hanyalah klon saya, bukan tubuh asli saya. Tidak heran sih untuk apa juga saya mengikuti Academy padahal sihir sihir itu sendiri saya sudah paham
“ Ngomong ngomong Rain apakah kau tidak ikut Cobaan Dewa itu ? ” Tanya Valon kepada saya
“ Tidak aku tidak tertarik ”
“ Hmm... Tentu dia ikut lagi pula Mira yang mendaftarkan nya ” Ujar Rena
Kopi yang ada di mulut saya. Saya semburkan karena saya benar benar kaget ketika tau Mira sedang mendaftarkan saya ke pertandingan gila itu, saya tidak tertarik tapi kenapa di daftarkan kepada pertandingan yang tidak masuk akal itu, itu benar benar bodoh. Rautan kecemasan terus muncul dalam pikiran saya yang dimana saya bisa saja akan ketahuan jika mengikuti turnamen itu, karena bisa salah satu bawahan saya kembali disana dan malah akan melawan saya. Meskipun itu tidak buruk tapi jika identitas saya sebagai si merah tertera ke publik itu bisa kacau
“ Ada apa Rain kenapa kau sangat terkejut...? ”
“ Tidak tidak aku hanya kaget saja soal itu ”
“ Tunggu sejarah dunia kan sudah terubah, mereka tidak akan mengingat siapa saya dan tidak akan tau siapa saya, karena cermin Sejarah saya diambil oleh Ezaneus. Baiklah saya siap mengikuti nya walaupun agak memalukan jika menemukan lawan yang tidak sepadan. ngomong ngomong yang terpanggil apakah seluruh mahluk di lima Ribu tahun lalu atau hanya pasukan manusia saja, saya tidak tau ” Ujar ku dalam pikiran
Saya merasa, perasaan saya kurang tenang karena saya cukup berharap bisa mendapatkan lawan kuat dan mungkin dari ini saya bisa mendapatkan jalan untuk membawa kembali martabat saya dan mencegah perang suci akan kembali lagi di dunia, saya tidak berharap begitu juga sih. Lagi pula kedepan nya saya pasti akan membongkar siapa dalang di balik semua ini dan menemukan jalan untuk benar benar mengembalikan harga diri saya yang bnr bnr di lupakan
“ Baiklah aku ingin ke pemandian ”
Tubuh sempurna saya buka, dan hanya menggunakan penutup kain, pemandingan dengan suhu hangat serasa membuat saya merasa nyaman. Menikmati indah nya dunia malam dengan penuh rasa syukur dan sejuk atas perdamaian yang kini terjadi meskipun nampak nya tidak begitu. Karena perang suci akan kembali lagi setelah Lima Ribu tahun berlalu, yahh dunia akan di Landa kehancuran lagi dan lagi
Saya kini berendam di air hangat yang begitu sempurna, memanjakan tubuh dengan penuh rasa nikmat dari semua hal yang ada. Yaa baiklah saya akan menikmati ini sesuka hati saya dan semau saya, di sebelah kiri saya nampak Vindzena yang sedang berendam, saya tidak tau sejak kapan dia disana dan saya pun tidak peduli jika dia memang ada disana sih. Lagi pula bagaimana pun itu bukan urusan saya, jadi biarlah
Wajah nya nampak begitu memerah, saya hanya kedua mata saya dan hanya menikmati hari yang begitu indah walaupun cukup melelahkan. Entah apa yang di lihat nya hingga sebegitunya, apakah dia curi curi pandangan dari Excalibur saya atau bagaimana, entah lah siapa peduli dan ngomong ngomong kedua aset nya cukup lumayan juga, tapi itu hanya aset biasa tidak begitu menarik
__ADS_1
“ Sedang apa kau menatap ku dengan wajah begitu ? Apa kau curi curi pandang dari Excalibur ku ? ”
“ Excalibur kata mu ? Bukan kah benda itu hanyalah cacing tanah yang tidak berguna dan hanya menggeliat liat didalam sana ”
Sindiran yang cukup juga. Lagi pula ini hanya sementara jika saya sudah memiliki pemuas saya bisa saja menggunakan ini kapan saja jika saya mau, meskipun saya tidak mengharapkan nya. Karena tidak begitu ada untung nya juga, dan juga tidak dapat memuaskan saya dari perasaan saya yang menginginkan lawan kuat
“ Hmm Cacing kata mu ? Tanpa benda ini kau tidak akan ada tau... Lagi pula suatu saat nanti kau juga akan merasakan kenikmatan dari Excalibur ku ini. Ingat itu Raja Iblis Bego ”
“ Heee.... ? ”
Saya berdiri tepat di depan nya, keadaan berdiri dan telanjang bulat. Yaa bugil kau tau itu, wajah Vindzena merah dan hanya tercengang dengan apa yang dia lihat, nampak nya dia terpengaruh dengan pedang yang baru saja di lihat nya. Saya menutupi tubuh saya dengan kain dan keluar dari pemandian untuk berganti baju dan kembali. Karena malam ini juga saya akan mengikuti pertandingan ini, dan menguak fakta tentang apa itu Cobaan Dewa dan seperti apa pertarungan yang di hadirkan di sana
Vindzena nampak memegang kedua gunung nya entah apa yang di lakukan nya, tapi yang pasti dia memegang nya dan memperhatikan kedua aset nya dengan wajah yang begitu merah merona. Saya kini berada di ruangan untuk bersiap siap menunggu giliran untuk bertanding, nampak nya beberapa orang gugur dan gagal. Dan tidak ada satupun yang lolos, hingga akhirnya giliran saya
“ Semangat yaa Rain— Chan ”
Teriak Mira dari kejauhan yang duduk di kursi penonton, cukup membuat ku malu terlebih di depan orang yang sangat banyak ini benar benar membuat ku panas dingin, terlebih Mira sendiri cukup di kenal di semua kalangan bangsawan sebagai putri angkat dari kepala sekolah Academy sihir terbesar di dunia Eragon
Sebuah pembatas sihir muncul, arena nya cukup besar lebih tepatnya sangat besar jadi saya bisa sesuka hati disini. Pola sihir tiga dimensi muncul dimana saya mengalirkan sedikit energi sihir saya, sihir yang seharusnya memiliki warna cerah seperti pemanggilan roh lain justru menjadi berwarna merah gelap, petir menyambar nyambar di arena. Sebuah ledakan besar terjadi dimana saya langsung langsung meloncat kebelakang untuk menghindari nya
Dari balik asap saya melihat, sosok dengan rambut hitam. Mata merah yang indah menatap saya dengan senyuman yang begitu menawan. Sosok yang di sebut pembawa kehancuran yang mampu menghancurkan dunia, salah satu manusia terkuat selain pahlawan Ray, dia adalah sosok yang di katakan mampu menghancurkan dunia dengan seisinya. Penyihir Hitam Violet Delvana
“ Tidak mungkin sosok itu..
“ Sosok penyihir yang mampu menghancurkan dunia dan menentang para Dewa ” Ucap Vindzena dengan wajah serius nya
“ Apakah ini sebuah kebetulan ? ” tanya Valon
“ Tidak... Kontes sihir ini memilih lawan yang benar benar setara atau setidaknya sedikit lebih tinggi di atas nya. Jika penyihir Hitam itu mampu menghancurkan dunia dengan kekuatan nya maka begitu pula sebaliknya ” Ujar Phalien
“ Apa maksud mu. Rain juga menjadi kekuatan untuk mengancam dunia... ” Ungkap Rena
“ Dia Rain Artzena. Kau benar benar orang yang misterius ”
Di tengah hawa yang dingin akibat otoritas gelap dari Violet, sebuah partikel partikel hitam muncul. Menyerang saya namun dengan kecepatan saya. Saya mampu menghindari setiap serangan serangan yang di berikan sembari mencari celah untuk mengakhiri pertarungan ini.
« Gate Of Primordial Open : Sword of Torture »
Setiap partikel partikel saya tebas. Dimana itu akan memberikan efek penyiksaan yang cukup untuk memberikan efek rasa sakit pada sihir yang di gunakan. Serangan demi serangan terus di lancarkan tidak satupun dapat mengenai saya. Gerakan gerakan yang benar mulus tapi maaf itu semua tidak dapat mengenai saya
__ADS_1
Benar benar pertunjukan yang hebat Violet. Kau cukup menghibur dengan setiap kekuatan ku bahkan semenjak lima ribu tahun lalu, andai kau sejalan dengan ku maka kau tidak akan mati di tangan ku benar benar rasa yang memberikan nostalgia besar. Sebuah tombak darah meluncur ke arah saya, tapi dengan kekuatan perusak dari pedang saya. Tombak darah itu saya tebas menjadi dua bagian
“ Rantai yaa... Aku akan membebaskan mu ”
Mata menyeringai. Mata iblis merah menghancurkan segala nya termasuk partikel partikel perusak yang mencoba menyerang saya. Hingga dengan cepat saya bergerak kedepan Violet dan menebaska serangan telak di leher nya, yang membuat nya seketika menghilang menjadi kegelapan yang begitu indah, sebelum dia pergi sebuah salam perpisahan sempat di ucapkan nya
“ Lindungi lah dunia ini Rain Crimson ”
“ Yaahh... Tentu teman ku ”
Kegelapan itu kini pudar menjadi cahaya yang menyebar kemana mana, menerpa nerpa diri saya dan akhirnya menghilang untuk selama lama. Kenangan menyirna, tetesan air mata menetes dari kedua mata saya membasahi bumi, mengingat segala kenangan indah dalam pertarungan bersama nya, meskipun bukan iblis tapi dia satu satunya orang pertama yang tersenyum dan tau isi hati saya, dan saya tidak pernah melupakan nya selama lama nya
Saya kembali ke dalam ruangan, para penonton mungkin bersorak gembira karena terpilihnya orang baru sebagai pahlawan. Tapi mereka tidak tau kalau pahlawan yang mereka harapkan adalah orang yang pernah menghancurkan mereka jauh di era mitologi dulu, dan kini justru muncul sebagai pahlawan yang akan menjadi harapan bagi mereka semua
“ Rain selamat atas kemenangan mu— eeh... ? ”
“ Rain Chan selamat.. Ehmm...? ”
Rena dan Mira begitu juga Vindzena, Valon dan Phalien datang, saya menatapi hanya menunduk dengan perasaan yang begitu dalam, saya benar mengingat berbagai masa lalu yang di penuhi dengan pertempuran bersamanya, bahkan dulu saat saya membunuh nya entah kenapa saya meneteskan air mata dan merasa begitu sedih, dan hingga sekarang saya pun kembali merasakan nya. Air mata menetes membanjiri wajah saya
“ Tidak perlu bersedih kami akan terus mendukung mu. Wahai teman ku ”
“ Tenang lah Senpai, akan selalu ada disisi mu ”
Saya yang menunduk di peluk oleh dua wanita cantik, meskipun mereka mengetahui diri saya seperti apa dan mereka tau siapa saya sebenarnya tapi saya tidak menyangka mereka begitu baik kepada saya. Satu wanita yang dulu membenci saya sekarang menjadi teman baik saya. Dan satu wanita manusia yang sudah tau siapa saya tapi dia tetap menghargai dan begitu menyayangi saya
“ Sosok tadi... Begitu yaa, entah apa ikatan dari kau dan dia hingga kau membiarkan air mata mu menetes ” ujar Valon
“ Aku tidak begitu mengerti sih, tapi nampak nya dia cukup penting bagi mu Rain ”
“ kami akan kembali ke penginapan terlebih dahulu ”
Valon, Phalien dan Rena keluar dari ruangan dan menuju penginapan terlebih dahulu meninggalkan Saya, Vindzena dan Mira yang sedang menenangkan perasaan saya yang sedang benar benar bersedih. Di penginapan Phalien dan Valon mengobrol dimana beberapa staf OSIS datang kesana untuk berkunjung dan menyambut kemenangan dari saya, tapi saya belum datang kesana dengan alasan ada sedikit urusan
“ Phalien apakah kau pernah berfikir kalau Rain adalah orang kuat dari masa lalu yang bereinkarnasi ke era ini. Hingga dia nampak nya cukup mengenal dekat Penyihir Hitam itu ”
“ Yaa entah lah sih... Tapi bisa jadi juga nee— . Lagi pula Penyihir Hitam Violet hidup di masa lalu dan bagaimana Rain bisa bersedih padahal mereka seharusnya tidak saling mengenal ? Kecuali dia dulu hidup di masa lampau dan memiliki ikatan yang sangat erat dengan nya ”
“ Kurasa juga begitu ”
__ADS_1
“ Kami Pulang ”
Saya, Vindzena dan Mira kini kembali ke penginapan, dimana kami di sambut oleh beberapa member OSIS yang hadir disana, meskipun saya dan Vindzena begitu juga Phalien bukan anggota OSIS, tapi kami memiliki hubungan baik dengan mereka yang dimana tentu di balas dengan kebaikan. Pula yang membawa kami ke rasa saling menghargai satu sama lain sebagai sesama