
Di tengah malam yang gelap suara benturan dan benturan dari pedang yang cukup keras membelah malam yang sunyi. Kekuatan besar dari keduanya saling berbenturan seseorang dengan rambut hitam dan jubah hitam nya bertarung dengan seseorang dengan rambut pirang yang menggunakan jubah coklat tebal nya. Suara benturan dan benturan dari berbagai pedang itu kini saling menghancurkan satu sama lain
‘ Jangan menghalangi ku dasar sialan ’
Tebasan kuat dari pria berambut pirang di lepaskan. Membelah kesunyian, tebasan kuat yang menghancurkan berbagai hal dan materi yang ada. Membelah langit dan tanah. Si Pria dengan rambut hitam itu kini membuka sebuah gerbang dimensi dimana ruang retak bagaikan sebuah kaca yang hancur menjadi serpihan serpihan. Dari sana serangan kuat itu di hisap kedalam nya. Menghilang dan lenyap dari pertarungan
‘ Apa hanya ini kekuatan mu ? ’
‘ Apa yang kau inginkan haaahh....? Jangan menghalangi ku untuk membunuh wanita itu ’
‘ Lantas jika kau membunuh nya. Apa yang ingin kau lakukan ? ’
‘ Tch.... Diam lah dasar sialan ’
Spiral sihir yang sangat banyak di buka dari atas langit. Dari sana sebuah kristal kristal merah di tembakan dengan sangat lah cepat. Tapi Pria berambut hitam itu hanya tenang dan di tengah detik detik itu dia merapal sihir. Pusaran kekuatan dari nya tercipta. Energi hitam terasa, aura iblis dari nya benar benar pekat, si pria berambut hitam itu kini melepaskan sebuah sihir . Tapi ada yang berbeda dimana Livide yang di gunakan menimbulkan segala hal yang ada disana membeku
‘ Ehmm ?... Semuanya membeku..? Tidak ini... Perasaan ini. Jngn jngn dia membekukan waktu ? ’
Ujar Elisa yang sedang menyembuhkan dirinya dengan sihir. Dimana dia sempat terluka saat bertarung dengan si Pria berambut pirang itu, Elisa bisa saja mengalahkan pria itu dengan mudah hanya saja dia melindungi kastil nya dan itu membuat nya tidak bisa mengeluarkan kekuatan besar nya. Jika saja dia mengeluarkan kekuatan besar nya kastil nya bisa bisa hancur seketika karena efek dari ledakan kekuatan Elisa
Tapi disini dia terkejut dengan hal yang di lakukan oleh pria berambut hitam itu dimana dia mampu membekukan waktu di sekitar sana. Dia tau kalau orang itu menggunakan Livide tapi dia tidak tau kalau si Pria berambut hitam itu bukan menghentikan waktu saja tapi dia juga membekukan nya. Sejauh yang dia tau tidak ada yang bisa melakukan hal ini kecuali keturunan dari Iblis Promordial Hitam
‘ Membekukan waktu... Jangan jangan kau keturunan si Hitam ? '
‘ Aku kagum kepada mu karena kau tau itu... Tapi diam lah untuk sementara ’
Di waktu membeku itu, segala hal yang ada disana membeku menjadi Es begitu juga si Pria dengan rambut pirang itu. Dia berhenti dan membeku, si Pria dengan rambut hitam itu mencabut pedang nya sarung nya. Aura hitam terasa dimana pedang yang dia cabut memancarkan kekuatan yang sangat lah besar. Disaat itu pula dia bergerak dengan sangat cepat. Ruang disana tertebas serangan serangan yang diberikan oleh si Pria berambut pirang itu menghilang seketika.
Ruang seakan akan di tebas bagaikan kaca yang retak. Aliran waktu kembali normal. Darah mengalir membanjiri bumi. Pria berambut pirang itu kini tersungkur dan hanya bisa menahan rasa sakit nya yang terkena tebasan telak dari si Pria berambut hitam itu. Penutup wajah yang dia gunakan terlepas dari wajah nya. Dan disitu terlihat sosok yang tidak asing di kalangan semua orang, dia lah sang wakil OSIS Academy Eragon Valon Aisira
‘ Hahh.... Kau adalah... ? Tidak mungkin. Kenapa kau melakukan semua ini...?
‘ Pernyataan nona Vindzena memang benar ternyata itu kau Valon Aisira. Kenapa kau mengkhianati teman teman mu ? ’
‘ Kalian tidak perlu tau... Bagaimanapun caranya aku akan mendapatkan harta pusaka itu ’
Sebuah Kegelapan kental kini menutupi Valon. Sihir yang nampak nya adalah sebuah kekuatan dari Kultus Hantu Kematian. Kekuatan itu sangat terasa mirip dengan iblis yang di bunuh Rain saat itu, disaat dia akan menghilang. Pria berambut hitam itu kini bergerak dengan cepat hendak menebas Valon, tapi Valon lebih dulu menghilang tertelan oleh sebuah kegelapan pekat dan pergi di suatu tempat yang jauh. Tidak di ketahui dan tidak pernah ada dalam sejarah
‘ Dia menghilang ’
__ADS_1
‘ Kau... Siapa kau sebenarnya? ’
‘ Seperti yang kau katakan aku adalah Iblis dari keturunan Primordial Hitam dan bawahan Raja Iblis Kehancuran Vindzena. Dan aku adalah bawahan setia nya Recol ’
Auar gelap menyelimuti Recol. Aura gelap dan salju salju hitam menutupi dirinya. Dari kekuatan besar itu dia berbicara dengan gemuruh bagaikan kekuatan besar yang menghentak. Dia kini menghilang di balik kegelapan salju hitam yang mampu membekukan segala hal termasuk hal hal yang tidak bisa di jangkau itu sendiri.
‘ Raja Iblis Vindzena ?... Siapa itu ’
Pagi hari di Academy diliputi dengan sebuah kecemasan para anggota. Tower Of Truth mereka semua menampakan wajah cemas nya. Bahkan aura besar saya sempat gusar di kelas dan membuat semua orang panik, disitu saya menetralkan aura saya kembali agar kondisi kembali menjadi tenang. Setelah hentakan dari aura gelap yang terpancar dari tubuh saya. Disini saya meminta maaf dan izin kepada wali kelas saya untuk kembali ke asrama mengatakan kalau saya kurang sehat
‘ Emilia Sensei aku Izin kembali ke asrama... Kondisi ku sekarang kurang sehat. Tubuh ku terus menerus mengeluarkan aura gelap nya, ini bisa berbahaya. Aku harus kembali ’
‘ Ba... Baiklah Sensei memberikan izin, dan beristirahat lah dengan baik ’
Ujar Emilia dimana wajah nya agak berkeringat dingin setelah merasakan aura sihir dari saya yang sangat lah gelap. Sebenarnya aura itu tidak hanya di rasakan di kelas tapi juga di seluruh Academy Eragon dimana semuanya bisa merasakan aura saya yang benar benar gusar
Saya kini berjalan menuju Asrama kembali ke kamar dan menenangkan pikiran saya. Saya tertidur tapi didalam mimpi. Saya bertarung dengan seseorang dengan rambut pirang, dia memiliki sebauh kekuatan yang amat lah besar, bahkan dia benar benar sangat kuat. Kekuatan nya cukup dan sebanding dengan Dewa pemusnahan Veldway. Saya bertarung dengan nya hingga saya pun memutuskan menggunakan api pemusnahan Evil Van Aodroa
Pintu kamar saya di dobrak oleh Vindzena dan Mira. Spiral sihir Egile Van Aodroa terlihat dimana saya di sadarkan oleh Mira dan Vindzena, saya membuka mata yang dimana spiral sihir itu menghilang bersamaan dengan kesadaran saya . Vindzena dan Mira kini keluar dari kamar saya. Karena mereka tau sya akan mengeluarkan aura negatif yang berbahaya bagi lingkungan sekitar
‘ Mimpi aneh... Aura ku gusar lagi ’
Di balik itu Rena datang masuk ke kamar saya. Dan duduk di kursi dan meminta saya untuk berbaring di pangkuan nya. Saya pun menuruti nya. Saya saat itu merasa sangat nyaman, tubuh dari Rena bersinar cukup terang. Perasaan yang menenangkan. Sentuhan demi sentuhan memasuki tubuh saya dan membuat saya benar benar lega. Jiwa saya terasa begitu tenang. Sumber Eksistensi saya yang tadinya meluap luap kini mulai normal, walaupun tetap faktanya sumber eksistensi saya masih dalam wujud kehancuran dasyhat nya
‘ Ehmm entah lah aku hanya merasa bisa melakukan nya tapi ajaib nya aku bisa melakukannya padahal aku hanya mencoba... Ah yaa apakah kau sudah lebih tenang ’
‘ Hmm... Yaa begitulah ini sangat nyaman ’
Saya jadi teringat di masa lalu, dimana hanya ada satu orang yang bisa melakukan ini kepada saya. Yaitu Sang Ibu Pencipta atau Dewi Penciptaan dimana dia lah yang bisa melakukan hal ini kepada saya hanya saja dan bisa di bilang hanya dia yang bisa mengotak-atik sistem dari tubuh saya.
Rena kini keluar dimana dia dan Vindzena dan juga Mira nampak keluar dari ruangan saya. Saya merasa begitu lega setelah seluruh tubuh saya merasa normal dan serasa lebih lega setelah tubuh saya di otak-atik oleh Rena. Saya merasa jadi agak nostalgia dengan masa lalu yang benar benar indah. Masa lalu yang sangat membekas di ingatan saya
Tepat tengah malam jam 12. Saya dan seluruh pasukan Tower Of Truth. Dimana kami berdiri di atas gedung tinggi dengan pakaian serba hitam. Dengan corak garis garis merah di pinggir-pinggir nya. Jubah hitam yang memecah malam. Kekuatan besar dari para pasukan Tower Of Truth terasa. Yang akan kembali mengguncang semua nya
“ Aku lah kehancuran. Sang penghancur yang berdiri di atas menara kebenaran ”
Kami kini bergerak menuju tempat yang telah kami tuju. Jarak jauh tidak kami pedulikan. Meskipun jarak nya berjuta juta tahun cahaya. Kami akan menembusnya hanya dalam waktu satu detik, kami tidak akan gugur, kami akan terus berdiri karena kami adalah ' MENARA KEBENARAN '
“ Valon... Kami pasti akan menyelamatkan mu ”
__ADS_1
Suara benturan demi benturan. kekuatan besar saling bertabrakan. Seseorang dengan senyuman sinis. Rambut hitam dan pedang merah ditangan nya, dan seorang pria berambut pirang bertarung dengan nya. Yaa itu adalah Valon tapi dengan kekuatan dan juga penampilan yang sedikit berbeda. Dimana mata kirinya berwarna biru cerah menyala. Dengan aura dan sosok bagaikan Dewa
Kekuatan besar terpancar dari nya. Valon dan pria berambut hitam itu bertarung sama lain. Ayunan demi ayunan, tarian demi tarian di lakukan jiwa yang tidak takut mati dari keduanya saling bertabrakan. Sebuah cakar aura aura hitam mengejar si pria berambut hitam itu, tapi dengan lihai dan mudah nya dia menghindar hingga akhir dia mendaratkan sebuah tebasan tepat di sumber eksistensi dari Valon
“ Meskipun kau menggunakan kekuatan sebesar itu kau tidak bisa mengalahkan ku. Pengalaman mu dalam bertarung belum sepadan dengan ku, dan juga kau tidak bisa mengendalikan kekuatan itu dengan sempurna ”
Valon tersungkur dengan darah yang berceceran. Dia tidak bisa apa apa di hadapan pira berambut hitam itu, tapi sekali lagi dia bangkit dengan keadaan yang cukup memperihatinkan kan. Hingga sebuah tebasan telak di daratan ditangan si Pria berambut hitam itu. Tangan kanan nya terputus, tapi dia langsung meregenerasi tangan nya itu walaupun dia terhambat karena kekuatan dari pedang yang di gunakan oleh Valon
“ Sialaannn.... Berani sekali kau ”
Sebuah gerakan yang sangat cepat dimana Pria berambut hitam itu memukul Valon hingga terpental membentur tembok. Armor yng dia pakai hancur lebur oleh serangan dari si Pria berambut hitam itu, tidak berhenti di situ Valon melawan nya lagi dan lagi dengan kekuatan pemusnah yang dia buat dengan kontrak nya dari Dewa Pemusnahan Veldway
Valon yang sudah babak belur itu kini kembali melawan dengan sebuah tembakan api hitam pekat yang sangat banyak. Bahkan tidak terhitung, pertarungan mereka kini semakin memanas, tapi dengan pada akhirnya di serangan terakhir Valon sudah tidak kuat dan hanya tersungkur dengan tubuh yang sudah tidak karuan
“ Trandwil... Apa yang sebenarnya ada di kepala mu ”
“ Di kepalaku ?... Ahhh yaaa.... Yaitu kembangkitan dari Dew kekacauan Aganzon dan menjadi pahlawan dengan kekuatan nya ”
“ Hanya demi sebuah tujuan pribadi kau rela mengorbankan semuanya. Apa kau bnar benar sudah gila ? ”
“ Apa aku perlu menghabisi nya Trandwil ? ”
“ Yahh Silahkan saja ”
Seseorang bernama Ilia merapalkan sebuah sihir dengan kekuatan besar, wanita dengan rambut putih, jubah kuning dengan pernak pernik kristal hitam dan ungu. Sebuah kekuatan besar terpancar dari nya bentukan naga di atas langit langit menghantam ruangan. Kekuatan besar menghentak menakutkan, Valon hanya bisa pasrah ketika dirinya akan dieksekusi. Naga hitam itu kini luncur ke arah Valon
“ Sayang sekali... Padahal aku ingin merasakan kekuatan mu ”
“ Teman teman ku. Maafkan aku, ibu maafkan aku atas kebodohan ku, adik adik ku maafkan aku atas ketidakberdayaan kakak kalian ini semuanya maafkan aku. Dan untuk terakhir kali nya terimakasih telah menemani ku ”
Disaat detik detik serangan itu menuju ke arah Valon. Sebuah Pedang berwarna merah dengan aura hitam legam nya menghantam si Naga itu hingga hancur, dia menghilang. Petir petir menyambar. Berbagai senjata berwarna emas di tembakan menghabisi seluruh pasukan disana, beberapa anggota penting dari Kultus di Habisi
Vindzena dengan es kehancuran nya membekukan segala hal yang ada disana, kekuatan besar terpancar dari Mira matahari kehancuran muncul di sana, menghancurkan benteng dari Kultus. Pasukan demi pasukan berguguran dan mati semua yang ada disana hancur lebur. Begitu juga dengan seluruh peralatan dan teknologi sihir disana meleleh akibat matahari kehancuran, dan membeku akibat kekuatan es dari Vindzena
Saya muncul tepat didepan Trandwil melancarkan sebuah pukul telak yang menghantam wajah dari Trandwil. Yang kini langsung terpental ku udara bahkan sampai menembus astmosfir. Saya dengan gerakan yang sangat cepat. Menembus waktu dan berubah menjadi cahaya itu sendiri menerjang waktu, menembus Atmosfer dan menarik Trandwil dan melemparkan nya ke bulan
“ Sialan.... Apa apaan kekuatan yang tidak masuk akal ini ”
Trandwil yang terlempar pun kini kembali berdiri. Meski dengan keadaan yang babak tidak karuan. Armor pecah dan kepala nya juga berdarah. Di bumi Vindzena bertarung dengan dia bawahan Trandwil yaitu Elein dan Rades. Mira melawan Calmen. Ray melawan makhluk berbentuk gurita raksasa. Dengan kepala banteng
__ADS_1
“ Siapa kalian sebenarnya...? ”
“ Kami adalah Kebenaran berdiri di atas menara kebenaran ”