
【—Destruction Memory —】
Deras hujan mengalir, mayat bertebaran, darah darah merah membasahi bumi, sosok dengan jubah hitam berdiri. Ribuan pasukan menyerbu, lingkaran lingkaran ajaib merah muncul, ribuan api hitam di tembakan. Pasukan hancur tidak tersisa dan hanya berdiri satu orang
Pria itu turun dari bukit tinggi yang di pijaki nya. Deras hujan membanjiri, mayat mayat itu berubah menjadi abu, tapi satu pria tangguh berdiri tertatih-tatih dengan pedang nya. Pria dengan rambut emas berlari dengan kencang mengayunkan pedang nya. Disaat yang sama pria berjubah hitam itu menembakan ribuan senjata dari gerbang merah yang di munculkan di sekitar nya. Tangkis dan tangkis tidak ada yang akan berakhir, disaat detik detik terakhir. Si Pria dengan rambut emas itu menebaskan pedang nya tepat di tubuh di pria berjubah hitam
Darah mengalir, dia mencoba beregenerasi tapi tidak berlaku, orang itu tidak bisa meregenerasi luka parah yang di terimanya. Nampak nya pedang itu benar benar sumber kelemahan bagi nya, dia tersenyum. Mata merah nya yang indah bersinar, rambut merah nya yang panjang semerah darah, wajah perkasa nan berani, pria itu kembali berdiri sosok yang sama dengan yang sekarang telah bereinkarnasi, dialah sang Primordial Merah. Rain Artzena
Di pagi hari yang cerah saya terbangun di asrama dengan keadaan yang cukup menyegarkan hanya saja, entah kenapa ada tiga gadis bersama saya, mereka tertidur dengan keadaan yang benar benar aneh. Meskipun saya bisa melihat dua gunung kembar, dan paha yang amat mulus, tapi saya tidak berminat. Matahari bersinar, saya membuka jendela sinar masuk ke kamar menerangi kamar saya yang tadi cukup gelap, sinar mentari itu kini menyinari tiga gadis yang tadi tidur bersama saya. Ketiganya menguap bersamaan, merentangkan tubuh pertanda mereka sudah bangun untuk menyambut pagi yang cerah, dan terlebih sekarang hari libur
“ Bangun lah para gadis bego ”
Ucap saya. Yang kini keluar dari kamar dan turun ke bawah. Kedapur untuk membuat kopi, saya duduk di kursi untuk menikmati hari yang sangat indah ini, terlebih hari libur yang mungkin akan menyenangkan, seharusnya bisa saja. Tapi apakah akan berjalan semulus itu. Seruput dan seruput, saya meminum kopi nya, tiga gadis itu kini turun dari lantai atas, dan hanya menggunakan baju tidur mereka, yang nampak cukup tipis. Ya ini pemandangan yang benar benar membuat mata saya agak runyam, di kala saya ingin menikmati indah nya matahari kenapa harus di pancing untuk memperhatikan dua gunung yang cukup mengganggu, terlebih tidak hanya dua gunung. Tapi enam, ini menjengkelkan
Saya melihat sebuah piala emas di meja, dengan sebuah pedang kecil berwarna merah di tengah tengah nya, saya mengambilnya, “ Kejuaraan Cobaan Dewi. Pahlawan Baru ”. Saya tidak ingat membawa nya kesini, tapi seketika sangat ingat. Semalam entah bagaimana saya kehilangan kesadaran, itu cukup memalukan bahkan untuk orang kuat seperti ku pingsan didepan mereka yang lebih rendah dari diriku. Terlebih didepan Vidnzena itu mencemari harga diri ku yang tinggi nan agung ini
“ Apa kalian akan terus menggunakan pakaian itu ? ”
Tanya saya kepada mereka dan disini Vindzena menjawab
“ Apa salah nya, yang penting kami berpakaian. Bnr kan Mira Senpai ”
“ Hmm... Hmm... ”
“ Maaa... Mungkin perkataan Rain benar, ini terlalu terbuka. Mungkin aku akan kembali ke apartemen ku dulu, untuk ganti baju ”
“ Heee Rena– Senpai ”
Rena berjalan keluar dari apartemen saya. Dan di depan pintu dia pergi berteleportasi ke apartemen nya yang setempat dengan Mira, dengan kata lain mereka satu apartemen hanya beda kamar, itu saja. Yaa itu lebih baik tapi kapan kedua gadis mageran ini akan kembali ke apartemen nya, cara berpakaian mereka cukup membuat Rain risih tapi tidak mengubah fakta juga kalau dia bisa sedikit menikmatinya. Vindzena berdiri sebuah spiral sihir muncul di atas nya. Spiral sihir itu melewati tubuh nya dari atas ke bawah, dan dari sana lah pakai nya berubah menjadi sebuah gaun hitam yang cukup indah, dengan pernak pernik kristal ungu yang cukup bersinar
“ Baiklah. Pangeran ku, tuan putri mu sekarang telah berubah sesuai keinginan mu kan ”
Senyuman puas nampak terlihat di wajah Vindzena. Meskipun bagi saya itu cukup menjijikan. Yaa saya cukup kagum dengan sihir itu, meskipun itu sebenarnya juga adalah trik yang cukup mudah tapi terkadang orang orang tolol seperti di zaman ini tidak mampu untuk melakukan nya, atau pun melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Vindzena tadi.
“ Hmm Hmm... Aku pun bisa melakukan trik semacam itu ”
Spiral sihir muncul di atasnya. Spiral sihir itu melewati tubuh nya dari atas ke bawah, dan dari sana lah pakai nya berubah menjadi sebuah gaun ungu yang cukup indah, dengan pernak pernik kristal merah yang cukup bersinar saat terkena sinar matahari. Dan disaat yang sama Valon, dan Phalien datang ke tempat saya. Tidak seperti biasanya Valon hari ini cukup suram dari biasanya, saya tidak berani untuk membaca kenangan atau pikiran nya. Karena dia juga mampu untuk membalikkan hal itu
__ADS_1
Berbeda dengan Phalien. Dengan baju putih yang cukup cerah dan celana pendek berwarna kuning dia berjalan dengan wajah penuh senyuman dan kesenangan, wajah yang bersinar sinar penuh dengan kebahagiaan. Mereka duduk disova dengan tenang sembari sedikit berbincang bincang dengan saya, tentang diri saya yang bisa memanggil sang penyihir kehancuran
“ Ngomong ngomong apa tujuan kita pada hari libur begini ? ” tanya Phalien kepada semua
“ Hmm... Tidak terpikirkan oleh ku ” Ujar Valon , dan hal itu kini terjawab oleh Vindzena
“ Jika di lihat... Hmmm ”
Pagi hari yang cukup indah, air laut menari nari dan terus menggulung di pantai. Cuaca cerah yang cukup lumayan, deruk ombak menghantam bibir pantai yang cukup luas. Vindzena, Mira, Rena, bermain air dengan pakaian renang nya, ternyata cukup besar juga gumpalan aneh di dada mereka ya. Itu aset penting. Phalien yang nampak berselancar dengan papan seluncur nya. Yahh kabahagian yang benar benar sangat indah, dan sangat mubazir jika di sia sia kan begitu saja. Saya bersantai terlentang dan menikmati keindahan pantai dengan berteduh menggunakan kaca mata di bawah pohon kelapa. Baju renang merah cirikhas saya, celana pendek berwarna hitam yang cukup menawan
“ Hmmm hari yang indah ”
Tanpa saya sadari sebuah kelapa tiba tiba jatuh dan hampir mengenai kepala saya. Tangan kanan reflek menangkap nya dan sebilah kelapa muda nampak di tangan, hingga saya mempunyai sebuah ide, satu gerbang dimensi berwarna merah tercipta. Dan sebuah pisau emas muncul dari sana, ujung kelapa saya potong. Air yang ada dari dalam kelapa benar benar segar. Tegukan demi tegukan saya minum terasa sangat segar, air mengalir dari mulut hingga ke tenggorokan dan ke lambung, bnr bnr segar dan sangat nikmat.
“ Ahh yaa... Dimana Valon. Dia bnr bnr tidak terlihat sama sekali ”
Ujar saya, tapi seketika dari belakang seorang laki laki menyentuh pundak saya
“ Yaa Rain... ”
Entah brantah dari mana, secara tiba tiba Valon muncul mengagetkan saya, yang sedang termenung dan ngelamun memandangi sebuah pemandangan yang sangat indah di lepas pantai sana. Ini yang terkadang paling saya benci Valon selalu muncul tiba tiba dalam situasi yang tidak pas, bahkan terkadang dalam situasi yang cukup merepotkan dan juga terkadang muncul saat saya memikirkan nya. Seakan akan dia tau kalau saya sedang memikirkan nya
“ Ehm... Ahahahaa— Maaf maaf aku tidak berniat untuk mengagetkan mu atau apa tapi, aku hanya sedikit bingung dengan mu yang selalu melamun sejak tadi. Apakah kau sedang memper— ”
“ Hentikan ”
“ Hatikan ”
“ Kubunuh kau ”
“ Hmm— menakutkan ”
Keasikan demi keasikan kami lakukan, hingga malam tiba. Kami bersantai di Vila yang sudah di pesan oleh Vindzena sebelumnya. Saya dan Phalien membakar beberapa ikan di tepi pantai. Sembari menikmati terpaan demi terpaan dari hembusan angin malam yang begitu sejuk nan membuat hati merasa tenang. Tapi di samping itu Valon keluar dari Via secara diam diam, menuju sebuah hutan di pedalaman yang nampak nya cukup menyeramkan dan sungguh lebat.
Ditengah hutan. Valon bertemu dengan 5 orang berjubah hitam yang membawa sebuah pedang di kanan kirinya. Dan tiba tiba pun salah satu dari mereka yang mungkin pimpinan nya memberikan sekantung uang penuh kepada nya. Valon menangkap nya dan dimana mereka berdua kini saling berbincang bincang satu sama lain, dan nampak membicarakan suatu hal yang rahasia dan cukup penting, atau mungkin itu adalah hal internal
“ Seperti yang ku janjikan. Uang untuk mu dan keluarga mu, yang membutuhkan dan ada misi lagi yang harus kau lakukan ”
__ADS_1
“ Demi kehidupan keluarga ku, aku akan melakukan nya ”
“ Bunuh dan ambil pedang sihir kuno dari Kediaman Artzena dan bunuh juga Rain Artzena ”
Wajah ekspresi berat nampak di wajah nya, rasa terkejut yang luar biasa dan seakan akan tidak mau percaya dengan hal yang ada, ketika seorang yang baik di paksa harus membunuh teman nya. Yang ada hanya antara dua pilihan, melihat teman baik mati ditangan sendiri, atau keluarga yang semakin tersiksa. Saya dari atas memperhatikan nya dan mendengar pembicaraan mereka, setelah mendengar mereka akan melakukan hal yang tidak baik kepada keluarga saya, dan tentunya menyangkut ibu saya. Dan tidak akan saya biarkan hal ini terjadi. Tidak peduli siapapun dia jika berani melukai keluarga saya maka saya akan menghancurkan mereka hingga sehncur hancurnya
» Gate Of Primordial Active «
Sebuah gerbang gerbang gerbang dimensi di sekitar saya muncul, mengeluarkan berbagai senjata senjata, dan dari sana saya menembakan senjata dari GOP milik saya. Kelima orang misterius itu mati seketika. Saya turun dari atas dan menemui Valon, disusul dengan Vindzena, Mira dan Rena. Semuanya nampak kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Valon, begitu pun dengan saya. Dia memberikan sebuah uang haram untuk keluarga nya, bahkan saya yakin jika keluarga nya tau maka mereka pasti akan kecewa dengan hal ini
“ Apa yang kau lakukan Bego... Apakah kau akan membunuh teman teman mu hanya demi sebuah uang ”
Dari sebelah kiri, Phalien dengan kecepatan tinggi menerjang Valon, sebuah pedang di ayunkan dengan posisi vertikal. Valon menahan nya dengan sebuah pedang yang sama pula, tapi naas kekuatan Phalien lebih unggul dari Valon, membuat nya terpental jauh hingga menabrak batu, besar hingg retak. Phalien menerjang nya lagi dan kini ayunan pedangnya di arahnya dengan Horizontal. Tapi Valon berhasil menghindar dan malah melempar Phalien hingga menabrak gunung gunung hingga hancur.
Tidak berhenti disitu sebuah tebasan yang amat kuat datang dari Phalien menggunakan pedang sihir nya, namun hal itu tahan oleh Valon dengan cukup mudah. Disaat kekuatan besar akan di gunakan oleh Valon, dan Phalien. Saya menghentikan mereka berdua. Dengan wajah yang cukup kecewa dan sedih. Melihat orang yang saya percayai malah mengkhianati saya dengan caranya sendiri, saya tidak tau dia melakukan nya secara pribadi atau karena di kekang oleh sesuatu
“ Hentikan ”
“ Valon... Apa yang kau lakukan..? Apakah kau berkhianat pada kami semua ? ”
“ Kalim tidak perlu ikut campur urusan ku. Aku tidak ingin kalian terkena imbas nya”
Asal menyeluruh, dari balik sana suara Valon semakin lama menghilang hingga eksistensi nya tidak hadir disana. Saya bisa merasakan dendam dan rasa sakit yang begitu dalam hingga dia bnr bnr mengorbankan apa saja untuk menghilangkan rasa sakit itu, dan saya sedikit bingung dengan Phalien yang tiba tiba menghajar habis habisan Valon secara membabi buta. Ada apa dia dengan nya apakah memiliki suatu dendam atau hal lain itu membingungkan. Mungkin dia cukup kecewa dengan nya, mungkin begitu yang ada di dalam pikiran nya
“ Kenapa kau tadi menghajar nya begitu...? ” Tanya saya kepada Phalien
“ Yaa rasa kecewa yang cukup berat dan aku kasihan dengan pedang nya ” Ujar nya
Di suatu ruangan. Valon sedang di ikat dan di hajar habis habisan hingga dia bnr bnr tidak bisa melawan sedikit pun, Valon hanya bisa pasrah menerima dirinya yang sudah rusak. Bahkan dia bnr bnr tidak mampu untuk melawan nya. Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, dan hantaman demi hantaman. Di berikan oleh entah brantah siapa yang memberikan pukulan itu, tapi nampak nya itu adalah orang yang menyuruh nya. Dia marah karena kegagalan misi Valon, yang bergerak sendiri menyerang kediaman Artzena. Yang sudah di jaga oleh iblis perintahan dari Vindzena
“ Maa— Maaf... Berikan aku kesempatan sekali lagi ”
“ Sekali lagi ku berikan kesempatan... Kau harus berhasil. Atau keluarga mu ku habisi ”
“ Baa— Baiklah ”
Orang itu kini pergi dari ruangan, Valon hanya bisa meratapi nasib nya yang amat sial, dengan ceroboh nya dia bergerak sendiri. Hingga sosok iblis menghajarnya hingga babak belur, entah siapa sosok iblis itu yang jelas dia dari keturunan hitam. Siapa lagi jika bukn iblis suruhna Vindzena. Dan bbrp itu adalah iblis yang tidak terkontaminasi oleh perubahan sejarah. Dia menangis, dia marah, tembok di pukul hingga retak dan dikegelapan itu dia berkata
__ADS_1
“ RAIN ARTZENA... AKU PASTI AKAN MEMBUNUH MU....! ”
‘ Sedangkan itu di Kediaman Artzena ’