
cringg… cringg…cring… suara pedang yang keluar dari sarungnya, mereka semua menodongku dan tatapan ingin membunuh.
"apa yang kalian inginkan dariku"
sambil tersenyum dengan gaya pendekar jalanan ku berdiri, saat ku masukan tanganku ke saku celanaku ada sebuah bendah bundar yang membuatku terkejut, ku genggam dan ku tarik keluar dari saku celana sekolahku
"apa ini benda apa dan sejak kapan aku memilikinya"
wanita itu terbelalak melihat jade giok putih berukir kepala kucing itu.
"itu apa aku tak slah liat, jade siluman lagendaris dari gumiho"
asap tebal merah muda bertabur kilap kilap berwarna emas keluar dari jade giok itu dan menyelimuti tubuhku.
"kakak ketua kemana perginya siluman itu menghilang begitu cefat"
mereka meliat keseluruh area terdekat namun bayangannya saja tidak ada.
"entahlah tapi aku rasa ada yang aneh dengan siluman itu"
"maksud ketua"
"ya dia berbeda dari sifat, insting, dan fisiknya, apakah kalian tidak memperhatikan"
"ya kami memperhatikan dia lumayan tampan"
"dasar bodoh tidak berguna"
satu seorang dapat pukulan dari wanita itu
"bodoh jangan di pelihara, kalian perhatikan jade giok putih itu adalah giok yang diciftakan gumiho"
"oh kami mengerti ketua, dia gumiho rubah ekor sembilan itu kan ketua"
babak belurlah semuanya di hajar wanita itu
"bodoh dasar bodoh, coba buka mata kalian. . . ! siluman itu 1/4 siluman dan 3/4 nya manusia, pakaian yang ia gunakan pun seperti bukan di jaman kita"
"maafkan kami ketua kami mengaku salah dan kami harus banyak belajar lagi, mohon bimbinglah kami terus ketua"
__ADS_1
di tempat berbeda
"aaaaaaaa" dhumm di dasar sumur liogo jatuh
"ah dimana ini kenapa sempit sekali"
dilihatnya ada cahaya diatasnya, tiba tiba turunlah seutas tali.
"pegang erat talinya liogo, kami akan menarikmu"
"baiklah tunggu sebentar kepalaku masih pusing"
segera ku pegang erat tali itu, sesampainya diatas
"akhirnya kau selamat lio"
"ah nona kembar bagaimana kalian bisa disini"
"kebetulan hely kami lewat diatas dan melihat ada orang terjatuh di sumur tua ini jadi kami segera mendarat dan menolong mu"
"terimakasih nona atas bantuan kalian dan kakak pengawal"
"baiklah nona segera kita kembali ke helykopter, tuan dan nyonya sudah menunggu"
"nona bagaimana caraku membalas budi baik nona"
"lain waktu kami akan menagihnya"
segera berpaling dan bergegas menuju hely dan pergi
prak… suara ranting kecil yang patah
"siapa itu, keluarlah, jangan bersembunyi"
"aku datang" serangan tiba tiba dengan sebuah tongkat bambu
ku tangkap ujung bambu itu, dengan posisi kuda kuda hanya sebelah tangan ku menahannya
dalam hati wanita itu (bagaimana mungkin dia hanya dengan kosong dan sebelah tangan mampu menahan seranganku)
__ADS_1
"lio turunkan aku"
aku tak sadar kalau dia masih memegangi tongkatnya
"baiklah aku lepaskan"
brukk... "aduh sakitnya", dia terjatuh ketanah dan topengnya pun terlepas
"yanchen kamu ternyata di balik topeng itu"
terkejutnya aku melihat dia
"aaah kamu lio jangan memandangku begitu aku malu, cefat tolong aku berdiri, pinggangku sakit" dengan manja dia meminta tolong,.
"kenapa kamu menyerangku nona yanchen"
"tidak, aku hanya mengujimu, apakah kamu seperti rumor yang bereda sebagai lelaki lurus sejati sang kesatria di smp bamban putih itu"
"terus sekarang bagaimana menurutmu"
"aduh lio kakiku sakit, gendang aku"
gumamku dalam hati ( dasar wanita sungguh merepotkan)
"kau sengaja ya"
"tidak, cefat lah sedikit jalannya"
"memang kita mau kemana nona"
"bawa aku pulang lah, tega memangnya kamu melihat cewek secantik aku pulang dengan kaki begini sendirian"
"aku mengantar sampai halte saja, aku banyak urusan"
"tidak mau, aku mau kamu mengantarku kerumah" pasang muka ngambek
(pokoknya dia harus mau, biar dia ketemu orang tuaku, paling tidak sampai terlihat camera pengawas di depan rumah... hehe)
"ayo cefat aku ada tugas dirumah"
__ADS_1
"hari ini aku ada janji menunggu seseorang di gerbang"
sambil mengalihkan pandanganku darinya