
sungguh tidak di mengerti perasaan wanita, selalu ingin membuat penasaran laki laki.
tidak taukah sebagian faktanya laki laki lebih suka kejujuran dan bukan bahagia diatas kebohongan.
"lio kamu kenapa melamun, ingin tau nama kami tidak?" menatap sambil tersenyum manja
(sebenarnya ada apa dengan nona nona ini, selalu saja menggodaku secara tidak langsung), "tidak tau aku pun bingung, entahlah! aku rasa tau atau tidak bukan masalah selama kalian dapat aku percaya".
"baiklah baiklah, lelaki memang tidak serumit wanita!"
"perkenalkan namaku diani dan saudaraku diana" sambil memegang tangan lio
"terimakasih sudah memberitahuku nama nona" aku tersenyum lega.
"berhentilah memanggil kami dengan kata nona, panggil saja ana dan ani" mereka berdua menatapku
"baiklah kalau begitu, hari sudah mulai gelap dan diaini mulai dingin"
"oke bailah mari kita masuk dan bersiap"
"kemana" aku terkejut
"kekamar, memangnya mau kemana"
"kau bilang bersiap"
__ADS_1
"ya bersiap tidur, memang kau ingin apa lio"
"entahlah aku hanya belum terbiasa santai seperti hari ini, badanku rasanya aga kaku karna tidak banyak beraktipitas" sambil meregangkan tubuh
"ayo lio kita" ana dan ani merangkul bersebelahan
"kemana" aku yang bingung
"ke surga" sambil tertawa
"apaaaaaa, jangan aku masih tidak ingin kehilangan keperjaka'anku"
"hahaha kami bercanda, malam ini kita berkemah di atas vila jdi kita segera naik, semua sudah di sediakan diatas"
"oh begitu, tapi kalian bilang surga"
"tapi kenapa kalian mengajakku, bukankah aku sama saja dengan yang lain" menatap dingin
"dasar bodoh, kami sudah menelusuri semua jejakmu dan kami merasa kau bisa di percaya"
"aku makin tidak mengerti perasaan wanita memang rumit"
"kami memang rumit tapi hanya kamu yang bisa membuat kami memperhatikan satu laki laki"
"apa maksud kalian"
__ADS_1
"kalian lihat malam ini"
"iya aku lihat, banyak bintang dan bulan purnama"
"kamu lihat di depan tenda"
"ya itu api unggun, lalu kenapa"
"jika bintang bersinar hanya satu titik cahaya yang setia di langit jauh, jika bulan purnama, ia hanya menghiasi malam yang dingin dengan siramah cahaya yang kadang bisa menghilang, tapi kamu taukah lio" dengan mata yang berbinar
"aku pernah membaca berbagai puisi tpi yang kau ucafkan belum pernah ku tau ada pemikiran makna yang berbeda seperti ini, katakan lah ana sebuah magna apa yang kau ungkap untuk diriku"
"kamu mungkin tak menyadari, kamu berbahaya seperti api yg bisa membakar kecemburuan saat kau tak di samping kami, tapi kau hangatkan kami dengan cahayamu, memilikimu mungkin jauh dari angan kami,.
kau bagai api unggun yang hanya satu dan kami memperhatikanmu menghadap satu ke api unggun ini"
"sungguh kata yang indah namun belum tepat bila aku di bandingkan dengan hanya api unggun"
"terus apa? coba katakan pada kami"
"baiklah, aku adalah… ya aku, ini diriku dan bukan yang lain, jika ingin membandingkanku alangkah lebih indah jika hati yang bersinar kekal abadi, meskipun telah tiada namun akan selalu indah dimata orang yang di tinggalkan"
"huaaaaa kami terharu, kata katamu menyentuh sekali" sambil menangis
"eh kalian kenapa begitu"
__ADS_1
"sungguh kau pria yang hebat lio, sangat beruntung kami bisa bertemu denganmu"