Rintihan Seruling Dari Gunung Han.

Rintihan Seruling Dari Gunung Han.
Bab 1.


__ADS_3

Zhaolong, pemuda yang berasal dari bumi.


Dalam kehidupan sebelumnya, Zhaolong hanyalah pemuda biasa biasa saja yang meninggal di usia 35 tahun karena terlalu lelah bekerja.


Dan yang paling penting adalah dia meninggal dalam keadaan perjaka! Ya, dia meninggal pada usia 35 tahun ketika uang yang ia simpan sudah cukup untuk membina rumah tangga.


Bisa di bayangkan betapa frustasinya Zhaolong ketika ia mengetahui bahwa uang yang ia kumpulkan puluhan tahun entah pergi kemana.


"Haikh, meskipun terasa sedih ketika saya memikirkannya.


Namun kehidupan baru ini, tidak terlalu buruk."


Zhaolong yang berusia 18 tahun sedang bersandar pada sebatang pohon, tak terasa 18 tahun telah berlalu di dunia baru yang awalnya asing baginya.


Namun Zhaolong merasa cukup beruntung, meskipun di dunia baru ini berkultivasi hingga puncak keabadian menjadi tujuan hidup semua orang.


Dengan bakatnya yang biasa biasa saja serta tanpa memiliki jari emas seperti rekan transmigran lainnya, Zhaolong tidak akan melompat ke dalam jalur kultivasi seperti para protagonis mati otak yang akan menyulut dendam para musuh musuh yang kuat dan akhirnya di kejar hingga ujung dunia.


Ayah Zhaolong bernama Zhao Tian, beliau seorang pedagang kain.


Bisa di bilang dengan Ayahnya yang seorang pedagang, kehidupan Zhaolong muda begitu nyaman.


Terlebih lagi sang Ayah memiliki saudara sesumpah, mereka berdua pria paruh baya berjanji akan menikahkan anak mereka jika kedua anak mereka memiliki jenis kelamin yang berbeda.


"Kakak Zhao, ternyata kau berada di sini. Ayah dan Ayah mertua memanggilmu."


Seorang gadis dengan gaun hijau berkata perlahan dari balik pohon menghampiri Zhaolong dan duduk di sampingnya.


Suara gadis itu seperti sihir, dalam sekejap mampu membangunkan Zhaolong dari lamunannya.


"Mitha... ".


Zhaolong muda melihat gadis dengan rambut hitam panjang yang menghampirinya.


Gadis muda yang memiliki nama panjang Mitharasi Yume adalah tunangan Zhaolong, meskipun terlahir dari keluarga biasa.


Wajah Mitha tidak kalah jika di bandingkan dengan para Kultivator wanita yang terlihat seperti makhluk abadi.


Terlebih, Mitha memiliki temperamen feminim serta keibuan.


Itu membuat Zhaolong yang sebelumnya menjadi anjing lajang selama di kehidupan sebelumnya merasa sangat bersyukur.


Jujur saja, Zhaolong yang pernah menjadi pemuda di abad ke 21 sangat membenci temperamen perempuan yang berpura pura dingin bahkan hanya karena mereka cantik mereka mengabaikan semua pria yang datang hanya untuk sekedar bertanya atau menyapa.


Jika di beri kesempatan untuk kembali ke bumi, Zhaolong akan meneriaki para wanita cantik yang sombong itu dengan kalimat 'Bung, yang benar saja! Hanya karena kau terlihat cantik bukan berarti semua lelaki akan menjadi anjing penjilatmu.


Saya sebagai lelaki normal memang mengagumi kalian, tapi bukan berarti saya jatuh cinta dan ingin memiliki kalian! Sejujurnya hampir semua pria lebih memilih menikahi gadis desa yang tidak memiliki wajah terlalu cantik namun lembut dan menghargai pasangan mereka.'


"Ada apa kakak Zhao?."


Zhaolong merasa waktu terasa berhenti setiap kali ia memandang senyum lembut calon istrinya.


"Ah tidak, hanya saja saya merasa...  Saya selalu merasa beruntung ketika berpikir bahwa saya memiliki seorang tunangan yang cantik dan lembut.".


Mendengar ucapan Zhaolong, Mitha langsung mengulurkan jarinya untuk mencubit lengan kiri Zhaolong.


"Kakak Zhao, berhentilah menggoda.".


Merasakan jari lentik Mitha yang seputih salju mencubit tubuhnya, Zhaolong hanya terkekeh.


Tak perlu di tutup tutupi.


Hampir seluruh pria normal di dunia merasa bahagia ketika gadis yang mereka cinta mencubit tubuh mereka.


"Mitha, tahukah kamu? Saya merasa ingin memaksa waktu agar berhenti. Saya merasa tidak rela untuk berpisah lagi."


Mitha yang mendengar ucapan Zhaolong, perlahan menyenderkan kepalanya yang mungil di pundak Zhaolong.


"Kakak Zhao, aku juga merasakan hal yang sama. Meskipun kali ini kedua orang tua kita bertemu untuk menentukan tanggal pernikahan kita.


Hari hari yang aku jalani kini terasa lama,Kakak.


Waktu terasa begitu lambat setiap kali aku menunggu hari pernikahan kita tiba.


Bahkan setiap aku hendak tidur, aku berharap kala membuka mata hari pernikahan kita telah tiba."


Mendengar ucapan Mitha yang bersandar di bahunya, seketika Zhaolong mengecup kening Mitha yang di tutupi oleh rambut hitam panjang.


Semerbak aroma mawar membuat Zhaolong mabuk kepayang.


Calon istrinya ini memang paling suka memakai parfum atau wewangian yang beraroma bunga.


Dan aroma mawar menjadi favorit Mitha sejak pertama kali gadis kecil ini pada usia 3 tahun.


Dengan perlahan, Zhaolong mengeluarkan seruling yang ia selipkan di pinggang kanannya.

__ADS_1


Dalam kehidupan sebelumnya, Zhaolong sangat menyukai musik.


Terlebih instrumen musik yang membawa ketenangan seperti seruling, biola, melodi maupun piano.


Seruling berwarna hitam itu perlahan menempel di bibir Zhaolong.


Nada yang menyayat hati segera tersebar di pegunungan yang luas.


Kicauan burung, rengekan belalang seketika berhenti seakan terhipnotis oleh rintihan seruling yang Zhaolong mainkan.


Pemuda yang bermain seruling dengan seorang gadis yang bersandar di bahunya terlihat tidak lagi perduli dengan dunia.


Mereka berdua tidak lagi memikirkan hal lain selain keinginan untuk saling bergantung dan menikmati moment bersama.


Kultivator apa? Kekayaan apa? Keabadian apa? Kekuatan apa? Gadis cantik atau pria tampan macam apa?


Mereka berdua tidak perduli! Sederhana saja.


Bagi Zhaolong dan Mitha saat ini, Saling bersama untuk menghabiskan waktu adalah hal yang paling mereka inginkan! Bukan hal lain.


Bahkan jika seseorang menginginkan mereka berdua untuk berpisah dengan imbalan dunia, mereka berdua akan dengan tegas menolak! Bahkan jika imbalannya adalah dunia atau semesta beserta isinya.


Inilah kekuatan cinta, cinta yang tidak terlihat namun terasa nyata.


Tidak ada sedikitpun pikiran di benak Zhaolong untuk menodai rasa cinta di hatinya dengan nafsu, meskipun jika di hitung kehidupan sebelunya dan kehidupan ini ia telah melajang menjadi perjaka selama 50 tahun lebih!.


"Seperti biasanya kakak Zhao, permainan serulingmu selalu indah."


"Di bandingkan dengan indahnya dirimu, permainan seruling yang saya mainkan tidak ada artinya Mitha.".


Mendengar pujian Zhaolong, Mitha tersenyum lembut sembari berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Zhaolong yang sedang duduk.


"Kakak Zhao, mari kita kembali. Orang tua kita sudah terlalu lama menunggu kita pulang.".


Teringat orang tuanya yang sedang menunggu, Zhaolong langsung berjongkok di depan Mitha dan menepuk punggungnya.


"Mitha, naiklah. Saya akan menggendongmu pulang seperti ketika kita masih kecil."


"Kakak Zhao, tapi kita berdua bukan anak kecil lagi!.".


Mendengar tawaran calon suaminya, meskipun malu dan memberikan jawaban yang nampaknya enggan.


Tubuh Mitha masih dengan patuh memeluk tubuh Zhaolong dari belakang.


"Tidak perduli berapa lama waktu telah berlalu, entah itu seratus atau bahkan ribuan tahun.


Zhaolong pun menuruni bukit dengan menggendong Mitha.


Tak perlu di katakan lagi, berapa banyak orang yang iri.


Terlebih lagi para pria lajang yang melihat keduanya begitu mesra di depan umum tanpa perduli kanan dan kiri, napas mereka seketika melonjak seakan akan mereka terkena serangan jantung mendadak.


"Bah, sial! Bisakah seseorang tidak terlalu terang terangan?.".


"Bung! Tolong pikirkan perasaan orang lain oke!? Tidak semua pria beruntung!.".


"Persetan!!! Mataku terasa sakit."


Mendengar umpatan iri para pemuda yang ia lewati, Zhaolong hanya tersenyum.


Itulah perasaan 35 tahun di bumi yang telah lama ia rasakan, sekarang peran telah terbalik dan ia menjadi pria yang di tatap iri oleh para pria di sekitarnya.


'Hehe, perasaan ini. Tidak buruk, kurasa.'.


Kota yang Zhaolong tempati adalah salah satu kota terpencil di provinsi Danxia, bahkan kota bukit sinji yang ia tempati tidak lebih besar dari sekte kelas 2.


Dan provinsi Danxia berada di bawah kekuasaan raja Yun, ada ribuan kerajaan kecil, sedang, maupun besar yang berdiri di atas benua Shicuan.


Ribuan kerajaan di benua Sichuan di pimpin oleh 4 kaisar yang berbeda, 4 kekaisaran ini telah berdiri sejak jutaan tahun yang lalu dan selalu berperang untuk saling mencaplok kerajaan di bawah pimpinan lawan.


Semakin banyak kerajaan yang di pimpin oleh kekaisaran maka semakin banyak pajak yang mereka dapatkan, tentu saja semakin banyak sumber daya maka kekaisaran mampu menghasilkan lebih banyak kultivator di bawah kursinya.


Tentu saja 4 kekaisaran hanya saling berperang di wilayah perbatasan dengan peperangan bervolume kecil dan sedang.


Setelah berperang selama jutaan tahun, 4 kekaisaran memiliki pemahaman diam diam.


Medan perang sudah menjadi tempat multifungsi, para bangsawan yang terlihat memberontak akan segera di kirim di medan perang.


Jika bangsawan tersebut beruntung tidak mati di tangan lawan, maka tangan hitam kekaisaran yang bersembunyi di barisan sekutu tidak ragu membereskannya.


Terlebih medan perang juga menjadi tempat melatih para kultivator muda yang di budidayakan oleh pihak kekaisaran.


Biarkan para kultivator ini melatih tubuh dan kesetiannya kepada kekaisaran, jika mati mereka akan di anugerahi gelar pahlawan medan perang dan jika bisa kembali dalam keadaan hidup mereka akan di beri gelar bangsawan tingkat rendah bersama sumber daya kultivasi.


Setelah berlari begitu lama, Zhaolong yang mendekati kota bukit sinji mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


Karena ia melihat lautan asap dari tengah kota sinji!.


Bahkan bau darah yang di bawa anginpun menghantam hidungnya.


"Kakak Zhao... Orang tua kita.".


Mencoba tenang dan berpikir secara positif, Zhaolong mencoba menenangkan Mitha yang tampak khawatir.


"Tidak perlu terlalu panik, mungkin hanya kebakaran atau ada seorang kultivator yang sedang bertarung.


Orang tua kita seharusnya baik baik saja.".


Mendengar jawaban Zhaolong yang nampaknya logis dan masuk akal, Mitha sedikit rileks.


"Aku harap begitu.".


Keduanya pun segera berlari menuju tempat tinggal Zhaolong yang berada di sisi timur kota.


Ketika keduanya berlari berdampingan, Zhaolong yang sedang memimpin Mitha tiba tiba saja di tendang oleh seseorang yang tidak di kenal hingga terdengar suara "krak." seperti tulang yang patah.


Zhaolong yang hanya manusia biasa, menghadapi tendangan seorang pembudidaya langsung terbang beberapa meter dan memuntahkan seteguk darah.


"argh... Sa sakit.".


Zhaolong yang sedang terbaring mencoba duduk dan mencari keberadaan Mitha.


Tidak perlu apa yang ia alamai, tidak perlduli betapa kacau dan rumitnya adegan ini.


Yang pertama terlintas di otak Zhaolong adalah melindungi calon istrinya!.


Zhaolong yang telah duduk stabil, segera melihat Mitha yang hendak berlari ke arahnya di tangkap oleh seorang pria berumur 40 tahun dengan tubuh kekar.


"Kakak Zhaoooo!!!.".


Mitha yang melihat kondisi Zhaolong hanya bisa berteriak karena ketika ia melihat Zhaolong di tendang hingga terbang, ia segera membalikan tubuhnya dan ingin memeriksa kondisi calon suaminya sesegara mungkin.


Namun ia di tangkap oleh pria tidak di kenal yang muncul entah dari mana.


"Gadis kecil, apa kau tersesat?.".


"Tiiidak!!! Lepaskan aku... Cepat lepaskan aku.".


"Haha ha, berteriaklah gadis kecil. Semakin kau menolak semakin nikmat rasanya ketika aku memakanmu nanti haha.".


"Cepat tolong lepaskan aku, aku harus memeriksa kondisi calon suamiku!.".


"Hooo? Jadi itu calon suamimu, menarik! Sauadara saudara kemarilah, ada kelinci putih di sini!."


Setelah pria berotot itu berteriak, satu persatu orang yang memakai seragam tempur dari kulit keluar dari rumah di sisi kiri dan kanan jalan.


"Kakak Ma, sepertinya keberuntunganmu tidak buruk untuk mendapat kelinci putih. Kami telah menggeledah banyak rumah dan hanya menemukan beberapa."


Seorang pemuda berambut pirang menggapi ucapan pria berotot itu setelah keluar dari salah satu rumah.


"Tidak hanya itu saudara saudara, pria kecil di depan nampaknya adalah calon suami kelinci putih ini. Bukankah menarik memakan kelinci ini di depan calon suaminya?.".


Mendengar ucapan pria berotot, salah seorang bandit yang memiliki gigi berwarna kuning segera mendekati pria berotot itu.


"Cepatlah kakak Ma, biarkan aku mencicipi kelinci ini setelah dirimu puas.".


"Oke oke saudara Hong, kalau begitu aku tidak akan sopan. Saudara saudara cepat bawa pria setengah hidup itu kesini.".


Seorang pria botak dan pria kurus yang membawa kampak mendekati Zhaolong yang sedang muntah darah.


Melihat para bandit yang mendatanginya, Zhaolong menjadi sangat panik karena ia sepertinya akrab dengan plot seperti ini di dalam novel.


Ini adalah plot di mana para penjahat menyiksa umpan meriam hingga mati, Zhaolong ingin segera bergerak dan melawan para bandit ini.


Namun untuk berdiri sendiri saja Zhaolong tidak mampu, tulang dada retak bagi manusia fana biasa tentu adalah cedera fatal jika tidak di tangani sesegera mungkin Zhaolong yakin ia akan mati.


"Kalian, kalian apa yang ingin kalian lakukan!.".


Melihat Zhaolong yang tampak panik dan ketakutan, para bandit itu menyeringai dengan senyum kejam.


Bandit berkepala botak menendang wajah Zhaolong higga melayang di udara, setelah Zhaolong jatuh bandit berkepala botak itu menjambak rambut Zhaolong dan menyeret tubuh Zhaolong.


Sedangkan pria kurus yang memiliki kampak menunggu pria botak itu membawa Zhaolong ke hadapannya.


Setelah kepala Zhaolong berada di kaki pria kurus itu, pria kurus itu menduduki tubuh Zhaolong dan menjambak rambutnya.


Zhaolong yang kepalanya di angkat sekarang bisa melihat Mitha dengan jelas, Mitha terlihat menangis dan ketakutan di kerumuni oleh banyak pria dewasa dengan tampilan garang.


"Tidak tidak... Apa yang kalian lakukan! Cepat hentikan atau saya akan membunuh kalian semua!.".


Mendengar pekikan Zhaolong yang putus asa, para bandit terlihat semakin bersemangat.

__ADS_1


Mereka mulai merobek pakaian yang menutupi tubuh indah Mitha.


__ADS_2