Rintihan Seruling Dari Gunung Han.

Rintihan Seruling Dari Gunung Han.
Bab 4.


__ADS_3

Zhaolong sangat terkejut menemukan bahwa teknik pernapasan dasar sangat berguna, dalam kehidupan sebelumnya para seniman bela diri mempelajari teknik pernapasan karena sangat penting.


Tanpa latihan pernapasan, di bawah latihan mode neraka untuk menempa kelenturan otot bukankah mereka akan kehabisan napas setelah beberapa menit?.


Teknik pernapasan dasar di bagi menjadi 3, yang pertama adalah teknik pernasapan tubuh yang menghirup udara dari hidung secara perlahan dan menghembuskannya kembali secara perlahan melalui hidung.


Yang kedua adalah pernapasan dada, di gunakan untuk menstabilkan nafas yang telah tidak terarur.


Caranya dengan menghirup udara melalui hidung dengan cepat selama 2 kali dan menghembuskannya kembali melalui hidung dengan cepat pula.


Dan ketika hembusan nafas ketiga mengharuskan untuk menarik napas secara perlahan dan menghembuskannya dengan perlahan pula.


Ritme ini di kenal sebagai teknik pernapasan dasar 23, 2 kali cepat dan yang ke 3 perlahan.


Yang terakhir atau ketiga dari bagian teknik pernapasan dasar adalah teknik pernapasan perut.


Seorang seniman bela diri sebelum menyerang akan menarik napas panjang dan menahannya di dalam perut untuk mengeraskan otot otot perut sebagai pertahanan ketika menyerang.


Bisa di bilang semua seniman bela diri mengetahui hal ini, jadi yah bisa di bilang teknik pernapasan memiliki ratusan cabang dan puluhan jalur yang berbeda.


Ketika menggunakan teknik pernasan dasar pertama, Zhaolong yang sedang berlatih ilmu pedang merasa qi sejati memasuki tubuhnya dan di murnikan secara otomatis.


Penemuan ini tentu membuatnya bahagia, karena para kultivator normal perlu bermeditasi untuk menyerap qi sejati sebelum memilah dan memurnikannya menjadi qi murni miliknya sendiri.


Meskipun teknik pernapasan dasar pertama tidak membuat qi murni yang Zhaolong serap memasuki kolam qi miliknya, melainkan didistribusikan ke seluruh tubuh seakan akan qi ini menjadi qi sekali pakai yang jika tidak di gunakan maka akan menghilang setelah beberapa waktu melalui pori pori di tubuhnya.


Bukankah ini berarti selama Zhaolong menggunakan teknik pernapasan dasar pertama ketika bertarung, selama Zhao masih bernapas secara alami ia tidak akan pernah kehabisan energi qi untuk di gunakan dalam pertarungan meskipun dalam catatan konsumsi energi qi tidak melebihi jumlah yang mampu diserap tubuh setiap kali bernapas.


Jika pengeluaran energi qi selama satu tarikan napas adalah 5 dan penyerapan energi qi hanya 1 bukankah efek ini tidak berguna?.


Zhaolong yang awalnya bahagia mulai kembali stabil dan meningkatkan kendalinya atas qi murni.


Setelah 4 bulan berlalu, Zhaolong telah memasuki tahap pengembangan qi tingkat ke 3.


Kolam qi yang awalnya hanya mengandung beberapa tetesan qi murni kini terlihat seperti genangan air setelah hujan.


Tidak hanya kultivasinya yang meningkat, kini Zhaolong menemukan teknik pernapasan dasar tipe air! Yang ia sadari secara tidak sengaja.


"Mengalir dengan tenang seperti air, menjadi simbol bernafas secara alami dan perlahan tanpa beban.


Jernih dan suci mengacu pada selama menggunakan teknik ini tidak boleh memiliki perasaan apapun.


Namun tajam mampu memecahkan batu bahkan mendatangkan bencana, menjadi isyarat bahwa air yang tenang dan terlihat murni mampu menghasilkan kemampuan bagi penggunanya bak tsunami yang tak terbendung.".


"Teknik pernapasan dasar pertama, pernapasan cabang air!.".


Zhaolong yang menggunakan teknik pernapasan cabang air mulai terlihat tenang seakan tanpa emosi, sorot mata dan ekspresi wajahnya terlihat begitu tenang dan bahkan itu terlalu tenang hingga terlihat seperti boneka!.


Tubuh Zhaolong mulai di liputi oleh energi berwarna putih murni, gerakannya tenang namun tanpa cacat.


Ketenangan di dalam pertempuran membantu seseorang untuk memilih ribuan pilihan ketika menyerang atau bertahan.


Sedangkan orang yang panik ketika bertarung akan mengikuti naluri maupun kebiasaan tubuh.


Ini adalah keunggulan, ketika musuh hanya bisa memikirkan 2 pilihan untuk menghindar, Zhaolong memiliki ratusan cara di benaknya untuk memilih cara menghindar bahkan merencanakan serangan balik.


"Teknik pernapasan dasar pertampa, pernapasan cabang air ini akan saya sebut sebagai teknik pernapasan dasar cabang air.".


Zhaolong telah berlatih begitu lama namun kemajuannya terasa begitu lambat, padahal dari manusia fana menjadi pembudidaya tahap pengembangan qi tingkat ke 4 dalam setahun sudah sangat cepat.


"Kurangnya aura qi tipe air sepertinya sangat berpengaruh dengan kecepatan kultivasi saya pada tahap pengembangan qi.".


Zhaolong yang sedang merenung untuk menemukan solusi atas permasalahannya mulai mengingat hal hal yang dapat mempercepat kecepatan kultivasi seperti pil alkimia, batu asal monster, atau bahkan harta surga dan bumi.


"Sayangnya saya hanya seorang pemuda biasa biasa saja, seandainya kehidupan saya sebuah novel.


Jujur saya ingin mengutuk penulisnya, bagaimana bisa menulis cerita transmigrasi tanpa jari emas maupun pertemuan yang kebetulan.".


Zhaolong mulai berdiri dan memandangi alur sungai di kaki air terjun.


Jika menginginkan batu asal monster untuk mempercepat kultivasinya, maka Zhaolong hanya bisa berharap bertemu beberapa monster lemah yang telah mengembangkan batu asal monster.


Dengan perlahan Zhaolong menyusuri jalan di sepanjang alur sungai.


Setelah berjalan kurang lebih 2 kilometer, Zhaolong melihat sekor ular yang panjangnya mencapai 3 meter sedang berbaring di atas dahan pohon.


Ular tersebut memiliki warna putih dengan corak kebiruan.


Beruntungnya ular tersebut terlihat sedang tidur.

__ADS_1


"Perut ular ini terlihat besar, nampaknya ia sedang tidur untuk mencerna mangsanya.


Baiklah, karena hari ini saya beruntung maka saya akan menggandakan agenda latihan.".


Zhaolong memulai teknik pernapasan dasar cabang air, aura maupun qi milik Zhaolong terlihat setenang air.


Jika seseorang menggunakan qi untuk memerika keadaan Zhaolong,  mereka akan terkejut karena Zhaolong tidak memiliki nafas manusia.


Seakan akan Zhaolong adalah penjelmaan air, dan air itu adalah Zhaolong sendiri.


Dengan qi murni yang ia manipulasi untuk menutupi dan memperkuat telapak kakinya, Zhaolong berjalan di sebatang pohon dengan tenang.


Pedang mawar sayu mulai lepas dari sarungnya secara perlahan.


Ular yang terlihat tidur itu sepertinya merasakan kehadiran Zhaolong dan mulai membuka kelopak matanya.


Namun kecepatan Zhaolong ketika menebas melebihi kecepatan reaksi monster ular putih.


"Wuuuuzzzh... Crash.".


Kepala ular yang sebesar paha orang dewasa terjatuh dari pohon.


Zhaolong yang menyadari rencananya berhasil, melompat dari batang pohon dan mendarat di tanah dengan mantap.


Mendekati kepala ular dan mulai memeriksa, Zhaolong menemukan sebuah permata seukuran ibu jari di dalam kening ular.


"Tentu saja, monster selemah ini baru saja memadatkan batu asal.".


Zhaolong hanya bisa bersabar dan berharap setelah memasuki pinggiran hutan tanpa cahaya ia akan mudah menemukan beberapa monster berelemen air.


Setelah menyerap batu asal monster seukuran ibu jari, Zhaolong kembali berjalan menyusuri bantaran sungai.


Zhaolong melihat seekor katak melompat di atas sungai, setelah melompat dari satu daun ke daun lainnya katak tersebut berhenti seperti tertarik oleh sesuatu.


"craaaack.... Ciiiiiiit.".


Zhaolong yang hendak melanjutkan perjalanan berhenti ketika melihat sebuah tanaman air memangsa katak tersebut.


Sebelum menyadari bakatnya biasa biasa saja, Zhaolong kecil mempelajari banyak hal tentang dunia kultivasi seperti jenis jenis tanaman yang di butuhkan para alkemis maupun jenis jenis monster.


"Ginseng air?.".


"Tidak salah lagi, ini adalah tanaman herbal ginseng air. Yang berasal dari keluarga kubis kubisan, ginseng air di kehidupan sebelumnya biasa di sebut wasabi.


Tanaman mahal serta yang paling sulit di budidayakan karena membutuhkan lingkungan dengan kadar air yang sangat bersih, belum lagi jika terlalu banyak terkena sinar matahari ia akan mati dan jika kekurangan sinar matahari ia akan layu.".


Menyadari bahwa tanaman yang berada di pinggiran sungai adalah tanaman ginseng air, Zhaolong mulai memetik tanaman tersebut satu persatu.


"Meskipun jumlahnya sedikit, seharusnya ginseng air ini dapat membantu kultivasi saya naik.".


Zhaolong kembali duduk bersila dan menkomsumsi ginseng air, menyerap qi murni bersifat air dari tanaman tersebut.


Kultivasi Zhaolong mulai melonjak dari tingkat ke 3 tahap pengembangan qi hingga memasuki tahap kelima, kolam qi di dalam tubuh Zhaolong yang semula hanya seperti genangan air hujan kini telah melebar hingga seukuran kolam pribadi.


Zaolong yang merasakan kolam qi di tubuhnya telah melebar mulai kembali termotivasi untuk mencari batu asal bersifat air maupun tumbuhan spiritual yang menyimpan banyak qi spiritual murni bersifat air.


"Baiklah, saatnya untuk melatih tubuh dan keterampilan pedang.".


Zhaolong kembali ke dalam gua yang ia tinggali untuk membuat goresan di dinding sebagai tanda bahwa hari ini telah berlalu.


Di dunia ini hitungan hari berganti ketika matahari mulai tenggelam, seperti orang timur tengah di kehidupan Zhaolong sebelumnya.


Di dunia tanpa jam sebagai penanda waktu, Zhaolong hanya bisa membuat coretan sederhana di dinding gua sebagai panduan berapa lama ia telah berlatih.


Keesokan harinya Zhaolong mulai menyusuri bantaran sungai untuk mencari binatang spiritual, tanaman spiritual maupun harta surga dan bumi.


Ketika malam telah tiba, Zhaolong akan kembali untuk beristirahat sejenak sebelum berlatih teknik pedang.


Zhaolong menghabiskan hari harinya seperti itu setiap hari tanpa mengendur sehari pun.


Baginya yang telah menjalani 2 kehidupan, tidak ada lagi hal menarik di dunia yang mampu membuatnya bahagia.


Bahkan ia sekarang hidup karena belum mati, baginya tinggal di dunia asing ini seorang diri tanpa mencintai siapapun seperti neraka baginya.


Zhaolong sama sekali tidak takut mati, namun dalam waktu dekat ia tidak berencana mati.


Zhaolong masih memiliki dendam yang harus di balaskan, bukan dendam terhadap para bandit remeh yang berada di alam penempaan tubuh.


Tapi membalas dendam terhadap dunia atau semesta yang tidak mengizinkan kekasihnya ada.

__ADS_1


Ia akan medaki jalan kultivasi untuk menjadi eksistensi tertinggi dan menghancurkan semesta ini dengan tagannya sendiri.


Setelah 1 tahun menjalani rutinitas yang sama untuk berlatih dan mengembangkan kolan qi, Tingkat kultivasi Zhaolong kini telah berada pada tahap pengembangan qi tingkat ke 9.


Besok adalah hari itu, hari di mana Zhaolong kehilang calon istri dan orang tuanya.


Zhaolong mulai berjalan menuruni bukit menuju kota bukit tinggi yang kini telah menjadi kota mati.


"1 tahun lebih cepat dari jadwal.".


Janji memasuki sekte setelah berlatih selama 2 tahun di persingkat menjadi 1 tahun.


Hanya dalam kurun waktu 1 tahun, Zhaolong yang awalnya manusia fana telah mencapai tahap pengembangan qi tingkat akhir!.


Selama perjalanan pulang, Zhaolong menempelkan seruling bambu di bibirnya dan mulai melantunkan lagu.


Aura qi milik Zhaolong mulai mengembun dan secara bertahap membentuk sosok kabut putih, penampilan kabut itu seperti seorang gadis dengan rambut panjang.


Hanya saja wajah dan warna tubuhnya yang di bentuk oleh qi murni bersifat air menjadi putih transparan.


Gadis yang di bentuk oleh aura qi mulai melingkarkan tangannya di leher Zhaolong.


Di sepanjang jalan, Zhaolong terus menerus memainkan serulingnya seperti menghibur arwah kekasihnya tepat di hari kematiannya.


Angin lembut yang membuat pepohonan menari di iringi oleh kicauan burung membuat permainan seruling Zhaolong tampak syahdu.


Jika ada manusia yang melihat Zhaolong sekarang, mereka akan percaya bahwa sesosok dewa turun dari dunia atas.


Rintihan serulingnya mampu membuat fenomena alam, tumbuhan dan binatang seakan merasakan rasa sakitnya dan mulai merintih.


Mentari pagi yang memancarkan cahaya hangat mulai menampakan diri, Zhaolong kini telah berada di dalam kota mati yang sebelumnya bernama kota bukit sinji.


Dengan bunga mawar yang ia bawa, Zhaolong mulai menuju makam calon istrinya.


Sesampainya di makan Zhaolong mulai membersihkan semak belukar yang kini telah menutupi kelima makam.


Dengan perlahan Zhaolong menuju makam calon istrinya dan meletakan segenggam bunga mawar yang ia bawa.


Dengan penuh kasih dan mata berkaca kaca Zhaolong mengelus tanda makam dan mengecupnya.


"Tolong sabarlah Mitha, tidak akan butuh waktu lama sebelum kita bersatu.


Tunggu sebentar saya di alam sana, setelah menghancurkan alam semesta ini saya akan segera menemuimu kembali.".


"Tahukah kamu? Sayang.


Calon suamimu yang dulu biasa biasa saja kini telah menjadi pembudidaya tahap pengembangan qi dari manusia biasa hanya dalam kurun wakti 1 tahun.".


"Padahal normalnya para manusia fana yang mulai berkultivasi, membutuhkan waktu 10 tahun untuk mencapai alam pengembangan qi.".


"Saya yakin, jika kamu berada di sini kamu pasti merasa bangga memiliki calon suami seperti saya haha...".


"Meskipun berkultivasi itu membosankan, menyakitkan dan melelahkan.


Namun saya tidak pernah mengeluh, karena dendam di hati saya tidak mengizinkan saya mengeluh tentang apapun lagi.".


"Setelah ini saya berencana pergi menuju sekte bambu abadi untuk bergabung dengan sekte tersebut.".


"Dengan bimbingan serta sumber daya sekte bambu abadi, setidaknya jalan kultivasi saya akan lebih mudah.".


"Tidak perlu khawatir, saya tidak akan jatuh cinta lagi terhadap gadis manapun.


Karena kamu telah menempati semua kekosongan di dalam hati saya.".


Zhaolong bercerita panjang lebar di depan makam calon istrinya, mulai dari keseharian hingga hal hal yang ia makan selama setahun terakhir.


Setelah menghabiskan waktu untuk mencurahkan kesedihannya, Zhaolong mulai berdiri dan hendak berjalan pergi ketika ia mendengar bisikan seorang wanita di telinganya.


"Kakak Zhao, berhati hatilah.".


Setelah setahun berendam dalam kesedihan akhirnya Zhaolong tersenyum kembali.


Zhaolong tahu bahwa suara yang hanya bisa didengarnya adalah suara


kekasihnya yang telah terpatri dalam hati bahkan hingga relung hatinya, suara yang sangat ia rindukan siang dan malam.


Catatan penulis : Anu maaf jika tulisan saya banyak typonya, saya belum sempat membacanya kembali.


Saya sangat berterima kasih kepada anda yang mau membaca karya saya, saya berharap tidak akan mengecewakan anda.

__ADS_1


Bagi rekan pembaca yang memiliki kritik dan saran bisa tolong tulis di kolom komentar, terakhir dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih sebanyak banyaknya.


__ADS_2