Rintihan Seruling Dari Gunung Han.

Rintihan Seruling Dari Gunung Han.
Bab 10.


__ADS_3

Mei Xin dan ketiga gadis di sebelahnya juga buru buru berdiri, karena mereka saat ini memiliki tujuan hidup yang baru!.


Selama ini mereka tahu bahwa orang orang di sekitar mereka memanjakan mereka karena identitas yang mereka miliki, tapi orang orang itu memiliki rasa jijik di dalam hati kepada mereka.


Karena mereka hanya di anggap sebagai seorang gadis manja yang hanya tahu cara membuat masalah, jika mereka dapat bergabung dan membawa panji kultivator putih.


Maka orang orang akan memandang mereka dengan cara yang berbeda, mereka mulia dengan tangan mereka sendiri.


Mereka di hormati karena keberadaan mereka membuat dunia berubah ke arah yang lebih baik!.


"Saudara Zhao, kami menyetujui ide anda! Biarkan kami berempat kembali menemui master Yu Xian Er untuk mendiskusikan masalah ini dan memberitahu beliau bahwa saudara Zhao telah bangun!.".


Mendengar Mei Xin yang biasanya pendiam terlihat begitu antusias, Zhaolong mengangkat salah satu alisnya.


Dan siapa Yu Xian Er itu? Apakah itu guru mereka? Dari cara mereka memanggilnya dengan gelar master sepertinya benar, bukan?.


Tapi apa hubungannya dengan dirinya sendiri, Zhaolong tampak bingung.


"Apa hubungannya master Yu Xian Er dengan saya yang telah bangun? Apakah beliau tabib di sekte ini?.".


Melihat ekspresi Zhaolong yang kebingungan, Mei Xin baru sadar sepertinya saudara Zhaolong di pukuli hingga tidak sadarkan diri selama satu minggu tanpa tahu siapa yang memukulinya.


Namun melihat ekspresi Zhaolong yang tenang setelah bangun tanpa perduli siapa yang menyerangnya membuat Mei Xin kagum.


'Mental seperti itu, temperamen yang tenang dengan wajah yang tampan. Seandainya mulut saudara Zhao tidak sepedas paprika maka dia adalah contoh laki laki sempurna.'.


Setelah mendesah dan menyayangkan sifat buruk Zhaolong yang bermulut pedas, Mei Xin mulai menjelaskan identitas Yu Xian Er.


"Ini saudara Zhao, sebenarnya master Yu Xian Er adalah master kami berempat saudari perempuan.


Dan beliau juga adalah tetua yang master sekte pilih sebagai guru atau master anda, jadi sekarang kita berlima adalah suadara dan saudari dari kursi yang sama.".


Setelah mendengar penjelasan Mei Xin, Zhaolong mengangguk sebagai tanda memahami apa yang telah Mei Xin ucapkan.


"Ah, jadi begitu. Kalau begitu tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada master Yu Xian Er karena saat ini tubuh saya belum memungkinkan untuk menemuinya.".


"Tidak apa apa saudara Zhao, setelah anda lebih baik. Kami secara alami akan mengajak anda untuk bertemu dengan master.".


"Baiklah, saya mengucapkan terima kasih kepada saudari suadari.


Dan untuk janji yang sebelumnya saya katakan adalah agar kalian berjanji menjadi seorang kultivator aliran putih selama anda hidup, jika kalian sanggup maka saya pribadi akan membantu anda dalam melatih teknik pernafasan anda masing masing.


Apakah anda dapat memenuhi janji tersebut?.".


Mendengar pertanyaan Zhaolong, ke enamnya secara serempak menganggukan kepala.


"Kami berenam berjanji saudara Zhao, selama kami masih hidup dan bernafas. Kami akan selalu berada di bawah panji kultivator aliran putih dan menyebarkan ajaran bijak anda!.".


Melihat ke enam orang di depannya sangat tertarik menjadi seorang kultivator aliran putih, Zhaolong tersenyum kecil dan mengangguk.


Karena tujuan besarnya akan segera di mulai, seperti pohon yang membutuhkan benih untuk tumbuh.


Suatu saat gelarnya sebagai pembuat sistem baru pembagian 3 kelompok kultivator akan di kenal luas, dengan tujuan mulianya yang membawa panji kultivator aliran putih Zhaolong percaya orang orang tidak akan menyangka bahwa dirinya akan menjadi sosok yang akan menghancurkan dunia!.


Membayangkan wajah orang orang yang mengetahui sifat aslinya setelah bersama ratusan atau ribuan tahun di masa depan membuat hati Zhaolong terasa tergelitik.


"Kalau begitu kami berenam pamit undur diri saudara Zhao, semoga anda sembuh lebih cepat dan kita bisa berlatih bersama sama.".


"Terima kasih.".


Mereka berenam pun keluar dari Vila Gunung Han dan meninggalkan Zhaolong sendirian di kamar.


Setelah ke enamnya keluar, seorang gadis kecil terlihat berjalan masuk membawa mangkuk berisi makanan.

__ADS_1


"Maaf senior Zhao, tabib Liu menyarankan anda memakan bubur obat segera setelah anda bangun.".


Melihat gadis kecil yang tiba tiba masuk dengan tubuh gemetar, Zhaolong menyipitkan mata dan menatap gadis di depannya.


"Kalau boleh tahu, siapa dirimu? Seingat saya, saya tinggal di vila ini sendirian?.".


"Maaf senior, saya lupa memperkenalkan diri. Namaku adalah Qing Yue dan aku adalah murid luar yang di beri tugas oleh tetua Yu untuk mengurus anda.".


"Jadi begitu, letakan saja di meja makanannya. Saya akan memakannya nanti.".


"Ta-tapi senior, Tabib Liu mengatakan...".


"Tidak perlu khawatir, anda tidak akan di salahkan. Dan saya akan memakannya, nanti.".


Zhaolong segera memakai baju murid sekte dalam dan meminum segelas air putih untuk membahasi tenggorokannya yang terasa kering sebelum berjalan keluar dari Vila.


Melihat tirai malam yang gelap dengan taburan bintang yang menyala, Zhaolong menghembuskan nafas lelah.


Tak terasa dirinya telah berubah dari seorang manusia fana menjadi pembudidaya yang kelak akan hidup tanpa memikirkan usia.


Dengan kaki yang di lapisi energi qi murni, Zhaolong memanjat pohon persik yang paling tinggi untuk duduk dan mengamati situasi keseluruhan sekte Bambu Abadi.


Perlahan Zhaolong menyentuh seruling dari pinggangnya dan menempatkan seruling dari bambu ke bibirnya.


Suara seruling yang merdu segera terdengar, kesedihan yang selama ini Zhaolong pendam mulai Zhaolong ungkapkan lewat mulut seruling yang merintih dengan sedih.


Tanpa sadar Zhaolong memainkan seruling dengan pernafasan cabang air, yang membuat suara seruling memiliki gelombang qi hingga menyebar ke seluruh sekte Bambu Abadi.


Para tetua yang sedang bermeditasi, para murid yang sedang berlatih atau hendak tidur mulai mengalihkan pandangannya ke arah Gunung Han di mana suara seruling berasal.


Master sekte Bambu Abadi yang sedang berdiskusi dengan beberapa tetua sekte mulai berhenti berbicara.


"Master sekte, Rintihan seruling ini...".


"Tidak, bukan begitu maksud ku master sekte. Rintihan seruling dari Gunung Han ini benar benar membuat hati dao ku semakin kuat.".


Tetua Gui yang telah terjebak di ranah alam memadatkan dao selama ratusan tahun segera bermeditasi tanpa memikirkan situasi di sekitarnya.


Dengan rintihan seruling yang perlahan namun menyayat hati, Tetua Gui mulai teringat kembali saat pertama berkultivasi.


Tetua Gui yang memiliki nama asli Gui Yan berasal dari keluarga biasa dengan bakat rata rata, namun kecintaannya terhadap tombak membuatnya tidak berhenti berkultivasi.


Kala itu tetua Gui yang telah lelah berlatih seharian pulang dengan membawa beberapa herbal yang ia temukan di atas gunung.


Tetua Gui setiap hari mengumpulkan herbal untuk di jual sebagai koin emas, agar bisa menghidupi Ayahnya yang terkena penyakit keras dan dirinya sendiri.


Meskipun hanya cukup untuk membeli obat dan makan selama sehari, tetua Gui tidak pernah mengeluh dan terus menjalani hidup dengan penuh semangat serta berharap suatu hari nanti bisa menjadi kultivator hebat dan membuat Ayahnya bangga.


Hanya saja hari itu ketika tetua Gui membawa beras, sayuran serta obat untuk di makan bersama Ayahnya.


Tetua Gui melihat sebuah jasad yang tergantung di dalam rumahnya, dengan tubuh yang sudah dingin.


Kala itu tetua Gui yang masih muda hanya bisa menatap kosong pada jasad yang di kenalnya, itu adalah sosok paling penting baginya.


Satu satunya sosok yang masih berhubungan darah dengannya, yaitu Ayah kandungnya sendiri.


Melihat Ayahnya yang telah menjadi jasad tanpa nyawa, Gui Yan muda segera membuang apa yang di genggamnya dan berlari menuju jasad di dalam rumah.


Setelah menurunkan jasad Ayahnya, Gui Yan muda memeluk jasad ayahnya dan mulai menangis dengan keras dan terisak isak hingga para tetangga mendatanginya.


Melihat Gui Yan yang memeluk jasad Ayahnya dengan menangis keras, para tetangga mencoba menghibur Gui Yan muda namun tidak ada yang berhasil.


Sampai seorang kultivator dengan tampilan berusia 60an tahun mendatangi Gui Yan muda dan membujuknya untuk ikut bersamanya berlatih agar bisa menjadi kultivator hebat.

__ADS_1


Kultivator itu tidak lain dan tidak bukan adalah master sekte Bambu Abadi saat ini yang bernama Murong Fang dan telah hidup selama ribuan tahun.


Master sekte Murong membujuk Gui Yan muda untuk ikut bersamanya berlatih, hanya dengan menjadi kultivator hebat maka arwah orang tuanya bisa tenang dan bangga kepadanya.


Gui Yan muda yang kala itu membutuhkan perhatian lebih, mulai memeluk master sekte Murong dan menangis terisak isak untuk melampiaskan kesedihannya.


Setelah mengubur jasad Ayahnya, Gui Yan muda pergi bersama master sekte Murong kembali ke sekte Bambu Abadi.


Kala itu master sekte Murong yang memiliki posisi tetua penjaga gerbang sering berkeliaran untuk mencari bibit unggul dan memantau situasi para murid sekte yang sedang menjalankan misi di luar sekte.


Meskipun Gui Yan muda memiliki bakat yang biasa biasa saja, dengan pelatihan profesional tetua Murong akhirnya Gui Yan mulai tumbuh menjadi seorang pria yang tajam dan memiliki nama yang tersebar luas di dunia kultivasi.


Setelah Gui Yan berhasil mencapai ranah alam memadatkan dao, tetua Murong melepaskan posisi tetua penjaga gerbang untuk di lanjutkan oleh muridnya Gui Yan.


Akhirnya guru Murong Fang yang telah lama menjadi master sekte mulai mundur untuk menembus ke ranah alam hukum ilahi dan memutuskan bahwa tetua Murong resmi menggantikan posisinya sebagai master sekte Bambu Abadi.


Gui Yan yang telah menjadi salah satu tetua di sekte Bambu Abadi mulai mengabdikan diri kepada sekte tersebut dan menjalankan tugas serta kultivasinya tanpa lelah, hanya saja beberapa tetua yang sudah lama menjadi tetua sekte mulai mengajak Gui Yan bergaul dan melakukan hal hal aneh.


Misalnya Tabib Liu yang merupakan tetua obat, mulai mengajak tetua Gui untuk keluar dari sekte dengan alasan mengobati pasien.


Namun ternyata tabib Liu yang telah berusia ribuan tahun mengajak tetua Gui untuk menemui seorang tetua wanita yang berasal dari sekte Salju Biru.


Sekte Salju Biru yang semua anggotanya adalah perempuan sangat menolak kedatangan laki laki.


Jadi tabib Liu mengajak tetua Gui menyamar menjadi wanita agar bisa berkencan dengan tetua dari sekte Salju Biru.


Meskipun awalnya enggan, setelah melihat kecantikan para tetua Sekte Salju Biru tetua Gui mulai jatuh cinta kepada salah satu tetua sekte tersebut.


Mereka akhirnya berkenalan dan menjalin hubungan secara diam diam, jadi tabib Liu bersama tetua Gui sering keluar dan menyamar untuk berkencan dan mulai mengendurkan kultivasi mereka.


Meskipun semuanya berjalan lancar di awal, setelah berkali kali bertamu di sekte Salju Biru akhirnya identitas keduanya sebagai laki laki dan juga sebagai tetua sekte Bambu Abadi terbongkar.


Master sekte Salju Biru dan master sekte Murong Fang sangat marah setelah mengetahui berita tersebut, ke empatnya di hukum oleh sekte masing masing dengan penjara selama 200 tahun.


Dengan berada di penjara selama ratusan tahun, tabib Liu dan juga tetua Gui mulai kehilangan semangat berlatih karena tidak bisa melihat wajah kekasih mereka lagi.


Akhirnya kultivasi tetua Gui macet di ranah alam memadatkan dao tingkat menengah, setelah keluar dari penjara sekte dan kembali berlatih  tetua Gui tidak mampu menembus ranah memadatkan dao karena terus di bayangi penyesalan tidak bisa beremu kekasihnya.


Kadang kadang tetua Gui membayangkan dirinya hidup bersama kekasihnya di pedesaan dan menjadi manusia fana.


Tidak perduli apa, selama bisa hidup bersama orang yang kita cintai itu adalah kebahagiaan tertinggi.


Hati dao tetua Gui yang semula berkultivasi untuk menjadi kultivator hebat yang dapat membuat arwah orang tuanya bahagia mulai melenceng ke arah menjadi kultivator agar bisa bersama kekasihnya, bahkan jika menjadi manusia fana tetua Gui pun akan bersedia selama bisa menikahi kekasihnya.


Sedangkan alam memadatkan dao membutuhkan kemauan tinggi untuk menembus ranah selanjutnya.


Hati dao seseorang harus kokoh seperti pohon yang tidak mudah terombang ambing oleh angin.


Jika kemauan untuk menjadi lebih kuat mulai memudar, itu akan menyebabkan kultivator di alam memadatkan dao mengalami kemunduran kultivasi dan selama hati daonya tidak bisa kokoh kembali maka kultivasinya akan berhenti di ranah memadatkan dao.


Itulah penyebab utama kultivasi tetua Gui berhenti di puncak alam memadatkan dao tanpa bisa menembus ke ranah selanjutnya, karena di bayangi oleh angan angan kosong hidup bersama kekasihnya.


Hanya saja malam hari ini ketika tetua Gui mendengar rintihan seruling Zhaolong yang menyayat hati, Tetua Gui mulai mengingat masa lalu serta tujuannya berkultivasi.


Hati daonya yang berada di sebelah sisi kiri dada memiliki warna hijau cerah kini mulai berputar semakin cepat dan semakin besar.


Keinginan menjadi kuat yang telah lama terkubur kini bangkit kembali, layaknya seekor Elang yang telah mematahkan paruh dan kukunya yang kehilangan ketajaman.


Paruh, kuku serta bulu baru mulai tumbuh dengan ketajaman dan warna yang lebih memukau dari sebelumnya.


Setelah master sekte Murong Fang melihat keadaan tetua Gui, master sekte Murong mulai memberi perintah kepada tetua di sekitarnya agar membuat pelindung.


Jangan sampai terobosan tetua Gui yang menghasilkan energi begitu besar menghancurkan aula pertemuan sekte.

__ADS_1


Setelah malam mulai masuk ke puncaknya, hati dao tetua Gui yang semula sekecil bola mata ayam mulai membesar menjadi seukuran sebutir telur.


__ADS_2