
Suara ayam berkokok di pagi hari adalah alarm alami bagi seorang Zahira. Rumah Nenek terletak di tengah kota yang mana sudah sangat langka warga mempunyai kandang ayam seperti itu. Walaupun begitu, Nenek tetap melestarikan warisan dari almarhum Kakek tadi. Terdengar sedikit unik, tetapi memang itulah adanya.
Keluarga Zahira adalah keluarga dengan status sosial menengah kebawah. Hanya ayam satu-satunya alat tukar yang digunakan keluarga saat sudah akhir bulan dan sudah tidak ada lagi uang untuk makan. Nenek biasanya menjualnya ke tetangga atau kalau tidak, Nenek akan membawanya ke pasar dan dijual di sana.
Saat sudah masuk tanggal tua, mereka biasanya hanya makan dengan bahan yang tersisa di dapur. Berusaha menghemat sampai tanggal baru datang kembali. Setiap tanggal baru, Zahira akan menerima gaji dari pekerjaannya sebagai seorang pelayanan di sebuah restoran berbintang lima yang terletak di pusat kota. Dari hasil gajinya itulah, ia gunakan untuk diberikan pada Nenek untuk membeli keperluan dapur. Sebagian lagi ia berikan untuk biaya kuliah adiknya yang mengenyam pendidikan di jurusan Kedokteran.
Adiknya kuliah di kampus bergengsi dikarenakan otaknya yang pintar. Adiknya termasuk gadis yang beruntung karena menerima beasiswa di salah satu kampus bergengsi di kota tempat mereka tinggal. Seandainya bukan karena beasiswa itu, adiknya mungkin akan mengikuti jejeknya menjadi seorang pelayan atau tidak jauh dari seorang buruh pabrik.
Otaknya sangat berbeda dengan otak adiknya. Otak Zahira pas-pasan. Tapi bukan perkara otak sehingga Zahira tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Zahira lebih memilih bekerja dan menghidupi adik dan Neneknya dan menggeser sedikit egonya untuk merasakan pendidikan. Jika bukan dirinya, siapa lagi?!
Oh ya, perkenalkan nama pemeran utamanya, Zahira Gufrana Kamila. Seorang dengan tampang pas-pasan sama seperti otaknya yang juga pas-pasan. Kulitnya sawo matang, tidak putih tidak juga terlalu gelap, pertengahanlah kulit Zahira menurutnya.
Zahira dan adiknya yang bernama Mutia Inayah harus merasakan ditinggal untuk selamanya oleh kedua orangtua mereka. Mereka berdua ditinggalkan oleh kedua orangtuanya menghadap Yang Maha Kuasa disaat umur mereka menginjak remaja. Di saat semua anak remaja tumbuh dengan kasih sayang kedua orangtua mereka dan juga kebahagian dipenuhi kebutuhannya. Zahira dan Mutia harus bisa dewasa sebelum waktunya.
Akibat kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orangtuanya.
Zahira mempunyai beberapa kerabat dari pihak Ayahnya dan juga kerabat dari pihak Ibunya yang tinggal di kampung. Hanya saja, ia dan adiknya lebih memilih untuk tinggal bersama dengan Nenek. Bukan karena apa, keluarganya itu juga serba kekurangan. Dan hanya Neneklah, tempat mereka nyaman selama ini. Walaupun hidup serba kekurangan, semuanya kembali pada individu masing-masing apakah mereka mampu bersyukur dengan apa yang ada.
"Sarapan dulu, Aira. Ini Nenek sudah masak telur ceplok. Panggil juga Adikmu. Katanya Mutia mau berangkat pagi, ada ujian. Nanti telat lo, Nak. Sana panggil adikmu!" Ujar Nenek sambil meletakkan nasi goreng dan telur ceplok di atas meja makan.
__ADS_1
Zahira, dipanggil Aira. Aira mengambil jaket yang ia gantung di belakang pintu yang biasanya ia gunakan untuk berangkat kerja dengan terburu-buru. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 07 lewat beberapa menit. Restoran biasanya buka pukul 08.30 pagi. Tapi karena mengingat hari ini ada pelanggan yang mereservasi restoran selama seharian untuk acara keluarga, dan juga keluarga itu katanya dari keluarga terpandang. Maka, Aira yang sebagai karyawan teladan akan datang cepat dan membantu yang lain.
Walaupun reservasinya di mulai pukul 01 siang, tapi yang mereservasi ini tak ingin ada pelanggan lain yang menggunakannya. Terdengar ribet memang, tapi kalau yang berbicara itu adalah horang kaya, pihak restoran pun tak ingin membuang kesempatan emas ini. Dengar-dengar dari gosip yang ia dengar di kalangan teman kerjanya, orang yang reservasi restoran selama seharian penuh ini adalah dari kalangan terpandang. Acara surprise bagi keluarga, karena salah satu anak menantu mereka akan mengumumkan jenis kelamin anak mereka.
Aira hanya bisa menelan ludah mendengar kebiasaan dari para orang kaya. Menghabiskan uang untuk hal-hal seperti ini. Menurutnya akan lebih bermanfaat jika mereka mengadakan syukuran di rumah ketimbang membuang-buang uang yang sangat banyak seperti ini. Belum tahukah mereka jika diluar sana banyak sekali keluarga miskin yang sangat kekurangan. Aira yang merasa fikirannya terlalu jauh mengurusi urusan orang lain pun menggelengkan kepalanya.
Aira mengambil tasnya dan ia menuju ke depan pintu kamar adiknya. Di bukanya pintu kamar adiknya dan mengintip dari sana.
"Ya Allah, ini anak sudah mau jam delapan belum bangun-bangun juga!" Aira setengah berteriak dan masuk mengibaskan selimut Adiknya.
"Mutia, bangun sudah jam 9!" Teriaknya di samping adiknya. Mendengar teriakan Kakaknya yang mengalahkan toa mesjid, seketika Mutia terbangun dengan membelalakkan matanya.
"Hah, jam 9, kak?" Tanyanya terkejut.
Aira menutup mulutnya menahan tawa karena berhasil mengerjai adiknya. Segera saja, Aira keluar dari sana dan pamit pada Neneknya.
"Nggak sarapan dulu, Nak?" Tanya Nenek
Aira yang mendengarnya pun tersenyum menampakkan lesung pipi kecil di samping kanan kiri bibirnya.
__ADS_1
"Aira buru-buru, Nek. Ada pelanggan kaya yang mau datang, makanya Aira harus siap-siap nyiapin semua dekorasinya bantuin yang lain."
Nenek yang mendengarnya pun tak bisa lagi menahan cucunya. Nenek mengelus surai hitam cucunya dengan lembut, "Maafin Nenek ya!" Ujar Nenek dari dari lubuk hatinya. Merasa kasihan pada cucunya yang harus banting tulang sedemikian rupa. Karena seharusnya, ia yang menghidupi cucu-cucunya itu.
Aira yang mendengarnya pun menatap Nenek sambil tersenyum. Digenggamnya tangan Nenek dan dicium untuk sekali lagi.
"Bukan Nenek yang harusnya minta maaf, tapi Aira, Nek!" Tak ingin suasana semakin mellow, Aira pun segara pamit dan pergi dari sana.
Saat akan mengendarai motornya, dapat ia dengar suara teriakan kekesalan adiknya dari dalam rumah. Aira yang mendengarnya seketika menyalakan motornya sambil tertawa.
Jarak dari rumah ke tempat kerja sekitar setengah jam. Di tengah jalan, tiba-tiba mendung menyelimuti bumi. Begitu pula Aira yang menatap sebentar ke atas langit dan kembali fokus ke depan.
Rintik hujan membawa sendu bagi sebagian orang. Saat datang rintik seperti ini, seketika hati menjadi sendu. Begitu pula dengan seorang wanita yang bernama Zahira Gufrana Kamila. Setiap datang rintik hujan selalu membawa Sendu dan memory tentang luka yang diberikan oleh orang yang paling ia cintai.
Dan orang itu adalah seorang Luthfi Azka Fahreza.
🌦️🌦️🌦️🌦️
Happy reading guys nya. Cerita kali ini juga tak kalah sendu dari ceritaku yg lain. Ceritaku ini juga banyak sedihnya.
__ADS_1
Nggak papalah kalau aku spoiler dari awal🤭 biar kalian makin semangat yekann😍😍
Salam story from By_me