
Mengerti akan respon Aira yang kebingungan, Bara akhirnya tersenyum sambil menjawab, "Si Vito lagi sibuk banget di dapur. Enggak bisa diganggu, makanya saya manggil kamu." Jawab Bara.
Aira tak banyak bertanya lagi. Dengan setengah hati ia pun ikut dengan pak bosnya itu. Bukan tanpa alasan Aira sedikit menolak ajakan bosnya. Hanya saja, biasanya bosnya ini memanggil karyawan laki-laki untuk menemaninya. Lah sekarang, dia yang dipanggil. Mana ia adalah manusia yang tidak gampang akrab dengan orang lain. Termasuk dengan bosnya ini.
Tiba di dalam mobil bosnya, hanya sesekali mereka berbicara. Sangat akward rasanya. Untung saja, jarak dari restoran ke supermarket lumayan dekat. Jadinya Aira bisa segera terlepas dari situasi itu. Mana pak bosnya dingin banget lagi, pikirnya.
Dan juga tidak biasanya pak bosnya ini sampai ada bahan yang kurang. Biasanya semua stoknya lengkap. Dan juga, kenapa mesti bosnya yang repot-repot membeli bahan di luar?!
Sesampainya di supermarket, Aira pun mengekor di belakang bosnya sambil mendorong troli di tangannya. Sampai semua bahan terkumpul, mereka pun mengantri dan membayar di kasir.
Saat Aira akan memasang sabuk pengamannya, di depannya nampak minuman dingin dari tangan bosnya.
"Minum!" Ujarnya sangat singkat padat dan jelas.
"E-eh... makasih banyak pak bos." Ujar Aira kikuk.
Dan hanya dijawab deheman oleh Bara.
🌦️🌦️🌦️🌦️🌦️
"Gimana, Ra tadi pergi sama pak bos? ditraktir apa aja lo?" Tanya Sintya saat Aira isitrahat sebentar setelah semua dekorasi pun selesai.
"Ya, lo pasti udah bisa nebak lah, Sin. Akward banget..." Jawab Aira yang seketika membuat Sintya tertawa. Sudah bisa ia tebak. Aira yang introver bertemu dengan pak bosnya yang ibarat kulkas 12 pintu.
"Lagian, di otak lo kemana-mana tuh traktir mulu, makan mulu. Heran gue. Kita tadi dari belanja, bukan dari ngedate." Jawab Aira jujur.
__ADS_1
"Ya kali aja gitu, Ra, Pak bos traktir lo makan trus nitip juga buat gue." Jawabnya sambil tersenyum-senyum.
"H-A-L-U!" Jawabnya kembali sambil jari telunjuknya mendorong jidat temannya.
"Ye, namanya juga usaha kan. Kali aja tiba-tiba ada malaikat yang aamiinin doa gue. Hihihi...." Sambil tertawa menutup mulutnya.
"Iya, iya, Aamiin. Supaya lo nggak terus-terusan ngehalu, yekan." Mendengar jawaban Aira membuat Sintya mencebikkan bibirnya.
Perhatian semua pelayan teralihkan oleh suara Ria pegawai senior yang memberikan pengarahan kepada semua teman-temannya. "Ok, semua sudah sempurna. Satu jam lagi keluarga dari pelanggan akan datang. Karena sudah masuk waktu istirahat, silahkan yang mau makan dan yang mau sholat silahkan. Setelah semua sudah selesai, kalian sudah harus siap-siap. Pelanggan kita ini ingin sangat perfeksionis. Jadi aku harap jangan ada kesalahan. Ok, teman-teman. Terima kasih atas perhatiannya."
Semua pegawai pun berhambur dan melakukan kegiatan mereka masing-masing.
Waktu istirahat akhirnya selesai. Semua pelayan pun kembali melakukan tugas mereka masing-masing. Satu per satu pelanggan pun berdatangan. Hingga hampir semua tamu sudah hadir. Aira berada di belakang dan bersiap untuk membawakan minuman untu para tamu.
Aira dan teman-temannya yang lain pun membawakan minuman untuk para tamu. Saat Aira ingin membawakan minuman itu ke depan, jantungnya seakan berhenti berdetak dan matanya menatap tidak percaya pada apa yang ia lihat di depannya. Matanya menatap ke depan dan saat itu juga ia merasa berada dalam masalah. Tamu yang mereservasi restoran bosnya itu adalah keluarga dari mantan suaminya.
Hampir semua keluarga Fahreza berada di sana dan terlihat beberapa wajah-wajah yang Aira tak kenali. Mungkin saja rekan atau teman-teman Azka, pikirnya.
Aira memejamkan matanya dan mencoba menghalau sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya. Bukan bergejolak karena berdebar, tetapi karena tiba-tiba ada yang sakit yang ia rasa di dalam dadanya. Ia harus bersikap bagaimana di depan keluarga mantan suaminya. Dan juga tatapan mata Aira beralih pada tangan seorang wanita yang menggandeng mesra tangan mantan suaminya. Apa jangan-jangan... Aira menggelengkan kepalanya dan mengusir segala prasangka nya. Bagaimanapun ia bukan lagi siapa-siapa yang harus mengurusi urusan orang lain. Ya, orang lain.
Aira menarik nafas panjang dan menghembuskannya berusaha meneguatkan diri dan hatinya. Jangan terlihat lemah Aira di depan keluarga Fahreza. Ujarnya menyemangati dirinya sendiri. Setelah merasa cukup telah menetralkan mimik wajah dan hatinya, Aira pun berjalan ke depan dan menawari minuman pada para tamu.
Ucapan terima kasih ia dengar dari orang-orang yang tak ia kenali tadi. Aira kembali berjalan ke meja di sampingya. Dapat ia rasakan atmosfernya sudah berbeda. Ia tahu saat ini ia telah di tatap oleh beberapa pasang mata. Aira mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya dan melanjutkan tugasnya memberi minuman pada para tamu.
"Kerja di sini kamu sekarang?" Tanya seorang wanita paruh baya dengan nada mengejek yang Aira tahu adalah Tante dari pihak Ayah.
__ADS_1
"Iya, Tante... Maksud saya, iya bu." Jawab Aira segera mengganti kalimatnya. Jangan sampai Tante Azka ini menegurnya dan mengatakan jangan panggil saya dengan sebutan tante. Kamu bukan lagi keponakan saya, pikirnya sambil membayangkan adegan yang ada di televisi. Tapi ternyata apa yang ia bayangkan tidak terjadi. Diam-diam, Aira bernafas lega.
Suara MC yang sangat lantang dan dua sejoli yang ada di depan, sedikit mengalihkan perhatian keluarga Fahreza yang tadi menatapnya intens.
Aira kembali lagi ke dalam dan mengambil minuman untuk ia bagikan kepada para tamu. Ternyata hampir semua meja telah mendapat minuman di meja mereka. Aira yang melihat satu meja lagi yang belum terisi minuman dengan berat hati berjalan ke sana sambil membawa minuman di atas nampan.
Mendadak tangannya dingin saat jaraknya dengan meja di depannya hampir sampai. Aira berusaha tersenyum dan bersikap profesional, meski di dalam hati sudah bercampur aduk rasanya.
"Silahkan dinikmati, Tuan dan Nyonya!" Ujar Aira setelah selesia meletakkan semua minuman diatas meja. Dapat ia lihat wajah mantan mertuanya dan mantan adik iparnya menampilkan tatapan mengejek. Namun berbeda dengan mantan mertua laki-lakinya yang terlihat santai. Saat Aira akan berbalik, dapat ia dengar suara ibu mertunya yang merendahkannya.
"Kamu sangat cocok dengan pekerjaan ini, Aira. Pakaian yang kamu kenakan sangat pas di tubuh kamu!" Ucapnya. Aira memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas panjang. Aira tak mau berlama-lama di sana dan menjadi bahan olok-olokan dari keluarga Fahreza.
Aira mencoba untuk kuat. Mencoba menghalau air mata yang sepertinya sudah sangat ingin keluar dari pelupuk matanya. Sakitnya menjadi berkali-kali lipat sekarang. Ya Allah, kenapa aku harus dihadapkan pada posisi ini, ujarnya di dalam hati sambil berusaha menguatkan dirinya. Akan malu dan sakit jikalau ia harus menangis di tengah orang-orang ini.
Aira memberi hormat dengan membungkukkan sedikit badannya. Setelah itu ia menjauh dari sana. Aira kembali berjalan dan tak sengaja matanya bertemu dengan bola mata hitam legam milik mantan suaminya. Aira tidak tahu apa arti tatapan dari mantan suaminya. Marahkah, malukah, atau tidak sudikah melihat wajahnya?! Aira juga tak tahu dan lebih baik ia tak perlu tahu.
Aira berjalan dengan cepat dan tanpa sengaja nampan yang diatasnya masih tersisa satu gelas, tumpah dan membasahi baju dari seorang lelaki. Sontak saja, Aira menjadi pusat perhatian semua orang. Bukan lelaki itu yang marah atau berteriak bajunya kena tumpah minuman, malah para wanita yang melihat kejadian itu yang bersuara.
Aira memejamkan matanya dan merutuki kecerobohannya.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan!" Ujar Aira di dalam hati. Ia tidak berani mengangkat kepalanya karena kecerobohannya.
🌦️🌦️🌦️🌦️🌦️
Jangan lupa likenya, komen juga sama votenya juga ya cintahhh.
__ADS_1
Biar aku makin rajin update nya👍👍
Salam story from By_me