
Aira lagi-lagi melakukan kesalahan. Ia mencoba untuk menepi dari perhatian para tamu. Tapi apa yang ia alami sekarang sungguh diluar dari rencananya. Aira memejamkan matanya sejenak. Lelaki yang ada di depannya ini pasti akan memarahinya, membentak atau yang paling parah lelaki ini akan mengambil nampan ditangannya dan melemparkannya di lantai. Sehingga bisa dipastikan tamat sudah riwayat Aira hari ini.
Aira mendongakkan kepalanya dan menatap lelaki di depannya yang ternyata tidak melakukan semua yang ia perkirakan. Dan saat matanya dan lelaki ini bertemu, seketika Aira semakin merutuki kecerobohannya. Lelaki di depannya ini adalah adik dari mantan suaminya. Reksa Fahreza.
Semua orang sudah berdiri dan menjadikan Aira pusat perhatian. Keringat sudah membanjiri pelipisnya. Dengan tangan gemetar, Aira mengambil sapu tangan yang selalu ia simpan di kantong celana belakangnya.
"Maafkan saya, Reksa... maaf!" Aira secara refleks membersihkan noda minuman yang membasahi baju kemeja putih Reksa di bagian dadanya.
Semua orang yang melihatnya seketika berbisik dan ada pula yang mencibir apa yang Aira lakukan.
"Maaf...maaf...." berkali-kali Aira meminta maaf sambil membersihkan noda minuman di kemeja Reksa. Aira tidak sadar apa yang ia lakukan itu membuat semua mata memandang kearahnya.
Tiba-tiba kegiatannya membersihkan noda di dada Reksa terhenti dikarenakan tangannya di genggam oleh Reksa.
"Sudah, Aira. Biar saya yang melakukannya." Reksa mengambil sapu tangan di tangan Aira dan membersihkan noda di kemejanya.
Aira hanya bisa menunduk sambil mengucapkan maaf berulang kali. Tiba-tiba datang seorang wanita cantik dengan tubuh ramping bak model berdiri di sampingnya sambil bersedekap di depan dada. Menatap Aira dengan pandangan sinis.
"Minta maaf saja tidak cukup! Kamu tahu berapa harga baju yang kamu tumpahi minuman tadi?! Gajimu sebulan saja tidak akan cukup untuk mengganti yang baru!" Ucapnya lantang yang membuat Aira semakin menundukkan kepalanya.
Aira menutup matanya dan menggigit bibir bagian dalamnya mencoba untuk kuat dan menerima konsekuensi dari kecerobohannya. Memang benar adanya. Gajinya tidak akan mampu mengganti kemeja yang ia tumpahi tadi dengan gajinya.
Wanita yang berbicara tadi adalah tunangan dari seorang Reksa. Atas dasar itu pulalah wanita ini sangat marah saat melihat Aira menumpahkan minuman di kemeja tunangannya dan dengan lancang membersihkan noda minuman tadi di dada tunangannya.
"Sudahlah, Yasmin. Ini bisa dibicarakan baik-baik. Jangan hanya masalah sepele seperti ini kamu marah-marah dan jadi pusat perhatian." Ucap Reksa membujuk tunangannya. Ia tidak ingin masalah menjadi semakin panjang hanya karena perkara kemeja.
"Tapi, sayang..." Baru saja Yasmin mau menjawab sudah dipotong oleh Reksa.
"Sudah, sudah. Lebih baik kamu temani aku mengganti baju di mobil." Ujar Reksa sambil menggenggam tangan tunangannya dan berlalu dari sana. Tak ada pilihan lain. Yasmin akhirnya nurut dan mengikuti langkah Reksa ke depan.
Aira menatap kepergian dua orang tadi dengan perasaan bersalah
Saat ia mengangkat kepalanya, Widya, mantan Ibu mertuanya juga berjalan mendekat ke arahnya sambil tangannya ia sedekapkan di dada. Berjalan semakin mendekat sambil menatapnya dengan pandangan mencibir.
__ADS_1
"Kamu tahu kesalahan yang tadi kamu lakukan?!"
Aira menganggukkan kepalanya pelan sambil menatap Tante Widya dengan perasaan takut.
"Iya, Nyonya... saya... minta maaf atas kecerobohan saya tadi." Keringat dingin semakin deras membanjiri pelipisnya. Aira meremas tangannya berusaha untuk menghalau rasa takutnya.
Tante Widya menyunggingkan bibirnya sambil menatap Aira dari atas ke bawah.
"Kamu fikir hanya dengan minta maaf saja cukup untuk kesalahan kamu tadi?!"
Aira hanya bisa terdiam tak mampu menjawab.
"Panggil penanggung jawab restoran ini sekarang. Saya tidak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan kamu tadi!"
Aira merasakan tangannya sudah basah karena perasaan gugup dan takut. Tamat sudah riwayatnya.
Tak lama kemudian pak bosnya sudah berdiri di samping Tante Widya. Mengalirlah cerita dan kronologi kejadian tadi.
"Saya tidak mau tahu ya, pelayan ini harus bertanggung jawab atas kecerobohannya!" Ujar Tante Widya tegas sambil menatap Aira.
"Baik, bu. Kami akan memberikan tindakan tegas pada pegawai kami atas kecerobohannya tadi. Dan saya selaku penanggungjawab, meminta maaf atas insiden yang merugikan anak Anda tadi. Saya akan mengganti rugi atas apa yang pegawai kami lakukan."
"Tidak perlu. Saya harap Anda memberikan sanksi tegas atas kecerobohan pelayan satu ini. Jangan sampai restoran Anda sepi karena kejadian yang tadi terulang kembali!" Tegasnya pada Bara. Bara menganggukkan kepalanya dan mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka. Untungnya tante Widya fokusnya tidak lagi menatap Aira. Ditengah perbincangan mereka, Bara memberi kode melalui matanya agar Aira segera pergi dari sana.
Mengerti dengan kode bosnya, Aira pun segera menjauh dari sana. Merasa menjadi pusat perhatian, Aira hanya bisa menundukkan kepalanya menjauh dari sana. Saat Aira menatap ke samping, dapat ia lihat Azka, mantan suaminya menatapnya dengan tatapan menakutkannya dengan rahang yang mengeras. Aira tak sanggup menatap mantan suaminya itu yang sepertinya telah bahagia dan sebentar lagi akan mengumumkan jenis kelamin anaknya.
Sakit itu kembali mencuat ke permukaan. Lukanya belum kering dan sekarang ia harus merasakan sakit untuk yang kesekian kalinya melihat dua sejoli di depan sana. Azka sekarang sudah bahagia dengan orang lain. Dan wanita yang ada di samping mantan suaminya itu terlihat sangat cantik, modis, berpendidikan dan dari kalangan berada tentunya. Tidak seperti dirinya yang kebalikan dari wanita itu.
Aira menyandarkan dirinya di balik tembok sambil menatap kosong ke depan. Ia pasrah akan sanksi yang akan bosnya berikan padanya atas kecerobohannya tadi. Karena ulahnya juga, bosnya mendapat teguran dari pelanggan. Aira menghela nafas panjang. Mengapa hidup sekejam ini, Tuhan. Ujarnya dalam hati.
Saat Aira berdiri, di depannya sudah ada Bara yang menatapnya dengan pandangan yang sulit ia mengerti. Kasihankah, marahkah, atau kesal, Aira tak mampu menjabarkannya. Yang mampu Aira simpulkan saat ini adalah, bosnya pasti akan memarahinya habis-habisan. Atau yang paling parah, ia akan di pecat tanpa pesangon.
Aira meremas tangannya dan bersiap untuk memasang telinga. Semenit berlalu tapi pak bosnya ini tidak mengatakan apapun. Hanya berdiri di depannya sambil menatapnya. Aira memberanikan dirinya menatap Bara dengan takut-takut.
__ADS_1
"Saya siap menerima apapun keputusan Anda, pak!" Ujarnya pasrah.
"Memangnya keputusan apa yang kamu tunggu?" Jawab Bara yang seketika membuat kedua alis Aira menyatu.
"Jadi..." Tanyanya hati-hati
"Jadi, untuk kali ini kamu saya kasih keringanan. Saya berharap kedepannya kejadian atau kesalahan seperti tadi tidak akan terjadi lagi."
Aira seketika menghembuskan nafas lega mendengarnya. Dengan penuh antusias, Aira menganggukkan kepalanya sambil menampakkan senyum cerahnya.
Bara yang melihat kelegaan di dalam diri Aira juga menyunggingkan senyum tipisnya.
"Sekarang, kamu balik kerja lagi. Tapi, antisipasi untuk dekat-dekat dengan Ibu yang tadi. Mengerti, Aira?!"
Aira menganggukkan kepalanya dengan senyum yang masih bertahan dan kelegaan mendengar ia tidak mendapatkan sanksi seperti yang ia bayangkan.
"Terima kasih, pak bos!" Senyum bahagia terpancar dari wajah Aira dan melihat itu, Bara ikut tertular tersenyum membalas senyum Aira.
Aira kembali membantu yang lain dan bergabung dengan teman-temannya.
Suara MC yang antusias memasuki inti acara membuat semua pasang mata menatap pada Azka dan istrinya yang sudah bersiap di depan sana sambil memegang sebuah stick.
Aira yang berdiri di pojok restoran menatap dengan tatapan nanar kebahagiaan yang terpancar dari wajah mantan suaminya. Azka sudah sangat lama menantikan sosok buah hati dihidupnya. Dan sekarang keinginannya itu mampu terkabul setelah bersama wanita di sampingnya.
MC mulai menghitung mundur dan saat yang ditunggu-tunggu oleh semua orang akhirnya terlihat jelas. Warna pink keluar dari stick yang keduanya pegang. Sangat jelas terpancar kebahagiaan dari semua orang yang hadir di sana.
Aira menampakkan senyumnya melihat kebahagiaan semua orang. Keluarga sempurna, menurutnya. Berdiri di pojok dan memberikan selamat kepada Azka dan istri walaupun hanya di dalam hati. Namun ternyata hati tak bisa berdusta. Setetes cairan bening berhasil lolos dan membasahi wajahnya. Aira berusaha menahan dirinya agar tidak menampakkan kelemahannya di depan keluarga mantan suaminya. Segera ia menghapus air matanya dan beralih menatap yang lain.
🌦️🌦️🌦️🌦️🌦️
Jangan lupa like, komen dan vote nya.
Banyak like dan komen, aku lanjut lagiiii!
__ADS_1
Salam story from By_me