Rintik Luka

Rintik Luka
Kesalahpahaman


__ADS_3

Setelah menemani Pasha makan siang yang di jamak dengan makan malam, itu kata Pasha. Akhirnya, Aira pun pulang dan membawa hadiah yang telah ia siapkan untuk suaminya.


Sebuah Pena/bolpoin.


Katanya, bolpoin dapat menjadi saksi dari segala cerita di dalam hidup. Sebuah bolpoin dapat menjadi tanda yang ditulis di atas kertas. Bolpoin juga bisa menuliskan banyak hal tentang kebersamaan, mimpi dan masa depan yang sedang direncanakan.


Aira berharap, bolpoin yang nanti akan ia berikan akan menjadi sebuah benda yang bisa membuat suaminya terus mengingatnya pada saat digunakan, dimanapun dan kapanpun itu.


Pukul delapan malam, Aira masih duduk di atas taksi yang akan membawanya menuju ke rumah. Macet tentu saja. Sudah hampir sejam ia duduk di atas kendaraan roda empat itu, namun tanda-tanda ia akan keluar dari kemacetan belum ada hilalnya. Jakarta dan kemacetannya adalah dua hal yang tidak terpisahkan.


Biasanya di waktu ini, ia telah berada di rumah dan duduk santai bersama suaminya. Baru kali ini ia berpergian sendiri dan kemalaman seperti ini. Tapi untungnya, tadi ia sudah sempat meminta izin pada suaminya saat akan berangkat ke pusat perbelanjaan. Jadi tak ada yang perlu ia khawatirkan.


Ponsel di tas jinjing nya sedang dalam mode diam. Diam yang dalam arti benar-benar mati. Alias lowbat.


"Masih lama nggak, pak?" Tanyanya pada pak sopir yang sore itu sedang memutar podcast dari Tsana, rintik sedu. Caelah, bapaknya anak senja pasti.


"Seandainya bisa mobilnya di naikin ke atas elang, Neng kayak di tipi-tipi ntu. Abang pasti udah dari tadi lakuin itu, Neng. Tapi macetnya emang, naudzubillah, Neng. Parah!" Curhat pak supir yang membuat Aira sedikit terhibur dengan aksen khas Betawi pak sopir ditengah kemacetan.


Alhamdulillahnya, setelah curhatan pak sopir tadi, lima menit kemudian mereka akhirnya terlepas dari kemacetan jalanan kota Jakarta.


"Makasih ya, Pak." Ucap Aira sambil memberikan beberapa lembar uang merah pada pak sopir.


Saat akan menutup pintu, Aira ditahan oleh pak sopir, "Kembaliannya masih banyak, Neng!"


"Rejekinya, Bapak."


Mendengar jawaban Aira, seketika membuat pak sopir tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Aira.


Enaknya jadi orang kaya karena kita bisa berbagi pada sesama dan yang kurang mampu. Privilage dari suaminya yang sangat ia syukuri.

__ADS_1


Pagar terbuka oleh pak satpam. Dan hal yang pertama kali Aira lihat adalah beberapa mobil yang ia kenali adalah kendaraan dari Suami dan mertua laki-lakinya yang jarang terlihat. Karena kesibukan, membuat mertua laki-lakinya jarang berada di rumah.


"Assalamualaikum." Salamnya saat memasuki rumah dan entah ada angin apa suasana terasa sangat dingin. dan juga, tak ada yang menjawab salamnya. Biasanya, dalam kegiatan atau keadaan apapun, suaminya pasti menjawab salamnya.


Semuanya sedang berkumpul di ruang tamu. Menatapnya dengan tatapan dingin, emosi dan masih banyak tatapan dingin yang tak bisa ia deskripsikan satu per satu dari tiga orang yang ia temui di ruang tamu.


Ada apa?! Mengapa perasaannya jadi tidak enak.


"Dari mana?" Tanya Azka dengan nada dingin yang sarat akan emosi. Kening Aira semakin bertaut mendengar pertanyaan dingin suaminya dan tingkah tak bersahabat kedua mertuanya. Ya, walaupun, selama ini mertua nya memang tak pernah memasang wajah menerima kepadanya. Tapi kali ini berbeda. Tapi apa?? ada apa?!


"Istri, kok pulangnya larut seperti ini. Suamimu ini loh, sudah dari tadi nungguin kamu yang nggak ada kabar. Pulang-pulang juga tengah malam."


Tengah malam?! Ini baru jam 9, belum tengah malam. Dan baru kali ini ia pulang selarut ini.


"Mah, diam dulu! Biar Azka yang bicara." Belum sempat Aira menjawab, sudah di potong oleh mertua laki-lakinya. Itu kata yang pertama kali mertua laki-lakinya lontarkan di tengah suasana dingin yang tercipta.


"Aku habis beli sesuatu di pusat perbelanjaan tadi, Mas. Aku kan sudah pamit sama kamu sebelum aku berangkat." Jawabnya yang tak mampu merubah sedikitpun raut dingin suaminya.


Detik setelahnya terlihat rahang kokoh suaminya mengeras, matanya terlihat memerah dan tangan kanannya yang berada di luar kantong celana terkepal. Sedangkan tangan kirinya masih setia berada di dalam kantong celana.


Kembali terjadi keheningan di ruang tamu malam itu. Suaminya terlihat sedang menahan emosi dan beberapa kali menghembuskan nafas kasar.


Detik setelahnya, Azka maju beberapa langkah dan terlihat mengambil sebuah map coklat yang terletak di atas meja.


Membukanya terburu-buru dan melemparkan isinya ke atas meja dengan keras.


Aksi yang suaminya lakukan spontan membuat Aira berjengit kaget.


"Itu yang kamu sebut habis belanja?!" Tunjuknya pada deretan foto yang ia lihat di atas meja berserakan.

__ADS_1


Aira tak menjawab, namun langkahnya ia dekatkan untuk memperjelas gambar yang terpampang di atas meja tadi.


Dan gambar itu adalah potret dirinya bersama Pasha, sahabat suaminya tadi. Yang terdapat beberapa poto dengan berbeda anggle. Namun bukan itu yang menjadi perhatian Aira. Mengapa foto-foto yang ia lihat itu serasa berbeda arti dari sudut foto ini?!


"Maksudnya ini apa, Mas?" Tanyanya memastikan yang mana perasaannya sudah tidak enak.


"Kamu ternyata ada main sama sahabat aku sendiri!" Tegasnya yang membuat wajahnya semakin merah padam.


"Maksud kamu, apa, sih, Mas? Jujur, aku benar-benar nggak ngerti."


"Ok, aku pertegas lagi sama kamu. KAMU SELINGKUH DI BELAKANG AKU. SAMA SAHABAT AKU SENDIRI."


Apa?! Selingkuh dari mana? Ketemunya saja baru hari ini. Ok, sepertinya ada kesalahpahaman disini.


Aira mencoba maju dan memegang tangan suaminya. "Mending kita bicara baik-baik dulu, yuk. Kita bicarakan dengan kepala dingin. Ini semua hanya kesalahpahaman, Mas. Aku nggak pernah selingkuh dari kamu. Duduk dulu, yuk!" Ajaknya menarik tangan suaminya agar bisa duduk bersamanya. Namun belum sempat sampai di sofa, tangannya sudah terhempas dan terlepas.


Perlakuan kasar suaminya untuk yang pertama kali membuatnya sadar, kesalahpahaman ini sepertinya akan berlangsung panjang.


"Mulai sekarang jangan pernah tangan kotormu itu pegang tangan aku!"


Ibarat ada sesuatu yang menikam tepat di ulu hatinya mendengar ucapan suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca dibentak seperti itu di depan kedua mertuanya.


Sakit sekali....


Dan akhirnya, ini yang Aira dapatkan. Seandainya saja ia mengukuti kata hatinya, mungkin ia takkan se sakit ini.


🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️


Happy reading

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, fav atau minimal kasih vote. Jangan jadi silent reader, karena itu tidak baik, kata Nenek aku.


Salam story from By_me Lm


__ADS_2