
Selama setahun lebih Aira bekerja di Restoran F & Fours, baru hari ini ia merasa sangat tertekan. Bagaimana tidak, ia harus bertemu kembali dengan bayangan masa lalu. Mantan mertua dan beberapa orang yang mungkin tak menyukainya dulu, ditambah yang paling membencinya sekarang adalah mantan suaminya.
Akibat kesalahpahaman dan fitnah yang terjadi di masa lalu, ia harus menerima sanksi yang tak benar-benar ia lakukan. Tapi biarlah, itu menjadi kenangan yang tak akan mau ia kenang. Mendapatkan tatapan mencemooh & kebencian dari sebagian keluarga Fahreza. Puncaknya adalah saat mantan suaminya memperlakukannya layaknya wanita murahan & melecehkan harga dirinya.
Aira memang tahu bahwa ia tak pernah diterima di dalam lingkup keluarga Fahreza. Miskin. Tak jelas asal usulnya. Bibit-bobotnya. Cantik apalagi. Tidak ada yang bisa di lihat dari penilaian manusia padanya. Seandainya bisa menyalahkan, maka akan Aira salahkan mantan suaminya karena membawanya & memaksa keluarganya untuk menerimanya. Tapi semua tidak sepenuhnya salah Azka, karena nyatanya ia juga menginginkan lelaki itu. Mencintainya.
Ok, salahkan saja dirinya yang mau-maunya dibawa kedalam pusaran masalah. Tapi apakah memang menjadi miskin adalah kesalahan? Tidak. Aira tidak pernah meminta dilahirkan menjadi miskin seperti ini. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan keadaan.
Menjadi miskin bukan berarti ia rela harga dirinya diinjak-injak. Ia tidak hidup di dalam cerita yang sudah jelas disakiti, tidak bisa juga melawan. Ia tidak sebaik tokoh-tokoh protagonis yang selalu ditayangkan di TV.
Alhamdulillah nya, hari ini mampu ia lewati walaupun ada beberapa drama. Ia masih bisa
"Ra, gue pulang duluan ya. Suami gue udah jemput di depan." Itu yang Sintya katakan padanya setelah jam kerja telah selesai & semuanya telah beres. Sintya memang setiap harinya dijemput pulang kerja oleh suaminya.
"Ok, Sin. Hati-hati ya di jalan. Tanya masmu nggak perlu buru-buru, pelan-pelan juga nanti sampe kok. Daripada nanti jatuh kayak minggu lalu. Masmu kalau bawa motor udah laga marc marques aja." Ucapnya memperingati karena memang suami Sintya sudah seperti copian marc marques kalau lagi berkendara. Bedanya hanya, kalau marc marques ugal-ugalan di arena, kalau suami Sintya di jalan.
Sintya yang mendengarnya hanya bisa tertawa apalagi saat mengingat kejadian minggu lalu. Karena kebelet & tidak ada pertamina dan tempat yang mereka lalui untuk buang hajat. Akhirnya mereka jatuh karena jalanan yang licin pas tikungan. Alhasil gigi depan suaminya tanggal sebiji.
"Ok, bosthhh. Gue duluan, ya."
Aira menganggukkan kepala dan melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Untungnya drama yang sempat terjadi tadi tak sempat tercium oleh sahabatnya dan juga rekan kerja yang lain.
Setelah insiden yang membuat mood nya bak roller coaster, Aira tak lagi mampu menatap mantan suaminya. Karena jangan sampai saat mereka sedang tatap-tatapan, Aira malah melempar nampan yang dengan setia selalu ia bawa. Memang masih ada cinta, tapi rasanya ia muak dengan perlakuan tak mengenakkan Azka padanya.
Setelah selesai bersiap-siap dengan jaket dan tas yang tersampir di pundak, Aira pun berjalan keluar dan pamitan pada beberapa rekan kerjanya yang juga sedang bersiap-siap untuk pulang.
Saat akan memasang helmnya, masih bisa ia dengar getaran dan dering yang berasal dari dalam tasnya. Segera saja, Aira merogoh tasnya dan tercantum nama adiknya di sana. Mutiah.
"Assalamualaikum, halo, dek, ada apa? ini kakak baru pulang kerja."
__ADS_1
"Waalaikumsalam, kak. kakak ada di mana sekarang?" Tanya mutiah diseberang sana yang membuat kening Aira bertaut.
"Baru mau jalan pulang. Memangnya kenapa, dek? Nenek baik-baik aja, kan?" Aira sedikit khawatir karena diusia nenek yang sudah senja, Aira harus ekstra menjaga kesehatan neneknya.
"Nenek baik-baik aja, kak. Aku cuma mau nanya posisi kakak, karena aku mau suruh jemput...hehehe" Cengengesan Aira dengar suara adiknya diseberang sana. Aira seketika bernafas lega. Ia kira ada apa-apa pada neneknya.
"Memang kamu ada dimana? jam segini belum pulang ke rumah?" Cercanya pada adeknya. Karena tidak biasanya adeknya pergi tanpa isin padanya.
"Muti habis dari pengumpulan data untuk penelitian, kak. Habis itu karena udah terlalu malam, jadinya aku nebeng sama Caca. Lumayan untuk ongkosnya kak. Sekalian aku nungguin kakak di rumahnya, Caca." Jalur rumah teman adiknya memang akan dilewati Aira saat pulang kerja.
Aira ber-oh ria.
"Yaudah, tungguin kakak. Kurang lebih 15 menit sampai. Moga aja hujannya sedikit reda."
"Ok, kak. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum."
Aira memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya dan mengeratkan jaket kulit yang ia kenakan. Menimang-nimang jalan atau tidak, tapi kalau menunggu hujan agak reda maka ia akan sampai sangat malam.
menarik nafas panjang, Aira akhirnya menarik pedal gas motornya dan menghiraukan hujan yang semakin deras saja.
Perkiran sampai di rumah teman adiknya ternyata meleset. waktu yang ditempuhnya lebih lama dari perkiraan dikarenakan deras hujan yang tidak bisa diajak kompromi.
Untungnya saat sampai di rumah teman adiknya, hujan sedikit reda. Aira mengklakson saat sampai disana. Tak lama kemudian, adiknya berjalan keluar dipayungi oleh Caca.
"Nggak mampir dulu, kak. Hujannya masih deras ini." Tawarnya melihat Aira yang walaupun menggunakan jas hujan masih kepayahan.
"Nanti aja, Ca, kakak mampirnya. Udah terlalu malam. Nggak enak juga mampir malam-malam begini."
Mau tak mau, Caca akhirnya tak mampu menahan Aira. Setelah memasukkan barang-barang yang gampang basah ke dalam sadel motor & memakai jaket, Mutiah serta Aira pun pamit dan berkendara untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
10 menit setelahnya, sampailah mereka di rumah dengan selamat. Setelah selesai beberes, Aira & Mutiah pun berkumpul dengan Nenek di meja makan untuk makan malam. Diselingi obrolan ringan, suasana makan bersama keluarga tercinta menurutnya tak ada tandingan.
Selesai makan malam dan membersihkan area dapur, Mutiah masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat. Sedangkan Aira bersama Nenek masih setia duduk di depan Tv beralaskan tikar anyaman rotan. Aira rasanya butuh berbaring di pangkuan nenek setelah hari yang panjang yang ia lewati.
Aira membaringkan kepalanya di pangkuan Nenek untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya terhadap perkara dunia. Nyaman rasanya. Sambil menutup mata dan mendapat elusan di kepala oleh tangan hangat Nenek.
"Bagaimana kerjanya, Nak? lancar? tidak ada masalah kan, di tempat kerja?" Seakan tahu tentang isi hati cucunya, Nenek membuat Aira membuka mata dan menggelengkan kepala di pangkuannya.
"Lancar, Nek. Teman kerja yang baik dan jangan lupakan pak Bos yang royal nya minta ampun." Sambil tersenyum Aira menjawabnya yang membuat Nenek tertular senyum teduhnya.
"Alhamdulillah, kalau lancar, Nak. Nenek selalu doakan yang terbaik untuk cucu-cucu Nenek. Sedikit-banyaknya gaji, asalkan halal dan berkah untuk keluarga."
Aira mengiyakan ucapan Neneknya, setuju.
"Nenek minta maaf belum bisa berikan yang terbaik untuk cucu-cucu, Nenek. Terutama kamu, Nak. Kamu harus menanggung semua kebutuhan keluarga. Seharusnya kamu..."
"sssttt...nek. Sudah kewajiban Aira untuk menanggung semuanya. Aira bahagia dengan hasil jerih payah Aira, Nenek nggak perlu jualan di pasar lagi. Mutiah nggak harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kuliah. Cukup dengan fokus kuliah. Bisa jadi dokter dan dianggap manusia sama orang-orang, Nek." Ada getir disela jawaban Aira yang membuat Nenek menitikan air mata. Hening untuk beberapa saat.
"Dah, ah... Aira besok mau kerja. Tidur gih, Nek. Aira juga udah ngantuk banget." Lebih baik mengakhiri pembicaraan mereka sebelum ada hujan deras yang membasahi tikar mereka.
Setelah mematikan TV dan memastikan Nenek masuk kamar dengan aman, Aira pun masuk ke dalam kamarnya. Tepat setelah pintu kamarnya ditutup, tak kuasa lagi Aira menahan air matanya dan sesak di dadanya.
🌧️🌧️🌧️🌧️
Hedehhh... beberapa episode udah hujan terus guysss 😂🌧️😭
Happy reading semua. Berikan komen, like, bintang dan vote nya kakak² biar aku makin kenceng up nya.
Assalamualaikum
__ADS_1