Rintik Luka

Rintik Luka
Mati Rasa


__ADS_3

Aira ingat pada malam itu, sebelum ia benar-benar pergi dari rumah mewah mertuanya. Setelah selesai memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper, ia akhirnya turun kembali ke hadapan semua orang yang telah menunggunya, lebih tepatnya menunggu kepergiannya.


Hanya sebagian pakaian yang ia bawa, pakaian yang pernah ia bawa dari rumah Neneknya. Ia cukup tahu diri dengan tidak membawa semua pakaian pemberian suaminya.


Sebelum benar-benar meninggalkan kamar yang telah menjadi saksi bisu dari segala ceritanya bersama Azka, Aira mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang yang mungkin menjadi hadiah terakhirnya untuk Azka. Bolpoin yang ia harap mampu menjadi saksi dari segala harapan dan cita-cita mereka, ternyata menjadi saksi dari malam kelam yang akan terus ia kenang.


Setiap langkah yang ia ambil layaknya jarum jam yang semakin berkurang untuk setiap detiknya. Sampailah ia di depan semua orang dengan menggenggam koper yang hanya terisi pakaian yang ia beli sendiri.


Aira berusaha menarik nafas tenang, walau koper di dalam genggaman tangannya mengerat. Dipandanginya semua orang satu per satu dan terakhir ia pandangi Azka yang sudah menjadi mantan suaminya.


Terjadi keheningan di ruang tamu malam itu. Azka sekarang duduk sambil menunduk. Kedua tangannya di letakkan di atas paha. Masih terlihat rahang yang mengetat di sana, namun Aira tak dapat melihat raut wajah mantan suaminya. Dipandanginya lama wajah yang mulai sekarang tidak akan mungkin lagi ia lihat di kesehariannya.


Ini dalah akhir dari kisah mereka. Hanya karena kesalahpahaman, Azka berani mengambil keputusan yang akan mengubah nasib dari mereka berdua.


Aira menatap pada koper yang rasanya sudah siap untuk membawanya keluar dari rumah ini.


"Aku pamit, terima kasih karena sudah menerima saya dengan baik di rumah ini." Serasa ada belati yang menikam tepat di ulu hatinya saat mengucapkan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Terima kasih untuk semua kebaikan kalian karena mau menerima orang seperti saya di istana yang megah ini." Masih belum ada yang mau berbicara.


"Saya berharap, semoga kebenarannya tidak terungkap supaya kalian tidak pernah merasakan yang namanya rasa bersalah."


"Saya pamit...."


🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️


"Kamu mau minum apa, Mas?" Tanya Maudy, istri Azka saat mereka telah tiba di rumah bersama semua keluarga. Hanya Reksa dan adiknya, Clarissa yang tidak ikut pulang dikarenakan ada kegiatan lain.


"Air putih aja, sayang." Jawabnya yang membuat Maudy mengangguk tersenyum dan bertanya pada kedua mertuanya akan hal yang sama.


"Samakan saja, Nak." Jawab mertua perempuannya.


Setelah Maudy berlalu dari sana dan sudah tak terlihat dari jangkauan ruang keluarga, barulah tante Widya, duduk di samping anaknya.

__ADS_1


"Kenapa bisa ada Aira tadi di restoran tempat kita ngadain acara?!"


"Nggak tahu, Mi." Jawabnya masa bodo. Namun berbeda dengan isi otaknya yang masih memikirkan pertemuannya dengan mantan istrinya di restoran tadi.


"Bisa-bisanya wanita itu masih ada muka menampakkan muka di depan keluarga kita setelah apa yang telah dilakukan dulu!" Ucapnya menampakkan raut tidak terima mengingat wajah sok suci mantan menantunya.


"Udahlah, Mi. Yang lalu biar berlalu. Nggak perlu kamu ungkit-ungkit kesalahan orang lain lagi. Biarin aja, toh, Azka sekarang sudah bahagia dengan Maudy." Jawab Prasetya, orangtua Azka. Memang Om Prasetya jarang berbicara, namun sekalinya berbicara semua langsung tunduk. Dan memang hanya Om Prasetya yang selama ini tidak terlalu ikut campur akan urusan rumah tangga anaknya. Apapun pilihan anaknya, ia akan terima.


Kalau Maudy ini, memang mereka di jodohkan oleh Tante Widya. Sudah lama Tante Widya mau mempersatukan anaknya dengan Maudy, bahkan sebelum Azka datang membawa Aira.


Setelah perceraian Azka dan Aira, Tante Widya sangat getol membujuk anaknya untuk meminang anak dari rekan bisnis suaminya sekaligus teman arisannya. Yang mana, Maudy ini adalah anak dari keluarga yang setara dengan mereka, berpendidikan dan tentunya jelas asal-usulnya. Berbeda dengan Aira.


Setahun setelah perceraiannya dengan Aira, Azka kembali pada mode kulkas, dingin. Efek kecewa dan sakit hati atas penghianatan Aira, membuatnya jadi mati rasa untuk membuka hati.


Namun setelah beberapa pertemuan dengan kedua belah pihak dan atas persetujuan Azka, akhirnya diadakan yang namanya pertunangan. Tidak lama setelahnya, pesta pernikahan pun digelar. Tentunya dengan pesta yang mewah, berbeda dengan pernikahannya dulu yang tak banyak orang yang tahu selain pihak keluarga.


Pesta megah yang diadakan di resort mewah milik keluarga Fahreza, menjadi perbincangan hangat para kalangan pebisnis tershoror tanah air.


Dan tak butuh waktu lama, akhirnya Maudy pun hamil anak pertama Azka yang sudah lama ditunggu-tunggu.


Sejenak pembicaraan tentang Aira pun terhenti oleh kedatangan Maudy yang membawa tiga gelas air putih di atas nampan.


"Diminum, Mas, Mi, Pi."


Tante Widya tersenyum dan mengelus surai hitam milik menantunya.


"Rajin banget kamu, Nak. Kan ada Mbok yang bisa ambilin. Lagian kamu kan, lagi hamil muda, jadi capek-capek adalah hal yang harus dihindari. Demi kesehatan cucu kesayangan, Mami di dalam perut." Tak lupa dielus perut yang sudah terlihat benjolannya.


"Nggak apa-apa, Mi. Ambilin air putih doang nggak akan buat aku kecapean. Lagian kata dokter, walaupun aku hamil aktifitas tetap harus dilakuin. Kalau aku capek, kan ada Mas Azka yang bakalan aku repotin." Candanya menatap Azka sambil tersenyum. Semua orang di ruang keluarga tertawa mendengar ucapan, Maudy yang terlihat sangat manja pada suaminya.


"Kamu nih kalau dibilangin bisa aja jawabnya." Ujar Azka sambil mencubit hidung mancung istrinya yang lagi-lagi membuat semua orang terlihat bahagia malam itu.


"Sudah bercanda nya. Ini sudah mau jam 10 malam. Tidak baik ibu hamil tidur terlalu larut, nanti berpengaruh pada kesehatan anakmu, loh. Bawa istrimu istirahat, Nak. Istrimu pasti capek setelah seharian ini." Titah Tante Widya pada anak menantunya yang mana setelahnya, keduanya pun pamit dan menuju ke kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


Setelah keduanya selesai membersihkan diri, keduanya pun berbaring diatas kasur bersama selimut tebal menemani.


"Aku bahagia dengan semua yang Tuhan berikan tahun ini, Mas." Ujar Maudy di dalam pelukan suaminya. Azka dengan setia mendengar segala ucapan istrinya sambil matanya menerawang ke depan.


"Menikah dan mempunyai anak dari kamu itu adalah impian aku dari dulu. Aku bersyukur memiliki kamu di samping aku, Mas. Makasih, ya, udah mau jadi suami dan Ayah dari anak kita." Maudy terus berceloteh di dalam pelukan suaminya. Mengutarakan segala isi hatinya yang membuncah dan bahagia memiliki Azka disisinya.


Azka menjawab dengan deheman sambil sesekali mengelus punggung istrinya sampai tertidur dan tak lagi berceloteh.


🌧️


Sesi menerawang Azka masih berlanjut setelah tak ada lagi suara yang ia dengar. Keheningan membuatnya semakin menerawang jauh akan sosok Aira. Zahira Guftana Kamila.


Pertemuannya tadi seakan membuka hijab yang berusaha ia tutup selama ini tentang mantan istrinya. Azka benci setengah mati pada mantan istrinya. Namun tak bisa di pungkiri, pada beberapa momen ia menganggap Maudy sebagai Aira. Masih ada setitik rasa yang belum tuntas yang masih tersimpan di dalam hatinya.


"Maafkan aku." Ucapnya di dalam hati pada Maudy karena selama ini, ia menjalani pernikahan tanpa adanya cinta di dalamnya. Rasanya sudah berbeda setelah ia mendapatkan penghianatan dan kecewa dari orang dulunya sangat ia cintai.


Azka hanya menjalani biduk rumah tangga tanpa ada rasa di dalamnya. Sebut saja rasanya sudah mati. Selama ini apa yang ia tampakkan di depan semua orang, termasuk di depan istrinya adalah kepalsuan.


Susah rasanya untuk membuka hati lagi.


Dan pada saat tadi ia kembali bertemu dengan Aira, ada rasa tidak terima melihat Aira baik-baik saja setelah apa yang telah dilakukan dulu padanya.


Dasar wanita jahat.


Rasa bencinya membuatnya melakukan hal gila yang membuatnya merasa lega telah menyakiti Aira.


Azka menyunggingkan senyum miringnya memikirkan rencana yang ada di otaknya. Sedikit bermain-main rasanya sudah lama tak ia lakukan.


🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️


Happy reading


Dont forget to like, komen & vote nya kk

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2