
Aira berusaha meredam isakannya dengan menggunakan tangannya. Sungguh, semua ini diluar kuasanya. Benar yang Sintya katakan padanya, ia tak sekuat wonder women. Tak sekuat itu untuk bisa menahan perih yang rasanya sangat menusuk sampai ke jantung hati.
Mengapa disaat ia perlahan sudah bisa melupakan masa lalunya, sosok itu kembali hadir dengan keadaan yang 180 derajat berbeda dengan keadaannya. Mengapa hanya ia yang sakit disini. Dimana tatapan penuh cinta dan perlakuan lembut yang dulu selalu diberikan. Terganti dengan tatapan penuh dendam dan ingin membunuh. Jika boleh memilih, bisakah tidak untuk bertemu kembali?!
Aira berusaha menghapus air matanya dan berdiri dengan dibantu tembok toilet. Berusaha ia mengatur nafas, menarik dan menghembuskan berkali-kali sampai ia rasa sudah mampu menguasai diri. Ia rapikan pakaian kerjanya dan berjalan menuju westafel untuk membasuh wajah. Dapat ia lihat pantulan wajahnya yang kuyu & sembab. Aira harus menyamarkan wajah sembab nya agar tidak kentara banget nelangsanya.
Aira membuka pintu toilet & berjalan menuju loker tempat barang-barangnya ia simpan. Ia ambil pouch tempat perkakasnya dan kembali menuju toilet. Aira memoles wajahnya menggunakan bedak padat dan memoles lipstick pada bibirnya. Ok, sudah terlihat manusiawi sedikit wajahnya. Segera ia membereskan barang-barangnya dan membuka pintu toilet. Saat telah melewati toilet wanita dan berjalan keluar beberapa langkah, jantungnya seakan berhentj berdetak saat ia melihat Azka berjalan kearahnya dengan tatapan yang tajam seakan menghujam jantungnya.
Ok, pura-pura tidak kenal dan tidak lihat, ujarnya dalam hati sambil terus berjalan menatap lurus ke depan. Tapi harapan hanya tinggal harapan, Azka tiba-tiba menghadang jalannya dan berdiri menjulang di depannya ibarat monster yang siap menerkam.
Aira menelan ludah dengan susah payah dengan aura yang Azka keluarkan di depannya. Mau tak mau, Aira akhirnya mendongakkan wajahnya dan menatap wajah mantan suaminya meminta agar minggir dari hadapannya. Dapat Aira lihat rahang Azka mengeras sambil menatap kearahnya.
Pintu doraemon mana?! Ujar Aira di dalam hati. Aira ingin langsung masuk ke sana dan kalau bisa pintunya langsung terbuka ke rumahnya.
Aira lagi-lagi menelan air liur dengan susah payah melihat tatapan Azka. Mendadak ia ingin buang air kecil ke kamar mandi tempat ia tadi bersedih. Telapak tangannya sudah terasa dingin melihat aura menyeramkan mantan suaminya.
Aira berdehem dan menatap ke sembarang arah. Berusaha untuk tidak lagi melihat wajah Azka.
"Permisi, saya mau lewat." Katanya berusaha senormal mungkin. Tapi sayang, bukannya menjawab, Azka malah mencengkeram lengan kanannya dengan tenaga yang kuat. Hal itu sontak membuat Aira meringis.
"Sakitt..." Cicitnya sambil menatap kembali mata sehitam legam di depannya.
Bukannya melepaskan, Azka malah semakin mencengkram lengan kanannya dan mendorong tubuhnya hingga mencapai ujung tembok. Tidak sampai membentur karena dapat Aira rasakan tangan Aska menahan belakang punggungnya hingga tak membentur tembok.
Jantung Aira semakin bertambah pacuannya atas apa yang mantan suaminya lakukan. Matanya membola atas perlakuan Aska padanya.
"Apa yang kamu lakukan?!" Ujarnya sepelan mungkin berusaha meredam keterkejutannya. Nada suaranya harus ia kontrol agar tidak ada yang melihat situasi yang mampu membuat orang lain salah paham. Walau sebenarnya, Aira sangat ingin berteriak dan terlepas dari situasi tidak mengenakkan ini.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Azka malah memajukan wajahnya & aura menakutkan itu semakin menjadi. Aira berusaha memundurkan wajahnya, tapi posisinya sudah tidak bisa untuk mundur.
"Kenapa kamu muncul lagi di hadapanku?!" Ujarnya dengan nada yang pelan tapi dengan ketegasan di dalamnya. Dengan rahang yang semakin mengeras, Azka mengatakan itu dengan jarak yang sangat dekat.
Butuh waktu beberapa detik untuk Aira mampu mencerna pertanyaan mantan suaminya. Dengan sisa kekuatan yang ia punya, Aira berusaha mendorong bahu Azka. Bukannya memliki ruang atas apa yang Aira lakukan, badan mantan suaminya malah semakin menempel hingga tidak ada lagi celah diantara mereka.
"Mas... tolong..." Akhirnya Aira berusaha mengembalikan kesadaran mantan suaminya yang sudah bersikap tidak sopan padanya dan menyakitinya. Pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun, tapi mengapa seperti ini.
"Aku janji tidak akan muncul lagi di hadapanmu! Tapi tolong... Jangan seperti ini." Mohonnya menghiba. Tapi Azka yang ada di hadapannya, bukan lagi Azka yang dulu ia kenal.
"Seperti apa? hmm? Seperti ini?" Jawabnya yang seketika membuat Aira terbungkam oleh ciuman kasar yang Azka lakukan padanya. Azka melecehkannya dan merendahkan harga dirinya di tempat kerjanya. Di tempat dimana orang-orang atau bahkan keluarganya berada dan bisa melihat perlakuan kurang ajarnya.
Keterlaluan!
Entah kekuatan dari mana, Aira mampu melepaskan perlekatan dan pelecehan yang Azka lakukan padanya.
Dorongan yang Aira lakukan mampu membuat Aska mundur beberapa langkah di hadapannya. Dan dengan amarah yang membara, tangan kecilnya mampu membuat wajah Azka menoleh ke samping dan mencetak warna merah di sana.
Napas Aira memburu diikuti dengan muka yang memerah tak mampu menampung amarah yang sebentar lagi meluap.
"B******n! Bisa-bisanya kamu lakuin ini ke aku!" Tumpah juga air matanya yang ia tahan. Baru kali ini harga dirinya direndahkan oleh mantan suaminya sendiri. Dimana Azka yang sangat menghormati wanita. Dimana Azka yang memperlakukan wanita dengan lembut.
Bukannya merasa bersalah, Azka malah menampilkan senyum menakutkannya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya. Terlalu santai bahkan tindakannya.
Siapa yang ada di depanku ini?
"Hey... Kenapa marah?! Bukannya perempuan seperti kamu tidak masalah diperlakukan seperti tadi."
__ADS_1
Kesalahpahaman itu kembali diungkit.
"KAMU SALAH BESAR KALAU MASIH MENGUNGKIT KESALAHPAMAN ITU, AZKA." Ujarnya penuh penekanan. Kesalahpahaman di masa lalu masih diungkit bahkan di pertemuan pertama.
"Salah paham kata kamu?!" Azka menjawabnya dengan penuh penekanan. Lagi-lagi melangkah maju dan sekejab mata berubah ekspresi.
"Berhenti atau aku teriak sekarang juga!" Ujarnya penuh penekanan. Yang Aira katakan mampu membuat Azka berhenti melangkah. Orang di depannya ini gila. Kalau tidak diancam, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi padanya.
"Aku sekarang udah nggak perduli kamu percaya atau nggak sama apa yang aku katakan. Udah cukup aku menjelaskan sama kalian. Mau kamu percaya atau tidak, itu terserah kamu!" Penuh penekanan Aira mengatakan itu agar lelaki di depannya tak melihatnya lagi sebagai wanita lemah yang mampu direndahkan.
"Kamu...."
"Azka, kenapa lama sekali ke toiletnya, nak. Istrimu..." Apa yang mau Mami Azka katakan terpotong setelah melihat Azka bersama dengan mantan menantunya. Aira.
"Ngapain kamu dekat-dekat dengan anak saya lagi, hah?!
Entah merasa tertolong atau tertodong dengan kedatangan mantan mertuanya. Tapi rasanya sama saja. Langkah terbaik adalah segera pergi dari sana. Aira mengabaikan pertanyaan mantan mertuanya dan menatap lelaki di depannya penuh amarah.
"Minggir!" Aira kini telah berani membentak lelaki di depannya. Sebuah kemajuan pada dirinya yang tidak pernah memperlakukan orang seperti ini. Tapi Azka rasanya pantas menerimanya.
Tanpa berkata dua kali, Azka memberi ruang pada Aira untuk berlalu dari sana. Bak kerbau yang dicucuk hidungnya, kedatangan mantan mertuanya mampu menyelesaikan waktu yang sedari tadi ingin ia cut.
"AKU BENCI SAMA KAMU!" Cicitnya setengah berbisik saat berada tepat di samping Azka yang hanya mampu didengar oleh mereka berdua.
🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️
Happy reading cintanya akuuu.
__ADS_1