Rintik Luka

Rintik Luka
Talak


__ADS_3

Mulai sekarang jangan pernah tangan kotormu itu pegang tangan aku!" Tegasnya.


Ibarat ada sesuatu yang menikam tepat di ulu hatinya mendengar ucapan suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca dibentak seperti itu di depan kedua mertuanya.


Sakit sekali...


"Maksud kamu, Mas?" Tanyanya sambil menatap ke kedalaman mata suaminya. Mencari kesungguhan di sana. Karena jangan sampai ini semua hanya guyonan atau akting yang suaminya perankan untuk memberikan kejutan di hari ulang tahunnya. Tapi bukannya, seharusnya ia yang memberikan kejutan di hari ulang tahun suaminya?!


"Hari ini kepercayaanku kamu patahkan, Ra. Aku kira kamu berbeda dengan orang-orang di luar sana. Ternyata kamu sama saja." Terlihat setetes air mata yang mengalir di mata Azka.


"Kamu bohongi aku. Selingkuh di belakang aku dengan sahabat aku sendiri. Kira-kira bagaimana sakitnya di posisi aku, Ra?!"


Aira menggelengkan kepalanya menanggapi pernyataan suaminya. Air mata sudah menetes membasahi wajah manisnya.


"Aku nggak selingkuh, Mas. Demi Allah, aku nggak pernah sekalipun lakukan itu apalagi dengan sahabat kamu sendiri, Mas."


"Sayangnya, ada bukti perselingkuhan kamu, Aira. Dari dulu memang saya tidak pernah rela anak saya menikah dengan kamu. Dari keluarga rendah, pasti akan kembali rendah!" Kata merendahkan itu kembali ia dengar dari mertua perempuannya.


Sukses sudah air matanya mengucur deras. Tapi masih mampu ia tahan isakannya. Tapi... sakit sekali mendengar segala cacian dari mertuanya yang dengan terang-terangan merendahkannya di depan suaminya sendiri. Yang mana kali ini tak lagi membelanya.


Memang benar ia miskin, tapi tidak dengan harga dirinya.


"Mas..." Tak mampu Aira melanjutkan kata-katanya karena menahan sesak di dada. Air mata semakin deras menatap punggung suaminya yang kini telah berbalik badan membelakanginya.


Aira menghapus air matanya dan berjalan menuju suaminya berusaha membalik badan suaminya. Namun usahanya itu sia-sia. Suaminya tak bergerak sedikitpun untuk menatap matanya.


Aira yang mendapatkan penolakan itu, akhirnya menyerah.


"Siapa yang memberikan info itu, Mas? Kenapa nggak dicari tahu dulu kebenarannya." Aira berusaha menurunkan egonya demi rumah tangga mereka.


"Kamu tak perlu tahu, dari mana saya dapat info itu. Tapi kamu tahu kan, kalau saya bukan orang bodoh yang gampang percaya info abal-abal. Bukti itu saja, sudah menguatkan apa yang kamu lakukan di belakang saya!"

__ADS_1


Saya! Sekarang suaminya sudah bersikap formal padanya.


"Kamu nggak benar-benar percaya, kan, sama foto itu, Mas?!" Sekali lagi Aira memastikan.


"Eh, Aira, di depan kamu itu sudah ada bukti perselingkuhan kamu sama sahabat, Azka. Apa itu maksudnya coba kalau bukan selingkuh. Rangkul-rangkulan, balas-senyuman, jalan berdua, kalau bukan selingkuh, Aira?"


"Berapa kali aku harus bilang, Ma, Mas, kalau aku nggak selingkuh. Foto ini diambil dari anggle yang sengaja dibuat ambigu kayak gini. Biar orang jadi salah faham. Aku tadi habis belanja dan memang tadi tidak sengaja ketemu dengan Mas Pasha di Mall. Mas Pasha memang tadi sempat membantu saya dan sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu, saya menerima ajakannya untuk menemani makan, Mas. Tapi demi Allah, Mas, hanya sebatas itu. Percaya sama saya, Mas." Bantahnya mengatakan yang sejujur-jujurnya, menghiba di belakang suaminya.


Tak ada jawaban yang Aira dapatkan. Suaminya belum juga membalikkan badannya dan menatap orang yang sedang mengajaknya berbicara. Aira rasanya berbicara dengan tembok. Hening dan tak ada jawaban.


Aira berusaha menghapus air matanya yang sialnya tak mau berhenti malam itu.


"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya sama aku, Mas?! Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Ini semua kesalahpahaman. Aku difitnah, Mas." Cicitnya berbicara sambil berusaha mengontrol suaranya. Karena jujur saja, ingin hati menangis keras namun ia segan karena ada mertuanya disini menyaksikan pertengkaran mereka.


"Nggak ada yang perlu kamu buktikan, Ra. Kepercayaan saya sudah habis di kamu." Tegasnya yang membuat Aira menggigit bibirnya demi menahan isakannya.


Air mata, tolong bekerjasama dengannya malam ini saja. Mengapa semakin di tahan, semakin deras rasanya yang mengalir.


"Semuanya sudah jelas, Aira. Saya terlanjur kecewa sama kamu." Jeda cukup lama. Aira semakin tersudut dengan fitnah yang membuat suaminya tak lagi mau menatapnya.


"Dan mulai malam ini...saya tidak ingin lagi melihat kamu berkeliaran di depan mata saya!"


Sesak dada Aira mendengar ucapan suaminya. Lagi-lagi, Aira menghapus air matanya yang entah sudah kesekian kalinya ia lakukan. Aira menatap kedua mertuanya yang malam itu juga menghakiminya tanpa mengusut kebenarannya.


"Mas...kamu tidak sungguh-sungguh dengan apa yang kamu ucapkan, kan?!"


"Saya tidak pernah menarik kata-kata yang telah keluar dari mulut saya. Pantang bagi saya untuk berbicara dua kali!"


Akhirnya tangisnya pun pecah mendengar jawaban suaminya. Jadi, apa yang harus ia lakukan sekarang? Sakit rasanya tak dipercaya oleh orang yang sangat ia cintai. Dibentak dan dipermalukan seperti ini.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya, Mas?!" Hibanya dengan air mata yang semakin deras.

__ADS_1


Rintik hujan dan suara petir malam itu seakan menembus ke dalam rumah megah mertuanya. Baiknya hujan karena sedikit meredakan sedikit suara kesakitannya.


"Tidak ada! saya tidak mau lagi melihat kamu mulai malam ini. dan setelah malam ini, setelah kamu keluar dari rumah ini, kamu... bukan lagi menjadi istri saya, ZAHIRA GUFRANA KAMILA!"


Pecah sudah tangisnya malam itu. Suaranya bersahut-sahutan dengan suara deras hujan yang semakin lama semakin lebat.


Aira menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata suaminya. Tak kuasa lagi ia tahan suara tangisnya. Pecah sudah malam itu disaksikan oleh kedua mertuanya.


Aira maju menyentuh lengan suaminya dari belakang dan menggoyangkannya. Berharap dengan begitu suaminya mau berbalik menatapnya dan menghapus air matanya. Serta menarik kata-kata yang di dalam islam berarti sudah jatuh talak baginya.


"Jangan begini, Mas. Percaya sama aku! Aku benar-benar tidak pernah berselingkuh, apalagi dengan sahabat suamiku sendiri. Tolong tarik kata-katamu, Mas!" Mohonnya menggoyang-goyangkan tangan suaminya dengan kesakitan yang tiada tara.


"Beresi semua barang-barang mu. Malam ini juga pergi dari rumah ini! Saya tidak mau melihat seorang penghianat seperti kamu. Seharusnya dulu saya mengikuti apa yang orangtua katakan. Dan sekarang memang terjadi. Saya menyesal pernah menikah dengan kamu!"


Aira menghiba, memohon dan meminta maaf atas apa yang tak pernah ia lakukan. Malam itu juga, segala harapannya dipatahkan oleh si pemberi harapan. Kecewa dan sakit tentunya. Salahkan dirinya yang terlalu besar menaruh harapan pada manusia. Karena ternyata benar, manusia adalah sumber rasa kecewa.


Azka atau sekarang telah menjadi mantan suaminya, untuk menengok barang beberapa senti saja padanya tak sudi melakukannya. Segitu hinanya kah dirinya di mata Azka dan kedua orangtuanya.


Malam itu, seperti apa yang Azka katakan, Aira tak boleh lagi menampakkan wajah di rumah itu. Azka tak punya belas kasihan padanya, mengusirnya malam itu disaat sedang hujan deras. Tak sedetikpun menengok menatapnya dan menarik kata-katanya.


Sebagai orang yang sadar diri, Aira akhirnya pergi dengan membawa sejuta luka dan perih di dada. Tak perduli sedang hujan di luar sana. Tujuannya hanya satu, segera pergi dari rumah yang telah menorehkan luka yang mungkin akan terus membekas di ingatannya.


Kukira pernikahan yang Azka tawarkan adalah kebahagiaan, ternyata hanya sebuah perpisahan.


🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️


Happy reading


jangan lupa like, komen dan vote. Jangan menjadi silent reader yayangku...


Salam story from By_me LM

__ADS_1


__ADS_2