Rintik Luka

Rintik Luka
Raypaskal Pasha Syahjaan


__ADS_3

Tanggal 30 Juni adalah hari kelahiran Azka, suaminya. Selama empat tahun menikah, tak pernah sekalipun Aira melupakan hari spesial itu dan tentunya merayakannya.


Namun baru hari ini Aira melupakan untuk menyiapkan kado ulang tahun sekaligus surprise untuk suaminya. Karena kesibukannya pada toko bunga yang suaminya berikan padanya, membuat Aira tak sempat untuk menyiapkan hari spesial ini.


Toko bunga yang sudah berjalan selama 2 tahun itu, semakin hari semakin ramai saja. Tempat yang strategis dan tentunya kerajinan pegawainya yang selalu update promosi di sosial media, membuatnya toko bunganya semakin di kenal di halayak ramai.


Tak lupa juga suaminya mempromosikan toko bunganya. Beberapa kali pada saat ada acara kantor atau pun pada ada pesanan dari rekan kerja suaminya, pemesanan pasti di tokonya.


Setelah melihat angka yang menunjukkan pukul 4 sore, Aira bergegas untuk merapikan meja kerjanya dan berjalan keluar dari ruangannya.


"Ci, aku ada urusan di luar. Mungkin nggak kembali ke toko lagi. Nanti Cici tutupin toko nya, ya." Ujar Aira pada karyawannya yang sudah bekerja saat toko tahun pertama buka.


"Siap, mbak. Serahin tugas mulia ini pada Cici Paramita." Sambil tersenyum lebar menampakkan giginya.


"Yaudah, aku pergi, ya. Assalamualaikum."


Di depan tokonya sudah ada taksi pesanannya yang akan mengantarkannya ke pusat perbelanjaan yang ada di pusat kota. Rencananya hari ini, ia akan memberikan surprise pada suaminya berupa kado yang sebelumnya belum pernah ia berikan.


Selama perjalanan, Aira sudah mendapatkan jenis kado apa yang akan ia berikan pada suaminya tercinta. Aira memang bukan tipikal wanita yang tidak terencana. Segala sesuatunya, telah ia list sebelum ia melakukan sesuatu.


15 menit perjalanan, akhirnya ia sampai pada tempat tujuan. Setelah membayar biaya taksi, Aira segera berjalan memasuki pusat perbelanjaan dan melewati beberapa store merk ternama.


Tempat tujuannya kali ini berada pada lantai 3 dimana pada saat perjalan tadi, ia telah melakukan searching pada beberapa toko yang menurutnya terbaik.


Dan pilihannya tertuju pada store yang menjual bolpoint yang akan ia hadiahkan pada suaminya. Mengapa bolpoint? dikarenakan kado yang ia berikan pada suaminya sebelum-sebelumnya pada seputaran kemeja, dasi, sepatu.


Aira memasuki toko dan berkeliling melihat-lihat kira-kira bolpoin yang mana yang ia berikan.


Pada saat ia berkeliling, matanya pun tertuju pada dua bolpoint yang bersisian di dalam etalase dengan aksen yang sama namun berbeda warna.


"Silahkan dilihat-lihat, Ibu." Ujar pelayan toko yang berjaga sore itu.


Aira tersenyum menanggapi ucapan pelayan toko tadi sambil melihat semakin dekat bolpoint yang menarik perhatiannya. Tatapan mata Aira tertuju pada dua macam bolpoin yang bersisian dengan warna yang menarik perhatiannya.


Gold dan grey.


Pelayan toko menjelaskan bolpoin di depannya beserta kelebihan-kelebihannya. Aira mengangguk mengerti namun masih bimbang mau memilih bolpoin yang mana karena keduanya sangat cantik menurutnya.


"Takzim sekali menilainya, mbak."


Aira mengerutkan keningnya mendengar ucapan seseorang dibelakangnya yang jelas saja berbicara padanya. Aira menoleh dan melihat seorang lelaki yang memiliki postur hampir sama dengan suaminya.

__ADS_1


Aira menimbang-nimbang dan berfikir menebak lelaki di depannya ini. karena wajah lelaki ini tak asing menurutnya.


"Masih ingat dengan wajah saya?" Putar otak Aira mencoba mengingatnya. Ekspresi Aira yang seperti itu membuat lelaki di depannya tak kuasa menahan senyum.


"Ah...mas Pasha, kan!" Jelasnya saat telah mengingat dan yakin 100 persen dengan tebakannya.


Pasha mengangguk mantap dan bernafas lega karena wanita di depannya masih dapat mengingatnya.


Raypaskal Pasha Syahjaan, namanya. Sahabat suaminya semasa bangku kuliah. Sama-sama berkuliah di luar negeri. Hanya saja nasib ekonomi mereka berbeda. Azka yang dari kalangan old money, sedangkan Pasha dari kalangan menengah kebawah yang sangat beruntung bisa mendapatkan beasiswa sampai ke luar negeri. Keluarganya dari kalangan perintis bukan pewaris.


"Saya kira kamu sudah lupa sama saya." sambil tertawa menjawabnya.


Aira tersenyum menanggapi namun tak enak hati karena sempat melupakan rupa sahabat suaminya. Maklumlah, pertemuan mereka hanya sekali dua kali. Pada saat selesai acara pernikahan mereka yang diadakan secara kekeluargaan dan pada saat Azka mengajaknya untuk liburan ke lembang dan bertemu dengan Pasha di sana karena ada acara kantor.


"Aduh, maaf mas. Tadi saya sedikit lupa tapi sekarang udah full ingatnya." sambil tersenyum menjawab.


"Untuk, Azka?" pertanyaan bodoh. Pasha merutuki dirinya di dalam hati atas pertanyaan spontannya. Ya, jelas untuk suaminya. masa untuk kamu, pikirnya.


"Iya, mas. Untuk suami saya. Nanti mau dijadiin sebagai kado ulangtahun."


Pasha mengangguk mengerti mendengar jawaban Aira. Detik setelahnya, Pasha mengalihkan perhatiannya dan melihat pada bolpoin yang ada di etalase. Di depannya sudah ada 1 jenis bolpoin, yang membedakan hanya pada aksen warnanya.


"Jadi kamu pilih yang mana?"


"Dua-duanya bagus. Saya udah dari tadi berdiri di depan sini, tapi bingung mau pilih yang mana."


"Menurut kamu, Azka sukanya yang warna apa?"


"Mas Azka suka kedua warna ini. Tapi bingung mau pilih yang mana karena dua-duanya cantik."


Pasha mengangguk mengerti sambil berpose layaknya orang berfikir.


"Yasudah, beli keduanya saja." Jawabnya yang jelas saja dibalas gelengan oleh Aira.


"Pemborosan kalau saya beli keduanya, Mas. Satu aja cukup."


Pasha membenarkan jawaban Aira, namun jawaban tadi terlontar karena membeli keduanya tidak akan menguras isi kantong dari seorang Azka.


"Kalau menurut saya, lebih baik kamu beli yang warna gold. Karena warna itu sangat mencerminkan identitas suami kamu."


Aira mengerutkan kening namun juga sedikit membenarkan ucapan sahabat suaminya. Karena di rumah mertuanya, hampir semua pernak-pernik, hiasan dan bahan bangunan rumah memiliki aksen emas.

__ADS_1


"Tapi warna grey juga bagus dengan aksen mengkilap di setiap sisinya. Hitam dan gold adalah perpaduan yang pas."


"Tapi kalau kamu mau pilih yang berbeda dari biasanya, warna grey mungkin lebih sederhana dan unik. Sama seperti kamu." Terkutuklah mulut jahannamnya. Mengapa mulutnya selalu lebih duluan dibandingkan kinerja otaknya.


Alis Aira terangkat mendengar jawaban pasha.


Maafkan Pasha yang bertindak ambigu. Bukan maksudnya untuk menggoda istri sahabatnya sendiri, pemirsa.


"Jadi mau pilih yang mana, Ibu?" Beruntungnya, pelayan yang berjaga mampu melepaskan mereka berdua dari kesalahpahaman. Thanks god.


"Yang warna grey, mbak." Aira akhirnya mengikuti saran dari Pasha. Membeli barang yang berbeda dari biasanya mungkin bagus juga.


Setelah melakukan transaksi dan pelayan toko memberikan tentengan dari apa yang ia beli, Aira akhirnya keluar dari sana ditemani oleh Pasha.


"Makasih Mas Pasha atas bantuannya telah menemani saya memilih kado untuk suami saya."


"Sama-sama. Jangan terlalu sungkan." Jawabnya tersenyum tulus.


"Setelah ini, kamu mau kemana lagi?" Tanya Pasha.


"Mau langsung pulang, mas."


Saya mau minta tolong, boleh?!"


"Jika saya bisa bantu, saya bantu, mas."


Pasha melihat-lihat sekitar setelah itu kembali menatap wanita di depannya.


"Saya minta tolong, temani saya makan Siang sekaligus makan malam. Boleh?"


"Jadi ceritanya makannya di jamak, gitu?!" Pasha yang mendengarnya seketika tertawa melihat lontaran Aira yang lucu menurutnya.


"Tuntutan kerja."


Aira ingin menjawab tidak setuju, namun mereka tidak sedekat itu untuk saling menasehati menurutnya.


Setelah terjadi deal diantara mereka, mereka pun menuju tempat makan yang Pasha tunjuk.


🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️


Happy reading

__ADS_1


Salam story from By_me LM


__ADS_2