Rintik Luka

Rintik Luka
Memory


__ADS_3

Aira menambah kecepatan laju motornya agar tidak terkena basah yang mungkin akan semakin membuatnya menjadi berubah sendu.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Aira pun akhirnya sampai di depan restoran F&Fours. Aira segera memarkirkan kendaraannya di bawah teduh parkiran. Walaupun hanya rintik hujan, tetap saja jaket yang ia kenakan basah. Dibukanya helm dan diletakkan di atas motor.


Aira menghela nafas panjang sambil memandang ke depan. Memperhatikan rintik hujan yang semakin lama semakin deras. Rintik hujan sangat berbekas di ingatannya karena saat itu pulalah semua memory menyakitkan itu bermunculan. Saat seorang lelaki yang sangat ia puja dan menjadi sandarannya, tempatnya merasakan bahagia walaupun hanya sebentar ternyata juga menorehkan luka untuknya. Lelaki yang ja kira mampu menerima segala kekurangannya dan mampu menerima status sosialnya, ternyata juga sama.


Aira sempat merasakan dicintai oleh seorang lelaki. Cara lelaki itu memandangnya sangat dalam dan penuh cinta. Ia diterima walaupun dengan status sosialnya yang sangat jomplang dengan gaya hidup lelaki itu. Si miskin dan si kaya bersatu di dalam hubungan yang namanya pernikahan. Hubungan mereka awalnya ditolak dengan sangat jelas oleh keluarga sang lelaki. Namun karena kesungguhan dan kegigihan lelaki itu dalam meyakinkan keluarganya, akhirnya dengan berat hati pihak keluarga lelaki menerima si wanita untuk dipinang anak emas mereka.


Namun semua bahagia yang ia rasakan, hanya bertahan selama 4 tahun lamanya. Karena alasan yang tidak jelas dan belum tentu kebenarannya, suaminya mengikrarkan talak di depan keluarganya. Talak satu dan saat itu seperti belati yang tak kasat mata menikam tepat di ulu hatinya. Bersamaan dengan rintik hujan yang semakin deras di luar sana.


Pihak keluarga yang memang tidak pernah menyukainya, menatap dengan sinis dan mengejek. Seolah mereka berkata, "Terlalu tinggi mimpi mu, Zahira." Tapi apakah kalian tahu, Zahira tidak pernah berharap terlalu tinggi. Zahira murni bersama anak kalian karena tulusnya cintanya pada sang arjuna.


Aira memohon dan menjelaskan atas tuduhan yang tidak benar yang keluarga suaminya layangkan. Tetap saja, mereka menulikan telinga dan semakin memojokkannya. Pun sama dengan suaminya, Aira menghiba di belakang suaminya yang saat itu untuk menatap wajahnya saja enggan. Begitu hinanya kah Aira di hadapan suaminya sehingga sang suami tak mau lagi menatapnya.


Aira yang kasihan, Aira yang malang, Aira yang menyedihkan. Air matanya yang jatuh semakin deras pun dan suaranya yang sesenggukan tak lagi membuat sang suami merasa kasihan atau minimal menatapnya untuk yang terakhir kalinya. Menjadi janda muda di usia 25 tahun dan disaksikan oleh keluarga sang lelaki.


"Woy, melamun pagi-pagi. Kemasukan hantu parkiran tau rasa lo!" Ujar sintya yang tiba-tiba saja tanpa Aira sadari sudah berada di sampingnya.


Aira melorotkan matanya efek terkejut karena ulah temannya. Dielusnya dadanya sambil menatap si pelaku di sampingnya.


"Gue jantungan, mati muda, abis lo gue hantuin seumur hidup!"


Bukannya takut karena perkataan rekan kerjanya, Sintya malah menertawakannya.


"Mau dong dihantuin sama hantu manis kayak, Aira!" Ujarnya mengejek sambil melepaskan atribut berkendaranya.

__ADS_1


Aira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku temannya yang terkenal jahil itu.


"Enggak usah ngelamun pagi-pagi, Ra. Enggak ada faedahnya. Belum tentu orang yang lo lamunin itu mikirin lo." Ujar Sintya seakan mampu membaca isi fikirannya. Sintya memang mengetahui sepak terjang dari seorang Aira. Hanya Sintya yang tahu alasan mengapa ia sekarang menyandang status janda.


"Mending sekarang kita move and on. Tuh di depan Pak Bara udah liatin kita dari tadi!" Tunjuknya dengan dagunya. Di depan sana, Pak Bara/Pemilik restoran sudah menatap mereka sambil kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


"Kenapa enggak bilang dari tadi sih, Sin!" Ujar Aira setengah berbisik sambil berjalan menuju area restoran bersama Sintya.


"Lo nya aja yang ngelamun dari tadi. Ampe enggak sadar dari tadi udah dilihatin sama pak Bos." Belanya dengan nada rendah di samping Rekannya.


Sampailah keduanya dj depan Bara dengan senyum yang dibiarkan semerekah mungkin agar bos mereka itu tidak memarahi mereka. Christian Tanubara namanya. Ganteng iya, manis iya, alis tabal iya, bermata sipit dan jangan lupakan tingginya yang menjulang. Usia 29 tahun yang sudah sukses di usia muda dengan berbagai cabang restoran, Resort dan aset2 yang tidak akan habis sampai tujuh turunan menurut mereka.


Bara yang melihat respon keduanya pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Pintar sekali karyawannya ini mengalihkan perhatian.


"Karyawan teladan ya kalian!" Ujarnya menyindir keduanya. Dari jauh-jauh hari sudah di wanti-wanti agar datang cepat pada saat hari H. Tapi tetap saja telat dan membiarkan teman-teman yang lain bekerja duluan.


"Siap, Pak. Harus itu!"


Bara melototkan matanya mendengar jawaban Sintya yang seolah tak tahu maksudnya. Sabar bara, ucap Bara di dalam hati. Kedua pegawainya tadi sudah berlari menghindarinya sambil menahan senyum.


Sampai di ruang ganti, keduanya masih sempat-sempatnya berbincang.


"Lo liat kan tadi Pak Bara. Pagi-pagi udah disuguhin ama yang seger-seger. Bening banget Ya Allah!" Sintya berkata dengan mata berbinar sambil membayangkan wajah pak bosnya.


"Kebanyakan halu ini anak!" Ujar Aira di dalam hati.

__ADS_1


"Tuh, kalau mau yang seger-seger, masuk sana di dapur. Banyak!" Aira segera keluar dari sana setelah memperbaiki penampilannya. Meladeni ke-haluan temannya hanya akan membuatnya ditegur lagi oleh bosnya.


"Ye, Aira... woy!" Aira tak lagi menghiraukan teman kerjanya. Aira segera keluar dari sana dan menuju ke area restoran untuk membantu temannya yang lain untuk memasang dan merapikan dekorasi acara.


"Mejanya diatur agak ke belakang, ya. Biar nanti ada space luas untuk acara inti nya." Ujar Ria, Pegawai senior di restoran. Dengan sigap Aira dan yang lainnya menggeser letak kursi dan meja.


Saat akan membersihkan area kaca, namanya tiba-tiba disebut oleh lelaki di belakangnya. Saat Aira menengok, ternyata yang memanggil namanya adalah pak bosnya.


Aira yang dipanggil oleh bosnya pun segera mendekat.


"Ada apa pak bos?!" Tanyanya penasaran karena tidak biasanya pak bosnya ini memanggilnya seperti ini.


"Kamu ikut saya, ya. Ada bahan yang harus saya beli di supermarket!" Ujar Bara yang seketika membuat kening Aira berkerut.


"Mohon maaf sebelumnya, nih, pak. Tapi biasanya kan bapak pergi sama Vito. Lagian saya masih banyak tugas yang belum selesai, pak."


"Kalau saya maunya kamu bagaimana?!" Ujarnya yang semakin membuat Aira bertanya-tanya maksud dari bosnya ini.


🌦️🌦️🌦️🌦️🌦️🌦️


Happy reading


Jangan lupa klik like, komen dan jgn lupa fav ya cayang2.


Salam story from By_me

__ADS_1


__ADS_2