Rintik Luka

Rintik Luka
Ikhlas


__ADS_3

Ikhlas adalah satu kata yang orang-orang gaungkan untuk merelakan segala macam perkara kehidupan. Sakit hati, merana, tak sesuai ekspektasi, jalan akhirnya adalah ikhlas. Tapi ternyata lagi-lagi, teori memang lebih mudah daripada mempraktekkannya. Ikhlas tak segampang itu untuk direalisasikan. Perlu hati yang legowo dan besar untuk menggapai kata itu.


Ikhlas artinya merelakan semua jalan hidup yang telah digariskan oleh-Nya. Dan kata itu pun yang sekarang atau sebut saja sudah dua tahun belakangan Aira lakukan. Berusaha untuk meng-ikhlaskan segala bab yang telah terlewati di hidupnya. Aira berusaha keras untuk mejauh-melupakan-dan memaafkan semua yang keluarga Fahreza telah tancapkan hingga ke relung hatinya. Sakit itu pasti, tapi tidak dengan menangisinya berlarut-larut. Mungkin memang itulah garis takdir yang telah Allah tuliskan untuknya. Berpisah dengan lelaki yang paling ia cintai-hormati & ia sayangi.


Aira berusaha mensugesti di dalam dirinya bahwa, ketetapan Allah itulah yang hak & yang patut di imami. Terus berlarut-larut dalam kesedihan hanya akan semakin membuatnya terputuk. Aira tidak ingin membagi kesedihannya pada orang tercintanya. Cukuplah ia yang merasakannya.


"Aira!" Panggilan Sintya menyadarkan Aira dari melamun sore itu. Aira menutup mata sesaat & menggeleng-gelengkan kepalanya dari sendu yang membayangi. Ia tolehkan kepalanya dan melihat sahabatnya berjalan mendekat dengan membawa nampan yang ia pegang ditangan kanannya.


"Kenapa, Sin?" tanyanya sambil menatap sahabatnya yang ia perhatikan memasang wajah yang tak bisa Aira jelaskan.


Sintya mendekat dan berdiri tepat di samping Aira yang sore itu menyandarkan punggungnya di tembok Restoran. Sintya berdiri sejajar dengan Aira sambil menghadap ke depan pada kerumunan tamu-tamu yang sedang berbahagia setelah pengumuman jenis kelamin anak dari keturunan 'old money' di kota itu.


"Kalau nggak kuat, mending lo ke belakang, ra. Biarin gue, Vito & bang Ben yang ngurusin tamu-tamu." Ucapan Sintya sukses membuat Aira menolehkan kepalanya menatap sahabatnya


"Gue bukan orang pesakitan, Sin. Memang sudah tugas gue sebagai seorang pelayan melayani tamu dengan baik." Jawabnya setelah membuang nafas panjang.

__ADS_1


"Lo tau maksud gue, ra. Nggak usah nyangkal & berpura-pura berperan sebagi super woman. Gue tahu lo pasti sakit liatnya." Ucapnya yang membuat Aira seketika bungkam dan menggigit bibir bagian dalamnya. Setelah beberapa detik terdiam, Aira akhirnya menormalkan kembali ekspresinya dan kembali berusaha tegar didepan sahabatnya.


"Di dalam dunia kerja, kita harus profesional, Sin. Gue kira setiap pagi pak Bos nggak ada capek-capeknya ngomong itu sama kita. Dan itu juga yang selalu gue pegang. Siapapun mereka dimasa lalu, sesakit apapun gue atas apa yang gue terima dulu, rasanya gue nggak pantas untuk nggak bekerja sesuai gaji yang gue terima." Aira menjawab penuh kesungguhan. Berusaha untuk meyakinkan sahabatnya bahwa pengalaman sudah mengajarkannya banyak hal.


Sintya hanya bisa menghembuskan nafas melihat ketegaran sahabatnya. Bagaimanapun, Sintya tahu semua sepak terjang Sahabatnya bersama mantan suaminya dulu.


"Tapi kan, ra..."


"Sin, gue udah terbiasa. Gue wanita dewasa yang bukan waktunya lagi menye-menye. Gue udah ikhlas." Ucapnya berusaha memotong aksi tidak terima sahabatnya.


"Diluar sana masih banyak lelaki kali, Sin. Masa nggak ada satu pun yang mau sama gue." Ucapnya bercanda sambil tertawa yang mana tawanya itu akhirnya tertular pada sahabatnya.


Aira menepuk pundak sahabatnya dan bertanya melalui gerakan kepala.


"Pak bos melototin kita dari ruangannya, tuh!" Aira yang mendengarnya pun mengikuti arah pandang Sintya.

__ADS_1


"etdahh... mati kita, Sin. kerja-kerja."


Aira dan Sintya kembali melayani para tamu dan berusaha bersikap profesional. Walaupun beberapa pasang mata menatap Aira secara terang-terangan. Tapi Aira berusaha abai dan sebisa mungkin ia tak menatap mata para tamu yang sore itu secara terang-terangan mempertanyakan pekerjaannya & mungkin menertawakan keadaannya.


Aira & rekan kerjanya yang lain menyiapkan makanan penutup di semua meja. Tapi rasa-rasanya punggungnya sudah mengepul & kepanasan dari tatapan tajam yang Azka layangkan padanya. Bukannya Aira tak tahu. Aira sangat sadar atas tatapan mantan suaminya yang sedari tadi memperhatikannya. Aira beberapa kali tak sadar curi-curi pandang karena merasa diperhatikan sedari tadi oleh mantan suaminya. Saat tatapan mata mereka tak sengaja bertemu, Aira dapat melihat kobaran kebencian dari mantan suaminya diiringi dengan rahang kokohnya yang mengeras. Aira bergidik ngeri membayangkannya. Seandainya bisa menghilang, sudah sedari tadi ia ingin menghilang.


"Mas, aku pengen tambah air putihnya" Kata Maudy istri Azka yang sekarang. Azka menuangkan air mineral ke dalam gelas istrinya dengan telaten. Setelah melakukannya, Azka mengusap rambut istrinya dengan sayang. Semua itu tak luput dari tatapan keluarga besar kedua pasangan yang sedang berbahagia dengan kehadiran cucu pertama dari masing-masing keluarga. Pernikahan yang belum genap setahun dan dengan cepat dikaruniai calon cucu laki-laki. Lengkap sudah kebahagiaan mereka.


Aira menyaksikan itu semua. Rasanya dadanya seperti ditikam oleh belati tak kasat mata. Aira berusaha menelan pil pahit kehidupan. Ternyata ikhlas tak semudah itu. Mati-matian ia berusaha tersenyum melihat kebahagiaan orang-orang di depan sana. Walau sejujurnya, air matanya serasa sudah di pelupuk. Sakit. Apa yang Aira katakan di depan sahabatnya, hanyalah alibi agar bisa terbebas dari pertanyaan-pertanyaan sahabatnya tentang perasaannya.


Azka terlihat sangat menyayangi dan mencintai istrinya. Terlihat dari segala perlakuan dan perhatian yang diberikan. Memang seharusnya seperti itu. Siapa yang tidak bahagia jika apa yang telah dinanti-nanti akhirnya tekabul. Seorang anak yang tidak ia dapatkan dari mantan istrinya. Selama 4 berumahtangga tapi tak jua diberikan. Kini telah ia dapatkan & itu bukan darinya.


Azka-satu-satunya lelaki yang dari dulu ia cintai. Lelaki yang pertama mengenalkan yang namanya jatuh hati, tapi pergi tanpa mengajarkan penawar dari sakit hati.


Aira segera berbalik menjauh dari sana dengan langkah yang sebisa mungkin tak terlihat. Ternyata air mata itu pun akhirnya tumpah jua. SAKIT. Ibarat ada jutaan ton batu yang menghantam dadanya. Aira mengayunkan kakinya menuju bilik toilet dan menumpahkan air matanya yang sebisa mungkin tak didengar orang lain. Menangis tersedu sambil menekan dadanya. Sesakit itu melihat orang yang ternyata masih bersemayam di dada bersama dengan yang lain. Dua tahun yang ia yakini telah mampu menghapus rasanya-sakit hatinya-kenanganya, ternyata runtuh jua hari ini.

__ADS_1


🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️


Hufffff, akhirnya setelah sekian purnama aku lanjut lagi nulis novel ini. Bagi yg belum tahu, novel ini ditulis dari tahun 2021 tp lanjutnya baru sekarang 😬😁 but it's ok. Sangat berharap novel ini bakalan sesukses novel² aku sebelumya. aamiin. Makasih reader 👍 love youuu


__ADS_2