Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir

Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir
Episode 1.1


__ADS_3

"Seperti yang kalian ketahui...." Sepanjang wanita di depan kelas itu menulis kata demi kata pada papan tulis kaca, nyatanya banyak murid yang abai. Macam dua perempuan yang justru asyik tonton episode baru dramanya lewat hologram buku.


Wanita dengan rambut dicepol rapi itu menghentikan kegiatan tulisnya. Iris mata sehijau zamrud di balik kacamatanta pancarkan dingin yang setara dengan kedalaman laut, mengerling tanpa sepengetahuan mereka.


"Tolong simak penjelasan sa----" Belum selesai ia berkata, seseorang lemparkan kulit kacang padanya. Begitu berbalik, hampir semua orang cekikikan tanpa tatap siapa yang mereka sindir.


Andai aku punya kekuatan.... batinnya mampu tenangkan diri.


"Apa yang kalian tertawakan?" Wanita dengan papan nama hologram bertuliskan 'Roro' berusaha tersenyum semanis mungkin. Namun, cekikikan mereka makin jadi, datangkan tatapan dingin yang tak pernah mereka lihat dari kejauhan.


"S-sampai sini dulu, ada yang ditanyakan?" Roro kembali bertanya tanpa tunjukkan perasaan yang sebenar dalam hati.


Jawabannya sudah pasti menurut logika Roro: akan ada satu provokator yang menggaet seisi kelas.


"Heh, Bu!" Seorang gadis berambut panjang kemerahan bangkit membanting buku pemberian Roro. "Bisa nggak cara mengajarnya kayak guru lain? Mereka udah manfaatkan hologram sebagai media pelajaran, lah ini pakai buku terus kita kudu catat materinya? Mikir dong, Bu! Ini tahun 2×××! Jangan kayak gini terus!"

__ADS_1


Sedang yang lain melemparkan Roro dengan barang-barang di meja, seperti buku dan sampah makanan. Namun, Roro dengan santai mengumpulkan sampah, kemudian mengusap kaca di samping papan tulis. Sekejap sampah di hadapannya terjun ke lubang persegi. Sebelum berdiri, iris zamrudnya menggelap dan terlukis beberapa dari mereka yang masih cekikikan.


"Bagaimana, Rara?" Dengan perubahan warna irisnya yang cerah, ia tengok gadis berkacamata yang juga memandangnya. Senyum Roro pun kian manis guna percantik parasnya. "Ada yang mau ditanyakan?"


Rara menggeleng. "Nggak ada, Bu," jawabnya terbitkan senyum lebar.


Yah, selagi Rara menyimaknya, Roro jauh merasa dihargai. Mengetahui Rara selalu meresapi ajarannya, Roro ingin Rara ada di kehidupannya.


****


Jam setengah sepuluh pagi.


"Gimana kelasnya, Nek?"


Seseorang menimpuk belakang kepala Roro pakai gawai ukuran buku A5. Tak terlalu sakit, tapi suasana hati Roro langsung rusak. Bagaimana ia tak marah ada yang layangkan serangan ketika asyik melamun?

__ADS_1


Namun, ia harus menahan amarahnya, atau kemungkinan terburuk akan terjadi.


"Lu-lumayan lancar," jawab Roro seramah yang ia bisa.


"Lumayan lancar atau...." Sekonyong-konyong dia tahan tawa di balik seringai sinis, "banyak masalah gara-gara cara kamu mengajar?"


"Kamu pandai menebak, ya." Padahal dari balik mimik ramah Roro, batinnya terus merapal satu kata paling jitu: sabar.


"Lagian ya, Nek." Dia duduk di meja Roro yang kini mengemasi puluhan kertas. "Kamu kelahiran tahun berapa sih? Masa nggak tau ini era digital?"


"Lahir tahun 1400 kali!" Seorang lelaki muda dengan pakaian rapi layaknya orang kantoran coba menebak.


"Bisa jadi dia lahir pas zaman Adam."


Dan tawa seisi guru meledak dengan Roro sebagai pusat merrka berkerumun. Masih bermuka tenang dan ramah, Roro menjawab:

__ADS_1


"Kalian benar. Lalu, mau nggak ajari aku teknik jadi guru di era 2×××-an?"


Akan tetapi, batinnya berkata: aku bukan kelahiran tahun 1400 maupun pas zaman nabi Adam.


__ADS_2