
"Roro?"
Suara berat itu menarik perhatian Roro, lekas beranjak menemui pria tegap dengan rambut banyak uban. Persetan orang-orang yang berbisik tentangnya.
"Kamu ada waktu untuk ke ruangan saya?" tanya pria itu tersenyum ramah. "Ada yang ingin saya bicarakan."
Lantas Roro menjawab dengan senyum paling manis untuk ukuran wanita ayu: "Tentu, Pak."
****
"Saya harus ikut pelatihan mengajar?"
"Iya." Isi dua cangkir kopi tersebut sedikit bergetar akibat dia mengetik sesuatu di meja serbaguna----itu yang Roro paham di era 2×××. Apa yang beliau ketik tergambar jelas di layar hologram, bahkan bisa disentuh andai dia tak beritahu Roro supaya diam.
"Anda perlu tahu bahwa saya selalu mengawasi kinerja guru dan siswa." Pria itu menunjukkan beberapa layar berupa rekaman CCTV tentang apa yang beliau maksud, hanya dengan sekali geser.
"Setiap hari saya akan memberi sanksi pada mereka," sambungnya menyentuh satu per satu wajah. Muncul lagi banyak layar yang tampilkan data orang-orang. "Mau itu guru atau murid. Salah satunya adalah kamu, Roro."
Terakhir kalinya, sentuhan pria itu berhasil munculkan data Roro.
__ADS_1
"Dari awal kamu mengajar sampai sekarang, kesalahan yang buat siswa enggan mengikuti ajaranmu karena metode mengajarnya----aku mau tak mau harus bilang----terlalu kuno."
Terlalu kuno.... Dua kata tersebut seakan keluar begitu saja dari tatapan Roro yang kosong nan dingin.
"Tapi, saya cukup tertarik dengan pengetahuanmu tentang segala hal," imbuhnya.
Perhatian Roro kembali pada ponsel pintarnya yang lebih mirip kertas memo. "Jadi itu sebabnya Anda minta saya ikut pelatihan?"
"Ya, berdasarkan pengamatan saya sejauh ini."
"Saya tak bisa ikut ini," kata Roro balik menatap sang atasan dengan raut datar. "Saya punya jam mengajar."
"Sekitar jam berapa?"
Lekas tangan besarnya bergerak usap layar hologram. "Saya akan gantikan----"
"Jangan." Dan sekejap Roro mencengkeram tangan dia. Sorot mata Roro pun makin menusuk. "Saya tak mau cemari pekerjaan saya."
"Ini demi kebaikanmu, Roro," katanya tak kalah serius. "Demi kualitasmu, demi kualitas sekolah saya juga."
__ADS_1
"Saya. Punya. Jam. Mengajar," kata Roro menekan ucapannya.
"Apa pentingnya jam mengajarmu ketimbang pelatihan yang jelas meningkatkan kualitasmu?" Dia menyipit penuh selidik. "Apa ada sesuatu yang jauh lebih penting?"
Tatapan Roro kian dingin bagai lekukan di bibir yang tiada lagi kata senyum. Pikirnya, ikut pelatihan sama saja membuang waktu untuk mengamati seseorang. Namun ... sudahlah. Akhirnya ia terpejam sejenak.
"Baiklah," kata Roro membenarkan letak kacamata perseginya. "Kapan saya harus ke sana?"
"Jika kamu mau," beliau tersenyum tipis, "sekarang pun bisa."
Aku tahu maksudmu ikut pelatihan ini bersifat wajib. Begitulah yang tertuang dari warna gelap pada iris zamrud Roro. Namun, itu hanya sekejap.
"Saya permisi, Pak."
Roro mendekat ke pintu pun, ia bisa dengar bahkan melihat sekumpulan manusia tengah menguping. Dasar sok suci, batinnya sampai kepalkan tangan secara tak sadar.
Pintu terbuka. Roro sudah tahu perkara mereka yang akan menyambutnya dengan tatapan dan senyum sinis. Tetapi, wanita berambut panjang disisir rapi itu tetap sunggingkan senyum ramah.
"Saya permisi dulu." Ia melenggang dari khalayak para pendosa, tampakkan raut wajah datar dan pijakan sepatu selop hitam yang kini tinggalkan jejak cipratan air laut. Tapak tersebut mengarah pada kelas 2-1, kelas tempat perempuan berambut panjang belajar sendirian.
__ADS_1
"Rara." Perempuan itu spontan menoleh. Terkembanglah senyum yang amat lebar.
"Ada sesuatu yang harus saya sampaikan."