Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir

Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir
Episode 4.2


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 11 malam. Hujan telah berhenti. Tengah malam begini, Kota ini terasa ramai karena sinar ungu yang memabukkan. Roro tetap akui, siang dan malam sama saja. Entah alasan apa yang membuat Roro selesaikan tugasnya sebagai guru. Merangkum materi besok beserta soal latihan di laptop hologram yang ia beli. Roro jadi tertegun. Seniat inikah ia bersandiwara demi Rara? Bahkan Roro belum bisa bilang Rara itulah pemegang kitab neraka. Lalu pasal sekumpulan remaja berandalan itu, Roro baru sadar. Mereka orang sama yang merundung Rara.


Benarkah semua tindakan Roro semata melindungi Rara? Jawabannya terdapat pada kilatan bintang jatuh. Bintang yang cukup dekat dengan kediaman Roro. Cahaya yang menyita perhatiannya. Roro lekas lantunkan satu permintaan: harap-harap Roro melindungi Rara sewajarnya.


Setidaknya, Roro cukup percaya terhadap sesi ucapkan permintan pada bintang jatuh. esoknya, suasana kelas berlangsung biasa dan sedikitmenguras suasana hati baik Roro. Beberapa kursi kosong. Dugaan Roro benar. mereka kemarin adalah siswa kelas ini. Namun, membasmi beberapa bukan berarti masalah Rara selesai.


Siswa yang hadir masih mau merundung Rara dengan kata-kata sinis maupun lemparan bola-bola kertas. Roro bisa saja bersabar dan tetap mengajar seperti biasa, andai mereka tak juga meledek bahkan lelaki ambil tindakan seksual macam tepuk pantat Roro.


"Bisakah kalian semua diam?" Roro melirik anak-anak dengan senyum----terpaksa----ramah. Dalam hati, ia telah menyumph serapah. Kalau Tuhan tak keberatan, ia muntahkan saja mantra-mantra supaya mereka takut akan tatapannya. "Lalu, jangan ganggu Rara."


"Mentang-mentang Rara disayang."


"Kuy serang orangnya!"

__ADS_1


Sialan, Roro tetap bilang begitu. Jangan sakiti Rara. Dan inilah imbasnya. Roro dilempari bola-bola kertas. Telinga berrdenging akibat seruan negatif dari mulut anak muda. Mereka menyebutnya nenek sihir lah; guru ketinggalan zaman lah; atau apapun.


Samar-samar, pupil mata Roro mulai pudar. Gelembung-gelembung kecil semakin banyak di sana.


"Roro?" Hah, selamatlah kalian. Pupil mata Roro tak jadi menghilang. Ia tengok, seorang pria bersetelan kemeja dan jas super rapi berdiri di ambang pintu. "Bisa kita bicara sebentar di luar?"


"Tentu." Namun, dalam hati, Roro tetap menyembur sumpah serapah kepada murid-murid. Tuhan masih menyayanginya! Bermodal senyum ramah palsu, Roro melengos temui kepala sekolah alias pria tadi.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya sesopan mungkin, padahal pikiran Roro sepenuhnya mengawasi keadaan dalam kelas.


"Dimengerti." Suara selembut ibu menegur anaknya pun, kalau Roro yang melakoninya, ada bunyi bas seperti suara monster.


"Lalu, ini hasil ujian bulan kemarin." Beliau menaruh sebuah kartu kecil ke telapak tangan Roro. "Beritahu saja bahwa itulah hasil yang mereka dapat. Guru yang mengadakan ujian sedang absen."

__ADS_1


"Baik." Lepas itu, Roro kembali masuk kelas dengan sepintas ingatan. Dia bilang Roro ketinggalan sesuatu, tapi apa?


Sejenak Roro masukkan kartu tersebut ke samping papan tulis. Dalam sekejap, muncul daftar nilai ujian sejarah dengan nama Rara sebagai peringkat pertama. Hanya hiburan amat sebentar bagi Roro yang sibuk mengingat sesuatu. Apa yang ketinggalan? Ia sampai obrak-abrik barang bawaannya. Terdengar bunyi denging dan Roro bergeming.


Spidol. Barang penting itu ketinggalan bersama kotak pensil.


"Rara, bisa kau ambilkan kotak pensil di meja saya?" kata Roro melirik salah satu murid paling ia kenal. Ah, lihatlah betapa cantiknya Rara ketika tersenyum lebar. Dia berdiri sambil menerima bantuan Roro, kemudian lenyap dalam pandangannya. Harap-harap Rara tahu meja kerja Roro.


"Ah.... Ini hasil ujian kalian. Bagi yang nilainya bagus, berbanggalah. Namun, baik yang nilainya tinggi atau rendah, kalian perlu belajar lebih lama lagi supaya paham."


Dan Roro tak peduli mereka mendengarkan atau tidak. Selanjutnya, tabel nilai itu berganti dengan hologram berbentuk peperangan salah satu kerajaan di Indonesia. Pintar sekali orang yang membuat bentuknya. Baru beberapa kalimat Roro jelaskan, ingatannya kembali peringatkan satu hal.


"U-untuk penjelasannya, silakan baca buku halaman 30. Bertanyalah sesuka hati kalian, anak-anak." Namun, pikiran Roro sepenuhnya pada ingatan samar. Katanya, peringatan tersebut berhubungan dengan Rara. Gadis itu sedang ambil kotak pensil. Dan kotak pensilnya....

__ADS_1


Sialan! Mata Roro langsung bulat sempuna. Bahkan pupilnya menghilang begitu saja. Ia lekas beranjak pergi dari kelas. Andaikan para manusia tidak diberikan rasa curiga, ia bisa gunakan kekuatannya dengan bebas. Roro harus sembunyikan kekuatan berpindah tempat, diganti dengan berlari cepat. Persetan roknya sobek.


Karena Roro khawatir Rara mati karena kitab neraka yang menindih kotak pensil keramat itu! []


__ADS_2