
Waktu Roro mengajar tinggal setengahnya. Mungkin tak masalah bila diisi dengan menerangkan materi. Ini tidak. Roro lebih banyak diam. Roro lebih banyak memandang Rara. Dan hampir seluruh kelas mengolok-oloknya. Roro tak peduli. Toh, ia juga tak betah di sini setelah tahu watak utama spesies bernama manusia. Jahat. Bengis. Egois. Seakan mengerti diri sendiri. Dasar manusia sok benar. Jika Rara bersedia jadi pemilik kitab neraka, urusan Roro di dunia manusia sudah selesai. Ia takkan pernah sentuh tanahnya.
"Roro." Perlu kalian tahu, setiap guru diwajibkan pasang handsfree. Mereka tak perlu lagi datang ke ruangan tertentu bila ada hal penting dari kepala sekolah. "Sudah waktunya kau pergi ke program pelatihan lagi."
"Baik." Ya, setidaknya titahan kepala sekolah adalah bentuk pengalihan bagi Roro. Tanpa pikir panjang, ia kemasi barang bawaan dan perintahkan seluruh murid untuk kerjakan soal latihan yang ia buat kemarin. Persetan mereka menurut atau tidak. Usai demikian, Roro langsung lari keluar dari sekolah. Satu pijakan terakhir mengurai tubuhnya menjadi percikan air. Seketika hujan turun kembali, bahkan kala Roro tiba di lokasi tujuan lewat gang sempit berisikan bangkai besi.
Baiklah, Roro mulai perannya sebagai guru.
Apakah Roro benci program pelatihan yang beliau rekomendasikan? Tidak. Ia justru senang. Selain terbebas dari emosi negatif bersumber perlakuan bangsat muridnya, tiap sesi memaparkan satu topik yang merangsang rasa ingin tahunya. Roro tak sabar mau praktekkan materi di sini untuk sekolahnya. Bukan demi percantik namanya, tapi untuk Rara.
__ADS_1
Gadis itu amat menarik perhatian Roro, terlebih baru tahu kalau dia tak kenapa-kenapa bila pegang kitab neraka.
"Kita akan membahas bagaimana mengetahui karakter murid." Suara hologram wanita paruh baya. Wah, wajahnya yang keriput sana-sini dan kacamata berantai yang bertengger di pangkal hidung seakan memanipulasi pikiran Roro. Orang ini nampak baik, pikirnya sambil tekan tombol di ponsel hologram pada jam tangan untuk rekam suara.
"Memang apa pentingnya memahami karakter murid?" Jelas penting. "Begini. Jika kamu mengenali muridmu lebih dalam, kamu bisa menemukan banyak celah supaya murid bisa berprestasi tanpa harus merasa tertekan. Dengan memahami murid yang kamu ajar, mungkin kamu bisa tau salah satu muridnya lebih cocok belajar pakai metode apa. Bisa jadi lebih paham bila guru menulis penjelasan materi, atau crpat mengerti kalau guru menyuruhnya baca."
Betul. Maka dari itu, Roro sering minta Rara ke ruangannya. Bukan mengintrogasi, sekadar bertanya bagaimana perasaannya selama belajar.
Sontak semua pasang mata tertuju pada dua perempuan yang duduk berhadapan di sebuah meja. Begitupun Roro yang terbelalak secara samar. Ada kilau cahaya di balik iris zamrudnya. Anak ini ... sungguh paham dengan caranya mengajar?
__ADS_1
"K-kau yakin, Nak?" Sedang yang ditanya malah mengangguk mantap.
"Saya lebih senang kalau Bu Roro tetap mengajar di sini. Harap-harap begitu." Kalimat selanjutnya mulai memelan.
"Kenapa kamu berharap seperti itu?" tanya Roro menyipit ingin tahu.
"Karena ... entah kenapa saya merasa aman ketika Bu Roro masuk kelas."
Semakin Rara menunduk, ekspresi Roro semakin jelas. Terperangah. Terkejut. Tak percaya dengan ucapan Rara barusan. Benarkah dia bilang begitu? Pasalnya, ada kehangatan di dalam dada Roro sekarang.
__ADS_1
"Baiklah, ke depannya saya mohon bantuannya, Nak." Karena kaulah harapan terakhirku untuk keselamatan kaum gaib. []