Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir

Roro: Dan Pemegang Buku Neraka Terakhir
Episode 1.4 - 2.1


__ADS_3

Tiada angin tiada gempa, satu per satu orang mulai tumbang memegang lehernya. Begitu pula gadis di hadapan Roro. Napas mereka memendek.


"Meski kamu bilang gitu, saya tetap seorang guru yang harus tegur murid bermasalah," sambung Roro, perlahan redakan tawanya. Di dalam iris zamrud Roro, uap hitam dan kilau putih seakan berputar untuk bersatu.


Indahnya melihat mereka mengap bak ikan di daratan. Tetapi, tiada lagi senyum di bibir semerah darah itu. Roro dengan kacamata bertengger di pangkal hidung dan selalu sambut orang lewat wajah semringah, berubah jadi datar nan dingin.


"Nek Roro?" Bahkan seseorang serukan namanya, ia lirik seakan mau terkam orangnya. Tatapan Roro buat dia memekik bak tikus terjerat perangkap.


"Ha-harusnya Nenek masih ikut pelatihan, kan?" tanyanya terbata-bata.


"Apa urusannya dengan saya?" Roro balik bertanya dengan sorot mata tajam. "Lagian pelatihannya sele----"


"Nggak bisa!" potongnya menggeleng cepat. "Nenek harus ada di sana, kayak orang-orang yang ikut pelatihan mengajar!"


Dia ambil ancang-ancang, kemudian lompat ke arah Roro dengan tangan terentang lebar.

__ADS_1


"Dasar bodoh."


Wanita berbadan semok tersebut mendarat tertelungkup. Tubuhnya basah kuyup. Sontak ia kaget akan baju kesayangannya, lalu melirik ke belakang.


Dia menghilang tinggalkan genangan air asin, disusul embusan napas lega di kelas. []


Episode 2.1


Mata berpoleskan eye shadow warna gelap tiba-tiba terbuka. Iris zamrudnya menciut. Pemandangan berupa sekumpulan orang dewasa berpakaian rapi yang tengah bercengkerama bukan penglihatan yang Roro lihat. Mereka....


"Tolong ... aku."


"Mereka buat saya marah besar," gumamnya menggeram ngeri. Segera ia pasang kacamata, walau ia tahu benda tersebut hanya hiasan.


"Anu, mbak?" Seseorang menyapanya, lantas Roro berusaha bersikap seramah mungkin. "Ada tisu?"

__ADS_1


"Ada." Roro tersenyum manis----itu palsu. "Sebentar."


Tanpa sengaja Roro menyentuh buku bersampul kulit di dalam tas. Sejenak ia abaikan untuk serahkan dua helai tisu pada wanita berusia 40-an menurut penglihatan Roro. Dia pergi, barulah ia ambil pustaka itu.


Hmm, sampulnya banyak yang mengelupas, banyak menempel di jemari cantiknya. Sudah tua. Ntah buku ini turun-temurun atau bukan.


"Saya harus yakinkan dia sebelum tiba waktunya mereka binasa oleh manusia," katanya setelah mengatur napas. Kejadian tadi membuatnya harus dipacu adrenalin.


Rara, terbujur kaku melindungi tubuhnya yang baru kemarin alami luka parah.


Puluhan siswa menghajarnya tanpa ampun, kebanyakan menendang Rara layaknya bola.


Bahkan Roro lihat ada darah.


"Ini tak bisa dibiarkan." Tanpa sadar, tangan Roro terkepal kuat, sekalipun salah satunya menggenggam tas jinjing hitam. Sayang sekali, amarah Roro harus menguap akibat pemberitahuan AI bahwa pelatihan akan dimulai beberapa menit lagi.

__ADS_1


Melihat sebagian besar peserta mempersiapkan diri, segera ia ambil langkah cepat. Pijakan sepatu selop hitam dengan heels lima sentimeter itu terus melampaui satu per satu peserta. Bukan karena materinya menyenangkan, melainkan nilai dari sorot mata Roro di balik kacamata: murka ... gelap ... mencekam hingga aura sekitar terasa sedingin air di kedalaman ratusan meter. Banyak orang menggigil bahkan menampakkan gejala flu. Persetan dengan manusia.


"Mereka. Harus. Mati."


__ADS_2