
Roro harus temukan orang bernama Rara. Sebab itulah Roro datang ke dunia manusia yang sesungguhnya. Sebuah wilayah penuh jalan dan gedung-gedung pencakar langit dengan sinar ungu pekat. Langit gelap, tak pernah disentuh bulan maupun bintang. Sungguh mengerikan bila Roro tinggal lama di sini. Namun, misi mencari seorang Rara harus ia tunaikan. Demi keselamatan bangsanya. Demi menyadarkan manusia bahwa kepintaran takkan pernah bisa menyaingi dewa-dewi, apa lagi Tuhan Yang Maha Esa. Mereka seakan mampu, tapi manusia itu lupa tubuh dan jiwa tercipta oleh tangan Tuhan.
Begitulah yang Roro rasakan ketika memandang sekumpulan remaja yang bersorak riang amati suatu kekejian. Hujan turun makin deras, tapi malam takkan mau tergantikan oleh pagi, siang, atau sore.
Mari ia lihat, seberapa lama mereka nikmati aksi mengerikan itu. Menyiksa sesama manusia secara bergantian. Saling pukul. Saling tendang. Saling lemparkan berbagai macam barang di sekitar. Roro penasaran, bagaimana reaksinya ketika ditantang pegang kitab neraka selama mungkin.
Hmm, ide yang bagus. Seringai terbit tak mengurangi kecantikan Roro yang awet muda dan lemah lembut. Licik. Istilah itu masih belum cukup untuk mengartikan ekspresinya. Toh, ia harus dapatkan sosok bernama Rara secepat yang ia mampu. Rara yang Roro temui mungkin bukan salah satu kandidat kategori 'pemegang kitab neraka bernama 'Rara'.
Dari ketinggian tumpukkan bangkai mobil, Roro entak-entak kaki dengan keras. Biarlah perhatian mereka terpancing, kemudian Roro turun mendekap kitab neraka yang diselimuti arus deras air.
"Siapa lo?" Namun, lelaki berjaket hitam itu segera ditahan seorang cewek.
"Lo guru kuno itu, kan?" terkanyaersenyum miring. "Yang mengajar dengan teknik kampungan. si nenek Roro."
__ADS_1
"Betul." Meski suaranya lembut, tatapan dan senyum licik menyertai langkahnya. "Saya minta maaf. Sudah seharusnya saya mengubah sistem mengajar yang kuno menjadi modern seperti guru kebanyakan."
"Memang seharusnya begitu, dasar g*blok."
"Betul." Ucapan gadis tadi kembali undang riak air di manik matanya. "Jadi ebagai permintaan maaf, apa kalian semua mau membakar buku ini?"
"Wah, lo yakin mau bakar buku dekil itu?" tanya si lelaki berjaket itu disusul tawa sinis semua remaja.
"Iya." Semakin keruh warna hijau di irisnya, hujan kian deras dan menyakitkan. "Anggap saja ini bentuk melepaskan kebiasaan saya menggunakan sistem mengajar zaman dahulu."
"Gue pengen lihat dong!"
"Buka bukunya, woi."
__ADS_1
Terus.... Teruslah mendekat. Tiada lagi senyum di bibir merah Roro. Sentuhlah permukaan buku itu. Semua harus menyentuh kitab neraka.
"Anjir, nggak bisa dibuka."
"Ah, masa? Sini kita buka bareng-bareng." Mereka serempak menghitung mundur. Tiga.... Dua....
Dan batin Roro berkata: satu.
Hujan berhenti mendadak. Kitab itu pancarkan cahaya yang sama, tapi sekarang dia hidup. Cahaya mau melahap jiwa mereka. Hawa panas ingin membaluti tubuh mereka hingga tersisa abu. Para remaja tengil berteriak jatuhkan kitab. Percuma, efeknya hidup. Cahaya dan hawa panas telah ciptakan lidah api yang membakar manusia. Ada yang menggeliat, mengumpat pada Roro, bahkan menjerit bak orang kerasukan.
"Indahnya suara kalian." Jangan pernah berharap Roro tersenyum sengah atau pasang wajah semringah atas penderitaan manusia tak tahu diri. Ia tetap enggan tersenyum, pun tatapannya kembali dingin. Riak air semakin banyak di iris zamrud Roro. Seketika hujan datang membawa tetes-tetes tajam yang mampu koyakkan tubuhnya.
"Tidak ada Rara di sini." Lantas, Roro ambil kitab neraka kemudian berlalu abaikan mayat para pendosa di bawah umur. Mereka pantas mendapatkannya. Toh, perundungan dengan objek manusia secara acak adalah tindakan paling jahat.
__ADS_1
Sia-sia ide Roro.