
"Entah kenapa saya merasa aman ketika Bu Roro masuk kelas."
Sialan. Roro malah kepikiran terus. Pas mandi, makan, ataupun tidur, pasti terlintas ucapan perempuan dengan senyum semanis gula itu. Ia sampai bangun dan termenung amat lama. Benarkah Rara merasa aman? Memang apa yang ia perbuat sampai Rara bisa bilang demikian? Roro hanya mengajar dan melindungi murid sewajarnya.
Atau mungkin tidak.
Pikiran Roro makin kacau. Sejenak wanita yang rambutnya tergerai panjang itu memandang suasana di luar. Langit ketika malam menguasai terlihat lebih pekat dari tinta Cina. Aneh, tapi memikat. Roro lekas dekati jendela yang menampilkan semburat ungu dengan sukarela itu, lalu meraba kaca berteteskan air hujan.
__ADS_1
"Hujan belum berhenti, ya." Roro mendengus enteng sebelum otak-atik jam tangan yang mengarahkannya pada meja kerja. Ada garis lurus yang mengambang di sana, berubah menjadi spektrum sesuai dengan suara file audio yang Roro setel.
"Tanpa mengetahui karakter murid, tentu kamu akan tahu mengapa nilai anak-anak menurun. Makanya, kita perlu selidiki alasan seseorang punya nilai jelek. Di sinilah manfaat mengenali karakter mereka terkuak." Dan mata Roro mulai pancarkan aura dingin yang membeku.
****
Salah satu cara paling mudah menurut Roro ialah mengamati perilaku anak sekolah. Rara tentu cocok jadi objek observasinya. Bukan sekadar jadi hasil praktek dari program pelatihan, melainkan demi tujuannya. Rara harus bersedia jadi pemilik kitab neraka.
__ADS_1
Sayangnya, dugaan Roro salah. Rara bukan murni seorang yang ceria, selalu tersenyum, dan aktif. Menggunakan kekuatannya berupa embun di jendela kelas, Roro bisa lihat Rara seperti patung. Dia tak bergerak hingga tiada ekspresi di wajahnya. Saat pulang pun begitu. Roro perhatikan, cara jalan Rara ketika berangkat dan pulang sekolah sangat berbeda dengan momen Roro mengajaknya jalan-jalan. Jalan dia sempoyongan, mirip mayat hidup.
Ini tak bisa dibiarkan. Malamnya, Roro tak keberatan waktu rehatnya habis untuk merancang rencana. Ia harus lakukan sesuatu supaya Rara tak lagi murung. Rara harus bersemangat belajar. Rara layak bahagia. Waktu berjalan cepat kala Roro menulis halaman demi halaman. Mendadak sinar merah menyelimuti tubuh Roro dari luar.
"Ah, jangan lagi." Ia telusuri sumber cahaya merah ini, walau sudah menduganya. Bulan purnama merah menerangi malam. Ukuran bulannya dua kali lebih besar ketimbang fase normal. Semua orang berkerumun pandangi objek luar angkasa yang unik itu, beberapa nekat memotret momen langka. Tetapi bagi Roro, bulan purnama merah melambangkan keburukan.
"Aku tak bisa kendalikan kekuatanku." Tanpa sadar Roro menggigit jari. Bagaimana caranya Roro bersikap seperti manusia biasa? Sampai jarinya berdarah pun, otak Roro buntu. Waktu berlangsung lama sampai ia berhenti gigit jari. Mata Roro memercik kilau indah.
__ADS_1
"Tak ada salahnya, kan?" Toh, esoknya Roro pergi ke sekolah hanya bermodal teleportasi. Tak ada siapa-siapa. Entah itu murid maupun guru. Roro sengaja datang pagi buta, sebab itulah muncul senyum tipis di bibir merahnya.
Kemudian, satu jentikkan berbunyi gema.