
"Cara tadi adalah salah satu kunci untuk jadi guru yang berkualitas...." Sepanjang waktu berjalan, Roro hanya duduk tegap dan bertopang dagu, memandang hologram yang tampilkan pemateri. Matanya amat suntuk. Roro hanya ingin sesi prakteknya, barusan lihat brosur secara teliti.
Iris zamrud Roro mulai berpaling. Di balik warna hijaunya yang indah, tiada warna yang gambarkan suasana hatinya. Tanpa kilau. Tanpa gradasi warna yang akan percantik parasnya.
Apa yang Rara lakukan di kelas tanpanya?
Apa gadis itu akan dikucilkan lagi?
Apa perempuan itu akan babak belur lagi?
Apa puan yang ia kenal itu bakal....
Roro refleks terbelalak dan memejam sekuat tenaga. Ia tak boleh berpikir seperti itu. Konsentrasinya buyar sudah. Ia tak dapat menyerap setiap kalimat dari pemateri. Perlahan Roro memejam lembut, seperti irama pernapasannya.
Objek pertama yang Roro lihat bukan hologram dan beberapa meja akrilik, melainkan ruangan kecil serba kaca hingga barang-barang di sana. Mata bulat Roro seketika menyipit tajam.
__ADS_1
"Sudah kuduga akan begini," gumamnya menggeram. Ia berdiri di ambang pintu, tengah tengok perempuan dengan lebam pada sekujur tubuh. Dia berdiri mengerahkan sisa tenaga di hadapan siswa-siswi yang cekikikan lakukan banyak aktivitas tak berguna menurut Roro.
"T-tolong kerjakan tugas----"
"Berisik." Alangkah terkejutnya Roro dengan balasan mereka. Kedipan mata tadi membawanya kembali pada suasana pelatihan. Tanpa ia harus bertahan pun, Roro mampu bayangkan setiap adegannya.
Rara akan dilempari sampah.
Jika tetap gaungkan tugas darinya, mereka langsung main keroyok menaruh banyak luka.
Ini tak dapat Roro biarkan. Kilau melesat cepat di iris zamrud yang pantulkan hologram.
"Aku harus belajar keras untuknya," cakapnya di sela munculnya riak samar pada botol air mineral.
Riak tersebut memperkeruh warna irisnya.
__ADS_1
****
"Terima kasih atas kerja keras kalian untuk pelatihan hari ini." Usai dengar salam perpisahan dari pembawa acara, semua guru berjalan cepat demi secuil kenikmatan hakiki. Roro adalah salah satu dari mereka. Berpindah menuju ruangan berikutnya, wanita berkacamata itu telah menghilang sisakan genangan air.
Sepasang sepatu selop yang barusan tinggalkan air tersebut kembali berpijak di lorong berbeda. Roro dengan tatapan tajam berjalan cepat menuju 2-1.
"Aku yakin perbuatan mereka akan lebih dari yang kukira," gumamnya memperkeras mimik geram di wajah cantiknya. Dan benar saja, sekumpulan manusia berseragam putih abu-abu itu tengah layangkan tinju bertubi-tubi untuk satu orang. Bukan cuma lebam yang Rara dapat, tapi darah mengucur di sudut bibir dan lubang hidung.
"Anu, permisi." Roro dengan tampang penakut yang dibuat-buat mulai dekati mereka. Puluhan pasang mata berpusat padanya. Ia berkata, "J-jangan sakiti Rara. Biar gimanapun, Rara tetap manusia, kan? Sama seperti kalian."
Tatapan penuh kegelapan itu seakan membalas ucapan Roro, khususnya seorang perempuan berambut panjang ikal sepinggang yang tengah jambak rambut Rara.
"Jadi, buat apa kalian sakiti sesama manusia?" Roro berusaha bersikap seramah mungkin, seceria yang ia bisa. Namun, tampaknya usaha Roro sia-sia semenjak gadis itu perpendek jarak dengannya.
"Lo mau bernasib sama kayak Rara?" Dia bertanya sambil tunjuk dada Roro menggunakan kuku panjangnya. "Mending lo diam aja."
__ADS_1
Roro justru tertawa kecil, mengundang kerut di dahi mereka. Ia pandang gadis di depannya, penuh misteri. "Kamu ingatkan saya dengan sang adik, ya," katanya masih tergelak.