
Hah, nasib sudah ia harus punguti kertas satu-satu. Namun paling penting, mereka harus ia atasi. Dengan langkah lebar, Roro pergi menuju sumber suara. Nampaknya berasal di ruangan singgasana.
Betul saja, sekumpulan makhluk hidup dengan bagian-bagian tubuh yang aneh bergerumul di hadapan kursi tahta Roro.
"Nyi Gusti----"
"Diam." Satu lirikan dari Roro bisa membelahnya jadi berkeping-keping. "Diam sebelum saya putuskan untuk bicara."
Semua makhluk bisu, hanya mengamati Roro berjalan anggun menuju kursi tahtanya. Ketukan sepatu hak tinggi yang terbuat dari emas asli menggema hingga gemericik air bersenandung.
"Katakan maumu," kata Roro begitu duduk dengan tangan menumpu di atas lutut yang rapat. "Perwakilan."
"Nyi Gusti...." Setelah lama taka ada yang bersuara, salah seorang pria dengan mahkota seukuran peci pun bicara sambil berjalan segan. "Tahun sekarang, hampir seluruh manusia di daerah nusantara melupakan nama-nama kita. Seperti betapa kuatnya Anda, betapa hebatnya kerajaan Majapahit dalam memperluas wilayah, bahkan seberapa tenarnya makhluk-makhluk gaib saat itu. Mereka telah melupakannya. Dengan begitu, kami merasa terancam. Daerah kami direbut manusia tanpa izin, yang tak tahu bahwa itu milik kami."
"Betul." Suara lemah lembut itu berasal dari wanita berambut panjang dengan pakaian putih bercampur noda tanah. Wajahnya begitu mengerikan kala mendongak pada Roro dan rambutnya tersibak dari wajah. Mata merah. Hidung cekung. Gigi-gigi tajam yang mampu mengunyah tulang makhluk hidup seperti manusia. "Semenjak mereka tak percaya takhayul, banyak manusia yang asal meng-hak milikkan daerah kami. Jika seluruh daerah nusantara dipenuhi bangunan-bangunan BANGSAT itu, di mana lagi kami harus tingal selain di dimensi lain yang selalu berubah-ubah tempatnya?"
__ADS_1
"Inilah kiamat bagi bangsa kita." Seekor harimau dengan perawan manusia mulai menggeram murka. "Ini kiamat bagi makhluk gaib, Nyi Gusti."
Setelah itu, banyak bunyi bising yang memperkeruh pikiran Roro. Wanita dengan kuncup bunga melati bergantung di rambutnya hanya bersandar tanpa tinggalkan keanggunannya sebagai seorang ratu. Lihatlah. Bersorak pasrah. Berseru marah. Menangis histeris.
"Sungguh bunyi yang memuakkan." Sekali Roro berbicara, semua kembali senyap. Seluruh pasang mata mengarah padanya yang tetap pamerkan tatapan datar. "Baik semuanya bubar jika terus berakhir seperti ini."
Sementara makhluk gaib dari berbagai jenis menunduk segan, Roro mendongak sedikit. Di langit-langit muncul pusaran air yang menggambarkan suasana di luar sana. Manusia. Kata mereka, spesies itu mau membuat kiamat bagi kaum tak kasat mata? Namun, yang Roro lihat justru orang-orang yang tertawa riang. Dari anak kecil sampai lansia. Tunggu, lansia? Roro mengecualikannya. Ia selalu mendapatkan cerminan nenek-nenek dan pria tua yang merenung menunggu ajal.
"Semua keluhan kalian akan saya pertimbangkan dengan bijak." Roro kembali memandang para penghuni dimensi lain. Mereka tetap menunduk patuh. "Kalian bisa pergi sekarang. Saya akan cari tahu kebenarannya sekarang juga."
Namun, Roro tak pernah tidur. Puluhan jam ia habiskan dengan mengamati, menganalisa masalah, sampai berdiskusi dengan para peramal. Roro sering membantah bahwa manusia tak sekeji itu. Mereka mencoba menghancurkan bangsa gaib? Roro rasa itu tak masuk akal. Manusia tak bisa melenyapkannya.
"Nah, tidak ada salahnya membenarkan ucapan para bawahanmu, Nyi Gusti Roro." Salah satu dari puluhan sosok bertudung putih mulai melirik Roro. Semua menutupi matanya dengan sehelai kain. Makhluk gaib sekelas Roro pun takkan bisa melihat bagaimana wujud iris matanya. Kain yang menutupi tubuhnya, terlihat tebal tapi seindah sutera. "Jika mereka benar, maka satu-satunya pilihan kita ialah menggunakan kitab neraka."
Kitab neraka....
__ADS_1
Kitab neraka, ya? Menurut para peramal (begitulah Roro memanggil mereka), kitab neraka memuat salah satu cara paling keji agar kiamat makhluk gaib tidak terjadi hanya dengan melihat penyebabnya. Kalau kinerja kitab neraka sesederhana itu, Roro juga bisa melakukannya. Sayang sekali, ia masih percaya bahwa manusia itu....
Bruk.
Mati.
Perhatian Roro teralihkan oleh seonggok mayat. Tubuh pucat itu tergeletak dengan luka mengenaskan. Perut terbelah setengah. Kepala pecah. Kuku-kukunya terkelupas.
"Mayat apa-apaan ini?" Belum juga Roro tunjuk mayat untuk dieksekusi dengan kekuatannya, ia mencium bau anyir. Banyak titik mengalirkan cairan merah. Adanya warna lain dalam air seakan mengunci kekuatan Roro.
Apa yang sebenarnya terjadi? Roro penasaran. Ia tak berkedip kala berdiri. Namun, iris sewarna zamrud memercik gelembung-gelembung kecil. Awalnya terlukis ruangan minim furniture dengan dinding bercorak emas, kini tergambar puluhan kapal saling tembak di lautan, di kawasannya.
"Rupanya mereka benar." Para manusia itu telah membuang sampah besi. Tumpahan minyak. Serbuk mesiu bekas pakai. Kapal karam.
Kemudian lautan mayat yang mengambang di air, di mana setiap lubang di tubuhnya alirkan banyak darah. Mata putih memandang wanita berambut penuh hiasan emas.
__ADS_1
Manusia telah menguasai wilayahnya. []